Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 48


__ADS_3

Jangan lupa bahagia.......


Selamat membaca jangan lupa tolong tinggalkan jejak like ya kakak pembaca.


Terima kasih banyak sudah mampir di novel saya.


*


*


*


*


Langkah Pak Satrio semakin mendekat ke arahku dan Tangguh yang masih berbaring di ranjang. Mencium keningku lalu berganti mencium Tangguh. Membaringkan tubuh beliau tepat disisi Tangguh. Tidak ada basa basi yang terucap dari bibir beliau selain berkata '. Aku lelah ...... bangunkan aku sepuluh menit lagi".


Beliau mungkin tahu kalau aku pura - pura tidur. Selepas beliau berkata, beberapa menit dengkuran halus mulai terdengar. Gurat - gurat wajah beliau tampak kelelahan. Mungkin hari ini, kerja yang beliau jalankan Sangat padat. Beliau memang memiliki beberapa lahan tebu dan tembakau di kotaku. Aku sendiri baru tahu dari Dita. Ketika dulu Dita bercerita Pak Satrio sering main ke rumah om nya tapi tidak mengunjungiku. Sewaktu aku hamil Tangguh. Tapi biarlah cerita itu menjadi masa laluku. Aku berkeyakinan rumah tanggaku akan baik- baik saja ke depannya.


Suara Azan Magrib berkumandang dengan indahnya di musholla depan rumahku. Tanpa aku bangunkan Pak Satrio bergegas bangun dari tidur beliau. Selesai Sholat beliau langsung menghampiriku. Seolah ingin mendiskripsikan ceritanya beliau duduk di sampingku. Menggenggam tanganku.


"Aku belum bertemu Dik Asri hari ini,"


" Pagi, sebelum ke lahan aku ke rumah ibu, Dik Asri tidak ada di sana,"


" Pulang dari lahan, aku juga mencari ke teman - teman dekatnya juga tidak ada kabar,"


"Aku mau cari kemana lagi ?"


Tak bolehkah aku jujur untuk diriku sendiri. Aku senang sekali mendengar cerita Pak Satrio. Wajahku ku hias tatapan seperti ikut berempati mendengar cerita beliau. Seperti tokoh antagonis yang senang rivalnya kalah atau seperti tokoh protagonis yang happy ending di akhir cerita. Pak Satrio merebahkan badan beliau dan kepala beliau bersandar di pangkuanku. Mengisyaratkan beliau benar - benar butuh dukungan dariku. Memelukku seraya berkata.

__ADS_1


" Apa aku bisa hidup tanpa Dik Asri ?"


" Sepertinya aku tidak bisa, kami sudah lama bersama,"


" Aku sudah terbiasa mengaduh, mengeluh, bercanda dengan Dik Asri,"


" Iya........saya mengerti," sesak dan tertahan lirih aku merespon cerita beliau.


" Aku tidak membutuhkan balasan cinta dari Dik Asri,"


"Tapi, apakah dia tidak bisa tidak menyakiti aku dengan selingkuh".


" Dik Asri bilang ingin mempunyai laki - laki yang mencintai dia dan dia juga mencintai laki - laki itu,".


" Kalau memang Dik Asri tidak mencintai aku. Untuk apa kami bersama selama ini,".


Tetap saja Pak Satrio mengadu padaku seolah aku ini ibunya. Tidak tahukah Pak Satrio setiap ungkapan kalimat yang beliau lontarkan ? Mengandung rasa sakit mendalam padaku. Membentuk anyaman - anyaman kecil yang siap memasung hatiku, rasa cintaku pada beliau. Kalimat beliau, membentuk sungai - sungai baru untuk perasaan hampa ku pada beliau. Kalimat beliau, membentuk aluvial panjang......dan teramat panjang. Mengikis perasaan cinta yang mulai bersemi. Menjadi sedimen - sedimen cemburu yang terbawa erosi . Kalimat beliau, menjadi arus lemah tapi pasti. Bermuara di hati membentuk delta - delta baru dalam wujud penyesalan pernikahan.


" Walau aku tahu seburuk apa Dik Asri tapi tetap menjadikan Dia ratu di hatiku.


" Aku benar - benar tulus mencintai Dik Asri selayaknya angin dalam nafasnya,".


Berdiri beliau dari pembaringan di pangkuanku. Semakin mendekat........mendekat.......mendekat......tanpa centimeter antara kami. Menyatu dan menyelaraskan dalam nafas. Menciptakan kehidupan - kehidupan baru di landasan tanpa nama. Aku diam dan diam dalam kungkungan tatapan netra hitam beliau. Berada dalam rengkuhan beliau, hanya untuk penghalau rasa kesepian saja. Ingin melawan tapi tak kuasa dengan diri yang juga menginginkan dekapan. Ingin menghindar tapi tak kuasa dihindari karena inginkan cinta ini bukan menjadi piatu.


Menjadi Hal yang menyakitkan dalam kesadaran penuh adalah tetap melakukan walau tahu sakit di ujung perjalanan.


Sakit bukan ? ketika kita menaruh harapan dan cinta pada seseorang yang tidak menginginkan kita. Tapi datang ketika kesepiannya melanda seperti badai. Aku tak ingin menjadi yang selalu ada saat beliau hanya terpuruk saja. Tapi begitulah peran yang aku dapatkan. Narasi sebagai tokoh sudah ada dalam genggaman tanganku.


Mengantarkan beliau mencapai apa yang beliau inginkan. Tapi sakit ini semakin mendalam ketika bukan namaku yang beliau sebut. Sakit..........melebihi dari kata sakit. Tanpa sadarkah beliau menyebut nama mbak Asri dan bukan namaku. Berkali - kali lirih merayu beliau menyebut nama Mbak Asri. Lirih mengalir seperti beliau menyebut lirih nama Mbak Asri, air mataku jatuh. Raga ini seolah menolak seketika karena bukan yang terpanggil. Nama lain.....nama yang bukan milikku. Aku berada di puncak tapi tiang - tiang ini dipatahkan begitu saja secara mudah. Aku berusaha memberi yang beliau inginkan. Tapi dengan mudah beliau menolak dengan cara halus.......dan sangat halus. Membaringkan diri beliau sendiri. Membiarkan aku terhempas dengan luka tusukan yang dalam dan menganga.

__ADS_1


Kami saling terdiam dengan pikiran masing - masing. Membiarkan waktu berjalan sendiri dengan detak detak detiknya. Berlalu beberapa saat tanpa menorehkan kisah. Keengganan yang tidak membosankan. Aku dengan pikiranku melayang karena asa ku yang terlalu tinggi dengan pernikahan ini. Beliau Menoleh ke arahku. Tampaknya beliau menyadari kesalahan yang beliau lakukan. Kemudian memelukku dengan kehangatan semu. Berusaha memberi ketenangan setelah kekacauan yang beliau timbulkan sendiri. Mencoba memberi pijar setelah beliau sendiri yang memadamkan.


"Maaf............,saya terbiasa menyebut nama Dik Asri setiap saat dan setiap waktu".


" Tolong jangan dibuat bahan pertengkaran untuk kita," pinta beliau. Suara beliau berat dan lirih membentuk nada rendah dalam nyanyian.


Aku palingkan badan dan wajahku dari tatapan Netra beliau yang berkilat - kilat redup. Memohon kebesaran pengertian dan keikhlasan.


Tidak aku jawab. Direngkuhnya aku dalam pelukan beliau. Aku berusaha keluar dari pelukan beliau. Selalu dan selalu ketika aku melawan. Pelukan beliau semakin menguat sehingga aku menyerah. Mengantarkan beliau pada rasa penolakan. Mengantar beliau untuk lagi dan lagi berkehendak atas nama kewajiban.


Tangisan kencang Tangguh meluluhkan hati beliau untuk menyudahi semuanya padaku. Diberikan peluang padaku untuk bebas sebentar. Membiarkan aku memberi ASI pada Tangguh. Setelahnya kembali lagi dan lagi aku terhempas dalam keinginan beliau.


Malam ini terasa panjang dalam buaian malam. Tidak ada wujud nyata dari beliau, untuk memenuhi janjinya tadi pagi padaku dan Tangguh.


" Besuk pagi saja, aku sempatkan mengantarmu beli baju Tangguh," Kalimat berita meluncur begitu saja dari bibir beliau. Beberapa saat setelah beliau membersihkan diri dari kamar mandi.


" Sekarang sudah larut, jam sepuluh malam,"


" Pasti banyak toko yang tutup,"


"Karena anda tidak pernah berniat membelikan baju Tangguh," tegas namun pelan aku menjawab beliau.


"Sudahlah.....jangan memulai pertengkaran,"


" Bersihkan dirimu, biar aku yang menjaga Tangguh," elak Pak Satrio merendah.


Aku berdiri dan keluar dari kamar. Membersihkan diri dengan air hangat. Perasaan apa yang aku miliki sekarang senangkah hatiku sedihkah hatiku ? Kenapa aku diperlakukan seperti itu, begitu patuh, begitu diam, begitu pasrah. Bahkan membiarkan dan mengimbangi beliau. Apa semua karena ikatan yang bernama Pernikahan ?


Bersambung.....................

__ADS_1


Tolong kakak di beri like nya.......


__ADS_2