Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 96


__ADS_3

Kami, aku dan Henry berdiri dan beranjak dari ruangan mengikuti Dita menuju Ruang tamu di kantor ini. Perasaanku bercampur aduk, bagaimana tidak ? Bukankah Pak Satrio bilang akan menunggu di area parkir, tapi kenapa Beliau datang kemari ? Wajah Henry datar biasa saja, tak tampak ketegangan diwajahnya.


" Halo saya Henry, kebetulan sebagai manajer di toko ini," sapa Henry dengan mengulurkan tangan pada Pak Satrio.


" Satrio, suami Arin," suara tegang Pak Satrio terdengar jelas. Raut wajah Pak Satrio yang menunjukkan ketidaksukaan ditampakkannya dengan banyak menyipitkan netra beliau.


" Maaf agak terlalu lama, kami masih membujuk Mbak Arin agar mau makan bersama untuk besuk malam," urai Henry masih dengan ketenangan yang wajar dan sangat natural.


" Ya.....kami akan datang," jawab Pak Satrio cepat, tetap dengan suara yang sangat dingin.


" Terima kasih banyak kami akan menunggu kedatangan Mbak Arin dan bapak," Henry berkata dengan mengulas senyum cerianya seperti hari - harinya.


" Kenapa sangat lama ? Bukankah lima menit saja sudah cukup ?" tanya Pak Satrio dengan wajah yang masam dan suara yang dingin.


" Kami masih berbincang," jawabku ketus mengikuti Pak Satrio yang juga berbicara dengan dingin.


" Ya...... sepuluh persen berbicara sembilan puluh persen tindakan. Apa kalian bercumbu ? Berciuman atau bahkan lebih dari ciuman ? tanya Pak Satrio dengan intonasi yang tinggi.


" Mas......Kami tidak seperti tuduhan mas. Henry sangat menghormatiku,"


" Dan.......kau ? Apa kau sangat menghormatiku ? tanya Pak Satrio dengan kilatan - kilatan dari sorot netra beliau yang bagai kilat memberikan percikan - percikan api. Pak Satrio bergerak ke arahku, dengan cepat ku dorong dengan kedua tanganku.


" Ini di area parkir mas ! " pekikku meninggikan suara menyamai deruan suara motor yang melintas.


" Sudah ku katakan aku tidak perduli," ucap Pak Satrio lantang.


" Tapi......saya perduli.......sangat perduli,"


" Ya......kau benar, sepertinya aku mempertimbangkan kepedulianmu dengan sekitar ," ucap Pak Satrio lirih setelah melihat ada pengendara lain yang melintas hendak memarkir mobil di sebelah kami.

__ADS_1


Pak Satrio menyurutkan badannya kembali duduk ke posisi semula.


Tanpa kalimat yang memfasilitasi kami untuk berkomunikasi selama perjalanan menuju lahan milik Pak Satrio. Kami terdiam dalam cengkraman pikiran masing - masing. Sesekali Pak Satrio menoleh ke arahku dan ku ikuti dengan memalingkan wajahku menghindari beradunya tatapan diantara kami.


" Maaf.......kalau aku tadi seperti hilang kendali, aku tak ingin melihatmu berlama-lama dengan dia," ucap Pak Satrio.


Ku abaikan kalimat pembuka percakapan diantara kami yang bertutur lembut dari bibir beliau.


" Apa kau marah ?" tanya Pak Satrio dengan nada sedikit melemah agar aku mau berinteraksi lagi dengan beliau.


" Kira bapak bagaimana ? Apa tuduhan bapak bisa mengembalikan perasaan saya seperti semula ? ku jawab dengan asal dengan suara dan bahasa yang formal seolah aku berbicara dengan costumer di toko tempat aku bekerja.


" Itu bukan tuduhan hanya......ya semacam dugaan saja," jawab Pak Satrio melunak dan berusaha mencairkan suasana diantara kami.


" Kenapa tersenyum ? " tanya beliau lagi setelah melihat aku tersenyum.


" Aku ingin naik angkot seperti itu," celetukku tiba - tiba sambil menunjuk sebuah angkot yang berpapasan dengan kami.


" Iya......" jawabku sudah dengan nada yang riang lagi. Seakan melupakan perang diam di antara kami yang terjadi selama beberapa menit.


" Tapi.....mobilnya ? " keheranan Pak Satrio bertanya padaku, seolah ingin menyampaikan diparkir dimana mobil ini.


" Bagaimana kalau kita ke terminal kota, mobil mas parkir di sana kemudian kita naik angkot ke terminal A sampai terminal A kita naik lagi ke terminal B dari terminal B kembali lagi ke terminal kota," aku menjelaskan panjang lebar seperti seorang guru yang menerangkan materi pada anak didiknya.


" Kenapa tidak sewa saja, bukankah lebih nyaman tidak berdesak - desakan dengan penumpang lain ?" tanya Pak Satrio masih kebingungan dengan keinginanku.


" Tapi saya inginnya seperti itu mas ! " jawabku mulai dengan suara yang manja.


" Ini keinginan bayi yang kau kandung atau kau hanya ingin mengerjaiku ? " tanya Pak Satrio lagi, sedikit ah bukan sedikit tapi banyak - banyak ragu tentang keinginanku.

__ADS_1


" Aaaaahhhh sudahlah tidak perlu, besuk pagi saya jalan sendiri ketika mas ke lahan," jawabku kesal dan sedikit merajuk agar beliau bersedia menuruti keinginanku.


" Ya.....baiklah kita ke terminal dan mengikuti keinginan anehmu," suara Pak Satrio seperti pasrah dengan kemauanku.


Aku tersenyum, entahlah ini keinginanku sendiri atau keinginan karena kehamilanku ? Tapi sungguh aku ingin sekali naik angkot, mengulang masa - masa aku sekolah berseragam putih abu-abu.


Ketika angkot masih di terminal penumpang masih belum begitu banyak hanya kami berempat saja. Tapi ketika sudah berjalan dan separuh perjalanan menuju terminal lain, penumpang mulai berdesakan. Kami, aku dan Pak Satrio duduk berhadapan. Wajah Pak Satrio sudah menunjukkan kecemasan. Kaki panjangnya sulit untuk bergerak dan harus duduk menyilang agar muat untuk penumpang lain. Semakin lengkap penderitaan Pak Satrio ketika penumpang yang baru naik adalah seorang ibu membawa keranjang sayur yang besar terbuat dari anyaman.


" Om geseran sedikit, ini bisa untuk enam penumpang ! " perintah kernet angkot sambil menyapu keringatnya dengan handuk kecilnya.


Pak Satrio memicingkan netranya hendak memulai untuk membantah kernet angkot tersebut, tapi terhenti karena aku larang dengan isyarat tangan. Helaan nafas yang kasar sebagai jawaban darinya. Kemudian bergeser, wajah kalut dan kebingungan kembali tampak menyelimuti Pak Satrio. Aku tersenyum geli melihatnya. Wajah putih kemerahan miliknya mulai meneteskan keringat karena kepanasan tanpa AC. Rasanya ingin aku tertawa lepas melihat kejadian di depanku. Pak Satrio duduk di depanku nomor dua dari pojok, tidak bisa bersandar karena duduk berhimpitan dan kaki yang harus disilangkan karena seorang ibu yang membawa muatan banyak.


Tak bisa ku tahan tawaku akhirnya lepas juga walaupun tidak bersuara nyaring. Pak Satrio yang kebingungan karena mobil tanpa AC ini penuh dengan penumpang. Kemeja lengan panjang berwarna blue black yang beliau kenakan ditarik - tariknya untuk mencari udara.


" Kenapa tertawa ? kau suka melihat suamimu seperti ini ?" tanya Pak Satrio meradang padaku. Dan aku semakin terkekeh melihatnya. Wajah putih kemerahan miliknya semakin memerah saja karena kepanasan.


" Aaaaah seumur hidupku baru kali ini aku naik angkot dan berdesakan seperti ini," kesalnya padaku ketika penumpang sudah banyak yang turun dan kami duduk bersebelahan.


" Ini masih terus berlanjut sesuai keinginanmu ? Apa tidak ada dispensasi ? tanya Pak Satrio mulai gusar.


" Tapi.....saya ingin mas, " jawabku manja menatap seolah memohon agar beliau mau mengikuti keinginanku.


" Kenapa keinginanmu aneh begini ? Kenapa tidak membeli tas atau baju atau aaaaaahhhhhh apalah terserah kau," gerutu Pak Satrio padaku.


" saya tidak memaksa mas, saya bisa jalan sendiri," jawabku mulai kesal dengan omelan Pak Satrio.


" Ya...... baiklah..... baiklah aku mengikuti keinginanmu. Nanti bayi dalam perutmu menyalakan aku karena tidak menuruti keinginannya. " jawab Pak Satrio dengan pasrah menyerah dengan keinginanku.


Bersambung...........

__ADS_1


Pembaca yang baik tolong, diberi like, vote dan komentar agar Author tahu pembaca novel ini suka atau tidak. Terima kasih banyak sudah membaca novel saya.


__ADS_2