Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 70


__ADS_3

Aku berdiri dari sofa ini berjalan ke arah jendela yang ada di ruangan ini. Jendela ini sangat lebar dan panjang. Terdiri dari dua bagian berjajar, hanya terpisah oleh kayu bingkai jendela. Ku buka jendela kayu tampaknya hujan belum juga reda.


" Jangan di buka jendelanya nanti bertambah dingin," perintah Henry padaku.


" Aku ingin melihat hujan di sini," jawabku sambil duduk di jendela besar ini. Memandang semua dari sini. Tampak kelap kelip lampu dari jauh, di pemukiman penduduk dibawah sana.


" Hujannya semakin deras, dengan mobil pun akan sangat kesulitan karena medan jalannya yang berkelok-kelok." urai Henry. Kedua tangan Henry memakaikan syal rajut segitiga pada bahuku. Dan aku menerimanya semakin aku rekatkan pada tubuhku. Memakai syal segitiga ini membawa sedikit hangat untuk tubuhku.


" Mbak Arin, pasti dingin. Ayo duduklah di kursi." Henry menutup jendela yang aku buka dan mengikutiku dari belakang, melangkah menuju sofa. Kembali Henry memainkan lagu - lagu kesukaannya dengan piano. Aku hanya duduk di sofa ini sambil berharap - harap cemas dengan hujan deras yang tak kunjung reda. Aku benar-benar mengantuk dengan suasana ini. Hujan deras, suara piano yang indah sebagai pengantar tidur.


.......................


," Mbak Arin......bangun, sudah jam lima pagi ! " Suara lembut dan sentuhan jemari Henry membangunkan aku.


Aku menggeliat merasakan kenyenyakan tidurku yang pulas, sampai - sampai aku tidak mengigau atau terbangun sama sekali. Thavisa juga tidak merengek meminta ASI, demikian juga Tangguh pasti terlelap karena hujan semalam. Tidurku sangat nyenyak malam ini.


Aku hentikan menggeliatkan badanku, karena merasa ini bukan kamarku......ku pandangi sekitar. Ini bukan kamarku ! Aku menoleh, Henry.....ya bukankah barusan yang membangunkan aku adalah Henry..... ? Aku masih disini, di Villa Henry semalaman ! Meninggalkan anak - anakku. Aku terburu - buru untuk bangkit mendudukkan badanku sendiri dari posisi berbaring.


" Henry........,"


," Sholatlah dulu. Aku akan antar Mbak Arin dan menjelaskan semuanya pada keluarga Mbak Arin," tutur Henry sambil membantuku berdiri dari ranjang.


Bolehkah aku jujur, kali ini sholatklu tidak khusuk karena pikiranku terus tertuju pada anak - anakku dan parahnya lagi, ternyata aku menginap di sini.......di Villa Henry. Aku sholat..... ? Ya masa nifas ku sudah habis sejak seminggu yang lalu.


" Sarapan dulu mbak ! Dan minumlah jus buah yang aku buat ! " saran Henry.


" Henry.....aku tidak bisa. Aku ingin pulang,"


" Setidaknya minumlah jus buahnya !"

__ADS_1


Aku menuruti perintah Henry memimum jus buah mix mangga dan buah naga buatan Henry.


" Tukarlah pakaian dulu. Aku tidak bisa melihat orang yang tetap memakai baju yang sama di hari yang berbeda. Menimbulkan aroma yang aku tidak suka," sindir Henry padaku.


" Aku tidak membawa pakaian," Jawabku setengah membentak Henry.


," Baiklah, aku juga tidak punya baju perempuan seukuran Mbak Arin. Tapi ada baju istri Javier mungkin cukup dengan Mbak Arin,"


," Henry....aku terburu-buru,"


," Aku antar dan aku jelaskan semuanya. Motor Mbak Arin sudah diantar sama Pak Sobri dan Pak Ali." Pak Sobri dan Pak Ali adalah pegawai yang menjaga villa dan kebun Henry.


" Kapan ? "


" Sebelum aku membangunkan Mbak Arin," Jawab Henry sambil tersenyum. " Karena aku tahu Mbak Arin tidak akan mau aku antar, maaf kalau caraku sedikit kurang sopan,"


Kami sudah berada di dalam mobil Henry. Jalan sudah ramai dengan para pekerja perkebunan dan para petani yang berlalu lalang.


" Apa Mbak Arin tidak percaya padaku ?" Henry balik bertanya padaku.


" Aku...... Henry......,"


" Itukah alasan Mbak Arin meninggalkan aku ? Karena Mbak Arin tidak pernah percaya padaku ? Mata Henry menyipit dan bernanar. Seakan tumpukan luka ada disana di dalam hatinya dan sangat jelas terlihat dari sorot matanya yang memudar.


" Mbak Arin tidak pernah percaya padaku ? "


," Henry itu lain. Kita memang bukan ditakdirkan berjodoh. "


" Bukan aku yang menggendong Mbak Arin ke kamar, Bu Siti dan Bu Sri yang memindahkan Mbak Arin. Sungguh aku tidak melakukan apa - apa pada Mbak Arin. Aku tidur di sofa, semalaman," jelas Henry padaku.

__ADS_1


" Aahhhh kata bukan jodoh lagi. Ternyata sakit sekali aku mendengar kata " bukan berjodoh" ." tangan Henry memukul pelan kemudi mobil ini.


" Kalau tidak berjodoh. Kenapa aku tidak diberi kuasa melupakan perasaanku pada Mbak Arin ? "


" Henry.....mungkin ini ujian," ucapku. Seandainya aku bisa berkata. Aku juga sangat mencintai Henry. Tapi biarlah semua berlalu, aku tidak ingin memberi harapan untuk Henry. Aku ingin melihat Henry bahagia dengan perempuan lain.


," Andai Mbak Arin tahu, bagaimana aku berusaha melupakan Mbak Arin. Sampai aku bisa menjalin hubungan dengan dua perempuan diwaktu yang sama. Semua itu untuk melupakan Mbak Arin. Tapi tetap tidak bisa melupakan Mbak Arin."


" Aku menjalin lebih dari lima kali dalam waktu hampir tiga tahun. Betapa piciknya aku.........,"


," Dari semua wanita itu, aku hanya memeluk dan bersentuhan bibir, karena tidak bisa melakukan lebih dari itu. Hasrat ku hilang ketika wajah Mbak Arin muncul, dan yang aku peluk bukan Mbak Arin." Suara Henry terbata-bata dengan bola mata yang semakin penuh dengan air mata. Henry menoleh padaku sesaat kemudian kembali ke arah depan fokus pada jalan yang kami lalui.


" Segila itu aku mencintaimu Mbak. Aku tidak tahu cara menghilangkan rasa canduku pada Mbak Arin,"


," Henry.....tolong aku tidak bisa bersamamu lagi," ucapku memandang Henry dari samping. Pipi Henry sudah teraliri oleh air matanya. Aku menyerongkan badanku agar bisa melihat dan memandang Henry. Betapa pemuda tampan di hadapanku ini terpuruk oleh rasa cinta yang mendalam dan yang membuat luka hatinya. Semuanya karena aku. Karena besarnya cinta dan rasa bersalahnya padaku.


" Aku tidak mungkin terus - terusan berganti pasangan. Akan berapa banyak hati yang terluka karena aku ? Betapa semakin berdosanya aku ? Karena itu aku putuskan sebaiknya aku sekarang sendiri dan berdoa jika memang ada keajaiban. Aku berharap satu saja keajaiban itu terjadi pada kita. Agar kita bisa bersama."


" Aku benar - benar berharap ada mukjizat untuk kita. Tapi, aku minta Mbak Arin juga berdoa yang sama denganku. Agar tujuan kita terwujud." Henry menurunkan tangan kirinya yang memegang kemudi. Ingin menggapai tanganku, tapi dia hentikan dan kembali ke kemudi lagi.


" Aku ingin menggenggam tanganmu Mbak......ingin sekali. Tapi tidak mungkin, jika aku melakukannya pasti aku akan melakukan lebih dari menggenggam tangan Mbak Arin."


Air mata Henry semakin deras berjatuhan. Aku......Aku juga sama. Air mataku berpacu turun dari permukaan bola mataku.


" Aku sangat ingin memelukmu Mbak. Ya Tuhan beri aku kekuatan dan keimanan," Seru Henry keras dan tersayat. Aku semakin terisak dengan semua pengucapan Henry. Betapa sakit hatiku melihat Henry dengan Lukanya. Luka yang aku timbulkan.


" Henry.....maaf. Aku membuatmu seperti ini. Aku minta maaf, aku sangat berdosa padamu,"


" Aku sangat mencintaimu Mbak. Kenapa Mbak Arin tidak percaya padaku. Seandainya dari awal Mbak Arin punya rasa kepercayaan yang tinggi padaku, kita tidak akan terpisah seperti sekarang,"

__ADS_1


," Maaf........Henry.......Maafkan aku,"


Bersambung.......


__ADS_2