Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 93


__ADS_3

" Mas. Ayo kita makan nasi bungkus di angkringan ! Bukankah mas Satrio tadi siang bilang akan mengajakku makan malam di angkringan ? "


" Malam - malam begini ? Ini sudah jam sebelas malam nyonya !" Seru Pak Satrio padaku.


" Apa kau masih lapar ? Bukankah kita sudah makan malam bersama dengan keluargamu ? " tanya Pak Satrio keheranan.


" Aku sangat kecapekan, besuk saja. Aku belikan lima nasi bungkus juga bisa kalau kau ingin," jawab Pak Satrio kembali memejamkan netra beliau.


Selepas Isya' Pak Satrio memang mengajak kami sekeluarga untuk makan malam bersama di salah satu rumah makan di pinggiran kota. Mas Taufik kakak laki - laki ku langsung pulang ke pulau ..........karena alasan pekerjaan dan keluarganya. Tanda tangan mas Taufik sudah selesai sebagai ahli waris pada semua berkas yang dibutuhkan untuk pembelihan rumah ini.


" Tapi.....saya ingin sekali mas," pintaku lagi merajuk pada Pak Satrio.


" Emmmmm ," dengan netra yang tetap terpejam.


" Mas......saya berangkat sendiri kalau mas Satrio tidak mau antar, " kataku sambil beranjak dari tempat tidur.


" Ya....baiklah.......baiklah kalau kau lapar. Aku cuci muka dahulu," ucap Pak Satrio akhirnya mengikuti keinginanku.


.................


" Selamat pagi......makanan sudah siap nyonya. Silahkan bangun, mandi dan sholat," sapa Pak Satrio membangunkan aku.


" Mas sudah bangun dan sudah masak ? " tanyaku kaget.


" Sudah donk. Ada Scrambled eggs dan susu hangat untukmu. Aku juga sudah siap ke lahan lagi," jawab Pak Satrio dengan dengan tersenyum. Ini salah satu kelebihan Pak Satrio, beliau juga pandai memasak tak jarang beliau masak sendiri untuk kami.


" Kau mau ikut lagi ?" tanya Pak Satrio sambil merapikan pakaian milik beliau. Hari ini beliau menggunakan kemeja hitam legan panjang dipadu jeans warna krem dan seperti biasa rambut disisir kebelakang.


" Tidak mas, aku akan ke toko hari ini," jawabku tenang.


" Untuk apa bukankah kau masih cuti ? " Pak Satrio balik bertanya keheranan padaku.


Aku berdiri dari rebahanku dan berjalan keluar kamar untuk mandi dan sholat. Kuabaikan pertanyaan dari Pak Satrio. Beliau hanya diam, netra beliau mengikuti gerakanku yang melangkah keluar dari kamar,"


Flash black

__ADS_1


Jam 02. 37 WIB


Aku terbangun karena ingat akan mengetik sesuatu yang sangat penting dalam hidupku. Ya........ aku akan mengundurkan diri dari pekerjaanku di toko milik keluarga Henry. Aku putuskan untuk berhenti dan mengikuti Pak Satrio ke kota asalnya, bukan tanpa alasan aku melakukan ini. Ada banyak yang harus aku pertimbangkan, terutama setelah aku berbicara dengan Bu Elly, ibu mertuaku. Ku ketik dan ku print surat pengunduran diriku, Selesai. Mudah-mudahan ini jalan yang terbaik untukku dan rumah tanggaku. Kemudian aku melanjutkan tidur. Ku tatap wajah tampan pria dewasa yang berbagi ranjang denganku. Wajah tampan dan bersih miliknya tersenyum dalam tidur, mungkin beliau bermimpi indah. Aku belai perlahan wajah beliau dan kuberikan ciuman di kening beliau. Selamat tidur suamiku mudah - mudahan pilihanku tepat adanya.


Aku menyandarkan semua harapanku dipundakmu. Aku bergantung padamu. Bukan hanya aku, tapi Tangguh, Thavisa dan mungkin bayi mungil kita yang akan hadir sembilan bulan lagi. ( Mungkin ada yang bertanya kenapa kehamilanku sangat cepat ? Aku melahirkan dua kali secara Caesar. Masa nifas ku hanya dua minggu saja, aku tidak tahu alasan medisnya. Tapi dokter berkata kalau rahimku sangat subur. Ketika aku hamil Thavisa, Tangguh berumur tiga bulan. Sekarang pun demikian, usia Thavisa menginjak hampir tiga bulan aku mengandung lagi. Aku sangat bersyukur dengan apa yang aku terima. Mungkin ini hadiah untukku karena aku terlambat menikah. Tuhan pasti memberikan sesuatu yang indah pada saatnya setelah memberikan ujian untuk kita.)


Flash Off


" Benar kau akan mengundurkan diri dari pekerjaanmu ? " tanya Pak Satrio padaku saat aku selesai sholat. Beliau memegang map berisi surat pengunduran diriku.


" Iyaa saya ikut mas di ......( menyebut nama kota tempat tinggal Pak Satrio ). " jawabku merendahkan intonasiku.


" Sungguh.....kau mau satu atap denganku ?" tanya Pak Satrio melangkah ke arahku. Aku mengangguk dan tersenyum.


Pak Satrio memelukku dan mencium keningku berulang - ulang. " Benarkah kau mau ikut denganku ? Aku tidak bermimpi kan ? Kejutanmu sangat luar biasa ?" tanya Pak Satrio berulang - ulang dan tak henti-hentinya mencium keningku.


" Aku antar ke tempat kerjamu ? " tanya Pak Satrio lagi.


Aku menggeleng pelan sebagai jawaban. Berusaha aku menjinjit untuk mencapai pipi Pak Satrio. Aku ingin mencium kedua pipi putih kemerahan milik Pak Satrio. Mengetahui aku berusaha menciumnya pak Satrio mengangkat dan menggendong ku agar kami sejajar bahkan aku lebih tinggi dari pak Satrio. Tanganku memeluk tengkuk Pak Satrio.


" Jika kita telah bersama seperti ini, dan kita punya masalah atau aku punya salah padamu datang dan peluklah aku, jangan kau lari kepelukan laki - laki lain. " tutur Pak Satrio memberi nasehat padaku.


" Iya mas siap. Apa saya berat..?"


" Ya....lebih berat dari yang dulu, kau harus diet kalau kau mau terus aku gendong ?"


" Bagaimana saya harus diet, nanti bayi mas tidak bisa tumbuh dengan baik," jawabku tersenyum.


" Bayi.....? bayi bagaimana maksudmu ? Kau mengandung lagi ?"


Aku mengangguk.


" lagi....? "


" Mas tidak suka saya mengandung anak mas lagi ? " tanyaku sedikit ragu karena Pak Satrio mengerutkan kening dan menyipitkan netra.

__ADS_1


" Bukan.....bukan seperti itu maksudku." diam sesaat.


" Aku ........aku hanya bersyukur masih diberi kesempatan merawat dan memanjakanmu selama masa kehamilanmu, setelah aku melewatkan masa kehamilan dan melahirkan Tangguh dan Thavisa," urai Pak Satrio.


Pak Satrio menurunkan aku dengan perlahan.


" Saya tidak tahu bayi ini berusia berapa minggu, tapi kemarin pagi saya test pack sudah dua garis merah,"


" Dia mungkin akan terpaut sebelas bulan dengan Thavisa ?" tanya Pak Satrio seolah berbicara dengan diri sendiri.


" Kita menikah tiga tahun lebih dan akan dikaruniai tiga buah cinta. Waaaaahhhh amazing......," ucap Pak Satrio lagi dengan tersenyum.


" Itu karena mas suka memaksa, " ucapku dengan memandang wajah Pak Satrio.


" Karena.......iya karena kau memang lebih suka dipaksa dari pada melakukannya dengan suka rela. " jawab Pak Satrio dengan tersenyum yang mengandung sejuta arti untukku. Netra beliau memandang tanpa beban padaku.


" Tapi tidak untuk pagi ini, saya sudah mandi," sahutku cepat pada Pak Satrio


" Kau sendiri yang mengundangku untuk memaksamu. Bukankah kata " tidak " bisa diartikan antonim nya ?"


Pak Satrio tertawa dan mengacak rambutku.


" Ku bebaskan kau kali ini tapi tidak untuk nanti malam," ujar Pak Satrio sambil menuntunku untuk duduk di tepi ranjang.


" Aku ingin kita seperti ini terus, jangan sampai ada orang ketiga diantara kita. Jika sudah ada kehadiran orang ketiga, hati tidak dapat berbohong. Pasti hubungan kita akan kandas secara perlahan, aku tidak ingin itu terjadi. Berjanjilah apapun itu kita tidak akan mendua hati untuk seseorang yang bukan pasangan kita. " tutur Pak Satrio.


" Iya mas, saya akan penuhi semua janji kita untuk anak - anak kita," sambutku lagi. Kedua kening kami beradu, kami saling tersenyum.


Bersambung........


Mohon untuk memberi like dan komentar untuk Author. Terima kasih banyak sudah membaca novel Author.


Ingin melihat wajah Pak Satrio saat senang ?


__ADS_1



__ADS_2