Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
Bab 78


__ADS_3

Perasaan hati dan jantungku berdebar tidak terkendali saat mobil Pak Satrio memasuki halaman rumah milik orang tua beliau. Ya seminggu ini anakku berada disini, dirumah mertuaku. Tampak Pak Hardian bermain dengan Tangguh di halaman rumah. Tangguh sudah bisa berjalan bahkan berlari. Seminggu yang lalu Tangguh masih berjalan dengan takut. Tidak terasa, tiga hari lagi Tangguh ulang tahun yang ke satu. Jarak usia tangguh dan Thavisa hampir satu tahun. Air mataku jatuh melihat Tangguh yang sedang bermain lari - lari dengan Pak Hardian, wajahnya ceria dengan tertawa karena dikejar Pak Hardian.


Aku segera turun ketika mobil Pak Satrio terhenti. Ku buka pintu dan berlari ke arah Tangguh diikuti Pak Satrio yang berjalan di belakangku. Wajah Tangguh yang ceria menoleh kearah kami.


" Papa.....Papa......" teriak Tangguh dengan berlari ke arah Pak Satrio. Pak Satrio melihat Tangguh berlari kearah beliau, serta merta beliau merentangkan tangan . Aku menangis terharu, seminggu berlalu kemajuan Tangguh sangat pesat.


" Kakak....jangan berlari terlalu kencang ! " seru Pak Hardian pada Tangguh. Tangguh tidak menghiraukan teriakan Pak Hardian. Dengan gaya khas anak kecil Tangguh berlari, badannya yang gemuk membuat Tangguh terlihat menggemaskan.


" Anak papa........," seru Pak Satrio membalas sapaan Tangguh yang berlari kencang ke arah beliau.


Pak Satrio meletakkan kedua lutut beliau di tanah dengan tangan direntangkan menyambut Tangguh. Tangguh memeluk tubuh Pak Satrio demikian pula Tangguh.


" Mama......ja.....mama......ja.....( mama kerja .....mama kerja ) ," sapa Tangguh padaku. Aku mendekati Tangguh yang berada dalam pelukan Pak Satrio. Membelai rambutnya dan menciumnya dengan berjuta kasih sayangku.


" Iya nak mama kerja," jawabku sambil terus menciuminya. Panggilannya padaku pun sudah berubah. Aku mengajarinya memanggilku dengan bunda, tapi sekarang Tangguh memanggilku dengan sebutan Mama. Suara Thavisa terdengar menangis dari dalam rumah.


" Adik....ngis.....cucu....( adik menangis....susu )," Tangguh meraih tanganku, serasa ingin memberi tahu adiknya Thavisa menangis. Beberapa saat berlalu, aku lupa kalau Pak Hardian berdiri juga diantara kami. Mungkin karena terlalu lama aku tidak bertemu Tangguh dan Thavisa aku sampai lupa dengan sekelilingku.


" Apa kau dan keluargamu sehat nak ?" sapa Pak Hardian padaku.


" Iyaa papa, saya dan keluarga sehat," jawabku sambil mencium punggung tangan Pak Hardian.

__ADS_1


" Syukurlah papa ikut senang. Masuklah, kasian Thavisa menangis,"


Aku mengangguk pelan dan tersenyum pada Pak Hardian. Membungkukan badan sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Di sisi lain Pak Satrio meraih Tangguh untuk beliau gendong, mereka saling bercanda. Tangan Tangguh menyentuh kumis dan janggut tipis Pak Satrio kemudian tertawa geli. Pak Satrio menggoda dengan mencium Tangguh menempelkan kumis dan janggut beliau pada Tangguh, yang semakin membuat Tangguh tertawa karena geli. Kenapa melihat mereka berdua seperti ini saja, sangat membuat aku senang ? Bukankah seperti ini yang diharapkan setiap ibu yang mengalami nasib sama seperti aku ? Ayahnya bisa bermain dengan putra putrinya setiap saat.


Thavisa tetap menangis dalam gendongan Bu Elly sementara perempuan paruh baya berada di samping Bu Elly sibuk ingin memberikan susu dalam botol pada Thavisa.


" Ibu maaf, ijinkan saya memberikan ASI untuk Thavisa," ijinku ingin mengambil Thavisa yang berada dalam gendongan Bu Elly. Beliau menoleh acuh padaku tapi tetap memberikan Thavisa padaku.


" Duduklah selagi kau memberikan ASI pada Thavisa," perintah Bu Elyy dengan suara dingin dan parau padaku. Ketegangan dan canggung diantara kami tampak jelas terlihat.


" Iyaa Bu saya lakukan," jawabku yang juga dengan canggung membalas jawaban perintah Bu Elly. Aku duduk disofa yang diisyaratkan oleh pak Satrio dengan tangan beliau, agar aku duduk di samping beliau. Suara tangis Thavisa mereda, mata Thavisa memandangku sambil meminum ASI ku. Tangan mungilnya menggenggam erat jari telunjukku. Pak Satrio yang berada di sebelahku sambil memangku Tangguh, mencium puncak kepala Thavisa berkali - kali dengan tetap bercanda dengan Tangguh. Aku terharu dengan apa yang dilakukan Pak Satrio. Ya Allah belum setengah jam ku alami kejadian yang membuat aku sangat bahagia. Aku sebagai salah satu tokoh dalam kejadian ini. Sungai kering ini seperti tersiram air hujan yang deras.Bisa mengalirkan air lagi selayaknya sungai pada umumnya. Doaku setiap saat seakan terjawab dengan dua kejadian ini. Aku ingin terus......dan terus mengalami seperti ini dengan anak - anakku dan ayah kandung mereka, Pak Satrio. Selama ini aku berpura - pura tidak membutuhkan Pak Satrio, terasa lenyap seketika. Melihat beliau sangat baik memperlakukan anak - anakku.


" Mama.......apa makanannya sudah siap, Saya lapar," seru Pak Satrio ketika melihat Bu Elly datang dari arah ruang makan. Beliau memasukkan Handphone dalam clutch bag kemudian berdiri dan berjalan mengajak Bu Elly kembali ke ruang makan sambil menggendong Tangguh.


Aku dan Pak Hardian hanya memandangi saja kelakuan Pak Satrio yang seperti anak kecil, sangat manja pada Bu Elly.


," Mama masak semur dan tempe bacem kan ?" suara Pak Satrio yang manja masih terdengar jelas dari ruang keluarga tempat aku duduk dengan Pak Hardian, bapak mertuaku. Tidak aku sangka Pak Satrio sangat manja dengan ibu beliau. Tidak ada jiwa angkuh dan sombong yang biasa beliau tunjukkan pada semua orang. Tidak ada wajah berwibawa yang biasanya beliau tebarkan untuk semua orang.


" Dik Rin ayo makan.......," Pak Satrio kembali ke ruang keluarga untuk memanggilku. ( Jangan harap kita bisa berteriak - teriak di rumah mertuaku, kalau tidak mau di beri nasehat mulai pagi sampai malam, mulai hari pertama sampai hari ke sepuluh ).


" Kau temani suamimu makan, biar mbak Puji ( yang dimaksud adalah pengasuh Tangguh dan Thavisa ) yang menggendong Thavisa." perintah Bu Elly mengambil Thavisa dari gendonganku berbarengan dengan aku selesai memberi ASI pada Thavisa.

__ADS_1


" Tidak, biar Tangguh dan Thavisa ada disini." seru Bu Elly ketika mendengar Pak Satrio mengutarakan maksudnya akan membawa Tangguh dan Thavisa pulang bersamaku.


" Aku tidak percaya lagi dengan istrimu," kembali Bu Elly berbicara menekan pada kami, aku dan Pak Satrio.


" Tapi ma......lebih baik anak - anak diasuh ibu kandungnya sendiri," ulas Pak Satrio pada Bu Elly.


" Lebih baik bagaimana ? Bukankah ketika kita kesana istrimu keluar sampai menginap dengan pacarnya. " Balas Bu Elly tetap bertahan agar Tangguh dan Thavisa tetap berada pada beliau.


Wajahku merah padam menahan malu dengan ucapan Bu Elly. Perkataan Bu Elly walau pelan tapi di ruangan ini terdengar nyaring. Mungkin Mbak Puji dan Bik Ipah mendengar suara Bu Elly.


Aku tertunduk dan tidak berani memandang, aku juga tidak bisa berkata untuk membela diriku sendiri. Faktanya aku memang keluar dan bermalam di villa Henry. Aku ingin menyangkal, aku dan Henry tidak ada hubungan spesial dan tidak terjadi hal negatif malam itu. Tapi sulit sekali suara ini keluar, tertekan di antara rongga - rongga kerongkonganku. Aku menelan salivaku karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


," Ma.....itu hanya salah paham saja," jawab Pak Satrio


" Kau selalu membela istrimu. Dulu, kau membela Asri mengabaikan mama, tapi apa kenyataanya ? Berapa kali dia selingkuh ? Berapa biaya yang sudah kita keluarkan untuk Asri dan keluarganya ? Kalau dihitung cukup untuk membeli lahan baru." celoteh Bu Elly.


" Tidak.....mama tidak mau Tangguh dan Thavisa diasuh orang yang salah," suara Bu Elly meninggi dibanding sebelumnya.


Jari - jari tanganku tidak bisa menyembunyikan kalau aku gemetar ketakutan dan cemas. Aku tidak bisa hidup tanpa anak - anakku. Yang buat aku bertahan dan membuat aku kuat sampai di sini karena Tangguh dan Thavisa.


Terima kasih sudah membaca novel saya. Tolong beri komentar dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2