
Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Aku dan tangguh sudah rapi menunggu Pak Satrio datang menjemput.
" Aku masih di jalan. Kau dan Tangguh bersiaplah. " perintah beliau melalui sambungan telepon.
" Iya saya dan Tangguh sudah siap."
Mobil hitam Pak Satrio berhenti di sebrang jalan rumahku. Aku bergegas. Aku sangat senang. Ini pertama kalinya aku keluar bersama Pak Satrio.
Flash On
"Kau punya kopi original ? " tanya Pak Satrio yang menghampiri aku di dapur.
Aku menoleh dan mencoba menunjukkan kopi kemasan yang biasa bapak minum.
" yang seperti ini ? "
" Apa ini enak ?" tanya beliau lagi kurang yakin. "Aku biasa meracik kopi sendiri bukan kemasan,"
" Saya kurang tahu pasti rasanya bagaimana. Bapak tiap hari membuat kopi dengan ini,"
" Ya dicoba saja, gulanya aku sendiri yang menambahkan."
" ya .....baik," aku menyeduh kopi di cangkir dengan gula di tempat terpisah.
Pak Satrio duduk di kursi sambil menggendong Tangguh. Netra beliau mengarah padaku. Mengikuti kemana aku bergerak tanpa berkedip. Sesekali melihat ke Tangguh yang berada dalam gendongan beliau. Baju yang beliau kenakan sangat manis. warna soft merah muda di padu celana jeans warna dongker. Rambut tertata rapi ke belakang. Wajah beliau terlihat lebih mudah di banding usia beliau.
" Apa kau punya brown sugar ?"
"Apa ?"
berkerut keningku dengan pertanyaan beliau karena tidak mengerti.
" Brown sugar..........mamanya Tangguh," ulang beliau mempertegas pertanyaannya.
" Saya tidak punya...."
" Aku terbiasa menggunakan brown sugar untuk campuran kopi,"
" Apa berpengaruh ? "
". kurang nikmat kalau gula putih,"
" Maaf ...... saya tidak tahu," sesalku pada beliau
" Itu karena kita tidak seatap. Kau tidak pernah tahu hal - hal yang aku sukai. "
__ADS_1
Terdiam aku dengan kata - kata beliau. Benar kata Pak Satrio. Masalah sekecil ini saja aku tidak tahu. Hanya untuk secangkir kopi yang biasa beliau minum. Aku pun tidak pernah tahu.
Pak Satrio menyeruput kopi yang aku buat. Tidak sampai satu tegukan, beliau hentikan. Netra beliau menyipit. Berusaha keras menelan kopi yang sudah masuk ke mulut beliau. Menandakan kopi di cangkir tidak sesuai dengan keinginan beliau. Kemudian beliau berdiri.
" Terima kasih kopinya. Maaf tidak habis,"
" Maaf saya benar - benar tidak tahu,"
," Tidak usah panik. Nanti kita beli kopi luwak dan brown sugar,"
Lega aku mendengar kalimat beliau. Untuk sarapan, aku bisa senang. Pak Satrio memuji masakan tempe bacem dan semur daging yang aku suguhkan. Beliau bilang rasa masakan yang aku buat hampir mirip dengan yang ibu buat.
" Ini sangat enak.......Kau pintar memasak," puji beliau ketika mencicipi masakan buatanku
Sewaktu Pak Satrio dulu menginap di rumahku seminggu. Beliau berangkat pagi dan pulang malam hanya untuk tidur. Makan dan minum banyak dilakukan di luar rumah. lebih tepatnya di rumah ibu mbak Asri. Hanya sesekali saja makan malam di rumahku. Kedatangan kali ini yang agak berbeda. Beliau mau makan dan minum kopi di rumahku.
" Maafkan saya......... saya tidak tahu kalau mas....." kalimatku belum sampai selesai. Beliau langsung memotong dengan halus.
" Sudahlah ....... aku juga salah tidak pernah memberi tahu,"
" Nanti aku jemput jam setengah sebelas,"
" Doakan usaha ku sukses"
Aku mengangguk dan tersenyum.
" Amin,"
Flash off.
Suasana cafe ini sangat elegan dengan ruangan yang ditata cantik model minimalis. Ada beberapa sofa dan meja berukuran sedang dan panjang. Dinding berwarna putih dengan ornamen - ornamen bergambar kopi dan coklat
Dua barista muda berseragam putih sedang meracik kopi. Suara musik jazz menambah semakin terkesan.
" ini lagunya Goerge benson,"
" aku penyuka musik jazz,"
urai beliau sambil duduk di sofa berhadapan dengan meja barista. Seorang Waitrees datang ke meja kami menyodorkan menu.
" Pak Satrio lama tidak kemari?" sapa Waitrees yang sudah mengenal Pak Satrio.
" Iya sedang sibuk,"
Pak Satrio memesan beberapa menu yang aku tidak tahu. Sambil menunggu pesanan datang beliau banyak menjelaskan tentang musik Jazz. Mulai dari Jazz klasik sampai jazz Fusion. Dari penyanyi bernama Louis Armstrong sampai Indra Lesmana lengkap dengan aliran Jazz mereka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian pesanan kami datang. Menu untukku Spaghetti dan red Velvet. Sementara beliau kopi dan pisang goreng di sajikan modern.
" Tangguh aku yang gendong agar kamu bebas makan," usul beliau padaku. Ketika melihat aku kesulitan untuk mengambil makanan. Kedua tangan Pak Satrio mengambil Tangguh dari gendonganku.
" Selamat Siang bu Satrio.....," Sapa Waitrees cantik penyambut tamu. Menurutku mereka sudah saling mengenal. Spontan kami, aku dan Pak Satrio menoleh ke asal suara. Tampak jelas di sana. Wanita cantik berambut ikal yang ditata rapi menggunakan dress biru tua bermotif bunga. Wanita cantik itu Mbak Asri.
Pak Satrio langsung berdiri
" Dik Asri.........,"
Sang pemilik nama menoleh ke arah kami. Tersenyum dan melambaikan tangannya. Suara high heels terdengar melangkah ke arah kami.
" Hai..... mas.....,"
Jantungku berdegup kencang. Tanganku mulai terasa gemetar. Tidak bisa dibayangkan bagaimana raut wajahku. Seperti seorang pelakor yang ketahuan sedang bersama suami orang.
Mbak Asri berjalan elegan dengan menjinjing dompet lebarnya. Kaca mata hitam yang tidak begitu pekat sehingga terlihat jelas bola matanya, mengarah padaku dan Pak Satrio. Seakan ingin mencari sesuatu. Senyumnya yang semula tipis perlahan merekah sehingga terlihat gigi putihnya berjajar rapi.
" Aku tidak menggangu kalian kan ?"
" Aku tahu dari ibu kalau mas mau kesini,"
Aku hanya diam dan tertunduk.
" Dik..... bisa aku jelaskan semuanya...." halus berintonasi Pak Satrio pada Mbak Asri.
" He.....gak apa - apa. Aku juga sekedar mampir kok,"
" Dik..... jangan salah paham,"
Mbak Asri melangkah meninggalkan kami. Pak Satrio yang kebingungan melihat mbak Asri berjalan. Segera mengembalikan Tangguh padaku. Aku yang tetap terpaku duduk di sofa ini seakan tidak bisa berbuat apa - apa.
" Dik tunggu .......,"
"Dik.....Asri tunggu aku," kejar Pak Satrio menyusul mbak Asri.
Aku istri sah beliau. Kenapa seperti aku orang ketiga yang merebut Pak Satrio ?
Adegan tadi bukankah adegan yang sering muncul di drama. Adegan seorang istri yang mendapati suaminya berselingkuh ? Tapi bukankah aku istri sah beliau.
Semua pasang mata memandangku. Mungkin berbagai pertanyaan pada diri mereka. Ada yang memandang iba. Ada yang memandang mencibir. Aku benar - benar bingung. Ibu........ tolong aku ..... . Tolong anakmu ini. Ya Allah kenapa ....kenapa ini berlaku padaku ? Aku ingin berteriak. Aku istri sah beliau. Aku tidak pernah mengambil Pak Satrio dari siapapun. Aku tidak pernah mencuri suami wanita lain.
Aku benar - benar ketakutan dan kurang stabil. Menangis.....hanya itu yang bisa aku lakukan. Badanku terasa dingin dan berkeringat. Bukankah aku yang seharusnya melakukan apa yang dilakukan Mbak Asri ? Kenapa ? Kenapa ? Tangguh mungkin mengerti apa yang aku alami. Dia ikut menangis sekencang - kencangnya. Kupeluk Tangguh dengan erat seakan tak ingin ku lepas. seakan tak boleh orang lain memandang hina anakku. Aku ingin segera berdiri dan keluar dari cafe ini. Aku ingin lari sekencang - kencangnya.
Bersambung.........
__ADS_1