Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 12


__ADS_3

" Mbak Arin menderita serangan panik. Bukan sakit fisik lebih mengarah ke psikologis,"begitu kata Henry ketika aku sudah agak lama membuka mataku.


Aku terbangun, aku sudah berada di ranjang rumah sakit di sebuah ruangan yang luas. Ada sofa, tv dan lemari es, bukan mimpi kah ini ? Barusan aku seperti berada di sebuah taman yang penuh dengan bunga - bunga berwarna - warni. Ketika aku berjalan dan berlari kecil bunganya bermekaran sangat indah. Aku merebahkan badanku diantara bunga - bunga yang bermekaran dengan merentangkan tanganku, bahagia sekali. Ketika aku lelah bermain di taman bunga dan labirin kemudian berlari lari kecil di bawah kawat pagar berbunga yang melingkar sepanjang jalan, aku merasa lapar dan haus. Aku berkata, aku ingin makan ayam KFC dan susu hangat. Terasa indah sekali hidupku. Aaaaahhhh yang barusan ternyata hanya mimpi dan di ranjang rumah sakit ini adalah kenyataan.


Aku mencoba untuk duduk dari pembaringan ku. Henry berusaha membantuku untuk duduk.


" Kalau masih pusing, berbaring saja mbak. Kakakku Dandy sudah mengurus semuanya".


" Tapi aku sudah tidak apa - apa kok. Bagaimana meeting nya dengan kepala TU rumah sakit ?" tanyaku ingin tahu hasil kerjasama dengan rumah sakit ini.


" Well, semua berjalan Lancar sesuai dengan harapan kita," jawab Henry senang.


" Aku mau pulang ko, Aku sudah sehat. Aku kepikiran Jhoji,"


" Jhoji ada di rumah adik mbak Arin. Tadi aku minta tolong Dita yang antar. Adik mbak Arin, tadi bingung tapi sudah aku jelaskan semua. Dia kesulitan mau ke rumah sakit," terang Henry padaku.


Aku bisa memahami adikku tidak bisa datang karena punya bayi yang berumur dua bulan dan anak sulungnya yang baru berusia empat tahun. Jhoji sekarang ada di rumah adikku, akan sangat repot baginya untuk ke rumah sakit.


" Terimakasih banyak. Ko Henry selalu membantuku," tidak terasa air mataku jatuh. Melangkah pelan Henry menuju ke arahku, duduk di pinggir ranjang menghadap ke arahku. Jarak kami sangat dekat hanya beberapa centimeter. Tanpa aku sadari, aku menangis dan memajukan badanku ke arahnya hingga kami berpelukan.


" Menangislah, ceritakan apa yang ada di dalam hati mbak, jangan disimpan sendiri," lembut menyapa suara Henry memberi saran padaku.


" Aku tidak kuat, sudah tujuh tahun dengan mas Ravi tapi kenapa dia menikah dengan perempuan tadi. Ibuku baru saja meninggal," tangis ku tersedu.


" Aku lelah......Aku sendirian," aku masih dalam pelukan Henry.

__ADS_1


Dapat aku rasakan dadanya yang hangat seolah memberikan energi baru untukku. Aku tidak tahu perasaan apa yang ada di benakku. Ada rasa enggan untuk melepaskan pelukan Henry dengan tangan kokohnya. Apa aku mencari pelampiasan dengan keadaanku. Apa aku mencari sosok baru untuk bersandar


" Ada aku mbak. Mbak Arin, bisa bercerita padaku," Henry memegang daguku dan menengadahkan wajahku padanya.


Membungkukkan badannya membuat kami saling bertatapan sangat dekat. Tidak ada jarak diantara kami, hidung kami saling beradu. Hawa dingin AC di ruangan ini membuat kami terbawa suasana. Perlahan Henry menyentuh bibirku dengan bibirnya. Memberikan sentuhan - sentuhan kecil yang sangat asing bagiku. Di usiaku yang sudah kepala tiga. Aku, baru kali ini merasakan apa yang dinamakan ciuman. Henry tidak bertanya apa aku bersedia atau tidak. Tapi aku dengan mudahnya begitu pasrah menerima perlakuan Henry yang sangat lembut. Aku merasa malu ketika Henry melepas pagutannya, seperti orang bodoh aku tertegun mematung dan menatapnya tanpa berkedip. Ada sesuatu yang enggan aku lepaskan. Bibir basah Henry masih terasa hangat bagiku. Jantungku berdegup kencang, bukan degup kencang seperti biasanya ketika marah dan sesak mendera ku. Aku merasa melayang ketika tadi kami berpagutan, seakan seperti berada di taman bunga yang tadi aku impikan. Kami masih saja berpelukan sampai aku menyadari ini sebuah kesalahan, ini sebuah dosa. Seharusnya tidak terjadi diantara kami yang tidak memiliki hubungan apa - apa. Aku melepaskan pelukanku demikian juga Henry. Henry berdiri dengan cepat di sisi ranjang. kemudian jari - jari tangan kanannya menyisir rambut ke belakang yang berantakan. Suasana sangat kikuk kami tidak saling berbicara beberapa saat. Hanya saling terdiam, berkali - kali Henry menggunakan jari tangan kanannya untuk menyisir kembali rambutnya seakan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


" Maaf, aku........."


ucapan Henry terhenti ketika pintu kamar terbuka di dorong oleh seseorang.


" Puji syukur, sudah bangun Rin........" suara Barito dokter Dandy menyapaku.


Aku dan teman - temanku memang terbiasa memanggil Kakak Henry ini dengan panggilan dokter Dandy. Beberapa kali beliau datang ke toko kami sekedar mampir atau ketika berkunjung menggantikan orang tuanya yang berhalangan hadir. Itu dulu sebelum Henry datang dan menggantikan posisi orang tuannya.


" Kalau sudah merasa enak boleh kok, yang penting menenangkan pikiran. Oya ini ayam KFC nya," kata dokter Dandy sambil menjinjing tinggi menunjukkan padaku.


"Tapi....." sahutku bingung. Bukankah tadi itu mimpi aku ingin makan ayam KFC ?


" Tadi, Mbak Arin mengigau lapar minta ayam KFC dan susu hangat," Henry menyela pembicaraan kami.


" Apa benar......? Aku tidak percaya dengan ucapan Henry.


" Ya, sangat jelas sampai diulang dua kali," tegas Henry meyakinkan aku.


Aku tertegun, apa yang aku alami tadi bukan mimpi ? Terus apa kalau bukan dinamakan mimpi ? Tapi kenapa aku berkata ingin ayam KFC dan susu hangat terdengar jelas oleh Henry ?

__ADS_1


Henry bergegas mengambil bungkusan di tangan dokter Dandy dan menyiapkan untukku.


" Apa mau disuapi ?" Henry sengaja mencairkan suasana diantara kami dengan gurauannya seperti Henry yang aku kenal.


Aku paksakan diriku untuk ikut tersenyum.


" Oh, ayolah jangan memberi cuplikan film percintaan di depan mataku. Pasien interna ku masih banyak yang menunggu," seru Dokter Dandy pada Henry adiknya.


Henry hanya menarik keatas satu alis kanannya dan tersenyum lebar sampai gigi putihnya yang berjajar rapi terlihat jelas.


" Tadi aku sudah bicara dengan dokter Selvi. Beliau memberikan obat anti depresan dan penenang agar zat alami serotoninnya meningkat," dengan duduk di sofa dokter Dandy berbicara pada Henry.


Mereka sangat akrab. Aku seperti berada di tengah - tengah keluarga yang harmonis saling mendukung satu sama lainnya. Henry mendengarkan penjelasan dokter Dandy dengan cermat sambil membolak balikkan obat yang diberikan dokter Dandy


" Minggu depan sebaiknya konsultasi lagi, untuk mengetahui lebih lanjut perkembangannya. Diimbangi banyak makan telur, susu, ikan salmon, udang, kacang dan biji-bijian untuk membantu," jelas Dokter Dandy yang mengarahkan pandangan padaku sesekali pada Henry


" Terima kasih banyak dokter, saya rasa tidak perlu konsultasi lagi minggu depan. Saya sudah tidak apa - apa dok," argumenku untuk menolak tawaran keluarga Henry yang sudah sangat membantuku.


Keadaanku sekarang pun sudah membaik. Aku memaksa untuk pulang. Aku takut sendirian di ruangan besar di rumah sakit ini, dan pikiran terburukku kalau Henry menemani aku menginap di rumah sakit ini. Aku tidak berani menjamin kejadian seperti tadi terulang kembali atau bahkan lebih dari yang tadi.


bersambung. ............


Mohon dukungan, vote dan likenya.


Mudah - mudahan suka dengan novel pertama saya. Salam untuk orang tersayang.

__ADS_1


__ADS_2