Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
100. Terkuak.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Selamat ya kak... cepetan punya bayi..." seru Intan penuh semangat. setelah antri dengan tamu lainnya, pada akhirnya ia bisa mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu secara langsung.


"Hei! lo belum cukup umur untuk membahas bayi..." ejek Jio lagi. dendam terselubung masih berkobar di dalam hatinya. ingin terus mengejar Intan lebih dari itu.


Belum cukup umur?


Ck... Intan tak suka dengan ucapan Jio barusan. padahal ia telah menjadi mahasiswa masih saja diejek anak kecil.


sebenarnya yang masih memperlakukan Intan seperti anak kecil hanya Jio saja, yang lain tak pernah melakukan hal itu.


entah kenapa Jio selalu saja mengibarkan bendera perang padanya.


Apakah Jio iri karena tidak memiliki adik perempuan segemas Intan? hahaha... mungkin itu menjadi salah satu alasannya.


bahkan Heansangat menyayangi adik perempuannya.


"Sudahlah Yo..." cegah Sasa. akan lebih bahaya jika tidak dicegah. "Terimakasih sudah datang... oh ya Tan, lo terlihat sangat cantik hari ini...". Pujian yang Sasa lontarkan bukan hanya bualan saja. Penampilan Intan saat ini memang memukau. bahkan Dimas pun mengangguk setuju dengan ucapan Sasa barusan.


kekasihnya itu memang sangat cantik.


"Hahaha... kakak jauh lebih cantik..." ucap Intan sungkan. karena baginya ia masih kalah dengan pengantin wanita di depannya itu.


Sasa yang memang tidak terlalu suka berdandan. tidak pernah merias wajahnya di kesehariannya dan selalu tampil apa adanya terlihat memukau hari ini. apalagi dengan make up yang benar-benar membuat wajahnya berbeda.


"Iya, lebih cantik istriku..." timpal Jio lagi. membuat Intan langsung melengos masam. kesal karena Jio ikut nimbrung dan mengganggunya.


"Selamat Bro... Sa..." ucap Dimas mengikuti. sesekali tersenyum melihat Jio yang seringkali nongkrong asik bersamanya kini telah menikah.


Dimas merasa senang walaupun ada kesedihan yang tidak bisa diungkapkan.


Satu persatu sahabatnya telah menikah dan hanya Dimas yang masih berjuang dan menunggu Intan.


"Terimakasih..." jawab Sasa dan Jio berbarengan.


"Kapan lo nyusul?" goda Jio pada sahabatnya.


Hingga yang ditanya tentu saja berdecak kesal, ucapan Jio tak berpengaruh padanya sama sekali. karena Dimas tentu saja akan sabar menunggu Intan sampai lulus kuliah dan bekerja.


"Gue lihat dia datang, iya kan Sa?" Dimas bertanya pada Sasa tentang Hema yang tak sengaja ia lihat beberapa saat yang lalu.


"Hm... gue yang memaksanya datang..." jawab Sasa jujur.

__ADS_1


karena Sasa ingin sahabatnya juga datang di acara bahagia ini.


"Dia datang bersama seorang pria dan anak kecil, apa mereka sudah menikah?". Dimas kembali penasaran. apakah Hema sudah menikah apa hanya menjalin hubungan dengan pria yang sudah memiliki anak.


"Belum..." tambah Jio. "Apa Hean tau?".


Jio tak tau apakah Hean menyadari kehadiran Hema di tempat ini atau tidak.


"Kenapa memangnya?". Intan ikut nimbrung. kenapa kalau kakaknya melihat Hema juga?


"Kisah mereka terlalu rumit..." Dimas menjelaskan.


"Mungkin saat ini mereka masih bingung dengan apa yang terjadi... Hean juga terlihat acuh kepada Hema, mungkin karena Hema telah dekat dengan seseorang..." lanjut Jio.


Apalagi tentang pembicaraannya dengan Hean waktu itu. seperti ada makna tersirat bahwa Hean tak ingin kembali menjalin hubungan dengan wanita manapun. seperti tujuannya hidup sampai saat ini adalah demi Bella, membesarkan putrinya itu.


"Apa mungkin kakak dan mbak Hema tidak akan dekat lagi?" Intan tiba-tiba beranya. membuat semua orang terdiam menatap ke arah gadis itu. bingung mau mengatakan apa.


"Entah...".


"Jujur ya In... bukannya gue jahat atau gimana..." tiba-tiba Sasa menyela. mengungkapkan isi hatinya di depan sahabat Hean dan juga adik perempuannya.


"Gue tidak suka kalau Hema dan kakaknya dekat lagi seperti dulu...".


"Gue hanya ingin bicara Yo..." tolak Sasa tak ingin Jio melarangnya.


Tatapan Sasa beralih dengan dengan tatapan dendam, "Mungkin lo tidak tau bagaimana masalahnya In... tapi sungguh, gue sebagai sahabat Hema terlalu sakit hati dengan apa yang telah kakak lo lakuin pada Hema..." adu Sasa. bibirnya bergetar seperti menahan tangis.


"Hean selalu membuat Hema menangis bahkan sampai membenci Ibukota... Hema bahkan tak ingin lagi menginjakkan kakinya di Ibukota... itu semua karena rasa kecewanya dengan sifat Hean... " lanjut Sasa.


Karena kakak? Intan memang sedikit tau bagaimana hubungan Hean dan Hema, tapi tidak sedetail seperti yang Sasa katakan saat ini.


"Kakak lo adalah penabur kesedihan terbesar yang Hema alami...".


"Sayang..." Jio memeluk istrinya. jika Jio ada diposisi Sasa, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. membela sahabatnya seperti yang Sasa lakukan untuk Hema.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri... mau bagaimana akhirnya, hanya Tuhan yang tau..." ucap Dimas bijak. menggenggam tangan Intan meyakinkan diri bahawa Dimas akan tetap berada di samping Intan.


Jangan khawatir... begitu tatapannya kepada Intan.


Tak jauh dari Jio, Sasa, Intan dan Dimas yang tengah mengobrol panjang lebar ternyata ada Zain yang sejak tadi duduk sambil menikmati minumannya.


Pria itu terdiam sambil mencerna setiap kata dan ucapan yang ia dengar dari pembicaraan barusan.


Jadi Hema dan Hean pernah menjalin hubungan?

__ADS_1


kenapa mereka putus? ada masalah apa?


Entah kenapa Zain tiba-tiba memikirkan hal itu. menarik benang tentang sikap dan perilaku Hema selama ia kenal.


Ya... wanita itu tak sekalipun menceritakan masa lalunya. Hema juga seperti menutup diri dengan Zain walaupun mereka teleihat akrab.


Sekarang Zain jadi tau, bahwa Hema pernah ada masalah dalam percintaan yang membuatnya trauma sampai saat ini.


 


"Tidak ingin mengucapkan selamat kepada pengantin secara langsung?". Zain berkata sambil berjalan mendekati Hema dan putrinya yang masih sibuk bermain.


"Ha?". Hema menatap ke arah Jio dan Sasa berdiri menjawab tangan tamu bergantian.


"Nanti saja..." tegasnya.


seperti ada keraguan dalam diri Hema.


"Tamu nya masih banyak yang antri... gue tidak bisa berbicara dengan Sasa lebih lama nanti..." tambah Hema yang mungkin Zain juga paham akan hal itu. apalagi tidak bisa setiap saat Hema bertemu sahabatnya.


Apa dia menunggu sampai Hean pergi? batin Zain bicara. karena tepat di depan sana ada Hean yang memang tengah berbicara dengan seseorang di dekat Jio dan Sasa. mungkin inilah alasan kenapa Hema memilih menunggu beberapa saat.


Pada akhirnya Zain memang ikut duduk bersama Hema. bermain dengan Mika yang tengah asik melihat riak air kolam di depan sana.


"Mika kesulitan saat ada di lingkungan baru seperti ini... makasih ya Ma, karena telah menemani Mika..." ucap Zain.


Ucapan Zain barusan membuat Hema mengalihkan pandangannya menatap pria itu. "Kenapa berterimakasih? gue bahkan tidak melakukan apapun..." tolak Hema. ia hanya tak mau melihat Mika menangis jadi yang bisa Hema lakukan adalah mengalah, menemani gadis kecil itu bermain daripada melihat acara sahabatnya.


"Gue juga sulit beradaptasi dengan lingkungan baru... memilih sendirian daripada berkerumun dengan yang lain..." ucap Hema. sejak dulu Hema memang sulit beradaptasi dengan lingkungan barum bahkan di kampus, hanya Sasa yang menjadi teman dekatnya sampai sekarang.


"Apa itu yang membuatmu sulit tersenyum?" tebak Zain.


"Heheh... gue hanya bercanda Hema...".


Hema tersenyum kecil. bukan... sebenarnya bukan karena hal itu Hema sulit tersenyum.


keadaan lah mengubah Hema seperti sekarang. mungkin karena terlalu banyak menangis hingga ia lupa bagaimana caranya tersenyum.


"Kenapa? tanpa tersenyum pun gue baik-baik saja..." sanggah Hema. bahkan tanpa tersenyum sekali pun Hema masih baik-baik saja seperti sekarang.


"Gue bahagia...".


"Tidak... lo tidak bahagia Hema..." ucap Zain kembali membuat Hema terdiam.


***

__ADS_1


__ADS_2