
HAPPY READING...
***
Langit Ibukota terlihat gelap dengan awan pembawa hujan yang mulai bergerak perlahan. burung-burung di atas sana terlihat panik mencari tempat berlindung sebelum air hujan jatuh membasahi bumi.
Sejenak Hema mendesah pelan. mengamati motornya dan hendak menangis. bagaimana tidak, kendaraan yang selalu ia gunakan kuliah setiap hari tiba-tiba tak bisa hidup. apalagi langit sudah mulai gelap ditambah rintik hujan yang mulai jatuh.
Hema semakin takut karena suasana tempat parkir mulai sepi dan lebih parahnya Sasa tak ada bersamanya. sahabatnya itu ada janji dengan temannya di luar. jadi Sasa pulang lebih dulu.
"Bagaimana ini?" gumamnya pelan. masih berusaha untuk menghidupkan kendaraan tersebut. walaupun sudah banyak cara, tapi motornya itu benar-benar mati.
hingga Hema dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tiba-tiba.
Rendy?
"Kenapa? mogok?". entah darimana asalnya, tiba-tiba pria itu sudah berada di samping Hema. mengejutkannya seperti hantu.
Tanpa diminta, Rendy mengambil alih semuanya. mencoba menghidupkan motor itu dengan sedikit keahliannya. sedangkan Hema, masih berdiri mematung tanpa mengatakan apapun.
mengamati punggung pria yang saat ini tengah berjongkok di depannya.
Mungkin jika Hema tega, gadis itu bisa saja memukul kepala Rendy. membalas dendam dengan apa yang telah pria itu lakukan padanya. karena dari kepala pria itulah asal rencana busuk dimana menjual Hema pada Hean.
Hema menyentuh dadanya. sesak... rasa sakit mengingat semuanya tak bisa dibandingkan dengan apapun. tapi dunia juga memaksa Hema untuk menjalaninya.
"Sorry Ma...".
Tiba-tiba terlontar kata maaf dari mulut Rendy. kata maaf yang sama sekali tidak Hema harapkan sama sekali.
Suasana berubah seketika. bahkan suara berisik air yang jatuh dari langit, entah kenapa tersisa hening saja. mungkin hanya Hema lah yang merasakan keheningan.
Mengamati pria itu, Hema sadar. kalau dia hanya diam, Rendy akan mengira kalau dirinya begitu lemah. Hema tak mau terlihat lemah seperti itu. orang akan seenaknya terhadapnya.
ia akan selalu tertindas dan direndahkan.
"Tak perlu meminta maaf... jika bukan karena lo, gue tak akan pernah bisa mengenal Hean..".
Tak apa lah menggunakan namanya sekali... batin Hema.
"Justru gue yang harusnya berterima kasih..." lanjutnya.
Hema akan menggunakan nama Hean sebagai alasan.
__ADS_1
"Terima kasih, karena berkat lo gue bisa bertemu dengan pria itu...".
Mendengar penuturan Hema barusan, Rendy terkejut. pria itu seketika bangkit dan menatap lekat manik mata Hema mencari sebuah penjelasan disana.
"Apa semuanya benar?" tanya Rendy.
Semua yang dikatakan Hena tadi pagi ketika mereka bertemu. tentang hubungan Hema dan Hean yang bisa dikatakan sebagai hubungan kekasih pada umumnya.
"Tentang?".
"Tentang lo dan Hean...".
Memang apa yang lo harapkan Ren? gue akan memaafkan lo begitu? tidak akan Rendy!
Hema tersenyum misterius. "Hean pria yang baik... dia mampu menerima diriku apa adanya... itu sebuah keberuntungan untukku bukan? bodoh jika gue menyia-nyiakan pria seperti itu...".
ucapan Hema tersirat sebuah sindiran untuk Rendy. bagaimana Rendy yang telah menyia-nyiakan Hema. bagaimana perlakuan pria itu terhadap kekasihnya. sangat buruk!
"Hean bukan pria yang baik, Ma..." ucap Rendy lagi. entah apa maksudnya dengan mengatakan seperti itu.
"Dia itu br*ngs*k... lo belum mengenalnya lebih jauh, karena sebenarnya dia pria buruk...".
Hema kembali tersenyum, tapi bukan senyum bahagia. justru senyum yang mengejek karena ucapan Rendy barusan.
"Pria yang mengkhianati kekasihnya dan menjualnya begitu? ck...". Rasanya Hema ingin meludah di wajah pria itu.
menjelaskan betapa hina nya kelakuan Rendy.
Nafas Rendy terasa tercekat di tenggorokan. "Hema... maafin gue, gue terpaksa melakukannya...".
Hema menepis tangan Rendy yang hendak menyentuhnya. "Alasan apapun, kelakuan lo tidak bisa di benarkan Ren... bahkan pria yang lo bilang br*ngs*k itu jauh lebih baik daripada kelakuan lo... dia tak pernah melakukan apa yang lo lakuin kepada gue...".
Bagaimanapun Hean lebih tanggung jawab daripada Rendy. Hean jauh lebih dewasa daripada pria itu.
"Lo tidak tau kelakuan dia sebenarnya Ma...". Rendy masih mencoba untuk meyakinkan Hema bahwa Hean bukan lah pria yang baik.
"Siapa yang harus gue percayai lagi Ren? siapa? bahkan lo orang yang sangat gue percayai saja bisa mengkhianati gue... lalu, gue harus mempercayai pria yang bagaimana?".
Bodoh jika percaya pada makhluk penghuni dunia yang sangat menyeramkan ini...
"Asal lo tau, gue sangat menderita seperti ini karena mempercayai seseorang bukan? gue terlalu percaya sampai bisa ditipu dan di jual bukan?.
"Tapi-,".
__ADS_1
"Sstt..." Hema menutup mulutnya dengan jari telunjuk, meminta Rendy tak lagi meneruskan ucapannya.
"Jangan menjatuhkan orang lain untuk membuat dirimu terlihat baik Ren, karena lo juga masih tidak paham mana yang baik dan mana yang buruk...".
Hema mulai tak nyaman berada di sana. sejenak pandangannya tertuju pada motor yang sepertinya tak bisa hidup lagi.
ia telah memutuskan untuk pergi saja, karena berhadapan dengan Rendy seperti ini benar-benar memuakkan.
Hema mengambil payung kecil di dalam motornya. ia sudah memutuskan akan pulang dengan jalan kaki saja.
"Satu hal lagi Ren...". pintanya untuk terakhir kali. karena Hema tak ingin melihat Rendy setelah hari ini.
"Mari saling menjauh... anggap saja cerita kita telah lama berakhir...".
Hema sedikit sesak melanjutkan ucapannya.
"Tak perlu mengingat baik dan buruknya hubungan kita... dan intinya, kita jalani kehidupan kita masing-masing...".
Setelah mengatakan itu, Hema membuka payung miliknya dan langsung berjalan meninggalkan Rendy yang masih berdiri mematung. menatap kepergian Hema tanpa mampu mencegahnya.
Hema berjalan dengan sangat yakin. menatap jalanan yang basah oleh hujan.
entak kenapa setelah melepaskan Rendy, Hema tak lagi memikirkan suatu hal.
Rendy dan Kenangannya hanyalah masa lalu. dan semuanya akan menjadi pelajaran bagi gue... tak semua orang bisa tulus terhadap kota, bahkan musuh bisa saja datang dari orang terdekat...
----
Beda dengan Hema yang telah pergi sejak tadi, Rendy justru masih termenung di tempat parkir Universitas nya.
entah apa yang pria itu pikirkan, yang jelas rasa sedihnya sama besarnya dengan air hujan yang semakin deras membasahi bumi.
Mengingat ucapan Hema, Rendy tidak bisa mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang baik. dia begitu buruk...
"Iya... gue sangat buruk Hema... sangat buruk...".
Karena keegoisannya, Rendy benar-benar kehilangan kebahagiaannya. kehilangan Hema dan segala sesuatu yang bisa membuat hatinya tenang. Rendy kehilangan semua itu.
Impian yang ia rajut bersama Hema juga akan menjadi sebuah angan saja. semuanya hanya akan menjadi impian yang tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun.
Gue telah kehilangan semuanya... gue telah kehilangan nya...
***
__ADS_1