Hanya Sebuah Pernikahan

Hanya Sebuah Pernikahan
bab 36


__ADS_3

Jangan lupa selalu bahagia dan tersenyum walau luka di hati sangat dalam.


Menangislah , jika itu bisa membuat hati kita merasa sedikit mengurangi penderitaan kita.


Karena yang tahu berapa dalam dan sakit luka kita hanya kita saja yang tahu.


Selamat membaca..............


Salam untuk teman terdekat anda.............


Aku melepas semua perhiasan yang entah pemberian siapa. Dibantu pak Satrio yang melepaskan perhiasan di tubuhku. Aku harus kuat...........harus kuat...........dan harus kuat. Aku tetap duduk dengan tegapnya di sisi ranjang ini. Seakan ini adalah singgasanaku. Aku berkata dalam diriku sendiri. Aku harus bisa kuat walau terseok - seok karena semua bagian dari diriku sudah tertusuk oleh kenyataan yang menyakitkan. Walau banyak duri yang akan aku terjang di jalanku. Aku tidak boleh terlihat lemah karena laki laki ini. Aku tidak boleh terlihat penghibah didepan suamiku. Laki - laki ini, sangat manis dalam senyumnya tapi membunuhku dengan perlahan juga dengan senyumnya.


" Nanti selepas aku bertemu dengan mamanya Adrian dan dik Rin pulang dari rumah ibu. Kita keluar ya,"


" Dik Rin bisa memilih perhiasan apa saja yang dik Rin minta,"


" Sebesar apa dan semahal apa akan saya belikan,"


Kalimat - kalimat rayuan begitu lancar keluar dari bibir Pak Satrio. Apa dia menganggap aku akan jatuh dengan untaian kalimatnya yang begitu sangat mendunia. Untaian kalimat palsu yang sering dilontarkan para pria kepada pasangannya, hanya untuk mengambil kepercayaannya. Hanya untuk membuat perempuan jatuh hati. Hanya untuk mengatur posisi agar terlihat lebih romantis.


" Tidak usah mas. Aku masih ada anting - anting yang lama dan cincin kawin,"

__ADS_1


Ya.........hanya cincin dua gram itu perhiasan pemberian Pak Satrio.


Dengan menggelengkan kepala perlahan. Aku menolak halus tawaran dari Pak Satrio. Bukan aku tidak mau menerima pemberiannya. Aku hanya merasa sayang dengan diriku sendiri. Aku merasa iba dengan hatiku. Jika aku menerima pemberian Pak Satrio lagi, mau tidak mau aku akan memakainya kembali. Suatu saat tetap akan terlihat lagi oleh mbak Asri dan kembali akan diminta lagi. Akan berapa kali aku kembali terluka ? Akan berapa kali aku akan kecewa ? Akan berapa kali aku merasa terkalahkan ? Akan berapa kali aku merasa terhina ? Akan berapa kali aku merasa posisiku tidak bisa sebanding dengan mbak Asri ? Biarlah aku mengambil jalan selangkah untuk mundur. Biarlah aku melambaikan bendera putih yang aku tidak tahu siapa juri dan wasitnya. Biarlah aku kalah dalam pertandingan yang sudah tahu siapa pemenangnya. Semua untuk diriku sendiri. untuk ketenangan ku sendiri. Aku memilih berada di zona nyaman yang tidak akan melukai hati dan perasaanku.


" Dik.......Rin g marah kan ?" Beliau bertanya dengan suara lembut. Berusaha menyerap perlahan seperti partikel - partikel air yang berusaha masuk pada pori pori colocasia walau tidak akan pernah berlaku.


Aku tersenyum menatap netra Pak Satrio. Haruskan aku katakan kalau aku marah ? Haruskah aku sampaikan kalau aku terluka ? Haruskah aku membuat proposal kalau keadaan hatiku tidak baik - baik saja ? Bukankah beliau bisa membaca netra hitam ku yang berkilau. Dalam genangan air mata yang aku tahan ? Bukankah beliau bisa membaca dengan sikapku ? Kalau aku hanya berpura - pura setuju dengan kehendak beliau. Sepenuhnya berharapan beliau mengurungkan niatnya. Apakah beliau tidak bisa membaca pikiranku dan gerakan tubuhku ? Apakah ketika dalam rahim ibundanya beliau tidak masuk kelas Untuk menerima pelajaran bahasa netra dan bahasa gerakan tubuh.


Sentuhan tangan pak Satrio yang tidak sengaja mengenai kulit leher belakangku, ketika melepas kalung. Begitu terasa panas dan menyulut api dendam yang aku kubur dalam sekam. Aku ingin menangis dalam pelukan ibuku. Seandainya ibu masih hidup, apakah beliau ikhlas putri tercintanya diperlakukan seperti ini ? Apakah beliau akan diam saja melihat menantunya berbuat kasar yang terselubung dalam sikap dan kata yang halus ? Aku menjerit dalam rintihan yang hanya terdengar olehku saja.


Ciuman lembut di tengkukku yang pak Satrio berikan. Membuat aku terpapar dan terpasung dalam kekakuan yang semi permanen. aku hanya diam......diam.......diam tak bersuara ketika kalung ini terlepas perlahan dari leherku. Berkali - kali aku kedip - kedip kan kelopak mataku menahan air mataku. Kalung ini tidak seberapa harganya, mungkin aku bisa membelinya sendiri dengan uang gaji ku. Tapi kenapa ketika diminta mbak Asri, merasa seisi dunia tak akan pernah sanggup membelinya berapapun harganya. Kalung ini baru saja lepas dari leherku. Tapi aku semakin terasa tercekik oleh rantai emas yang lebih besar dari yang aku pakai tadi. Aku semakin tidak bisa bernafas karena mengikat sangat kuat. Aku semakin merasa berat dengan besarnya rantai emas fiktif ini. Aku raba perlahan dengan tanganku leher ini. Jejak kepemilikan yang Pak Satrio berikan di bagian depan dan mungkin dibelakang leherku tidak mengantarkan aku pada suatu khayalan yang tinggi,tetapi semakin menghempaskan aku ke bumi ber mil - mil dalamnya. Hingga membuat palung laut baru didasar lautan yang begitu dalam dan gelap.


Dengan tenang dan tetap terlihat berwibawa. Pak Satrio meninggalkan aku sambil membawa kotak perhiasan dan isinya yang bukan milikku lagi. Perasaan ini seperti terseret arus sungai yang tenang tapi begitu kuat. Dan aku letih untuk berenang ke tepian.


" Dik Rin. Aku keluar dulu ya.....tunggu aku kalau datang terlebih dulu,"


Aku hanya diam dan menatap Pak Satrio yang memberikan ciuman di keningku.


" Aku berangkat sendiri saja. Pak Sumadi antar dik Rin"


Kembali aku tidak menjawab hanya anggukan yang aku berikan.

__ADS_1


Adry mengikuti pak Satrio karena ingin bermain ke rumah temannya. Hari ini, hari sabtu Adry libur sekolah. Hanya aku dan Adrian yang tersisa. Tidak ada percakapan diantara kami. Hanya Adrian yang semakin intens memandang bagian leherku. Aku ingat ada tanda kepemilikan dari Pak Satrio di sana yang sangat terlihat jelas. Aku berusaha menutupinya dengan tanganku dan terasa kikuk dengan situasi ini. Adrian berdiri tanpa menoleh lagi padaku. Helaan nafas kasar aku keluarkan dengan suara. Kembali aku merasa dalam kungkungan dingin Adrian. Karena aku melihatnya kembali ke arah meja makan. Berjalan mendekatiku dan berdiri tepat di belakangku. Seketika dudukku menegap tidak tahu apa yang akan dia lakukan.


" Kalau tidak punya baju yang menutupi leher, setidaknya pakai syal ini"


Suara berat Adrian terdengar jelas. Mengaitkan syal di leherku.


" I.....i.......iya........" jawabku pelan


" Tidak baik seorang perempuan membiarkan terlihat tanda merah di lehernya"


" I.....i.......iya........." jawabku lagi dan kembali dengan suara pelan.


" Terima kasih banyak "


Suaraku tidak bisa lantang bila di depannya. Kemana cerita ibu tiri yang bisa menguasai suami dan anak - anak - anak tirinya itu. Kenapa bukan aku yang menjadi tokoh utamanya ?


" sudah kewajiban ku"


jawabnya sambil melangkah ke arah kursi tempat duduknya tadi. Kemudian dengan tenang melanjutkan sarapan paginya. Tanpa memandang ke arahku. Seolah - olah dia duduk sendiri tanpa siapapun.


Kalimat dari Adrian " sudah kewajiban ku " mengingatkan kembali pada sosok laki - laki yang aku cintai. Henry, sedang apa dia sekarang ? Apa dia masih ingat aku ? Apa dia masih menyimpan nomor teleponku ? Apa tetap mengenang saat - saat kebersamaan kami ?

__ADS_1


bersambung............


__ADS_2