Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 18


__ADS_3

Kegembiraanku ternyata tidak bertahan lama, setelah Henry memulai pembicaraan serius denganku.


"Aku masih belum bisa menyakinkan mama. Waktu terakhir kalinya, aku cerita kalau sudah melakukan hal negatif. Sakit jantung mama kambuh. kakakku Dandy dan Dion, melarangku untuk bercerita lebih lanjut untuk kebaikan mama. Maaf mbak, aku akan berjuang lebih keras lagi."


" Aku tidak apa - apa" jawabku kemudian menunduk.


Tanpa terasa air mata yang aku simpan beberapa hari ini kembali mengalir melalui kedua sudut kelopak mataku.


" Besuk sore kami akan berangkat. Mama minta dirawat di Singapura. Aku tidak tahu berapa lama kami disana,"


" Apa sakit Bu Merry sangat parah ?"


" Aku juga tidak tahu. Sebenarnya ko Dandy sudah menyarankan untuk berobat disini saja, tapi mama menolak,"


" Kenapa ?"


" Beliau beralasan dokter Lee sudah faham riwayat sakitnya. Mama jadi pasien dokter Lee sebelum ko Dandy menjadi dokter"


" Apa hanya kamu saja ?"


" Aku sama papa yang menemani mama. Mbak Arin tentu tahu kedua kakakku orang kantoran sulit bagi mereka untuk ijin."


" Iya........ aku paham. "


" Mbak jangan khawatir semua kebutuhan Mbak Arin sudah aku atur dalam satu bulan. Untuk perlengkapan bulanan aku sudah minta tolong Bu Desi manajer food bazar salah satu departemen store yang biasa aku pasok. Untuk makan aku sudah mengontrak salah satu catering".


" Henry tidak usah, aku bisa masak sendiri dan itu lebih hemat."


" Aku tidak mau Mbak Arin masak. Mbak Arin cepat lelah. Tugas Mbak Arin hanya menjaga kesehatan saja. Untuk kebutuhan lain - lain Mbak Arin memakai ini saja," Henry mengeluarkan kartu debit platinum milik bank swasta terkenal dari dompetnya.


" Henry aku tidak menjual diriku dan aku tidak ingin terjual. Tolong sudah cukup yang kau berikan padaku."


" Itu tidak sebanding dengan yang Mbak Arin lepas untukku," sesal Henry memandang wajahku.


Bukan aku tidak suka uang atau munafik. Sudah sangat sakit hatiku karena masalah uang seperti ini. Aku tidak mau sakitku lebih sakit dari pengalamanku dengan mas Ravi. Dulu, aku membiarkan mas Ravi yang selalu memberi aku uang ketika kami bertengkar. Jumlah tabunganku sekarang hampir empat puluh juta selama tujuh tahun dengan mas Ravi. Belum motor matic yang aku pakai. Angka itu cukup fantastis bagiku mengingat aku bukan dari kalangan berkelas. Tapi sekarang apa yang terjadi, mas Ravi dengan mudah meninggalkan aku. Mungkin mas Ravi merasa sudah memberi ganti rugi padaku berupa materi yang dia berikan. Aku tidak ingin Henry memiliki pemikiran yang sama dengan mas Ravi menganggap uang dapat menyelesaikan semuanya termasuk perasaan seseorang.


" Ambil kembali ATM itu, aku tidak mau melihatnya. uang gajiku sudah cukup membeli kebutuhanku. Apa kau tidak bisa melihat ? aku sudah senang menggunakan tas dan sepatu seharga lima puluh ribu."


Henry hanya diam, tetap tidak mengambil kartu debit yang ada di meja dengan terus memandangku tajam.


" Aku tidak pernah membeli mbak. Ini bagian dari tanggung jawab karena perbuatanku,"

__ADS_1


" Aku bisa sendiri."


" Kalau tidak bisa dengan uang. Katakan apa bentuk kompensasi yang lain ? Aku memang masih belum bisa menikahi Mbak Arin. Tunggu sampai mama sembuh, aku akan bicara lagi dengan mama,"


Aku hanya tersenyum datar dengan ucapan Henry. Mas Ravi yang sudah tujuh tahun saja bisa berbohong apalagi dengan Henry yang baru beberapa saat denganku.


" Aku mau pulang, aku ingin tidur."


" Makan dulu sup nya ! "


" Masukkan dulu ATM nya !"


Perintah Henry padaku dengan memberi kode menggerakkan kedua alisnya. Dan aku memberi syarat agar Henry mengambil lagi ATM yang masih tetap berada di atas meja. Henry sangat tenang memakan sup kepiting asparagus kesukaannya. Ini memang bukan pertama kalinya kami kesini. Setiap ada kesempatan keluar, berkunjung ke toko cabang Henry selalu ke Resto aneka sup ini. Perutku sudah penuh dengan jajanan tradisional yang aku beli di pasar malam tadi, tapi sekali lagi aku tidak kuasa menolak perintah Henry yang selalu bisa menguasai ku dengan sifat kepemimpinannya yang sangat kuat.


" Besuk siang sebelum berangkat, tolong buatkan aku tumis tongkol kemangi. Pagi sebelum kerja aku antar bahannya,"


" Iya........." jawabku singkat tanpa menoleh padanya.


.....................


" Enak kemarin Mbak bisa makan siang dan makan malam bareng bos kecil. Aku..... tidak ada makan siang Mbak....." protes Dita begitu mendengar ceritaku kalau aku makan siang dan malam dengan Henry.


Cerita seperti ini sudah biasa untuk kami. Henry memang di kenal loyal pada karyawan ketika keluar.


" Kan ada Shanti ?"


" Tidak seru mbak."


Shanti sebenarnya pegawai toko di bagian penerimaan barang, yang biasa membantu kami. Ketika kami banyak pekerjaan atau salah satu dari kami ada yang ijin.


" Sebentar lagi istirahat aku ijin."


" La ijin lagi. Kemarin sudah tidak masuk, sekarang ijin lagi," Dita terus memprotes.


" Ehhh keliru nona kemarin aku masuk, cuma keluar sama bos. Kalau ini benar ijin".


Maafkan aku Dita, sudah berbohong ada keperluan ke rumah saudara. Seandainya Dita tahu, saat ini Henry sudah ada di rumahku. menemani Jhoji yang sedang sakit panas dan memintaku memasak, tentu akan jadi siaran berita.


Dita menoleh lagi ke arahku ketika ada notif dari pesan Wastapp dua kali berbunyi. kemudian disusul notif SMS.


" Wiiiiih rame amat tu HP dari siapa ? "

__ADS_1


Dita tidak melanjutkan perkataannya ketika ada notif pesan Wastapp masuk di HP nya. Dengan cepat Dita melihat. Sementara, aku juga demikian melihat lihat layar HP ku. Dari mas Ravi, tidak pernah mundur mas Ravi menghubungiku setiap hari walau tidak pernah aku balas. Mas Ravi terus menghubungiku dengan alasan sebelum meninggal ibu sudah memberinya amanat untuk menjagaku. Pesan Watsapp kedua aku buka dari pak Satrio yang memberi salam padaku kemudian, bercerita kalau dia sudah mengisi pulsa di nomerku. Agar lancar komunikasi denganku, begitu alasannya. aku bertatapan mata dengan Dita.


" Om Satrio ya? "


" Em,"


" Kirim pulsa ?"


" Em," jawabku dengan tetap melihat layar HP ku dan membaca SMS masuk. Ada pemberitahuan pulsa masuk ke nomor HP ku sebesar sepuluh ribu rupiah.


" Berapa ?" dengan keponya Dita berjalan dan melihat HP ku yang masih tetap digenggaman ku.


" Sepuluh ribu ? gak salah ? Seratus kali mbak?"


Masak sih sepuluh ribu ?" Celoteh Dita tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


" Ya kali Dit, keliru penjual pulsanya" jawabku enteng


" coba cek pulsanya, Mbak " saran Dita padaku.


Aku segera mengecek pulsa di layanan aplikasi Benar tertera disana penambahannya hanya sepuluh ribu rupiah. pulsaku sendiri sisa dua ribu, total hanya dua belas ribu.


" Masak sih cuma sepuluh ribu ? " tanya Dita lagi keheranan dengan membulatkan matanya seakan tidak percaya.


" matre lu,"


" Eh bukan matre ya, cuma kepo. Apaan coba, pulsa sepuluh ribu kalau buat kita ? anak SD Aku tanya Om Satrio ya ? Benar gak dia beri cuma sepuluh ribu ? semangat 45 Dita sudah mengetik pesan di Wastapp tapi aku cegah.


" Tidak usah Dit. Tidak enak nanti dikira minta dikirimi pulsa lagi."


" Bukan gitu Mbak, dia orang kaya lo Mbak. Usaha tambak udangnya besar, belum lagi gurami dan lobster. Restonya juga ada, lebih dari satu, lahan perkebunan luas. Kurang apa coba ? Apa iya mengirimkan pulsa sepuluh ribu ? "


Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan kembali duduk di kursi kerjaku.


" Sudahlah Dit, kok kamu yang ngegas sih."


" Bukan gitu mbak. kalau iya aku yang malu."


" Sudahlah tidak apa - apa. Itu HP mu bunyi lagi,"


Bunyi HP mampu mengalihkan pembicaraan aku dan Dita. Apalagi yang menelepon adalah Rian pacarnya. Dasar Dita, baru aja kejadian, sudah sampai beritanya ke telinga Rian. dengan gaya khasnya Dita bercerita kalau pak Satrio memberiku pulsa cuma sepuluh ribu rupiah.

__ADS_1


bersambung................


__ADS_2