Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 65


__ADS_3

Henry mungkin yang paling sibuk mengantar dan mengurus keperluanku melahirkan. Sehabis magrib Henry sudah ada dirumah, walau aku sudah melarangnya.


" Henry aku sudah minta mbak Ayun mengantar dan menemaniku. " tolakku pada Henry tadi siang saat menghadiri pernikahan dokter Dandy, tapi tidak berhasil. Ternyata sehabis magrib Henry sudah duduk manis di ruang tamuku.


" Sudah aku siapkan semuanya, " kata Henry ketika melihatku membawa tas.


" Maksudmu ? " tanyaku tidak mengerti perkataan Henry.


" Baju bayi, bedong bayi, perlengkapan mandi, sampai kain jarik. Sudah semua bisa di cek," imbuhnya lagi.


" ha......kamu tahu dari mana semua itu ? aku keheranan dengan Henry.


" Tanya google," jawab Henry enteng, sambil meletakkan tas yang sudah aku jinjing.


" Tapi aku sudah menyiapkan semuanya,"


" Pakai punyaku saja," jawabnya singkat.


Sesampai di rumah sakit, semua teratasi dengan baik. Setelah menyelesaikan proses administrasi, aku memasuki kamar inap yang dipilih oleh Henry.


" Henry apa ini tidak berlebihan ? Aku pakai BPJS kelas tiga, kenapa ini ruangan VVIP ? aku menoleh kearah Henry yang menata baju dan perlengkapan di almari kamar ini. Sementara Mbak Ayunda menggendong Tangguh.


" Aku daftarkan lewat pasien umum," jawab Henry tanpa menoleh padaku.


" Apa tidak berlebihan ?"


" Tidak.....uang bukan segalanya dan bisa dicari, kesehatan mbak Arin yang nomor satu,"


" Pastikan uangmu banyak dulu sebelum bilang uang bukan segalanya,"


" Itu karena Mbak Arin menikah dengan pria yang salah. Mbak Arin bukan prioritas hidupnya."


" Henry ,"..... Suaraku bergetar parau memanggil Henry. Menatap Henry tajam agar tidak meneruskan kalimatnya. Henry mengerti apa yang ada dalam hatiku. Membalikkan badannya dan tersenyum padaku.


" Iya......iya....Apa suami Mbak telepon ? Aku kira, suami Mbak sudah tahu kalau Mbak akan melahirkan bulan ini ? "


Aku menunduk perih dengan pertanyaan Henry. Benar apa yang dikatakan Henry seharusnya Pak Satrio yang melakukan semua ini bukan Henry. Bukankah beliau sangat senang karena aku mengandung bayi perempuan ? Bukankah beliau bilang ingin segera bertemu anak kami ? Tidak terasa air mataku jatuh. Henry memandangku dan memberikan tisu yang dia ambil di meja.

__ADS_1


" Maaf, kalau pertanyaanku menyinggung Mbak Arin. Dan maaf juga aku tidak bisa membasuh air mata Mbak Arin langsung karena Mbak Arin istri laki - laki lain," keluh Henry. Setelah memberikan Tisu, Henry mengambil Tangguh dari gendongan Mbak Ayunda.


" Mbak Ayun tolong jaga Mbak Arin, aku keluar dulu cari makan malam," suara Henry pelan kemudian melangkah perlahan keluar dari kamar ini.


Bola mataku hanya bisa mengikuti gerak tubuh Henry membawa Tangguh. Kenapa Henry sangat baik padaku walau aku sudah melukainya. Bahkan disaat seperti ini Henry yang menawarkan bantuan. Seandainya Henry lah suamiku tentu aku menjadi wanita yang paling berbahagia saat ini.


Flash black


Pernikahan Dokter Dandy dan Dokter Anastasia Lukito sangat mewah. Acara diadakan di luar ruangan gedung dengan tema taman bunga mawar. Banyak bunga mawar biru dan putih sesuai keinginan pengantin. Semua pegawai keluarga Henry menghadiri acara ini, termasuk aku dan bapak. Aku hanya duduk sambil melihat lalu lalang orang yang lewat. Semetara Tangguh dalam gendongan bapak. Suara saksofon dengan medley lagu - lagu romantis mengiringi acara pernikahan ini. Beberapa penyanyi memeriahkan acara pernikahan Dokter Dandy. Henry juga menyumbangkan suaranya atas keinginan kakaknya Ko Dandy. Suara Henry sangat bagus ketika menyanyikan lagu " Musica Del Corazon" milik Josh Groban dan tembang lawas milik Elvis Presley " Can't Help Falling in love". Melihatnya berada di tengah - tengah beberapa perempuan muda membuat aku tersenyum. Apalagi hari ini Henry sangat tampan menggunakan tuxedo dengan rompi di dalam. Tuxedo warna abu - abu muda semakin membuatnya terkesan elegan. Tinggi badannya yang menjulang diantara semua membuat aku semakin mudah melihat keberadaaannya diantara kerumunan kerabat dan teman-temannya.


" Mau aku suapi ? " tanya Henry yang datang dari arah depan. Membawakan aku sepiring makanan dan segelas minuman.


" Henry....jangan ada keluargamu ?" aku menolak tawaran Henry yang tanpa beban duduk di sebelahku.


Ku geser kursi agar tidak terlalu dekat dengan Henry. Tangan Henry juga bergerak melarangku, tanpa sengaja tangan Henry menyentuh tanganku yang berusaha menggeser kursi. Tangan Henry tepat berada di atas tanganku. Kami saling beradu pandang. Henry, Kami beberapa detik membiarkan tangan kami bersentuhan. Henry tersenyum melihat kegugupanku yang cepat menoleh ke semua arah.


" Henry ....." seruku agar Henry mau melepaskan tangannya.


" kan tidak sengaja..." kata Henry sambil tertawa


" Iya ....iya nih aku lepas....tapi tidak usah geser kursi " sambil mengangkat telapak tangannya secara perlahan. Mata Henry mengarah padaku. Ku alihkan pandangan agar kami tak beradu pandang. Wajah Henry mengikuti arah pandanganku.


Henry juga kembali duduk menyilangkan kakinya dan mengarahkan badannya ke arahku. Mengambil kembali piring yang tadi dia letakkan di kursi.


" Ayo makan, aku suapi " bujuknya lagi.


" Aku sudah kenyang," jawabku singkat dan menatap Henry dengan geram.


" Makan yang banyak besuk pagi mbak SC" kata Henry tetap berusaha menyuapiku.


" Henry....tolong," ku belalakkan mataku agar Henry menghentikan apa yang dia lakukan.


" Kenapa ? Ko Dandy dan istrinya juga lebih tua istrinya," celoteh Henry yang sedikit melenceng dari pembicaraan kami dan membuat aku kepo.


" owh jarak berapa tahun ?


" Bukan tahun tapi bulan, lebih tua istrinya satu bulan."

__ADS_1


" itu bukan lebih tua tapi sebaya," jawabku kesal


" Tapi kan tetap lebih tua," jawabnya asal sambil melahap makanan yang tadi ditawarkan untukku. Henry tertawa matanya menyipit seolah seirama ikut tertawa.


" Tadi aku menyanyi buat Mbak Arin, bukan buat tamu. Seperti itu perasaanku pada Mbak Arin."


" He....he....kamu tahu artinya ?" selorohku agar pembicaraan kami beralih


" intinya aku tetap mencintai Mbak Arin sampai kapanpun." Mata Henry membulat dan menatap tajam padaku seperti sebilah pedang yang siap menghujam. Jernih dan berkilat - kilat.


" Jangan tanya kenapa aku sangat mencintai Mbak Arin, karena Mbak Arin yang pertama untukku, semuanya." ucap Henry lirih setengah berbisik padaku.


" Henry aku yakin kau akan segera lupa, sebulan dua bulan kau pasti akan bertemu dengan perempuan yang lebih dari aku,"


Henry menggeleng pelan dan tatapan matanya tetap padaku. Tidak menghiraukan sekitar entah memandang kami atau tidak. Sikap acuhnya pada sekitar membuat aku risau. Khawatir mereka bertanya-tanya tentang kami, aku dan Henry.


" Aku sudah mencobanya, tapi tidak bisa. Beberapa kali aku menjalin hubungan dengan gadis lain. Aku selalu ingat wajah Mbak Arin ketika aku merampas segalanya. Wajah yang memelas dan menangis. Aku selalu ingat suara Mbak Arin yang memohon agar menghentikan semuanya. Memeluk perempuan lain yang terbayang tetap wajah Mbak Arin. Aku juga tidak tahu kenapa ? Mungkin Tuhan menghukumku, karena aku mengambil yang berharga milik Mbak Arin. Sekarang aku dihukum dengan perasaan cinta yang sangat dalam untuk Mbak Arin," suara Henry tersengal tertahan, tapi senyum tetap mengembang di bibirnya. Seakan tak ingin dunia tahu luka dan derita yang dia pikul teramat berat.


" Boleh aku pegang perut Mbak Arin ? " tanyanya, tapi tanpa persetujuanku dia mengusap lembut perutku.


" Seharusnya ini milikku, anakku, anak kita," ucapnya lirih penuh makna.


Kami terdiam sesaat dalam pikiran masing - masing.


" Nanti malam aku jemput Mbak Arin, aku antar ke rumah sakit," ucapnya lagi sebelum beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan aku dalam tanda tanya. Bergabung kembali dengan saudara dan kolega - koleganya. Pandangannya yang sekali - sekali diarahkan padaku kemudian tersenyum aku balas dengan tersenyum.


Sepahit inikah hidup ? Kenapa aku bertemu Henry kembali saat aku terpuruk seperti ini ? Kenapa dia datang saat aku dililit kesepian yang menderu - deru ? Kenapa dia selalu menawarkan kebaikan saat aku terhujam dan terabaikan oleh laki - laki yang seharusnya memperdulikan aku ? Tidak.....Henry laki - laki yang baik, sudah sepatutnya dia mendapatkan perempuan yang bisa membahagiakan dia. Aku yang harus sadar diri dengan semua. Aku sudah menikah, mempunyai suami dan anak. Aku hanya menggambarkan dia dalam bayangan dan mimpiku saja, tidak boleh lebih walau kehendak melebihi nalar.


Flash off.


Salam cinta untuk semua yang mencintai tapi bukan menjadi pasangan kita.


Jangan lupa like dan komentarnya.


Bersambung......


Ingat wajah Henry kan ? Author juga kangen wajah Henry

__ADS_1




__ADS_2