Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 56


__ADS_3

Selamat membaca......


Mudah - mudahan berkenan dengan novel saya.


Jangan lupa beri like y pembaca yang baik.


*


*


*


*


*


Adzan subuh memanggil insan yang tidur. Demikian pula aku, aku ingin mengadu dan meminta rejeki pada Sang Pencipta. Aku berusaha turun dari ranjangku. Menapakkan kaki di lantai ini. Terasa sakit di perut bagian rahimku. Aku menjerit....meminta tolong ketika rasa sakitnya tak tertahan, keringat dingin bercucuran dari pori - pori kulitku, lemas yang kurasa begitu tiba - tiba. Terdengar suara kaki berlari mendekat kearah kamarku sambil berteriak kencang berulang - ulang. Itu suara bapak," Arin.....kenapa kau nak ?, " Arin..........kau kenapa, jangan buat bapak takut ?" Tak mampu aku menanggapi pertanyaan - pertanyaan dari bapak yang terus saja berteriak dari kamar beliau menuju ke kamarku. Aku menahan sakit di perutku dengan kedua tanganku. Merasakan sayatan - sayatan kecil perih dan terperihkan, luka dan terlukakan. Menahan rintihan dan sesalan yang semakin menjelma. Berusaha berdiri, tapi semakin panik dengan keresahan karena tangisan Tangguh yang kencang. Tangguh yang sudah bisa membolak balikkan badannya terus saja menangis. Aku sangat bingung, gelisah dan kelesah ingin meraih dan menggendong Tangguh, tapi tak kuasa dengan rasa sakit yang aku derita. Mataku sayu dan pilu memandang Tangguh yang seakan ingin mengatakan " Raih aku bunda, gendong aku bunda, kenapa bunda hanya diam saja ? Gendong aku bunda......."


Tatapan mata tanpa dosa Tangguh tak beranjak memandangiku dengan Tangisan yang riuh menusuk telinga.


" Sabar ya nak.....ini bunda disini." jawabku muram dan redup menatap Tangguh.

__ADS_1


Bapak cekatan mengambil Tangguh yang sudah berada dibibir ranjang. Sementara aku hanya mampu bersimpuh dengan menahan sakit yang sudah mulai berkurang. Tetapi masih gemetar dan rasa menggigil yang tetap sama.


Ku kuatkan tubuh ini untuk berdiri, melangkah menghampiri bapak yang menggendong Tangguh.


" Biar sama bapak saja, kamu istirahat, atau sebaiknya ke dokter !" kalimat perintah yang bapak ucapkan benar adanya. Aku harus tahu kondisi kehamilanku.


" Arin langsung ke IGD saja pak, Arin takut kenapa - napa dengan kehamilan Arin."


" Rin.....kau hamil ? Apa suamimu tahu kau hamil lagi ? Bapak bertanya dengan rasa kaget padaku. Guratan di kening beliau berkerut jelas tertampak. Aku memang belum memberitahu bapak dengan kehamilanku.


" Arin bisa sendiri Pak, tanpa bantuan Pak Satrio. Arin bisa merawat anak - anak Arin."


" Setidaknya suamimu harus tahu kalau kau hamil," seru bapak lagi.


" Rin.....yang sabar nak......" pilu suara bapak terdengar menyentuh hatiku yang sudah menganga karena luka.


" Iya Pak, Arin sabar dan melembutkan hati. Arin kuat.....dan berterima dengan semua." Gigih ku tahan air mata yang mulai menggenang di permukaan. ," Aku kuat.....aku tangguh.....Aku harus berkehendak atas diriku sendiri, aku tetap kuat. Bukan hanya aku, wanita bersuamikan laki - laki seperti Pak Satrio. Ada banyak puluhan, ratusan bahkan ribuan di semua belahan bumi ini. Bukan hanya aku yang menjadi wanita kedua dalam kehidupan seorang laki - laki. Aku bisa.....aku bisa.... ," senandung ku menghibur diriku sendiri.


Kuambil jaket yang menggantung di belakang pintu kamarku dan mengambil dompet. Baju seadanya yang aku pakai saat itu. Rasa sakit ini walau sudah berkurang tapi tetap saja ada.


" Arin naik becak Pak, barusan yang adzan di musholla depan seperti suara Pak Samsul. Pak Samsul adalah tukang becak yang biasa mangkal di depan musholla. Menunggu orang naik becak sambil menjaga musholla, membersihkan area dekat musholla termasuk juga depan rumahku.

__ADS_1


Ku angkat kakiku dengan kuat, sekuat hatiku saat ini. Aku tidak boleh lemah, tidak boleh.


" Bunda keluar sebentar ya nak.....Tangguh sama Mbah Kung," pamitku pada Tangguh. Kucium kening dan puncak kepala anakku. Sebuah ciuman kasih sayang karena perasaan terkhianati. Tangisan Tangguh yang mulai mereda karena terkalahkan rasa kantuknya, membuat aku kembali fokus pada rasa sakit di perutku. Tangguh kembali tertidur dengan buaian bapak. Seakan mengatakan," Bunda aku juga ingin di peluk ayah lagi." Ku tepis sebuah kalimat yang aku ibaratkan dan aku deskripsikan sendiri. Tangguh hanya mempunyai aku ibunya.


Terasa lama aku di perjalanan. Sebenarnya jarak rumahku dari rumah sakit yang paling dekat kurang lebih satu kilometer. Mungkin karena menggunakan tenaga manual jadi terasa lama. Langit diatas masih gelap. Burung - burung gereja masih bertengger di kabel - kabel listrik. Udara sang penjemput fajar masih memberi nuansa dingin dan sejuk. Jalan beraspal ini seperi penuh dengan kerikil yang membuat lama dalam perjalanan. Kayuhan kaki pada pedal becak berbunyi dengan nyaring menambah gaduh suasana yang tenang.


Sampai di IGD aku langsung mendaftarkan diriku sendiri.


" Ibu, sendirian saja ? Tidak ada yang menemani ? tanya perawat yang tidak percaya aku berangkat sendiri dan mengurus semua sendiri.


" Saya sendirian mbak, naik becak," jawabku tegar dengan pertanyaan yang sudah aku pastikan akan berulang dan berulang akan ditanyakan.


" Masih bisa......masih ada detak jantungnya..." Suara dokter Niken membuat aku menangis terharu. Aku mencintai dan menyayangi bayi ini. Dia harus kuat dengan segala cobaan.


" Ibu, bayinya sehat. Sudah delapan minggu, kondisi kehamilan ibu sangat lemah. Ibu jangan stres ya. Dibuat bahagia setiap hari, agar adik bayi juga ikut senang."


" Boleh pulang dok ?"


" belum, lihat perkembangan dulu. Ibu istirahat di sini ya mungkin sehari atau dua hari. Kalau sudah sehat boleh pulang," jawab dokter Niken dengan sabar.


Dua perawat muda memasang jarum infus di punggung tangan kiriku. Membawa aku keruangan khusus ibu dan anak. Aku sendiri......tanpa ada yang menemani. Aku berusaha tenang disini. Memejamkan mataku yang sudah kuat untuk terbuka. Saat ini, dalam putaran waktu yang sama hampir pukul delapan pagi. Di bumi yang sama, dibawah langit yang sama tapi dalam keadaan yang berbeda. Aku, sendiri berjuang dengan anakku untuk bertahan hidup. Bertahan dari sebuah kegetiran yang memporak porandakan hati dan pikiran ku. Berjuang untuk tetap bisa berdiri kokoh diatas semua nestapa yang tercipta karena sudah ada sebelum ada. Disana, beliau saat ini sedang bersuka cita menunggu jam untuk melangsungkan pernikahan. Tidak ingatkah beliau dengan aku ? walau aku bukan yang tercinta. Tak perduli kah beliau dengan kehadiranku walau bukan yang beliau inginkan ? Tetap tegakah beliau melakukan semua, walau beliau lakukan atas nama cinta pada wanita lain ? Atau akukah penipu ulung disini ? Berpura - pura semua baik - baik saja sedari awal. Berpura - pura bahagia walau banyak cedera, pertikaian, pertentangan, perselisihan, pertengkaran, cela dan nista dalam rumah tanggaku. Berpura - pura perhatian, santun pada beliau walau sudah berhambar hati, Berpura - pura mau melayani beliau walau hati sudah terasa asing. Berpura - pura tetap kokoh seperti pohon yang menjulang tinggi tetapi berserangga di dalam. Aku hancur......Aku runtuh dengan ikatan tanpa cinta. Sang masa lalu tetap menjadi pemenang dalam romansa ini. Aku seperti anak panah yang diluncurkan sang pemanah, melesat tanpa tujuan karena hanya ingin melepaskan saja, bukan karena ada tujuan.

__ADS_1


Tapi aku harus......harus dan harus kuat. Bayi ini aku yang menginginkannya, aku harus berjuang untuk kesehatannya. Aku harus hidup untukku, untuk Tangguh dan untuk nyawa yang ada dalam rahimku.


Bersambung........


__ADS_2