Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 106


__ADS_3

" Apa mas sudah dapat tahu petis dan sayur lodehnya ? " tanyaku menyambut Pak Satrio yang baru datang dari kantor.


" Iya tapi penuh perjuangan. Kalau tahu petisnya mudah tapi sayur lodehnya aku harus mencari dari warung ke warung karena tidak banyak yang membuat lodeh rebung. " jawab Pak Satrio mencium keningku kemudian langsung merebahkan badannya dengan telentang tangan dan kakinya direntangkan untuk menunjukkan kelelahannya karena memenuhi keinginanku.


" Tangguh dan Thavisa apa sudah tidur ?"


" Iya baru saja tidur dikamar mama," jawabku sambil melahap sayur lodeh yang dibawah Pak Satrio.


" Iya biarkan saja, mama ingin menumpahkan kasih sayangnya untuk Tangguh dan Thavisa. Dulu, beliau juga seperti itu pada Adrian. Adrian diasuh mama sampai SMA setelah itu Adrian memilih ikut denganku karena tidak tega sering melihat mamanya selingkuh." cerita Pak Satrio.


" Tapi saya ingin tidur dengan mereka mas, saya kangen," rajukku pada Pak Satrio.


" Mama bilang apa ?"


" Mama ingin saya hanya fokus pada bayi yang saya kandung. Kalau malam, mama minta anak - anak tidur dengan mama saja karena takut mengganggu waktu tidur saya dan mas. Saya sudah jelaskan pasangan lain juga seperti itu dan tidak masalah. Tapi mama tidak mau terima pendapat saya," ceritaku panjang pada Pak Satrio.


" Tidak apa diikuti saja keinginan mama, toh kita bisa melihat mereka setiap saat. " hibur Pak Satrio sambil membersihkan bibirku dengan tisu karena selesai makan. Kemudian Pak Satrio membersihkan sampah dari makananku keluar kamar untuk membuangnya. Sesaat kemudian beliau masuk kembali ke kamar kami.


" Bagaimana kalau Tangguh dan Thavisa lebih dekat dengan mama daripada dekat dengan saya. Itu yang membuat saya sedih. Sekarang saja, Tangguh lebih dekat dengan mas daripada saya. " sambungku lagi ketika Pak Satrio sudah duduk di sampingku.


" Tidak akan, kau ibu kandungnya dan mama adalah Oma nya. Tetap ada perbedaan yang mendasar,"


" Mama juga melarangku memberi ASI pada Thavisa karena kehamilanku," aduanku pada Pak Satrio dengan manja


" Bukankah memang tidak boleh ?


" Boleh asal asupan ibu terpenuhi," jawabku tegas.


" Mas........ Apa benar mas tidak pernah masuk ke mall terbesar di kota ini ? "


" Iya. Aku kehilangan masa anak - anak dan remajaku untuk bekerja. Ketika aku kelas 1 SMP sepulang sekolah papa sudah mengajakku ke tambak, ke lahan untuk bekerja. Aku benar - benar harus mengetahui pekerjaan dari pekerja kasar sampai ke posisi yang aku duduki saat ini. Kata Papa aku harus tahu pekerjaan dari yang bawah sampai yang atas. Kalau malam aku sering menangis ingin bermain seperti teman - temanku," cerita Pak Satrio sendu.


" Kenapa kita sama ?" selorohku


" Sama ? "


" Iya sama, bedanya mas untuk penerus bisnis keluarga kalau saya untuk makan,"


" Maksudmu ? "


" Setiap hari saya membantu ibu membuat makanan untuk dijual dan hasilnya untuk membeli beras dan kebutuhan kami. Sampai suatu hari saya menangis karena dagangan yang saya bawa tidak ada yang laku. "


Pak Satrio mengerutkan keningnya dan bertanya, " Apa tidak kembali modal ?"

__ADS_1


"Tidak......... Dibeli teman sekelas saya karena kasihan melihat saya menangis ? "


" Cowok apa cewek ? "


" Cowok."


" Pacar pertamamu ?"


" Bukan."


" Cinta pertamamu ? "


" Bukan. Cuma teman satu kelas, tapi selalu membeli kalau daganganku tidak habis."


" Apa dia tampan ? "


Aku mengangkat bahuku


" Kau menyukainya ? "


" Tidak."


" Apa dia menyukaimu ?"


" Aku harus mencarinya dan bertemu dengannya."


" Kenapa ? "


" Aku cemburu."


" Ha.....bukankah itu dulu ketika saya masih SMP."


" Tapi di memory otakmu dia seorang super hero, aku ingin menghapus ingatan itu dari otakmu," ucap Pak Satrio dengan memelukku erat.


" Apa mas tidak pernah pacaran ? "


" Tidak ada waktu untuk pacaran, karena waktuku habis untuk sekolah dan bekerja. Aku tidak pernah dapat uang saku dari papa, jalan satu - satunya aku bekerja di perusahaan papa. Seandainya dulu ada HAM, mungkin aku sudah lapor. " cerita Pak Satrio sambil tersenyum.


" Papa selalu menyuruhku belajar dan mempelajari semua pekerjaan di tempat usahanya, tak segan memarahiku di depan semua karyawan. Sampai suatu hari aku bertemu dengan Asri. Aku merasa senasib saja dengan dia. Kami harus bekerja diusia remaja untuk keluarga. Dari situ aku mulai akrab dengannya. "


" Apa mas masih mencintai Mbak Asri ? "


" Apa kau masih mencintai Henry ? Dan siapa lagi itu, teman SMP mu ? Pak Satrio berbalik tanya padaku. " Pacarmu banyak sekali." bisiknya di telingaku.

__ADS_1


" Tidak....Aku dan teman SMP ku tidak pernah pacaran," seruku tegas.


" Benar ? Sungguh ? tanya Pak Satrio sambil menciumi kedua pipiku dengan gemas.


Lelah bercanda kami terdiam, tangan Pak Satrio masih memelukku dengan erat.


" Dik Rin.....ada yang ingin aku sampaikan padamu. Apa kau tidak masalah semua usaha yang aku pegang di kendalikan oleh Adrian dan Adry ? Aku menjanjikan semua itu memang untuk Adrian dan Adry. Dulu, aku tidak membayangkan akan memiliki keturunan lagi."


" Untuk pembagian hasilnya kau tak perlu khawatir semua akan dibagi secara adil," urainya lagi.


" Saya tidak pernah berpikir ke arah sana mas. Bagi saya anak - anak bisa sekolah dan bekerja sesuai keinginan mereka itu sudah baik." jawabku.


" Tadi Asri meneleponku meminta uang tunjangan tiap bulannya ditambah, dia tidak bisa membuka usahanya karena sakit yang dia derita. Tapi kalau butiknya berjalan lagi tunjangan akan dikembalikan seperti sebelumnya. Apa kau setuju ? Tapi jika kau tidak setuju aku tidak mengabulkan keinginan Asri," pinta Pak Satrio lembut padaku.


" Saya tidak tahu mas....... itu terserah mas," jawabku lemah.


" Jangan seperti itu Dik Rin, semuanya akan aku bahas denganmu, aku tidak ingin ada salah paham diantara kita." ucap Pak Satrio dengan menatapku sendu


" Kita suami istri, maaf ternyata masa laluku belum bisa selesai dan masih mengganggu dalam rumah tangga kita. "


" Tadi Asri menuntutku untuk menepati janji kalau Adrian dan Adry yang akan menjadi penggantiku di PT...... dan PT........ sesuai janjiku dulu dalam surat perjanjian. Selain itu dia juga memintaku segera balik nama rumah di......atas nama Adrian." suara lesu dan lelah tersampaikan lewat intonasi Pak Satrio menguraikan kalimat cerita padaku.


" Aku merasa tidak adil pada anak-anakku. Tangguh dan Thavisa juga bayi dalam kandunganmu. Tapi aku tidak bisa membatalkan janjiku pada Asri tentang Adrian dan Adry sebagai penggantiku. "


" Saya tidak apa - apa mas toh itu semua cuma jabatan. Saya yakin Tangguh dan Thavisa akan sukses lewat jalan yang lain. "


" Iya itu harapanku. Mudah-mudahan Tangguh dan Thavisa mempunyai pandangan yang sama denganmu ketika mereka sudah dewasa dan tidak menyalahkan aku tentang semua ini," suara pasrah Pak Satrio lirih dengan netra yang nanar.


" Dulu ketika saya ingin menikah dengan mas, saya tidak pernah tahu keadaan mas secara ekonomi bagaimana ? Saya hanya tahu mas punya usaha itu saja," jawabku pelan.


" Dari dulu ibu sering memberi nasehat, kalau mencari suami lebih baik mencari yang sama secara ekonomi agar tidak menjadi masalah dikemudian hari. Ternyata ini yang dimaksud ibu, selalu ada perselisihan." luruhku pada Pak Satrio


" Tidak....tidak semua seperti ini. Ini hanya personal saja, aku tidak menyangka Asri bisa seserakah itu terhadap harta. Aku dulu memilihnya karena dia terlihat sangat lugu dan polos. Ternyata semua bisa berubah karena keadaan dan waktu yang berputar,"


" Mas tidak perlu khawatir saya jamin, anak - anak saya tidak akan menuntut apa - apa dari mas. Mereka harus sadar, mereka lahir dari istri kedua," rasanya plong bisa menguraikan apa yang menjadi beban Pak Satrio padaku dan anak - anakku.


" Jangan menyakitiku dengan bicara seperti itu Dik Rin. Semua anak - anakku, darah dagingku. Aku berjanji padamu, aku akan banyak menabung untuk anak - anak kita."


Kami terdiam dan berusaha menenangkan diri dengan memejamkan mata untuk beristirahat. Pak Satrio masih erat memelukku dan enggan melepasnya.


Bersambung............


Tolong beri like dan komentar agar Author senang.

__ADS_1


__ADS_2