Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
81. Sepiring Omelet.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Pagi telah tiba. Hean baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


bergegas menuju ke ruang ganti pakaian sebelum Agnes tiba. Ya... seperti itulah kebiasaan wanita yang tinggal bersamanya itu. selalu saja datang ke kamar Hean dengan alasan membantu mengikatkan dasi di pagi hari.


Sebenarnya Hean tak keberatan, hanya saja Agnes bisa datang kapan saja termasuk saat Hean belum berpakaian seperti ini. canggung, itulah yang ia rasakan.


Hean mempercepat kegiatan paginya, hingga penampilan yang selalu saja tampan itu dibawanya keluar menuruni anak tangga menuju ke meja makan.


Sambil terus melangkah, pandangannya terus menjelajahi seluruh ruangan yang ada di lantai dasar rumah minimalis dengan gaya modern.


Dia belum bangun? sejenak Hean keheranan karena tidak biasanya Agnes seperti ini. tidak terlihat entah sembunyi dimana. bahkan wanita juga tidak datang dan mengikat dadi Hean tadi.


Hingga samar-samar, Hean mendengar seseorang tengah berbicara di ruang keluarga. yang Ia yakini adalah Agnes.


dengan langkah pelan dan hati-hati, Hean berusaha mendekat. mencari tau apa yang tengah Agnes lakukan. mungkin saja wanita itu tengah menelepon seseorang yang ada kaitannya dengan ayah dari bayi dalam kandungannya.


Dia bicara dengan siapa? Hean sudah mendekat, berdiri di balik tembok sambil memeprtajam pendengarannya.


"Iya... Agnes baik-baik saja...". Terlihat Agnes berbicara dengan nada penuh kebahagiaan. "Hean benar-benar memperlakukan ku dan bayiku dengan sangat baik... dia tak pernah marah lagi...".


Deg, Hean bingung dengan perkataan Agnes barusan.


"Agnes rasa dia mulai menerima semuanya Ma... Agnes sangat senang..." lanjut wanita itu.


sedangkan Hsan yakin kalau Agnes tengah berbicara dengan Mamanya di telepon.


"Mama mau kesini?" terdengar kembali Agnes panik. "Ma, besok saja gimana? hari ini ada jadwal ke dokter kandungan...".


Ya, sudah menjadi hal rutin bagi Agnes selama hamil. memeriksa kehamilannya hampir setiap 2 minggu sekali di trimester 3 ini. Agnes tak mau ketinggalan tentang perkembangan bayi dalam kandungan nya.


"Tentu saja Agnes pergi dengan Hean... dia sangat mengkhawatirkan ku Ma... Hean tidak tega membiarkanku pergi sendiri..." bohong Agnes. padahal selama hamil muda sampai sekarang, Agnes selalu pergi ke dokter sendirian. tak pernah ditemani Hean.


tapi di depan orangtuanya, Agnes memilih berbohong. ia tak mau orangtuanya khawatir tentang apa yang telah Agnes alami selama ini. Agnes hanya tak mau Hean kena omel dengan Papa seperti waktu itu.


Kenapa lo bohong Nes? Batin Hean.


mendengar kebohongan Agnes kepada orangtuanya, membuat Hean merasa aneh.

__ADS_1


ia sedikit tersindir dengan apa yang ia lakukan selama Agnes hamil. seperti Hean tak pernah melakukan apapun untuk wanita itu.


"Sudah ya Ma... Agnes mau menyiapkan segala sesuatu untuk Hean sebelum berangkat bekerja..." ucap Agnes. dan segera Hean memutar tubuhnya. bergegas meninggalkan ruangan itu sebelum Agnes memergokinya menguping.


"Hufftt..." Hean duduk di kursi makan. masih dengan detak jantung yang berpacu cepat. meminum air di depanny agar terlihat baik-baik saja.


"Sudah siap?". Agnes pun terkejut ketika hendak menuju ke kamar Hean, tapi nyatanya pria itu telah turun dan duduk di kursi bersiap menikmati sarapan paginya.


Agnes beralih menuju ke ruang makan mendekati Hean.


"Maaf ya Yan... mbak Sari tidak membuat sarapan karena sedang sakit kepala... tapi gue udah nyiapin ini untuk lo...".


Agnes menyodorkan sepiring omelet buatannya tadi. masih hangat karena Agnes baru membuatnya sebelum menerima telepon dari Mama beberapa menit yang lalu.


"Makan lah..." ucap Agnes dengan penuh harap. menunggu bagaimana reaksi Hean ketika menikmati masakannya pagi ini. apakah ada pujian yang akan Agnes terima? sepertinya tidak. karena Hean hanya memakan omelet di piring tanpa berkata apapun. bahkan wajahnya tetap saja datar seperti biasanya.


Jangan sedih Nes... setidaknya Hean tidak membuang makanan buatan lo... batin Agnes menghibur dirinya sendiri.


"Lo tidak makan?". Tiba-tiba Hean bersuara. membuat Agnes yang tadinya melamun sambil menatap Hean menjadi gelagapan.


"Ha?... oh... itu... em... nanti gue makan..." ucap Agnes. tadi ia memang hanya menyiapkan omelet khusus untuk Hean saja. yang penting perut Hean telah terisi saat berangkat bekerja.


Hean menghentikan makannya. meletakkan sendok dan garpu ke piring yang masih ada setengah omelet.


Agnes sedikit kecewa, padahal ia sudah berusaha tadi. agar masakannya tidak terlalu buruk.


"Tidak," jawab Hean.


tidak? jadi benar tidak enak... batin Agnes. ia kira tidak dalam arti makanannya yang tidak enak. ternyata salah. bukan itu maksud Hean.


"Kemarilah.." pinta Hean.


Agnes yang tadinya menundukkan pandangannya karena sedih langsung berubah mendongak. "Ha?".


Bingung dengan perintah Hean barusan.


"Sini..".


Agnes tidak salah dengar. Hean memamg memintanya untuk mendekat. hingga yang Agnes lakukan adalah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah samping Hean. duduk di samping kursi pria itu.


"Buka mulut!".

__ADS_1


Ha? Agnes kembali membelalakkan matanya.


"Cepat..." paksa Hean. dan Agnes tentu saja langsung menuruti perintah pria itu untuk membuka mulutnya.


Hap... sesendok omelet langsung masuk ke dalam mulut Agnes.


"Apa lo tega membiarkan dia kelaparan?". omel Hean pada Agnes. mungkin saja Agnes tahan untuk menunda makan, tapi bagaimana dengan bayi yang ada dalam kandungannya? dimana bayi itu hanya bergantung pada makanan yang Agnes makan saja.


Entah kenapa hati Agnes merasakan kebahagiaan yang tiada tara. hanya perhatian kecil itu mampu membuat hatinya berbunga-bunga.


Agnes tau kalau Hean memang tidak benar-benar membencinya.


Pria itu hanya kecewa terhadap sikap Agnes.


Maafin gue Yan... maafin gue... hanya ini yng bisa gue lalukan...


Tiba-tiba air mata Agnes jatuh begitu saja.


"Habiskan... gue berangkat...". Hean sadar kalau Agnes tengah menagis tapi berusaha mengabaikannya. berusaha untuk tidak melihat air mata itu.


Pada akhirnya Hean memilih untuk segera bangkit dari kursi dan meninggalkan Agnes. karena jika ia masih tetap berada di sana, mungkin saja Hean akan luluh.


bagaimanapun Agnes adalah bagian dari kenangan masa lalunya. wanita yang pernah Hean prioritaskan dalam hidup.


melihat Agnes menangis, sama saja melukainya.


Suara mesin mobil menyadarkan Agnes bahwa Hean telah berangkat bekerja. Hati-hati Yan... batinnya terucap.


karena hanya itu yang bisa Agnes lakukan untuk Hean. mendoakan agar pria itu selalu selamat dalam hal apapun.


Di dalam mobil, Hean terlihat menelepon seseorang.


"Gue butuh bantuan lo... tolong minta Ibu untuk datang ke rumah secepatnya...".


"Ada apa kak? apa ada masalah?".


"Tidak... Hanya untuk menemani Agnes ke dokter kandungan saja... tolong bilang Ibu ya Tan..." ucap Hean penuh mohon pada adiknya. karena ia tak bisa menemani Agnes ke dokter. jadi biar Ibu saja yang datang dan menemani Agnes. setidaknya Agnes tidak akan jenuh menunggu antrian sendirian.


Gue harus cari bukti... secepatnya... kalau tidak, gue akan terpengaruh pada perasaan ini... batin Hean.


ia tau kalau ia begitu mudah luluh. apalagi kalau sampai bayi itu lahir dan Hean mulai terbiasa menerima semuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2