
Assalamualaikum..........
Jangan lupa untuk bahagia hari ini............
Selamat membaca......................
Selesai makan malam aku kembali ke kamarku. karena badanku memang belum fit benar. Aku tidak sabar menunggu besuk. Ya besuk aku pulang. Aku sudah kangen kota asal ku. Kota dimana aku dilahirkan. Kota dimana aku menikmati masa masa suka dan dukaku. Aku kangen jalan - jalannya yang penuh dengan pedagang kaki lima menawarkan makanan. Aku kangen di pagi hari di kotaku. dan tentunya aku kangen tempat kerjaku.
Kembali aku dengar irama lagu " mariage de amor" yang dimainkan dengan apik oleh Adrian. Suara piano ini mengingatkan aku semuanya tentang Henry. Bau harum badannya terasa masih melekat kuat dikulitku. Jika orang lain tahu tentu akan tertawa atau bahkan mencela. Aku menyimpan dalam plastik tanpa aku cuci. Baju yang aku gunakan ketika terakhir kali aku ditaman bersamanya. Di baju itu ada bau parfum Henry yang masih tercium. Jika aku kangen dengannya aku membuka bungkusan plastik dan mencium kembali. Terasa Henry memelukku dengan hangat. Saat ini, aku benar - benar ingin di peluk oleh Henry. Berbincang apa saja sampai pagi.
Alunan piano Adrian masih tetap berirama dan kadang berganti dengan suara biola. Pintu kamarku terbuka. aku menoleh. senyuman pak Satrio tersungging dengan cerianya seraya menyapaku.
" Belum tidur ?"
" Belum mas, tapi sudah ngantuk......." lugas ku jawab pertanyaan beliau
Pak Satrio langsung masuk dalam bad cover yang aku gunakan. Memelukku dari belakang dan menciumi rambutku. Aku mengambil nafas panjang. Malam ini penghinaan ada lagi. Aku tersenyum dalam tangis yang aku tahan. Perlahan pak Satrio membuka satu persatu kancing piyama yang aku kenakan. Aku membiarkannya. Aku lelah untuk menghindar dan melawan. Aku juga tidak mau memohon beliau untuk melakukan kewajibannya sebagai suami. Aku tanpa apa - apa sekarang seperti bayi baru lahir. Tidak ada yang beliau lakukan hanya kembali memelukku dari belakang.
" Aku ingin tidur disini. "
Sebuah pemberitahuan atau permintaan yang beliau ucapkan. Aku tidak bisa menafsirkan dengan pasti.
" Inikan kamar mas,"
aku berusaha meraih kembali piyama ku untuk kupakai kembali. Tapi dengan lembut pak Satrio melarangnya.
" Biarkan seperti ini,"
" Aku ingin tidur seperti ini," semakin erat Pak Satrio memelukku seolah aku adalah guling beliau. Aku sudah mulai terbiasa diperlakukan seperti ini. Dihina Karena hanya dipandang saja. Tapi malam ini beliau ingin tidur bersamaku dalam keadaaan yang menurutku sangat aneh. Beliau tetap rapi dengan piyamanya. Sementara aku, rasanya aku seperti wanita murahan yang sengaja naik ke ranjang laki - laki berduit dan mesum. Aku berusaha melonggarkan pelukan beliau.
__ADS_1
"ssssssstttttttt"
" Ayo tidur, besuk pagi kita berangkat" pinta beliau halus padaku. Netra beliau terpejam enggan Terbuka.
" Tapi aku tidak nyaman mas......"
" Dinyamankan saja, tinggal merem saja kok repot,"
" Maaf baru kali ini aku bisa menemani dik Rin tidur"
Aku hanya tersenyum tapi tetap tak terlihat oleh pak Satrio karena aku membelakangi beliau. Ya memang baru malam ini sebagai suami istri aku tidur satu ranjang dengan beliau. Tidak ada degup jantung yang keras. Tidak ada hati yang galau. Aku sudah terbiasa dengan penghinaan ini. Aku memejamkan mataku dalam pelukan Pak Satrio. Alunan piano Adrian masih terdengar tidak lelah dia memainkan pianonya. Tapi alunan piano ini seolah - olah mengantarkan aku pada khayalanku kalau yang memelukku adalah Henry.......ya.......aku merasa Henry yang melakukannya.
" Maaf dik.........aku masih belum bisa mencintaimu,"
" Aku juga belum bisa melakukan kewajibanku"
" Aku kira dengan menikah, bisa melupakan Dik Asri ternyata tidak bisa"
" Sekarang aku semakin merasa berdosa sudah menduakan Dik Asri"
" Aku sendiri tidak tahu. kenapa aku tidak bisa melakukan dengan Dik Rin dan hanya bisa melakukan semua dengan mamanya Adrian"
Aku tersedu dengan nafas yang tersengal-sengal. Laki - laki yang sedang memelukku ini. Mengapa begitu jujur atau sengaja menghinaku. Aku bisa terima dihina dengan melepas semua yang aku pakai tapi kenapa perasaanku dihina juga. Sudah cukup aku terhina seperti seorang wanita murahan. Kenapa sekarang dihina lagi kalau aku tidak bisa menggantikan posisinya sebagai istri. Bukan aku yang meminta perkawinan ini. Bukan aku yang memulai hubungan ini. Kenapa jadi seperti ini ? Kenapa tidak seindah yang aku bayangkan ? Aku ingin menangis tapi berusaha tegar. Air mataku tidak keluar mungkin sudah jengah dengan keadaan ini.
Sesak sekali didadaku. Aku ingin berteriak sekeras dan semau diriku. Aku ingin mengumpat dengan semua sumpah serapahku. Aku letih...........kenapa aku hanya merasa bahagia sebentar saja dengan Henry. Ya ........ataukah ini hukuman untukku karena sudah menyia - nyiakan cinta tulus dari Henry. Mungkin nasib tertawa keras melihatku seperti ini. Jatuh, bangkit dan lebih jatuh lagi. Semakin aku tenggelam dalam rumitnya mencari cinta. Aku hanya ingin dicintai dengan tulus. Aku hanya ingin seperti wanita lain yang dimanja oleh pasangannya. Apa impianku berlebihan ? Apa aku terlalu bermimpi ? Tidak bolehkah aku mendapatkan laki - laki yang mencintai aku ? Yang mau menikahi aku dengan cinta ? Apakah aku yang terburu - buru mengambil langkah ingin segera menikah ? Karena banyak buly - an disekitarku, umurku sudah kelewat dari usia menikah. Apakah aku merasa kesepian hingga terburu - buru menikah untuk mendapatkan kasih sayang seorang laki - laki ? Atau aku berusaha lari dari kenyataan kalau Henry tak mungkin bisa bersamaku ?
Aku sudah dipermainkan mas Ravi begitu lama. Aku mencintai Henry tapi tak mampu aku raih. Sekarang.......dan sekarang, kembali aku dijadikan bahan permainan oleh laki - laki yang baru aku kenal. betapa ironisnya aku. Aku mulai ingin mencintai beliau, tapi dengan tegas perasaan ini langsung di cabut. Perasaan ini masih bertunas dengan harapan harapan baru. Aku berusaha mengatur nafasku yang tersengal-sengal.
" Sebelum kita menikah. Aku sudah menikah siri lagi dengan mamanya Adrian tanpa sepengetahuan orang tuaku,"
__ADS_1
Hancur sudah hidupku dengan beberapa kata yang terangkai dalam satu kalimat ajaib barusan. Hancur sudah angan ku yang aku hias indah dan ingin aku jadikan nyata.
Seandainya aku mampu aku ingin berontak memukul dengan keras laki - laki ini yang tak lain adalah suami sah ku.
" Kenapa memilih saya mas.....?"
" Kita tidak saling mengenal sebelumnya,"
" Kenapa memilih saya yang tidak pernah salah sama mas dan mbak Asri?" Berontak ku dengan suara menyayat dan tangisan yang berpadu menjadi irama ketidakstabilan sikap. Irama kekecewaan. Irama berontak. Suara ini seperti laskar - laskar perang yang kelelahan karena latihan bukan karena perang. Suara ini menderu, tercabik karena ketidakadilan.
" Maaf sudah melibatkan Dik Rin dalam masalahku dengan mamanya Adrian"
" Suatu saat jika Dik Rin bertemu dengan laki - laki yang mencintai Dik Rin. Aku akan ikhlas melepas Dik Rin"
" Tapi biarkan untuk sementara seperti ini dulu. kita baru menikah"
Mariage de amor yang dimainkan Adrian ini semakin menyayat dan mengiris hati yang sudah compang camping. Sekarang semakin teriris kecil dan kecil hingga mendebu. Harus aku apakan hati ini ? Harus aku bawa lari kemana hati ini ?
Aku istri sah Pak Satrio tapi kedudukan ku hanya sebagai istri kedua bagi beliau. Sebelum menikahi aku. beliau sudah menikah siri terlebih dahulu dengan mantan istrinya. Mbak Asri, dia adalah istri siri dari suamiku tapi kedudukan sebagai istri pertama. Siapa yang menjadi orang ketiga dalam cerita ini.
? Siapa yang menjadi pelakor dalam situasi ini ?
Aku meronta berusaha melepaskan pelukan Pak Satrio tapi dengan kuat beliau semakin memelukku dan menciumiku"
" Biarkan seperti ini dik,"
" Aku ingin tidur seperti ini denganmu,"
" Biarkan malam ini kita tidur seperti suami istri,"
__ADS_1
Aku pejamkan mataku erat - erat berusaha mencari gambar Henry dalam pelupuk mataku. Beberapa menit Pak Satrio tertidur. Kami tidak melakukannya. Sekali lagi kami tidak melakukannya. Pak Satrio seperti yang sudah - sudah hanya melakukan sesuka hatinya menghinaku. Aku keluar dari pelukannya dan menggenakan kembali piyamaku. Aku berjalan menuju dapur. Aku haus......aku tidak hanya haus raga tapi batinku juga........dengan mata yang masih menangis aku berjalan.
bersambung.................