
HAPPY READING...
***
Hari terakhir.
Hean bagun pagi sekali. bahkan sebelum matahari benar-benar muncul dari ujung sana. seharusnya ia bisa bangun sedikit lebih lambat lagi, tapi matanya seperti enggan untuk kembali terpejam.
sangat singkat tidurnya semalam karena Hean ingat bahwa perbincangannya dengan Zain semalam mungkin sampai 2 jam lamanya.
dan dari sana, Hean tau kalau ternyata Zain adalah duda yang baru saja kehilangan istri karena melahirkan putri mereka.
"*Anda tau, ketakutan saya bukan hanya karena berubah sendirian seperti sekarang... tapi karena hal lain...".
"Apa itu?". Hean penasaran.
"Ketika suatu saat Mika bertambah besar dan akan bertanya dimana Mamanya berada..." ucap Zain terlihat sendu.
"Bagaimana saya menjawabnya? bagaimana cara menjelaskannya bahwa Mamanya sudah lama meninggal... itu sama seja menyakiti perasaan saya juga*...".
Hean menghela nafas. bingung. karena mungkin masalah yang ia alami berbeda dengan Zain, tapi ada kesamaan dari sana. mereka sama-sama seorang pria.
Bagaimana kalau putrinya Agnes juga bertanya demikian? apa yang akan Agnes katakan? bahwa pria br*ngsek bernama Mark adalah ayah kandungnya?
Seharusnya hal itu bukan urusan Hean, tapi nyatanya pria itu tetap saja kepikiran. bukan masalah cinta atau apapun, tapi masalah kemanusiaan. dimana seorang anak akan berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang setara dengan lainnya.
Hingga lamunan Hean buyar ketika sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Jio?". gumam Hean pelan sebari mengamati ponselnya uang masih berdering.
"Halo..." ucap Hean membuka pembicaraan.
"Bagaimana?".
Jelas hanya itu yang Jio tanyakan. apakah Hean berhasil dengan rencananya atau malah sebaliknya. sudah 4 hari pula Hean berada di London dan tak mengabari siapapun, termasuk keluarganya.
"Gue tidak akan membawanya menemui Agnes dan putrinya..." ucap Hean terdengar yakin.
"Kenapa?".
Beda lagi dengan Jio yang terlihat syok dengan ucapan Hean yang seringkali berubah-ubah. pria itu sering berubah pikiran dan tidak bisa mengambil keputusan.
Terdengar Jio mengomeli Hean. entah apa yang pria itu katakan bahkan beberapa kali Hean terlihat menghela nafas berusaha sabra dan mendegar ucapan Jio tanpa melewatkan sepatah katapun.
dan setelah Jio diam, Hean menjelaskan semuanya.
"Dia bukan lah pria yang baik... dia berniat menjual anaknya dan Agnes juga... gue tidak bisa membawanya untuk bertanggung jawab Yo... yang ada Agnes akan bertambah menderita nanti..." jelas Hean.
__ADS_1
Hean tak mau bertindak gegabah. membawa Mark adalah sebuah kesalahan. karena Hean tak yakin Mark akan berubah nantinya. apalagi Agnes, entah apa yang akan terjadi pada wanita itu. bangun dari koma atau benar-benar pergi untuk selamanya. tak ada jaminan untuk wanita itu bangun dan sehat seperti sedia kala. lalu bagaimana dengan bayinya?
Bagaimanapun bayi itu berhak untuk hidup bersama orang-orang yang menyayanginya.
"Jadi kapan lo pulang?".
"Nanti malam..." ucap Hean menjelaskan. karena ia telah memesan tiket untuk penerbangan nanti malam.
apalagi tak ada alasan untuknya berlama-lama di London. karena Hean juga meninggalkan banyak pekerjaan di Indonesia hanya untuk bisa menemukan Mark.
"Oke... gue kabari kalau sudah sampai...".
panggilan telepon pun terputus.
Di tempat lain.
Sasa langsung menghambur mendekati Jio.
"Bagaimana?". tanyanya dengan penasaran. Sasahanya ingin tau apa yang Hean katakan tadi.
"Sepertinya tidak..." jawab Jio menerka-nerka.
"Mereka tidak bertemu disana kan?" ulang Sasa. berharap itulah kenyataannya.
Sampai saat ini Sasa masih kesal terhadap Hean. karena telah menyakiti sahabatnya.
"Gue tidak akan rela kalau Hema dan Hean bertemu disana..." jawab Sasa yakin.
betapa terkejut sekaligus khawatirnya Sasa ketika mendengar Hema ada di London sedangkan Hean juga pergi kesana karena suatu hal.
4 hari Sasa tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan hal itu. andai Hema bertemu dengan Hean nanti, pasti Hema akan kembali sedih.
dan Sasa menjadi satu-satunya orang yang merasakan bersalah karena tidak bisa menemani Hema saat bersedih.
"Semua sudah ada yang mengatur kan? jadi tak ada gunanya lo berharap karena Tuhan tau yang terbaik untuk mereka..." sela Jio.
"Lo membelanya?" cerca Sasa.
mengingatkan Jio tentang bagaimana kelakuan Hean terhadap Hema waktu itu?
"Hehehe... tidak, gue tidak membenarkan sikap Hean dulu..." ralat Jio. bisa ngamuk nanti kalau Jio dengan terang-terangan membela Hean.
"Awas saja kalau lo membela Hean!" ancam Sasa.
membuat Jio hanya terdiam dan menatap nanar kekasihnya tersebut.
***
__ADS_1
Hean telah selesai sarapan. pria itu berniat untuk sedikit menggerakkan tubuhnya untuk berjalan di sekitar Hotel. langkah teratur pria itu membawanya sampai di taman yang tadi malam ia gunakan untuk berbicara dengan Zain.
Masih sepi. hanya Hean sendirian yang duduk di bangku taman tersebut.
hingga terdengar suara tawa anak kecil yang semakin lama semakin dekat.
tawa anak kecil itu mampu mengalihkan perhatian Hean dan menatapnya lama. ikut tersenyum karena tingkah lucunya.
Bukankah dia Mika, putrinya Zain?
Hean ingat tentang anak kecil itu. apalagi bandana merah muda yang ada di atas kepala nya, sama dengan bandana yang Mika pakai pertama kali Hean temui.
Anak kecil berusia 2 tahun itu terlihat senang. melompat-lompat sambil tertawa senang. membuat Hean yang menatap dari kejauhan juga ikut tersenyum.
"Jangan lari-lari Mika...". seorang wanita berjalan mendekati Mika dan terlihat khawatir.
Suaranya, penampilannya seketika mengejutkan Hean lagi. mata pria itu langsung menbulat sempurna melihat siapa yang baru saja berbicara dengan Mika.
kakinya bahkan seperti bergetar saking tak percayanya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Hema?
Untuk pertama kalinya, Hean kembali melihat Hema. wanita berambut pendek sebahu itu ada di depan matanya dan terlihat bahagia.
Hema mengenalnya? Apa... apa Hema lah yang Zain bicarakan semalam?
Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Hean. apa hubungan Hema dengan Mika dan Zain. walaupun dari sikapnya, Hema terlihat sangat akrab dengan Mika. tertawa bersama seperti Ibu dan Anak.
Hean membuang pandangannya ketika Zain juga mendekat kearah Hema dan putrinya. Hean segera bangkit dan sembunyi agar dirinya tidak sampai diketahui oleh siapa pun.
Hema...
Mungkin inilah patah hati yang sesungguhnya. Setelah cukup lama Hema pergi dan menghilang dari pandangannya, tiba-tiba wanita itu kembali terlihat bersama dengan pria lain yang mampu membuatnya tersenyum lebar dan bahagia.
Hean kembali merasa bersalah. karena saat bersamanya, Hean tak pernah membahagiakan Hema sedikitpun. justru memberikan begitu banyak luka dan trauma kepada wanita itu. hanya air mata yang selalu Hean berikan pada wanita yang ia cintai.
Melihat Hema seperti sekarang, entah kenapa membuat hati Hean seperti tersayat amat dalam. wanita yang ia harapkan justru berada dalam genggaman pria lain.
wanita yang tadinya hendak Hean perjuangkan, tapi tak ada kesempatan untuk kembali bersamanya.
"Ada apa Ma?". Zain terlihat bingung melihat ekspresi Hema yang tiba-tiba berubah. padahal tadi wanita di depannya itu sangat senang tertawa bersama putrinya. tapi di detik selanjutnya tiba-tiba termenung seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Tidak..." tolak Hema. bohong jika ia mengatakan tak ada apapun karena pada kenyataannya, memang ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. entah kenapa tiba-tiba perasaan Hema menjadi tidak enak. seperti ingin menagis tapi tak tau apa yang perlu ia tangisi.
Hema menekan dadanya. rasa sakit itu seperti berada di dalam dadanya.
Perasaan apa ini?
__ADS_1
***