
" Apa belum cukup mas membuat aku menangis ? Dihari pernikahan kita, setelah ijab kabul mas langsung pergi menemani dia yang beralasan sakit," protes Mbak Asri pada Pak Satrio. Pandangannya mengarah padaku dan pada Pak Satrio secara bergantian. Seakan ingin protes dan menyalahkan semua padaku. Ya....aku ingat waktu itu, aku dirawat dirumah sakit karena kontraksi. Apa mungkin Mbak Asri menyimpan rasa tidak suka padaku ?
" Aku selingkuh karena mas lebih memilih bersama dia, di hari pernikahan kita." suara Mbak Asri meninggi.
" Jangan mencari pembenaran untuk alasan selingkuh," Pak Satrio berkata tanpa memandang pada Mbak Asri.
" Dulu ketika kita hanya menikah siri, kau beralasan karena ingin menikah resmi, Aku masih memaafkanmu karena aku tahu kau selingkuh hanya dari chatting saja. Setelah kita menikah resmi kau beralasan karena aku menemani Dik Arin di rumah sakit. Semua alasanmu karena ingin membalas sakit hatimu padaku. Aku sudah memenuhi setiap keinginanmu," ulas Pak Satrio yang juga membela diri.
" Tanyakan pada semua perempuan mas, Apa mereka mau hidup seperti aku ? Dulu aku bersaing dengan ibu mas, sekarang dengan Arin. Aku hanya ingin memiliki mas Satrio seutuhnya," suara Mbak Asri melunak.
" Aku tertekan hidup di keluarga besar mas Satrio. Masalah salah duduk saja aku ditegur berhari - hari, sampai mengaitkan keluargaku. Aku tidak pernah dianggap di keluarga mas, Aku lelah mengikuti semua aturan keluarga mas. " kembali Mbak Asri memprotes Pak Satrio yang hanya diam.
Aku memandangi mereka, Mbak Asri dan Pak Satrio yang saling berbincang sengit seakan merasa berdua saja tanpa sadar ada aku diantara mereka.
Waitrees datang kembali setelah melihat Pak Satrio dan Mbak Asri sudah agak mereda dengan perang perkataan. Walau tidak bersuara keras, tapi tampak di wajah - wajah tegang mereka. Sehingga Waitrees yang hendak menawarkan menu undur diri dari mereka.
Pak Satrio menerima buku menu yang disodorkan pada beliau.
"Dik Rin mau pesan apa ? " tanya beliau padaku sambil melihatkan buku menu padaku.
" Terserah mas Satrio, saya ngikut saja mas," jawabku pelan.
Dalam hati aku tidak pernah tahu menu di dalam daftar walau semua bergambar. Entah karena aku dari kota kecil yang tidak terbiasa dengan menu - menu masakan Eropa seperti yang ada di dalam daftar ini. Di kotaku, bahkan tidak ada cafe atau restauran yang menyajikan makanan seperti disini. Menu - menunya pun terasa asing bagiku. Baru kali ini aku menginjakkan kaki dan duduk di tempat mewah seperti ini. Kotaku adalah kota kecil, tujuh puluh persen lahannya terdiri dari pertanian dan perkebunan yang dikelolah pemerintah dan milik swasta, salah satu pemilik lahan swasta ini adalah milik Pak Satrio
" Ingin menu appetizer dulu atau langsung ke menu main course ? " tanya Pak Satrio padaku. Aku hanya mengangguk - angguk saja mendengarkan beliau bertanya tanpa tahu maksudnya. Ku lihat Mbak Asri tersenyum. Senyum yang membuat aku merasa rendah diri.
__ADS_1
" Apa Mas Satrio belum pernah mengajakmu kesini ?" tanya Mbak Asri dengan suara manjanya padaku.
" Be....belum Mbak....saya baru kali ini kesini," jawabku pelan.
" Apa Mas Satrio tidak mau merusak kenangan denganku, tidak mengajak dik Arin makan ditempat favorit kita ?" Mbak Asri bertanya manja kepada Pak Satrio yang sibuk memilih menu untukku. Aku menghela nafas, Mbak Asri bertanya seakan tidak perduli dengan perasaanku.
" Selera makan orang berbeda - beda, jangan membuat kekacauan dengan ucapanmu," ucap Pak Satrio tegas pada Mbak Asri.
Mbak Asri membelalakkan Mata bulat bening dan hitam miliknya. Wajahnya yang cantik merona tak mampu menyembunyikan rasa kecewanya pada Pak Satrio.
" Aku pilihkan menu untukmu ? tanya Pak Satrio padaku ? "
" Iyaa......," jawabku singkat dan lesu.
" Bukankah tadi aku sudah bilang, makanannya terserah mas. Kenapa bertanya yang aku juga tidak mengerti maksudnya ?" gerutuku sendiri dalam hati. Seandainya aku bisa bicara seperti itu. Aah kenapa tidak bisa aku lakukan dengan berani ?
" Bukankah mas selalu ingat menu kesukaanku ? Kenapa tanya ? " Mbak Asri manja menjawab pertanyaan Pak Satrio. Pak Satrio tidak menoleh pada Mbak Asri. Wajah beliau tetap menunduk melihat daftar menu. Kemudian menengadah mengarah pada Waitrees memberikan kembali daftar menu sambil tersenyum dan berkata, " terima kasih." Sebelum Waitrees berlalu dari kami.
" Oya apa mas ingat ? Bukankah dulu mas Satrio pernah berkata, kalau aku lebih menggoda dan menggairahkan daripada dik Arin ?" tanya Mbak Asri tiba - tiba pada Pak Satrio.
Pak Satrio tersentak, serta merta duduk menegakkan badan beliau yang semula duduk dengan santai sambil menoleh padaku yang juga terkejut dengan ucapan Mbak Asri. Beliau tidak menjawab pertanyaan Mbak Asri hanya menatapku saja dengan gugup.
" Kenapa malu ? Mas juga berkata kalau aku lebih mengerti keinginan mas dari pada dik Arin yang hanya diam saja dan kaku mematung," ucap Mbak Asri pada Pak Satrio. Suara manja Mbak Asri tidak tampak seperti yang ingin membuat aku marah. Seperti orang yang sedang bercerita dengan kawan akrabnya. Sangat santai dan tidak ada nada yang dibuat - buat.
Pertanyaan - pertanyaan yang lebih mengarah pada cerita yang keluar dari bibir indah Mbak Asri itu, membuat aku tidak dapat mengontrol emosiku. Setega itukah Pak Satrio membicarakan aku ? Sebegitu terbukanya beliau membicarakan hal yang seharusnya hanya dibicarakan aku dan beliau saja. Aku tepis tangan Pak Satrio dengan kasar yang ingin memegang tanganku. Pak Satrio juga tak kalah kaget seperti aku. Mungkin juga tidak mengira Mbak Asri akan membahas masalah yang tidak seharusnya di depanku. Pak Satrio tidak berkata apa - apa selain mencegahku untuk tidak berdiri dari tempat dudukku.
__ADS_1
" Mas......" seruku pada beliau yang tetap memilih diam dengan pertanyaan Mbak Asri.
Mbak Asri tersenyum menampilkan gigi putihnya yang berjajar rapi.
" Kalau aku tetap ingat, walau mas bilang lupa." ucap Mbak Asri lagi pada Pak Satrio.
" jika dulu aku sibuk merayumu untuk tetap bersamaku, sekarang pantang bagiku sedikitpun untuk kembali padamu." ucap Pak Satrio tetiba dengan tangan yang semula terus menggenggam tanganku berganti dengan mengepalkan tangan beliau.
" Aku tidak sudi berbagi istri dengan laki - laki lain." kembali suara tegas Pak Satrio terdengar.
" Kalau kau sekali lagi meracau, lebih baik kita tidak usah bertemu kembali," Pak Satrio melanjutkan kalimat beliau setelah berdiam beberapa detik.
Mbak Asri tersenyum kali ini senyum yang sangat manis ditampilkan pada kami.
" Maaf dik Arin, kalau perkataanku melukaimu tapi kurang lebihnya begitu yang diceritakan Mas Satrio padaku. Mungkin karena itu Mas Satrio tetap memilih untuk bersamaku,"
Sekali lagi, perkataan Mbak Asri sangat melukaiku. Seperti air bah yang datang bertubi - tubi menerjangku. Membuat aku terseret akan derasnya, aku mengambang diantara kenangan- kenangan antara Pak Satrio dan Mbak Asri. Aku akui, aku terlalu kalah dibanding Mbak Asri yang seorang pesolek. Aku ......seperti inilah aku tanpa ada pensil alis yang menghitamkan alisku. Hanya lipstik berwarna nude yang aku poles. Semua pria pasti lebih tertarik dengan Mbak Asri dibandingkan denganku. Yang dikatakan Mbak Asri adalah kenyataan, selain ada Adrian dan Adry ada kenangan diantara mereka yang sulit untuk memisahkan satu sama lain. Ditambah secara fisik dan keelokan wajah semua nilai menuju Mbak Asri dibanding denganku.
," Hati - hati kalau bersandar di kursi, nanti false hair mu tersangkut saat kau berdiri," ucap Pak Satrio tenang pada Mbak Asri.
Makanan datang bertepatan saat Mbak Asri berdiri dari duduknya. ," Mas..... datang dengan dia hanya untuk menghinaku kan ? Aku pulang," Ucap Mbak Asri tanpa perduli Waitrees sedang menata makanan dimeja kami.
" Bukankah kau yang meminta untuk makan siang bersama, kami tetap datang walau kami sendiri sudah makan siang," jelas Pak Satrio.
Ucapan Pak Satrio tidak dihiraukan oleh Mbak Asri. Mbak Asri tetap melangkah pergi dengan mata yang mengeluarkan butiran - butiran bening.
__ADS_1
Bersambung.......
Minta like dan komentar