
" Rin........Rin.......ada tamu mencari suamimu," suara bapak memanggil dan mengetuk pintu kamar berkali - kali, membuat kami aku dan Pak Satrio harus bergegas merapikan baju yang kami kenakan. Bisa dibayangkan bingung dan terkejutnya kami.
" Tamu mencariku ? tidak ada yang tahu aku disini ? " tanya Pak Satrio heran padaku.
" Apa tahu dari rekan mas ? " tanyaku balik
" Tidak ada yang tahu," jawab Pak Satrio yang masih diliputi rasa kebingungan dan tidak menyangka akan ada tamu yang mencarinya ke rumah.
" Apa mungkin Bayu yang memberitahu ?"
" Itu hal yang paling tidak masuk akal. Bayu sudah sepuluh tahun menjadi sekretarisku," jawabnya dengan tegas.
" Bukankah yang tahu hanya Bayu dan Pak Sumadi ?" tanyaku yang juga ikut merasa heran.
" Kalau sampai mereka berdua yang memberitahu, aku suruh pulang jalan kaki dari sini ke ........" Jawab Pak Satrio ketus.
Sudah menjadi kebiasaan Pak Satrio datang ke kotaku dengan Bayu sekretarisnya dan Pak Sumadi supirnya. Pak Satrio menginap di rumahku. Dulu menginap di rumah mbak Asri, ketika masih dengan mbak Asri. Bayu dan Pak Sumadi yang menginap di hotel. Jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Satrio selalu diadakan di hotel tempat Bayu dan Pak Sumadi menginap. Kunjungan kali ini pun juga seperti itu, yang sudah biasa dilakukan. Bayu dan Pak Sumadi berkendara sendiri dan menginap di hotel. Sementara aku dan Pak Satrio berkendara sendiri, karena Pak Satrio ingin menikmati perjalanan hanya berdua saja denganku.
Pak Satrio membuka pintu kamar diikuti olehku dari belakang. Tatapan mata kami langsung tertuju pada dua gadis muda berpakaian rapi dan rok pendek sama seperti cerita Pak Satrio tadi padaku. Mereka juga terkejut melihat kami, saling berpandangan dan mengarahkan kembali pandangan pada kami.
Pak Satrio berjalan dan duduk di kursi ruang tamu, sementara aku hanya berdiam diri di pintu tidak mengikuti langkah Pak Satrio. Bukan karena apa aku tidak ingin ikut campur masalah kerja kecuali Pak Satrio yang memintanya.
" Selamat pagi Pak Satrio," sapa mereka berdua dengan tersenyum bersahabat.
" Pagi, dari mana anda berdua tahu saya disini ? " tanya Pak Satrio dingin dan menunjukkan ketidaksukaan pada kehadiran mereka dirumah ini.
" Kami tidak sengaja melihat Bapak turun dari mobil dan masuk ke rumah ini. Sebenarnya kami ingin menemui bapak di hotel," urai salah satu dari mereka.
" Ini perbuatan tidak terpuji mengikuti urusan pribadi orang lain," ucap Pak Satrio masih dengan masygul.
" Mohon maaf bapak......beribu maaf, kami selalu berusaha menemui bapak ataupun Pak Dirgantara tapi selalu tidak berhasil. Baru kali ini kesempatan kami bertemu dengan Pak Satrio," Jawab salah satu dari mereka.
" Kenapa tidak langsung ke Pak Dirgantara selaku direksi perusahaan ? Maaf ini di rumah. Saya tidak biasa mencampur aduk urusan rumah dan kantor,"
" Bukankah Pak Satrio selaku komisaris perusahaan. Kami mohon Pak, tolong ..........."
__ADS_1
" Silahkan ke Bayu saja.... Saya sedang rehat dengan istri. " Ucap Pak Satrio memotong kalimat tamu tersebut.
" Tapi Pak Bayu selalu beralasan jadwal Bapak selalu penuh dan tidak bisa bertemu kami," suara mereka memelas.
" Dik Rin, tolong sambungkan ke Bayu," perintah Pak Satrio padaku yang dari tadi hanya berdiri di pintu kamarku memandangi mereka bertiga. Suara Pak Satrio padaku juga ketus memerintah terbawa emosi karena kehadiran mereka.
Aku mengambil Handphone di kamar dan memberikan pada Pak Satrio. Pandangan kedua gadis itu terasa aneh bagiku. Memandangiku dari ujung atas sampai bawah, kemudian saling berpandangan keheranan karena melihatku.
" Bu Satrio," Sapa keduanya padaku dengan suara yang kaku.
Aku hanya tersenyum menjawab sapa dari mereka. Pak Satrio tanpa menoleh mengambil handphone dari tanganku dan langsung memijit nomor untuk menelepon Bayu.
" Ah aku lupa Bayu ada di lahan, mungkin tidak ada sinyal disana," gerutunya pada diri sendiri.
" Dik Rin tolong hubungi terus, mungkin bisa!" perintah Pak Satrio.
" Iya mas....," jawabku kemudian berlalu ke belakang.
Pak Satrio dan kedua tamunya berbicara sangat serius. Tampak sekali wajah tegang, nada sinis dan dingin dari Pak Satrio untuk mereka.
" Apa kau mau, Kedua nona ini menawarkan membuatkan garasi dan isinya untukmu, tapi aku harus menerima kontrak media tanaman dipasok oleh perusahaannya ? " tanya Pak Satrio meminta pendapat dariku.
Aku menggeleng pelan dan berkata pada Pak Satrio," Tidak mas........itu tidak perlu."
" Istri saya tidak mau, anda dengar sendiri," kata Pak Satrio tetap dengan nada yang dingin.
" Silahkan di kantor saja untuk masalah ini atau melalui mekanisme yang benar, jangan langsung ke saya." Ucap Pak Satrio berdiri seolah ingin mengatakan untuk mempersilahkan mereka pulang.
Wajah mereka tampak bingung dan saling berpandang. Kemudian arah pandangan mereka tertuju padaku yang berdiri agak jauh.
" Bu Satrio kami permisi dulu," pamit mereka padaku dengan wajah yang kebingungan.
* * *
" Apa dikantor mas semua pegawai perempuan juga berpakaian seperti itu ? tanyaku pada Pak Satrio.
__ADS_1
Kami dalam perjalan menuju kota Pak Satrio. Empat hari aku di kota asalku, tapi pikiranku ada di sana karena Tangguh dan Thavisa. Rasa rinduku yang tak bisa kuungkap dengan kata akan segera terobati.
Pak Satrio tidak menjawab, seperti berdialog dengan dirinya sendiri. Hingga tidak memperdulikan apa yang aku tanyakan pada beliau.
" Mas........Apa dikantor mas pegawai perempuannya berpakaian seperti itu ?" tanyaku mengulang pertanyaan untuk Pak Satrio.
" Tidak semua tapi sebagain besar," jawabnya dingin.
" Untuk apa kau bertanya ? Mereka hanya bekerja tidak bermaksud menggoda, biarkan saja," nasehatnya lagi.
" Bukankah mas tadi bilang, itu membuat konsentrasi mas terganggu saat bekerja ?"
" Konsentrasiku saja, bukan mereka," jawab Pak Satrio sambil melihatku.
" Sudahlah....jangan terlalu diambil hati, aku hanya bercanda," jawabnya lagi.
" Tapi candaan yang tidak lucu," selorohku dengan masam.
Pak Satrio tertawa kecil melihatku yang memasang muka masam kemudian mengacak rambutku.
" Karena itu aku memintamu ikut denganku, keinginanku sangat tinggi jika melihat seperti itu," tawa kecil Pak Satrio mengiringinya berbicara.
" Apa masalah di lahan sudah selesai ? " tanyaku mengalihkan pembicaraan dan Pak Satrio mau berbagi sedih denganku.
" Iya..... ada Bayu dan perwakilan dari kantor pusat kesana. Mungkin sudah datang." jawab Pak Satrio berusaha untuk tenang.
"Akar masalahnya ?"
" Biasa masalah saling berebut pekerjaan. Kepala Waker ( penjaga kebun / lahan di malam hari ) yang lama tidak terima di berhentikan sehingga merusak kinerja kepala Waker yang baru," jelas Pak Satrio.
" Masalah....kedua tamu tadi ?"
" Itu yang jadi bebanku. Aku masih mencari tahu, nanti kalau sudah kelar aku beritahu titik masalahnya. Kenapa bisa berani langsung menemuiku ? " Alis netra Pak Satrio berkerut.
" Kita lihat besuk, aku berjanji akan menemuinya di kantor melalui bagian divisi pemeliharaan tanaman," jawabnya dengan tegas.
__ADS_1
Bersambung........