
Langkah yang aku paksakan untuk kuat akhirnya sampai juga di dapur. Bau harum seperti seseorang membuat kue tercium sangat beraroma. Mungkin bik Ina. Aku tidak perduli biarlah beliau melihatku menangis. Aku ingin dunia tahu kalau aku wanita yang teraniaya dalam pernikahan ini. Biarlah beliau tahu kalau akulah yang kalah dalam posisi sebagai istri pemilik rumah ini. Lampu dapur sangat terang seterang aku melihat tubuh tegap Adrian yang sedang membuat pancake. Anggapanku salah, aku mengira Bik Ina yang membuat kue. Aku ingin kembali tapi rasa hausku tidak tertahan. Aku mengusap kasar air mataku karena tak ingin terlihat olehnya. Bagaimanapun juga mamanya adalah rivalku. Aku duduk dikursi meja makan dengan meminum air putih. Adrian menyuguhkan pancake dan coklat hangat untukku. Mungkin, semula untuk dirinya sendiri.
" Makanlah untuk menenangkan pikiran,"
" Kalau tidak ingin makan kembalilah tidur,"
Pandanganku beralih pada Adrian yang tetap berdiri membuat pancake. Selesai membuat pancake untuk dirinya sendiri. Adrian duduk berhadapan denganku. menopangkan pipinya pada tangan kanannya. Tanpa bicara dia memandangiku. Aku dengan lahap memakan pancake buatan Adrian dengan menangis. Sebelumnya aku berusaha menahan air mataku tapi tidak kuasa aku bendung. Kalimat - kalimat sakti Pak Satrio sudah membuat aku jatuh dalam keadaan yang semakin terpuruk jauh ke Palung laut. Aku meminum coklat hangat yang dibuatkan Adrian untukku dalam sekali tegukan.
" Pelan - pelan" perintahnya lembut sambil menyodorkan air putih dalam gelas. Arah netra ku mengarah pada Adrian. Dia tampak tenang dengan wajah dinginnya. Aku tidak tahu apa aku harus bercerita dengan Adrian tentang keadaanku. Tapi apa bisa ? Dia putra kandung dari Pak Satrio dan mbak Asri. Aku berdiri dari tempat dudukku dan hendak melangkah. Tetapi, terasa lemah sekali seperti tidak mempunyai kekuatan untuk melangkah. Aku terjatuh begitu saja di lantai marmer ini. Adrian yang kaget langsung menghampiri dan menggendongku menuju kamar. Sampai di depan pintu perlahan Adrian menurunkan aku. Tanpa berkata Adrian melangkah menjauh dariku menuju dapur.
" Terima kasih,' kataku lirih dan mungkin sangat lirih sampai Adrian tak mendengarnya.
Aku berusaha sekuat tenaga masuk ke kamarku. Membaringkan tubuh letih ini dalam buaian malam. Menghilangkan sejenak benang - benang kusut yang tak mampu aku urai.
.......................
" pa ........bangun........mama telfon tuh......"
" pa........mama marah nih papa g mau angkat"
suara Adry mengagetkan aku dan pak Satrio. posisi tidur kami yang seharusnya tidak boleh terlihat oleh Adry. membuat Adry berteriak
" ihhhhhh mama mesum. tidur tidak pakai baju. mana pelukan lagi"
aku kaget spontan melihat ke tubuhku sendiri. bagaimana mungkin jelas - jelas tadi malam aku memakai piyamaku kembali. Pak Satrio segera bangkit tanpa memedulikan keadaanku. berjalan keluar kamar yang diikuti Adry. menerima telfon dari mbk Asri.
keras aku berfikir. tidak mungkin kami melakukannya, pak Satrio masih rapi dengan piyamanya tapi kenapa dengan diriku.....? harusnya aku juga dengan piyamaku......? tapi kenapa keadaanku seperti ini.
masih tanda tanya besar dalam hatiku sampai detik ini. sampai aku tidak bisa konsentrasi membatu bik Ina menyiapkan sarapan pagi. Adry meminta dibuatkan nasi goreng. betul kata bik Ina. Adrian dan Pak Satrio menu makannya selalu mengikuti keinginan Adry. laki - laki paling muda di rumah ini.
Adrian dan pak Satrio sudah duduk di meja makan. kemudian Adry dengan lincahnya menuju meja makan. menepuk pundak Adrian.
" mas, tadi subuh ada perang dunia"
" mama telfon, papa g angkat. jadi telfon ke nomerku"
__ADS_1
" eh papa sama Mama Arin lagi buat adik untuk kita"
Adrian hanya diam tanpa merasa terganggu dengan cerita Adry. dengan tenang Adrian tetap fokus menyuapi dirinya sendiri.
" Adry........"
Pak Satrio berusaha mencegah Adry bercerita lebih lanjut pada Adrian. aku juga sama dengan Adrian diam tanpa berbicara apa - apa. dan sibuk dengan fikiran masing - masing.
" mama......kok mama belum keramas sih ?
" g sah lo sholatnya"
" Adry........"
kembali pak Satrio menegur putra bungsunya yang memang kalau bercanda suka kelewatan. Aku melihat sekilas Adrian terpengaruh juga dengan omongan dari Adry. dia menoleh kearahku sebentar kemudian kembali fokus dengan nasi gorengnya.
" pa........... di pelajaran agama ada tuntunannya. namanya mandi besar "
diam sesaat.
" aaahhhh papa kena marah ya sama mama pecinta berondong ?
" Adry .............. jaga bicaramu"
Pak Satrio dan Adrian hampir bersamaan menegur Adry. baru kali ini Adrian menegur Adry. biasanya dia hanya diam saja apapun yang Adry bicarakan.
Sarapan pagi ku hampir habis. aku senang setelah sarapan ini. aku pulang diantar pak Satrio kembali ke kota asalku. aku sudah tidak sabar bertemu keluargaku.
" Dik Arin.......aku minta maaf tidak bisa mengantarmu pulang"
" aku ada urusan dengan mamanya Adrian"
" g papa mas. aku pulang naik bus saja"
cepat aku memberi jawaban dari pertanyaan pak Satrio yang sudah aku duga tadi subuh, ketika menerima telepon dari mbk Asri. aku sudah mempersiapkan diriku jika ini terjadi. dan memang terbukti Pak Satrio tidak mengantar aku pulang.
__ADS_1
" diantar pak Sumadi dik.....jangan naik bus"
pak Sumadi yang dimaksud pak Satrio adalah supir keluarga ini yang biasa mengantar pak Satrio dalam setiap harinya.
" g usah mas, aku naik bus saja"
aku berkata sambil meninggalkan meja makan ini. ternyata tidak kuat aku berlama - lama disini dalam situasi yang membuat aku ingin menangis.
" Dik........kamu marah........"
pak Satrio mengejarku dan memelukku dari belakang. tanpa perduli kami masih diruang makan dan masih ada Adrian dan Adry putranya.
" ya..........perang dalam rumah tangga mulai lagi setelah lama vakum"
suara Adry terdengar jelas olehku dan mungkin juga oleh pak Satrio. tapi kami tidak menghiraukan. Pak Satrio menuntunku ke kamar.
" dik...... mengertilah...... kalau pernikahan kita direstui oleh orang tuaku"
" tapi pernikahanku dengan mamanya Adrian tidak mendapatkan restu "
" bukan aku berat sebelah hanya.....aku kasian dengan dik Asri"
" saya cuma ingin pulang sendiri mas "
" g...... g aku ijinkan kalau pulang sendiri"
" biar pak Sumadi yang antar "
aku lelah berdebat dengan pak Satrio. aku mengiyakan diantar oleh pak Sumadi. pak Satrio meraih tanganku.
" terima kasih banyak. dik Arin mengerti keadaanku"
" maaf aku menggunakan alasan mengantarmu agar aku bisa pergi dengan mamanya Adrian "
aku menarik nafas panjang. berharap hari ini segera berganti besuk. aku menolak ciuman dari pak Satrio di keningku dengan menunduk semakin dalam. rupanya beliau menyadari aku masih tidak enak hati dengan situasi ini. Pak Satrio meninggalkan aku sendiri di kamar ini seolah memberi waktu untuk meredam amarahku.
__ADS_1
benar kata mas Ravi seharusnya aku membatalkan pernikahan ini. benar kata Henry seharusnya aku tetap bersamanya berjuang meraih mimpi kami untuk bisa hidup bersama. sekarang sudah terlambat. aku mengambil jalan yang salah. aku menceburkan diriku sendiri dalam lubang yang aku gali. aku ingin bertemu Henry dan mengadu padanya. aku ingin ke makam ibu memeluk pusaranya dan menangis.
bersambung...........