Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 66


__ADS_3

Operasiku berjalan dengan baik. Karena aku tidak kuat dengan udara dingin selama diruang operasi terbawa sampai aku kembali ke kamar. Aku tetap menggigil kedinginan. Mbak Ayunda memberikan minyak kayu putih pada tubuhku agar badanku terasa hangat. Henry yang melihatku menitikkan air mata.


" Terima kasih Mbak Arin berhasil mengatasi semuanya. Terima kasih bisa sehat" ucapnya sambil menyelimuti lagi walau aku sudah menggunakan selimut.


" Apa kau menungguku selama aku operasi ? tanyaku kaget melihat Henry sudah ada di kamarku.


" Ya.....maaf aku terlambat. Tadi masih ada acara makan pagi bersama dengan pengantin," jawabnya dengan pelan.


Seorang perawat memberikan bayi perempuanku agar aku memberikan ASI ku. Baju yang Henry pilihkan untuk anakku sangat cantik dengan bedong warna senada.


Henry keluar kamar selama aku memberikan ASI ku. Tangguh sangat senang dalam gendongan Henry, sehingga tak mau berpisah dengan Henry.


" Aku akan jalan keluar sebentar dengan Tangguh," pamit Henry.


Dari Mbak Ayunda aku tahu, makanan di rumah sakit dan di rumah untuk keluargaku di tangani oleh Henry.


" Apa orang tuanya tahu kalau Henry begitu baik padamu ? Bapak, tadi malam cerita kau sempat menjalin hubungan dengan Henry sebelum menikah dengan ayahnya Tangguh ? Apa itu benar ? " selidik Mbak Ayunda penuh cemas padaku.


" Tapi Mbak.....kami tetap tidak dapat bersama, aku menikah untuk menghindar dari Henry. Arin tidak ingin membuat keluarganya bertikai karena Arin. Henry masih mudah, kalau Arin menolak, Henry akan semakin nekat. Arin yakin sebentar lagi Henry juga bisa melupakan Arin." uraiku agar tidak membuat Mbak Ayunda ikut cemas melihat apa yang dilakukan Henry pada keluargaku terlampau baik


" Iya .....dik Rin. Mbak Ayunda bisa memahamimu. Mbak juga kasian melihat Ko Henry seperti ini. Mudah-mudahan dia cepat menemukan perempuan yang cocok untuknya," Doa Mbak Ayunda yang kemudian aku Amini.


" Pandai-pandailah menjaga diri. Bagaimanapun kau masih terikat tali pernikahan dengan Pak Satrio. Tidak baik dekat dengan pria lain, bisa saja dijadikan alasan salah ada padamu. " nasehat Mbak Ayunda sambil membelai rambutku.


" Iya Mbak, Arin paham. " ucapku memeluk Mbak Ayunda. Aku menangis......menangis tidak mengerti dengan semua yang terjadi padaku.


..............


Mbak Ayunda pulang kerumah untuk mempersiapkan kamarku karena aku pulang hari ini. Tidak ada yang menjagaku hari ini. Sykurlah hari ini aku sudah bisa berjalan, jadi mudah untukku bergerak menggendong anakku. Seorang perawat memberikan anakku sehabis memandikan anakku, aku menerimanya dengan senang.

__ADS_1


" Ibu, apakah nama adik sudah di persiapkan. ini untuk administrasi pembuatan Akta kelahiran dan foto kelahiran adik," tanya perawat tersebut. Mengetahui aku sendirian , perawat tersebut menemaniku dan bertanya tentang kelengkapan semua syarat untuk pengurusan akta kelahiran untuk anakku.


Pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah dingin yang lama tak pernah bertemu denganku. Berdiri tegap dengan senyum tipis tersungging. Sangat menawan tapi berbalut angkuh dan dingin.


Adrian Kivandra Adi Panengah.


Dia semakin melebarkan senyumnya yang semula tipis kepada perawat yang membawa anakku. Memandangku lurus tanpa berkedip. Wajah dinginnya tetap sama seperti dulu, hanya saja semakin terlihat dewasa.


" Selamat pagi," sapanya dengan suara berat.


Aku yang terkejut dengan kehadirannya hanya diam mematung terdiam. Tidak mengira Adrian akan datang menemuiku. Disaat hubunganku dengan ayahnya sudah terpuruk selama hampir lima bulan. Aku sudah berusaha melupakan semua tentang Pak Satrio termasuk juga pemuda yang sekarang berada di ambang pintu kamar inapku sekarang.


" Selamat pagi, apa aku mengganggu ? " sapa Adrian lagi kali ini suaranya sedikit renyah, tidak terkesan kaku seperti pertama kali dia menyapa.


" Pa.....pagi," jawabku gugup.


Adrian melangkah masuk meletakkan buah tangannya di meja samping ranjangku.


Ku hentikan aktivitasku memberikan ASI pada anakku. Sementara perawat yang mengantar anakku seperti bingung melihat suasana yang terjadi saat ini.


" Namanya Adhriona Thavisa Adi Panengah" ucap Adrian memberi jawaban kepada Perawat tersebut yang belum aku jawab karena tertegun dengan kehadirannya.


" Ini aku membawa kelengkapan untuk pembuatan Akta kelahiran," sambung Adrian sambil mengeluarkan berkas yang dia bawa.


" Kau akan keluar hari ini ? Aku akan mengurus administrasi rumah sakit." ucap Adrian setelah perawat pamit keluar dari kamarku.


" Berikan ASI mu kasian Thavisa menangis," perintah Adrian dingin. Wajah dinginnya tak berekspresi apa - apa ketika menyuruhku.


" Dari mana kau tahu kalau dia bernama Thavisa," tanyaku ragu pada Adrian karena yang tahu hanya aku dan Pak Satrio.

__ADS_1


," Papa. Papa yang menyuruhku datang menemuimu,"


," Apa beliau tahu aku melahirkan ? "


" Sangat tahu, tapi sangat sibuk. jawabnya singkat dan kaku tanpa menoleh padaku. " Boleh aku memfoto kalian ?" tanya Adrian mengeluarkan Kamera Nikon dari tas ranselnya. Tak sempat aku jawab Adrian beberapa kali mengambil gambarku yang sedang memberikan Thavisa ASI.


" Kenapa beliau tidak mau datang ? Kenapa beliau tidak pernah menghubungiku ? Apa salahku pada beliau, sampai beliau tega melakukan semua pada kami ? tanyaku bertubi pada Adrian. Suara yang mendesis karena takut Thavisa bangun membawa suasana semakin canggung diantara kami.


Wajah Adrian tetap tenang tanpa ekspresi menatapku. Sorot matanya yang tajam ingin memberikan jawaban tapi tak bisa.


" Itu urusanmu dengan papa. Aku tidak ingin ikut campur, kapasitas ku hanya sebagai anak dari Papa. " jawab Adrian dengan diplomatis.


" Aku tidak butuh dikasihani. Tapi coba kau bayangkan jika aku Kakak perempuanmu apa kau tega aku diperlakukan seperti ini oleh seorang laki - laki ?"


" Aku tidak bisa membayangkan karena aku tidak punya saudara perempuan. Aku hanya punya mama. Aku tidak akan tega melihat wanita yang melahirkan aku menderita. Walau dia berada di lumpur penghisap sekalipun. Tetap aku berusaha menyelamatkan nyawanya. " Adrian berhenti sejenak dari bicaranya. Mengambil nafas dan kembali menoleh padaku.


" Aku akan tetap menghormatimu karena kau juga istri Papa. Aku akan selalu baik pada Tangguh dan Thavisa karena kami dari darah yang sama. Tapi tolong, jangan mencoba membandingkan dengan mama. Mama adalah segalanya bagiku."


Perkataan Adrian menyadarkan aku. Mungkin inilah jawaban kenapa Mbak Asri selalu punya tempat di keluarga Pak Satrio. Karena mereka mempunyai anak - anak yang sangat mencintai Mbak Asri dan menginginkan keluarga mereka bersatu kembali.


Mungkin sudah tepat keputusanku untuk mundur dari Pak Satrio. Tidak ada sedikit ruang untukku, walau kami sudah memiliki Tangguh dan Thavisa. Ya.... aku kuat dengan semua dan harus kuat. Aku menunduk melihat wajah Thavisa semakin erat dekapanku untuk Thavisa.


" Aku tahu kau juga terluka karena papa. Tapi aku yakin papa juga mencintaimu dan adik - adik. Suatu hari nanti pasti papa menemuimu dan adik - adik lagi, tapi entah kapan. " Suaranya Adrian penuh penyesalan, berat dan parau.


" Aku sudah tidak membutuhkan Pak Satrio lagi. Aku sudah tidak perduli beliau mau menemuimu atau tidak ? Cuma satu pertanyaanku, aku salah apa sampai beliau tega melakukan semua padaku ? tanyaku lagi pada Adrian. Adrian terdiam tidak menjawab.


" Aku akan mengurus administrasi sebentar, setelah selesai kita pulang," jawab Adrian mengalihkan pembicaraan kami.


Bersambung.......

__ADS_1


Tolong diberi like dan komentar.


__ADS_2