
Semua pasang mata masih tetap setia memandangku. Seorang waitress datang menghampiriku.
" Maaf ibu, apa saya bantu untuk memanggil taksi atau menunggu pak Satrio disini ? " sopan dan membungkukkan badan waitress cantik ini menawarkan bantuan.
",Saya pulang saja mbak," jawabku pelan
" Saya bantu memanggil taksi ?"
" Iya........mbak. Terima kasih banyak,"
" Untuk makanannya berapa mbak?"
" Oh tidak usah ibu, kami akan menelepon Pak Satrio. Bapak member VVIP di cafe kami,"
," Tidak apa - apa saya yang membayar,"
" oh....iya ibu, harap ditunggu untuk bill nya,"
Waitrees dengan tag name Lestari itu, memberi kode temannya agar membawa struk pembayaran padaku.
Aku terbelalak dan terkejut dengan harga yang tertera di sana. Kami hanya pesan empat menu tapi kenapa harganya bisa Rp. 794.000,00.
" Bagaimana ibu, dibayar disini atau di kasir ? " pertanyaan waitress cantik ini mengangetkan aku, karena tidak percaya harga makanan sampai begitu mahal.
," Mbak....., saya tidak membawa uang sebanyak itu," jawabku jujur. Aku tidak membawa uang sebanyak yang tertera di struk. Uang yang aku pegang hanya lima ratus ribu.
Waitrees cantik itu tersenyum sopan. ," Tidak apa - apa ibu. Kami bisa menelepon Pak Satrio."
," Mari saya antar, taksi sudah sampai di halaman,"
Mengikuti langkah Waitrees ini. Aku tidak mampu menoleh ke sekelilingku. Pandangan - pandangan aneh masih tetap mengikutiku.
" Terima kasih atas kunjungannya ibu,"
" Saya juga terima kasih atas bantuannya mbak,"
," Sama - sama ibu. Semoga selamat sampai tujuan,"
Ku sandarkan kepala begitu aku duduk di kursi taksi ini. Tangisan Tangguh mulai mereda karena ASI yang kuberikan. Kecepatan taksi yang sedang membuat aku bisa menenangkan diri selama perjalanan. Bagaimanapun aku harus tetap ceria ketika sampai dirumah.
Sampai menjelang subuh Pak Satrio juga tidak kunjung datang. Aku tetap terjaga menunggu beliau. Tak kuasa menahan kantuk terpejam juga netra ku ini. Aku tak memberi kabar pada beliau, demikian juga beliau. Tidak bertanya bagaimana keadaanku ? Keadaan Tangguh ? Tidak ada permintaan maaf beliau karena tidak jadi mengantar membelikan baju Tangguh.
Kubiarkan saja semua berlalu tenggelam dengan cerita yang membuat aku malu. Bapakku yang sempat bingung bertanya "kenapa pulang sendiri ? " Kenapa tidak bersama Pak Satrio ? Tidak aku jawab. Beliau kemudian berdiam, tidak bertanya lagi. Mungkin tidak kuasa dan tidak tega melihatku.
Sehari, dua hari, tidak terasa sudah seminggu lebih. Tidak ada kabar dari beliau, Jangankan menelepon kirim pesan pun tidak beliau lakukan. Bohong kalau aku katakan aku tidak perduli. Nyatanya dalam pikiranku hanya ada beliau dan beliau, Pak Satrio suamiku. Bukan karena perasaan cinta. Bukan......... Hanya karena beliau suamiku itu saja. Hanya karena beliau ayah dari anakku, itu saja.
Tiga hari ini aku kembali ke aktivitasku semula. Bekerja di toko milik keluarga Henry. Aku tetap harus bekerja untuk menghidupi keluargaku. Memang masih ada uang tabungan, tapi tidak bisa diandalkan bukan ? karena setiap hari selalu ada kebutuhan keluarga. Apalagi sekarang pengeluaran semakin bertambah untuk kebutuhan Tangguh anakku. Saat bekerja, Tangguh aku titipkan pada adikku. Sebelum berangkat kerja aku mengantar Tangguh, demikian pula pulang kerja aku mengambil Tangguh. Tiga hari ini rutinitas berjalan dengan baik.
__ADS_1
Nada dering HP tak henti berbunyi. Ku abaikan Karena pekerjaan yang menumpuk. Angka - angka di layar komputer masih bebas berkeliaran belum sesuai tempatnya. konsentrasi ku penuh pada angka - angka ini sampai tidak mendengar suara Dita yang memanggil.
" Mbak Arin, ada Om Satrio.......Mbak...........," seru Dita menepuk pundakku. Mataku langsung tertuju pada sosok pria dewasa dan berkharisma di ambang pintu. Beliau tersenyum melihatku. Bergegas aku menghampiri beliau, dan mengajak beliau duduk di sofa tamu. Ku abaikan Dita begitu saja yang tetap berceloteh di belakangku.
" Mas kok ke kantor ? Kenapa tidak menelepon atau menunggu di rumah ? Apa ada hal penting ? cercaku dengan pertanyaan beruntun pada beliau.
" Aku dari tadi telepon, tapi tidak dihiraukan, jadi aku langsung datang. Aku ingin menjemputmu," jelas Pak Satrio.
" Tapi mas........ini belum jam empat, saya masih kerja,"
," Baiklah aku tunggu disini,"
" Jangan mas, tidak enak,"
"Gak apa - apa santai saja. Aku bisa menunggu duduk disini. Kamu lanjutkan saja kerjaannya," jawab beliau santai sambil memposisikan duduk dengan nyaman.
," Mbak Arin pulang saja, nanti saya sampaikan Ko Dion Kalau mbak ijin pulang dulu," Dita menyela pembicaraan kami berdua.
" Nah....betul itu kata Dita," Seru Pak Satrio
" Tapi........," tanyaku bingung.
" Tapi apa.......?"
" Mas..........,"
" Om kangen mbak Arin ya," gurau Dita.
" Ya ....bisa dibilang begitu,"
Ucapan Pak Satrio membuat Dita semakin tertawa.
" Om Satrio, makin tua makin romantis," puji Dita pada Pak Satrio. Beliau hanya tersenyum mendengar pujian Dita.
Berbarengan Dita meredakan suaranya. Dion datang menghampiri kami. Berbincang sejenak dengan Pak Satrio dan berkata padaku.
" Kalau mbak Arin mau pulang silahkan, kasihan suami mbak nunggu. Pekerjaan dilanjut besuk. Toh sekarang sudah jam tiga,"
" Saya bawa motor?" engganku mengelak.
" Nanti minta tolong Pak Nurdin dan Pak Kamil yang antar ke rumah mbak," Usul Dita.
Suasana kikuk diantara kami berdua sangat terasa. Tidak ada yang membuka percakapan diantara kami. Aku melemparkan pandanganku ke arah jalan. Pak Satrio hanya sesekali melirik padaku. Terkadang, tangan beliau meraih tanganku tapi aku tepis begitu saja. Aku diam tanpa membuka pertanyaan. Kenapa beliau tidak meneleponku selama seminggu ? Kemana saja seminggu ini ? Kenapa tidak pulang seminggu ini ? Ku simpan rapat - rapat semua pertanyaan itu. Biarkan akan terjawab dengan sendirinya. Aku juga lelah untuk bertengkar memperebutkan siapa yang lebih unggul ? Siapa yang salah ?
"Tangguh.....?" tanya beliau tiba - tiba ketika kami sudah dekat dari rumah.
" Di rumah adik,"
__ADS_1
" Aaaaaaahhhhhh kenapa tidak bilang dari tadi,"
" Karena anda tidak bertanya bapak.........," jawabku menekan pada kata " bapak". Agar beliau marah, karena dari awal Beliau tidak suka di panggil bapak dan meminta di panggil " Mas "
" Harus....?"
" Ya.....,"
" Sungguh ?"
" Ya.....,"
Pak Satrio tersenyum dan melirikku karena jawabanku yang ketus. Tangan kiri beliau bergerak mengacak rambutku.
" Aku cuma dua hari menginap di rumah Dik Asri. Setelahnya aku pulang,"
" saya tidak tanya......bapak. Terserah anda mau kemana ?
" Aku cuma memberi informasi,"
," saya tidak butuh informasi,"
" Sungguh ?"
" Ya...."
," Oya.............benar tidak butuh ? Kenapa marah ? tuh manggil saya pakai anda, pakai bapak."
" Lagi sariawan...."
" Sudahlah.......jangan diperpanjang. Toh sekarang aku sudah sama kamu. Kita jemput Tangguh, trus beli baju Tangguh. Mungkin.....kamu kepingin beli baju juga ? Atau tas ? Atau sepatu ? Atau.....aaaahhh terserah beli apa. aku antar,"
" Tidak usah baju saya dan Tangguh sudah banyak,"
" Tapi bukan aku yang belikan ?"
" Yang penting punya baju......,"
Pak Satrio tertawa kecil melihatku yang tetap ketus pada beliau.
" Kamu, kalau marah mirip Tangguh waktu minta ASI "
Bersambung........
Mau lihat.....Outfit Pak Satrio waktu jemput Arin...... kan ?
__ADS_1