Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 72


__ADS_3

Bus Patas yang aku tumpangi terasa lama bagiku bahkan mungkin lebih lama dari bus Ekonomi. Dari kotaku ke kota Pak Satrio memakan waktu lima jam perjalanan. Aku duduk dengan terus menangis. Ku buka HP ku membaca Pesan Watsapp dari bapak.




16


Rin.....cepat pulang suami dan ibu mertuamu datang.




47.




Rin........Kapan pulang. Suamimu mulai tidak sabar dan bertanya terus kenapa kau tidak pulang.



27



Rin..........Suamimu bilang akan menunggu. Dia menginap dirumah, sekarang tidur dikamarmu.



45



Rin.....cepat pulang nak. Kasian Thavisa menangis terus.




47


Rin......Suami dan ibu mertuamu marah - marah dan memaksa bapak untuk bercerita, kau ada dimana ? Apa yang harus bapak katakan.


__ADS_1



35




Rin.....Maaf bapak tidak bisa berbohong. Maaf nak, bapak bilang kau menemui Henry di Villa tempatnya bekerja.



30



Rin.......Cepat pulang, suamimu akan membawa Tangguh dan Thavisa.



18



Rin......Tangguh dan Thavisa dibawa pulang suamimu. Maaf nak bapak tidak bisa mencegahnya. Cepat pulang nak.


Aku menangis hingga badanku tergoncang. Semua salahku.....salahku. Aku terlena dengan Henry, sampai aku melupakan anak - anakku. Tapi....sungguh aku tidak bermaksud demikian. Aku sangat mencintai anak - anakku.


Perjalanan yang biasa ditempuh lima jam, ternyata benar - benar lama karena tujuh jam aku berada di dalam bus menuju rumah Pak Satrio. Rumah beliau tampak sepi ketika aku datang.


" Assalamualaikum....Pak....... Apa Pak Satrio ada ? " tanyaku pada Pak Sumadi supir pribadi Pak Satrio yang sedang mencuci mobil milik Pak Satrio.


," Ibu .......Bu.....Arin. Ada Bu......Ada....bapak ada di dalam. " jawab Pak Sumadi dengan terbata - bata karena kaget melihatku


Aku langsung berlari menuju ruang makan di rumah ini. Ini hampir jam makan siang, tentu Pak Satrio berada di sana. Karena beliau lebih suka makan dirumah. Rumah Pak Satrio besar dan memanjang. Di depan dan disisi kanan ada halaman yang luas. Aku berlari dari gerbang depan ke taman samping untuk lebih cepat ke ruang makan yang berhadapan dengan taman.


" Mas........Mas Satrio ," panggilku melihat Pak Satrio yang duduk di meja makan hendak makan siang. Beliau menoleh kearahku tanpa berdiri kemudian kembali kearah semula beliau. Tanpa mengikuti aturan dirumah ini yang selalu menonjolkan sikap sopan dan santunnya. Tanpa memperdulikan etika aku duduk di kursi sebelah kanan dekat dengan beliau. Meja makan ini memanjang, cukup untuk sepuluh orang. Satu kursi di kedua ujung meja, empat kursi di sisi kanan dan empat kursi di sisi kiri.


" Mas dimana Tangguh dan Thavisa.....saya ingin membawanya pulang ? " Kedua tanganku menyentuh lengan beliau.


" Apa masih pantas kau bertanya dimana Tangguh dan Thavisa ? Pak Satrio balik bertanya dan menepis kedua tanganku yang memegang lengan beliau.


" Apa hilang rasa malumu, sampai kau datang kemari ? "


" Mas.....dimana Tangguh dan Thavisa ? " Ku keraskan suaraku dan juga tangisku. Pak Satrio tetap tenang dengan duduknya. Tampak Bik Ina datang setengah berlari ke arah kami.


" Bu Arin....," Sapa Bik Ina.

__ADS_1


Aku abaikan Bik Ina yang menyapaku. Hanya menoleh sebentar ke arah beliau tapi tak memberi jawaban atas sapaan beliau. Pikiranku kalut dan hanya terfokus pada Tangguh dan Thavisa.


" Apa mereka dikamar ? Aku berdiri dan setengah berlari ke arah kamar yang menjadi tempat istirahatku ketika aku disini.


" Apa pantas seorang ibu meninggalkan kedua anaknya yang masih balita hingga bermalam untuk menemui seorang laki - laki ? beliau memukul meja dengan keras kemudian berdiri dan mengikuti langkahku dari belakang.


" Itu tidak benar.......... Itu tidak benar........


Mas salah paham,"


" Salah paham ? " Pak Satrio memutar tubuhku dengan sekali gerakan ketika aku belum sampai di depan kamarku.


" Mas......saya dan Henry.....,"


," Berani kau menyebut nama laki - laki selingkuhkanmu di depanku ? Aku masih suamimu ! " bentak beliau dengan nada yang keras memangkas penjelasan ku. Tangan beliau terangkat hendak memberikan tamparan padaku. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku sambil memohon agar beliau mau menurunkan tangan beliau.


" Sekali aku mendengar kau menyebut nama selingkuhanmu, Bukan hanya kau yang ku tampar tapi semua keluargamu,"


" Mas.....sungguh. Mas salah paham, itu masa lalu sebelum saya menikah dengan mas,"


," Masa lalu katamu ? Tadi malam saja kau masih bercinta dengannya. Kau rela meninggalkan Tangguh dan Thavisa lari kepelukan laki - laki itu,"


" Mas itu tidak benar, tidak terjadi apa - apa tadi malam. Tadi malam hujan dan saya ketiduran,"


" Kau cerita pada seratus orang tidak akan ada satupun yang percaya ceritamu. Apa yang akan dilakukan laki - laki dan perempuan yang sudah dewasa di dalam kamar kalau bukan bercinta ?"


" Tidak mas.....tolong percaya pada saya,"


" Percaya padamu ? Dengan yang terjadi semalam ? Pak Satrio mengangkat kerah bajuku. Seperti seseorang hendak berkelahi. Aku berusaha keluar dari cengkraman beliau.


" Mas.....tolong dimana Tangguh dan Thavisa. Saya ingin bertemu ?" putus asa aku memohon pada beliau. Entahlah mungkin aku yang kurang sopan ? Tapi aku ingin sekali bertemu anak - anakku. Aku sudah tidak perduli Pak Satrio percaya atau tidak. Itu bukan urusanku lagi, yang terpenting saat ini, aku bertemu anak - anakku Tangguh dan Thavisa.


" Tidak aku ijinkan kau bertemu dengan Tangguh dan Thavisa. Mereka akan ada dalam pengasuhanku." Jawab beliau tegas. Netra beliau berkilat - kilat menatap dengan jijik padaku. Sementara aku sayu dalam pandangan. Ada banyak ruang - ruang dalam otakku yang hampa karena tidak memikirkan dan tidak memfungsikan tugasnya dengan baik.


" Simpan air mata palsumu. Bukankah tadi malam kau tertawa manja dengannya ?" beliau melepaskan cengkeramannya padaku dengan kasar dan setengah mendorongku hingga aku tidak stabil dan akan terjatuh.


" Itu tidak benar......... Tolong mas. Saya ingin bertemu Tangguh dan Thavisa. Bukankah mas selama ini tidak perduli pada kami ? Bukankah mas tidak pernah menemani kami ? Bukankah mas tidak pernah mencintai aku ? Aku melangkah maju kembali mendekat pada beliau.


" Karena kau memang pantas di perlakukan seperti itu. Tapi Tangguh dan Thavisa tetap milikku."


" Saya ibunya, saya yang melahirkan mereka. Dan mas tidak pernah menemani selama saya mengandung dan melahirkan mereka."


" Aku papanya. Aku tidak mengijinkan kau bertemu Tangguh dan Thavisa. Kau seorang ******. Bukankah kau sudah tidak suci ketika menikah denganku ? Aku tidak ingin Tangguh dan Thavisa dalam asuhanmu. "


" Tolong mas..... tolong. Saya akan lakukan apa saja untuk bertemu Tangguh dan Thavisa, " Pintaku yang meratap pada beliau. Tapi tanpa belas yang kasih beliau tak bergeming. Bagai tembok Cina yang kokoh beliau berdiri berkacak pinggang di depanku. Menampilkan seorang Pak Satrio yang angkuh dengan kuasa beliau. Menampilkan wajah seorang penguasa - penguasa tanah yang menunjukan kekuatan - kekuatannya atas hamba - hamba sahaya mereka.


" Sekalipun kau bersimpuh dan mencium kakiku, tidak aku ijinkan. Tangguh dan Thavisa ada di rumah ibu sekarang. Kau pulanglah ! Kembali pada pelukan laki - laki mudamu !

__ADS_1


" Tidak....saya tidak akan pulang, Saya akan ke rumah ibu. Saya akan membawa Tangguh dan Thavisa."


Bersambung.........


__ADS_2