Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
44. Jio dan Sasa.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Selama menjalin hubungan, seperti inilah hang dilakukan Jio dan Sasa. sekedar makan malam bersama karena seharian harus berkutat dengan kesibukan dan pekerjaan masing-masing.


Setelah mandi, Jio tentu saja menjemput Sasa dan disinilah mereka berada. di sebuah restoran yang ada di Mall. menikmati makan malam sambil sesekali bercerita tentang keseharian masing-masing.


"Jadi kemarin apa yang lo lakukan?" cerca Sasa. jangan ragukan perasaan seorang wanita. sedalam-dalamnya mengubur bangkai pasti akan tercium juga.


sama halnya dengan Jio. apapun yang pria itu lakukan dibelakang kekasihnya, Sasa pasti mengetahuinya.


"Ck... jangan coba macam-macam Jio..." ancam Sasa.


"Hahaha... mana ada gue macam-macam sayang... satu macam saja tidak pernah..." rayu Jio. berusaha agar kekasihnya tak marah.


"Jadi kemana lo kemarin malam?". jangankan kesalahan yang baru saja terjadi, perempuan bahkan bisa mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi sudah sangat lama sekali.


"Emm... itu,". Jio bingung harus mengatakan apa. karena kemarin malam ia berkumpul bersama Dimas dan Hean. tapi Jio bingung untuk mengatakannya pada Sasa menyangkut kepulangan Hean di negara ini. bukan karena ingin selundupan oleh Sasa, hanya saja Jio tidak mau Sasa akan menceritakan kepada Hema tentang kepulangan Hean. gadis menyedihkan itu kana bertambah sedih nanti.


"Lo selingkuh?".


Ya Tuhan! apa segampang itu menuduh ku?


Heran sendiri, apakah di kepala para wanita hanya diisi oleh pikiran negatif seperti itu saja? bagaimana sempat Jio bermain hati dengan wanita lain, karena ia sibuk bekerja. hanya bekerja saja, bahkan untuk mengatur janji makan bersama kekasihnya seperti ini saja Jio cukup kesulitan.


tubuhnya begitu lelah hingga setelah pulang bekerja, Jio memilih untuk tidur daripada keluyuran.


"Lo selingkuh?" ulang Sasa. kali ini dengan nada sedikit tinggi. bahkan meletakkan garpu yang tadi masih di tangannya dengan keras. menciptakan sebuah suara berdentang nyaring. lebih dari itu, sebagian pengunjung Restoran juga melirik ke arah mereka dengan penuh tanda tanya tentang apa yang telah terjadi di meja sebelah.


"Ssttt... pelankan suaramu sayang..."


Jio tentu saja semain panik. tersenyum sungkan ke arah pengunjung lain sambil berusaha memegang tangan Sasa. bisa lebih parah kalau Sasa benar-benar marah nantinya. "Bukan... bukan seperti itu...".


Aduuhh... bagaimana gue menjelaskannya...


"Jelaskan atau gue benar-benar pergi dari sini!" ancam Sasa. kesal karena melihat Jio yang tidak berniat menceritakan apa yang telah terjadi kemarin. bahkan sampai membuat Jio tak sempat membalas pesan darinya.


Sasa sangat hafal sekali. Kalau kekasihnya ketiduran, pasti di tengah malam Jio akan membalas pesan darinya. tapi kemarin malam tidak sama sekali. pria itu benar-benar mengabaikan pesan Sasa sampai pagi datang.


"Oke-oke..." Jio mulai menyiapkan mentalnya. merangkai cerita agar Sasa percaya dan tentu saja dengan sedikit permintaan agar gadis itu tidak membuka mulutnya kepada siapapun, Hema lebih tepatnya.


"Gue bertemu dengan Hean..." ucap Jio. kembali terdiam sambil mengamati bagaimana tanggapan Sasa setelah ini.


Seperti tak apa... dalam hati Jio bicara. melihat ekspresi Sasa yang tak terpengaruh dengan ucapannya tadi.


"Kemarin gue berkumpul bersama dengan Hean dan Dimas juga... Hean baru saja pulang," tambahnya.


dan sekarang Jio yang dibuat kebingungan dengan detak jantung yang menggila.


bagaimana tidak? Sasa tak menanggapi ucapannya. seharusnya gadis itu terkejut atau berteriak, biar Jio yakin kalau dirinya aman.


Kalau hanya diam seperti ini, siapa yang tidak khawatir coba?


itulah yang Jio rasakan saat ini. lebih baik mendengar Sasa mengumpat daripada diam seperti ini. karena diamnya seorang wanita tidak tau se bahaya apa.


"Sayangg..." Jio memastikan.


Jangan diam dong...

__ADS_1


"Kenapa?". hingga cukup lama, Sasa akhirnya membuka mulutnya dan terlontar sebuah pertanyaan.


kembali lagi Jio harus berpikir keras mengartikan pertanyaan dari kekasihnya itu.


Kenapa apanya? maksudnya kenapa Hean pulang atau kenapa karena hal lain?


"Seharusnya dia menghilang saja seperti terakhir kali...".


Mengatakan itu, sudut mata Sasa berair. ia merasakan kesedihan yang sama dengan yang Hema rasakan.


Kenapa dia kembali?


"Sayang...".


"Dia tak perlu kembali kesini... dia seharusnya menghilang saja jangan pernah pulang...".


Kenapa Tuhan begitu tidak adil pada sahabatnya. betapa hancurnya Hema saat pria itu pergi darinya. bagaimana Hema yang selama ini terlihat menyedihkan. tapi dengan mudahnya, pria itu kembali lagi. bahkan luka yang Hema torehkan pada Hema belum sepenuhnya sembuh.


Bagaimana dengan Hema nanti? hiks...


Kabar kepulangan Hean akan kembali menghancurkan Hema. Bahkan Sasa tak tau apa yang akan terjadi pada sahabatnya nanti. Hema akan sehancur apa setelah ini?


sungguh Sasa tak terima.


"Sayang...".


Air mata Sasa jatuh begitu saja. dengan cekatan, Jio bangkit dari duduknya. menghampiri dan memeluk kekasihnya tanpa ragu. hingga tangisnya perlahan pecah, terlihat dari bahu kecil yang mulai bergetar dalam pelukan Jio.


"Kenapa dia kembali...? seharusnya dia tetap jauh di sana... dia tak perlu kesini lagi... bagaimana dengan Hema nanti? Hu huhu...".


Jio menepuk pelan punggung Sasa. tidak membiarkan wanitanya menyelesaikan tangisnya saat ini juga. karena Jio juga tau bagaimana Sasa membuat Hema setenang saat ini. kedua gadis yang terpaksa saling bergantung di kota besar yang jauh dari keluarga.


Dan, Jio tak mau buru-buru memberitahu Sasa bahwa Hean bukan hanya pulang, tapi menjadi atasan di tempat bekerjanya juga.


Nanti saja... gue akan bicara setelah dia tenang...


Makan malam telah usai beberapa jam yang lalu. saat ini, Jio masih menyetir mobilnya tak tau harus kemana. tidak langsung mengantarkan Sasa kembali pulang karena masih ada satu hal yang belum ia bicarakan.


"Sudah tenang?" tanyanya sesekali melirik ke arah bangku di samping kemudi nya.


"Jio... apakah dia benar-benar kembali?". Sasa hanya ingin memastikan mungkin saja Jio salah bicara. karena masih ada keyakinan dalam diri Sasa, berharap Hean selalu menghilang seperti 4 tahun belakangan.


"Hm,".


"Kenapa?".


Jio menghela nafasnya kasar. menyembunyikan sesuatu di belakang Sasa sangatlah susah. toh Hean memang bekerja di satu tempat dengan Sasa dan Hema. menyembunyikan hal itu adalah kemustahilan saja.


"Karena pekerjaannya ada disini...".


----


Tiba di Apartemen, Sasa pamit pada Jio. pria itu bahkan sampai mengantarkan kekasihnya sampai di depan pintu.


Sasa hendak melangkah pergi, tapi segera di cegah Jio.


"Apa lo akan membiarkanku langsung pergi?". jelas tersirat sebuah makna dari pertanyaan itu. membuat Sasa yang paham kemana arah pembicaraan Jio langsung mengerucutkan bibir. Ck... selalu saja seperti itu...


Tapi beda lagi dengan Jio, pria itu terlihat tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Dengan singkat, Sasa berjinjit dan mencium singkat bibir Jio.


"Pulang lah...".


"Eh, apaan itu? gue bahkan tak merasakannya..." tolak Jio.


"Jiooo...".


"1 menit lagi...". Dengan cekatan, Jio menarik pinggang Sasa mendekat ke arahnya. dan tanpa basa-basi Jio langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Sasa. menyatukan bibirnya lebih lama dari yang tadi.


Tangan Sasa masih menyentuh gagang pintu, sedangkan kedua tangan Jio menangkup wajah wanitanya dan memperdalam ciuman mereka. hingga yang terdengar hanya bunyi decapan dan nafas keduanya.


Jio menatap lama wajah Sasa dengan kedua tangan yang masih menangkup seperti tadi.


"Bagaimana kalau kita nikah saja...".


ucapannya terdengar seperti sebuah pilihan. sungguh Jio kadang merasa hilang kontrol saat menyentuh Sasa seperti ini. ingin memiliki Sasa seutuhnya.


"Hahaha... tunggu 1 tahun lagi," jawab Sasa.


"Ck, gue benci mendengar hal itu" cerca Jio. tapi dia juga tak bisa memaksa Sasa untuk segera menikah.


"Gue masuk ya... cepetan pulang..." usir Sasa dengan gaya manjanya.


Cupp... sebuah kecupan singkat mendarat di kening Sasa.


"Baiklah... jangan tidur sampai malam..." pinta Jio.


"Dan satu hal lagi, biar dia tau sendiri...". mengingatkan kekasihnya untuk tidak membocorkan apapun.


"Hm,".


Jio akhirnya pulang dan Sasa juga masuk ke dalam Apartemen.


hendak menuju ke kamarnya, tapi ekor matanya tak sengaja melihat Hema berdiri di balkon. hingga mau tak mau Sasa harus melihat sahabatnya dulu sebelum tidur.


"Ngapain belum tidur?".


Ikut berdiri di balkon menatap langit Ibukota yang benar-benar cerah oleh sinar bulan dan taburan bintang di atas sana.


"Nunggu lo...".


"Sorry..." sesal Sasa. ia pun sadar telah pergi makan bersama Jio cukup lama dari biasanya.


"Heheh... gue hanya bercanda Sa..." ralat Hema.


sedangkan Sasa hanya terdiam mengamati sahabatnya.


Dalam kesedihan seperti ini, lo masih bisa berpura-pura tersenyum Hema...


Dan ucapan Jio tadi kembali terlintas di benaknya.


"Berjanjilah padaku Sa... jangan katakan kepada Hema kalau dia kembali... jangan beritahu kalau Hean adalah CEO baru di tempat kalian bekerja... biar Hema sendiri yang mengetahuinya...".


Sasa hanya khawatir bagaimana tanggapan Hema jika tau hal itu dengan mata dan kepalanya sendiri.


"Ayo tidur..." ajak Hema. dan keduanya berjalan meninggalkan Balkon Apartemen.


***

__ADS_1


Semoga syuka Part kali ini...


__ADS_2