Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
120. Makna Puntung Rokok.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


"Apa yang lo lakuin?". Hema terkejut ketika tiba-tiba Hean mengikutinya masuk ke dalam kamarnya. bukan tanpa alasan apalagi mereka memang harus waspada satu sama lain. karena Setan selalu punya cara untuk menjerumuskan seseorang. terutama saat berduaan seperti sekarang.


"Bu-kan... jangan salah paham... bukan itu maksud gue..." ucap Hean. kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan berdiri di samping pintu dengan posisi membelakangi kamar Hema.


sungguh Hean tka bermaksud macam-macam. ini adalah bagian dari gerakan refleknya saja yang tiba-tiba mengikuti Hema.


Bodoh! umpat Hean pada dirinya sendiri.


"Lalu?". selidik Hema. ingin tau apa alasan Hean melakukan hal itu.


"Kunci... gue ingin memindahkan mobil lo..." jawab Hean. Ya... itulah alasan yang membuat pria itu masuk ke kamar tadi. ingin meminta kunci mobil Hema dan memindah mobil berwarna putih itu dari jalanan.


"Ohh..." jawab Hema dengan entengnya. padahal tadi ia sempat mencurigai Hean akan melakukan hal macam-macam.


Wanita itu meraih kunci mobil dan berjalan ke arah pintu. dimana ada Hean masih berdiri di depan sana.


"Nih..." sodornya pada Hean.


dan Hean pun menerimanya masih dengan ekspresi gugup. bahkan lucunya, pria itu tak berani mengangkat pandangannya hanya untuk menatap Hema. seperti malu atau bagaimana. entahlah...


Segera setelah menerima kunci pemberian Hema, pria itu berlari keluar rumah. tugasnya kali ini adalah memindahkan mobil Hema dengan posisi mobilnya. karena bagaimanapun saat ini Hean adalah tamu, setidaknya biar mobil putih milik Hema terparkir di halaman rumah itu.


Ck... lucu sekali... batin Hema mengamati Hean.


Langit telah berubah warna ketika Hean dan Hema telah selesai menikmati makan malam mereka.


Hingga yang mereka lakukan adalah berbincang-bincang di teras rumah.


"Kalau lo pergi ke luar kota seperti ini, bagaimana dengan Bella?" tanya Hema membuka pembicaraan.


Hean yang tengah menikmati sebarang rokok, sedikit menghindari Hema takut asap rokok itu mengenai wanitanya.


"Ada Ibu... Intan juga ada di rumah..." jawab Hean.


"Lalu dimana Asisten mu?".


Karena tidak mungkin Hean pergi sendirian. pasti pria yang selalu bersamanya itu juga ikut dalam perjalanan bisnis kali ini.


"Entah... " ucap Hean tidak peduli.


"Apa lo akan langsung pulang setelah ini?" lagi dan lagi. Hema bertanya tentang pria itu.


"Oh, gue kira lo akan meminta gue menginap disini..." goda Hean dengan senyum nakal di sudut bibirnya. ingin tau bagaimana reaksi Hema setelahnya. pasti wajah wanita itu akan memerah karena malu.


tapi, Hean salah.


Hema justru tak beraksi apapun. wajahnya datar tapi dengan senyum yang sulit untuk diartikan.


Ya... aneh memang. karena waktu telah mengubah wanita itu. dari yang manis, menggemaskan justru sekarang terlihat dingin dan menakutkan.


"Ya boleh saja... kalau lo mau...".

__ADS_1


Glekk... Hean menelan salivanya dengan susah payah. tak menyangka kalau jawaban Hema akan seperti itu.


Hah?


Dimana sosok Hema yang sekarang sangat jauh berbeda.


"Lo tidak takut?" desak Hean lagi.


Apa tidak ada ketakutan dalam diri Hema ketika ia sangat terbuka kepada pria yang menginap di rumahnya seperti Hean saat ini. apa tak ada rasa khawatir begitu?


"Takut? kenapa?" tanya Hema dengan tampang penuh ejek. "Hidup gue justru lebih menakutkan bukan?". lanjut nya dengan senyum mengerikan.


Hingga Hema tak bisa berkata-kata lagi. Ia tau bagaimana Hema menjalani hidupnya beberapa waktu terakhir.


cukup menakutkan memang. tapi wanita itu kuat dan mampu melalui semuanya.


"Bagaimana kalau gue menerkammu ... lagi?" tanya Hean sedikit berhati-hati.


"Hahaha... lo mau mencobanya lagi?" tantang Hema. yang bahkan membuat lawan bicaranya mati kutu.


Sial! bahkan gue gugup mengatakannya.. batin Hema. sebenarnya ia tak setangguh yang terlihat. ia juga takut dengan Hean, tapi berusaha untuk terlihat tenang.


bahkan tanpa Hean sadari, kaki Hema sudah berkeringat dingin. tapi harus terlihat kuat agar tak ada yang berani merendahkannya.


"Ehhmm..." Hean berdehem untuk menetrali detak jantungnya.


"Gue pamit ya...".


Pada akhirnya Hean memutuskan untuk pergi saja. karena wanita di sampingnya itu terlihat lebih menakutkan dari yang lain.


"Hahaha... lo takut?" ejek Hema. geli sendiri dengan tingkah nya yang bisa membuat Hean mundur dan menyerah.


Dulu lo selalu yang menggoda ku bukan, sekarang anggap saja sebagai balas dendam ku! batin Hema.


"Ti-tidak..." jawab Hean salah tingkah.


"Ck... usia bisa membuat seseorang kehilangan nyali ternyata...".


Dimana Hean yang dulu? apa macan bisa berubah menjadi kucing karena usia? batin Hema lagi.


Sedangkan Hean tak menjawab ataupun membantah apapun.


"Agghh... lo membuat kotor teras rumah gue Yan..." keluh Hema. mendapati banyak sekali puntung rokok berserakan di lantai.


Hema bangkit dan berniat mengambil sapu dari dalam rumah.


"Jangan!" tolak Hean dengan menggenggam tangan wanita itu. "Jangan disapu...". ulangnya lagi.


"Ha?". Hema tentu saja bingung. kenapa tidak boleh menyapu punyung rokok di bawah sana. padahal bersih adalah hal yang baik bukan?


Hema menatap mata Hean. seolah mencari penjelasan kenapa Hean melarangnya menyapu benda itu.


"Karena lo tinggal sendiri..." ucap Hean.


Hema masih tak paham. apa sih maksdunya?

__ADS_1


"Apa hubungannya dengan puntung rokok Yan?".


"Itulah yang Ayah dan Ibu katakan kepada Intan dulu... letakkan puntung rokok di dekat pintu ketika tinggal sendirian..." lanjut Hean.


Sejenak Hema bingung dengan ucapan Hean itu. tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu di masa lalu. ketika Jio pernah melakukan hal itu di depan Apartemen yang Sasa dan Hema tinggali.


sering sekali Jio sengaja membuang puntung rokok di samping pintu. entah apa maksudnya, Hema tidak paham.


Dan bukan hanya Jio saja, nyatanya Hean juga melakkan hal itu saat ini. melarang Hema membuang puntung rokok bekasnya.


"Karena orang jahat akan berpikir dua kali ketika melihat puntung rokok itu..." jelas Hean.


Hema paham. jika ada puntung rokok di rumahnya, itu seperti sebuah trrik untuk menipu. bahwa orang lain mengira kalau Hema tidaklah tinggal sendirian. terlihat dari benda yang biasa dinikmati oleh kaun pria. rokok.


"Oh...". Hema menganggukkan kepalanya. sedikit terharu karena perlakuan manis dari Hean kepadanya.


"Gue pulang..." ucap Hean. menatap Hema lebih lama daripada sebelumnya.


"Apa?" protes Hema ketika melihat tangan Hean menggantung di depannya.


bingung apa yang diinginkan pria itu.


"Salaman..." pinta Hean. berharap Hema mau mencium telapak tangannya seperti yang anak-anak lakukan pada orang tua mereka.


"Ck..." protes Hema walaupun menuruti keinginan pria itu. menempelkan pipinya di telapak tangan Hean sebagai bentuk hormat. hingga membuat wajah pria itu tersenyum senang.


hanya begitu saja sudah membuat Hean kegirangan.


"Hati-hati... gue pulang..." ucap Hean dan langsung melangkah. tapi baru beberapa langkah, Hema kembali meneriaki namanya.


"Hean!" panggil Hema membuat Hean kembali terdiam dan menengok ke arah wanita itu.


"Sepatu lo..." ucap Hema. mengambil sepatu Hean dan berlari ke pemiliknya.


"Lo sampai lupa pakai sepatu..." ejek Hema.


"Taruh saja di rak itu paling atas..." ucap Hean. bukan ia lupa, tapi Hean melakukannya karena sengaja. meninggalkan sepatunya di rumah Hema.


"Kenapa?" tanya Hema lagi.


"Untuk menjaga lo..." jawab Hean yakin.


Semua ia lakukan hanya untuk Hema agar mana dari bahaya apapun. termasuk orang-orang yang berniat jahat kepada wanita itu. apalagi Hema memang tinggal seorang diri.


Mendengar ucapan Hean, Hema tak bisa berkata-kata. semakin bertambah umur, sikap dan perilaku Hean semakin berubah dewasa. pria itu terlihat sangat bertanggungjawab.


"Terimakasih...". hanya itu yang terucap dari bibir Hema. ucapan terimakasih yang tak bisa membalas apapun.


"Gue pulang..." ucap Hean sambil mwngelus pipi Hema begitu lembut. dan kembali melanjutkan langkahnya hingga masuk ke dalam mobil berwarna hitam disana.


"Bye...". lambaian tangan Hean menjadi satu-satunya hal yang malu Hema lihat sebelum pada akhirnya sosoknya pergi dari rumah itu.


Bahkan sampai mobil itu bergerak jauh, Hema masih terpaku di tempatnya berdiri. menatap nanar kepergian Hean dengan sedikit perasaan sedih.


Hati-hati Hean...

__ADS_1


***


__ADS_2