
HAPPY READING...
***
Suasana Apartemen yang biasanya terasa sunyi, kini berubah. semuanya karena tangisan Hema yang sejak tadi masih meraung tanpa henti.
bahkan Hean yang mendengarnya saja benar-benar merasa kesal. telinganya seperti hendak meledak.
Kapan gadis ini akan berhenti menangis...
Andai saja Hema diam dan menghentikan tangisnya, mungkin saja Hean akan lega dan mampu berpikir rasional tentang pa yang akan ia lakukan saat ini.
"Diam lah..." pintanya masih sama seperti terakhir kali.
"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah...". terdengar logis memang, tapi bagi Hema perkataan Hean justru semakin membuat dirinya kesal.
karena semua yang terjadi hanya Hema lah yang merasa dirugikan. bukan pria itu apalagi si Br*ngs*k Rendy yang telah menjualnya.
"Hiks...".
Hema benar-benar frustasi. masih dengan jubah mandi membalut tubuhnya sehabis ma di, pria itu duduk di kursi balkon. membakar sebatang rokok untuk menemaninya berpikir.
Sial! kenapa gue terjebak di suasana seperti ini?
Hean juga sempat syok mendengar penuturan dari gadis itu bahwa dia adalah kekasih Rendy. karena yang Hean kira, gadis itu sama seperti gadis di luaran san ayang memang bekerja di bidang lendir.
pantas saja sejak semalam gadis itu selalu berontak dengan apa yang Hean lakukan. mencoba untuk keluar dari Apartemennya.
Hingga setengah rokok yang terselip dijemari Hean telah habis. antara kasihan dan bingung akhirnya Hean menemukan cara untuk menyelesaikan permasalahan rumit tersebut.
"Siapa nama Lo?" tanya Hean membuka pembicaraan.
"Hema,". jawabnya sambil menyeka air mata di pelupuk matanya yang tak habis-habis.
"Gue Hean,". mereka berkenalan. untuk pertama kalinya setelah semalam, mereka baru tau nama masing-masing.
"Lo takut hamil kan?".
Apaan sih nih orang... bukankah dia sudah mendengarkan sejak tadi?
Sedikit sewot, tapi Hema mencoba untuk tidak memperlihatkan kekesalannya saat ini.
yang ia lakukan hanyalah mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan Hean.
"Gue akan tanggung jawab kalau hal itu terjadi...". ucapan Hean yang benar-benar enteng itu seketika membuat Hema menaikkan pandangannya. menatap ke arah pria yang baru saja bicara akan bertanggung jawab terhadap apa yang telah ia lakukan.
"Ya, gue akan tanggung jawab jika lo hamil nantinya...".
"Tapi-,". Hema terkejut. karena bukan itu yang ia mau. ia hanya takut hamil dimana masa depan Hema masih panjang bukan berakhir sebagai seorang ibu muda. Hema ingin mewujudkan cita-cita dan mimpinya.
__ADS_1
"Kemarilah...". Hean menjentikkan jarinya. meminta Hema untuk duduk di kursi kosong yang ada di samping kursi Hean.
Hema menurut dan duduk di kursi yang Hean maksud. masih dengan selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya.
"Tanggal berapa biasanya Lo mengalami menstruasi?" tanya Hean lagi.
Kenapa?
"Gue hanya mau tau, jangan berpikiran macam-macam...," cerca Hean karena mendapat tatapan aneh dadi gadis itu. padahal ia hanya menanyakan perihal tanggal gadis itu datang bulan.
"tanggal 10... kadang ya mundur 2 hari..." jawab Hema. walaupun sebenarnya ia sedikit malu membahas hal paling rahasia itu bersama orang asing.
Hean melihat kalender di ponselnya.
Gawat!
Sedikit khawatir memang, karena semalam mungkin saja masa subur bagi gadis itu dimana akan terjadi pembuahan jika berhubungan badan.
tapi Hean tidak terlalu takut, ia telah membulatkan tekad akan bertanggung jawab nantinya. suka tak suka, mau tak mau ia kaan melakukannya jika benar gadis itu hamil nantinya.
"Baiklah, gue akan tanggung jawab kalau lo hamil nantinya...".
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Hema polosnya.
"Apanya yang bagaimana?".
Hema gantian melongo, bingung mau menjawab apa.
Hema mengangguk.
"Kita buat perjanjian..." ucap Hean dengan wajah serius.
Perjanjian?
"Karena kehamilan bisa di prediksi dari awal, gini saja... gue akan menunggu sampai lo akan datang bulan di bulan berikutnya..." ucap Hean menjelaskan.
"Gue akan menunggu sampai tanggal 20 bulan depan, selama itu jangan berhubungan dengan siapapun... untuk memastikan apakah lo hamil anak gue atau tidak... dan jika sampai tanggal 20 lo belum juga mendapat tamu, kita periksa ke dokter... bagaimana?" tanya Hean.
ia rasa cara itu sangat tepat baginya.
Hema mengangguk setuju. bukan hal buruk jika cara itu dilakukan.
"Anggap saja janji 40 hari... selama 40 hari ini, jangan jauh dari gue...".
Eh,
Hean salah tingkah, "Maksudnya jangan kabur atau bunuh diri... pokoknya selalu kabari gue selama 40 hari mulai sekarang..." ucap Hean menjelaskan.
"Sana mandi..." perintah Hean pada akhirnya. ia juga harus mengganti pakaiannya juga.
__ADS_1
Hema pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
sedangkan Hean mengganti pakaiannya di kamar.
Masih dengan Hean yang berpakaian, Tiba-tiba terdengar Bell berbunyi.
Siapa yang datang sepagi ini?
walaupun sebenarnya tidak pagi juga karena jam telah menunjukkan ke angka 10 pagi.
Pria itu masih bertelanjang dada dan berjalan ke arah pintu Apartemen. membukanya untuk melihat siapa tamu yang datang.
Tangan Hean terulur untuk membuka pintu dan setelahnya matanya membulat sempurna. Terkejut walaupun seharusnya biasa saja melihat siapa yang datang.
"Lo...".
"Dimana Hema...?". ternyata yang datang adalah Rendy. pria yang semalam datang dan meninggalkan gadisnya di tempat ini.
"Hema? siapa Hema?" Hean balik bertanya. berpura-pura lebih tepatnya.
"Hema, gadis yang semalam..." desak Rendy.
"Oh... jadi gadis itu bernama Hema...".
Dia baik-baik saja kan?
"Dimana dia sekarang?" tanya Rendy penasaran. bahkan sampai beberapa kali kepalanya menengok ke dalam Apartemen milik Hean. memastikan apakah ada Hema di dalam sana atau tidak.
"Apa pedulinya Lo? bukankah lo sudah menjualnya kepada gue semalam?". sungguh Hean merasa kesal terhadap pria di depannya. bahkan sebr*ngs*k dirinya saja, Hean tak memiliki niat untuk menyakiti kekasihnya. sedangkan Rendy, pria itu malah sengaja menjual kekasihnya untuk membayar hutang. "Dia sudah pulang dari sini..." bohongnya.
"Pulang? jalan kaki?" tanya Rendy penasaran.
"Mana gue tau, toh bukan urusan gue bukan mau dia jalan atau naik apa..." jawab Hean sewot.
"Pulang lah, dia sudah tidak ada disini..." usir Hean pada akhirnya.
"Lo bohong kan?". Rendy masih tak mempercayai apa yang dikatakan Hean barusan. " Dia pasti di dalam kan?".
Rendy berusaha menerobos masuk kedalam tapi tentu saja dicegah Hean.
"Lo jangan kurang ajar ya!" ancam Hean.
Rendy masih berusaha untuk masuk ke dalam hingga membuat Hean kehabisan kesabaran. pria itu spontan melayangkan pukulannya ke wajah Rendy.
"Gue sudah memperingatkan lo bukan? jangan mencoba untuk mengetes kesabaran gue...".
Rendy yang tadinya tersungkur mulai bangkit, menyentuh pipinya dan terasa ngilu bahkan tak menyadari kalau sudut bibirnya telah robek.
"Pergi dari sini atau gue benar-benar bisa membunuh lo!".
__ADS_1
Hean kembali menutup pintu Apartemennya kembali dengan nafas yang sedikit naik turun karena kesal.
***