Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
93. 2 Pria Beda Masalah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mark tak pernah menyangka sebelumnya kalau malam ini, ia akan dipertemukan dengan seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.


pria yang datang sendirian dan terlihat takut sedikitpun.


"Jadi kau mengenalnya?". pertanyaan Hean yang hanya bisa dijawab Mark.


berkali-kali Hean menanyakan pertanyaan yang sama, tapi tak menjawab sama sekali. wajah pria itu seperti menegang dengan mata yng masih membulat sempurna, melihat ke arah foto dari ponsel Hean.


"Bagaimana kalau gue menginginkannya?" tanya Hean. ia hanya ingin tau apa reaksi Mark nanti ketika Hean memilih Agnes. apakah pria itu bisa mengabulkannya atau tidak, karena adari fakta yang ada Agnes tidak lagi bersama Mark. lebih tepatnya Agnes melarikan diri dari pria itu.


Seharusnya sudah cukup bagi Hean untuk menilai sikap dan kepribadian Mark. tapi ia ingin sekali mendengar apa yang akan Mark katakan ketika Hean menceritakan keadaan Agnes saat ini.


"Hahaha... masih ada wanita yang lebih bagus darinya... bagaimana kalau-,".


"Tidak! pilihanku tetap sama..." sela Hean. membuat Mark tak lagi bisa meneruskan ucapannya tadi.


Sial!


Hean tau kalau Mark tengah mengumpat saat ini. mungkin pria itu kesal atau apa.


yanga jelas memang karen Hean yang memilih wanita lain daripada wnaita-wanita koleksi Mark.


"Bisa tidak?" tanya Hean meminta penjelasan.


Sejenak Mark berpikir. bingung akan mengatakan apa. apalagi Agnes memang tidak lagi bersamanya. entah kenapa kaburnya wanita itu. padahal Mark sudah berniat untuk menjual bayi dalam kandungannya. akan tetapi Agnes kabur dan menghilang sampai sekarang.


"Tidak... dia tidak ada disini lagi..." ucap Mark pada akhirnya.


"Dimana?".


"Tidak tau... dia sudah pergi beberapa bulan yang lalu..." lanjut Mark.


"Ck... sayang sekali...". Hean menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. berpura-pura terlihat kecewa karena tak bisa memilih Agnes.


"Lalu kenapa dia bisa pergi? apa karena lo terlalu memotong tinggi upahnya?".


Terus berpura-pura saja Hean... batin Hean pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak! gue tidak pernah melkaukan hal itu..." tolak Mark. ia tak pernah menjual Agnes untuk menjadi wanita malam.


"Dia hanya tidak mau menyerahkan bayinya...".


Benar... Hean tersenyum puas. ucapan Mark sama dengan yang Agnes ucapkan dulu. jadi Agnes tidak berbohong tentang semuanya.


"Padahal dia mengandung anak ku, tapi tak mau menyerahkan nya setelah lahir..." ucap Mark membuka rahasia yang terjadi. untung saja pria itu beberapa kali menenggak minuman keras jadi sedikit ngelantur.


"Memang kenapa dia harus menyerahkannya padamu?" pancing Hean lagi.


"Bayi itu bisa jadi uang yang sangat besar... satu bayi saja sudah bisa membuatku tenang dalam beberapa waktu... tidak perlu bekerja..." lanjut Mark.


Tangan Hean mengepal kuat. kesal sekaligus tak percaya dengan ucapan Mark barusan. marah... itulah yang Hean rasakan. tak menyangka kalau ada pria serendah Mark itu.


Hean memang br*ngsek, tapi tak pernah sekalipun ia berpikir untuk menjual anaknya. bahkan Hewan buas saja akan tetap menyayangi anak-anak mereka. tapi Mark, bahkan lebih rendah dari binatang buas.


"Ck... bodoh!". umpat Mark. tertawa tidak jelas. "Seharusnya dia tidak perlu kabur... Gue hanya membutuhkannya untuk terus membuat bayi... hahaha...".


Hean bertambah kemarahannya. tangannya terkepal kuat dan pria itu langsung bangkit dari duduknya. sudah habis kesabarannya menghadapi pria itu. Mark bukanlah manusia.


Buuuggg... tiba-tiba Hean melayangkan pukulannya tepat ke wajah Mark. membuat pria itu langsung terhuyung ke belakang.


Amarah Hean sudah benar-benar di puncak. pria di depannya bukan lagi bisa di katakan seorang pria. begitu rendah Mark sampai berpikiran seperti itu. dan Hean mulai paham tentang apa yang Agnes alami selama ini.


"Lo benar-benar br*ngsek!" umpat Hean. matanya memerah tak lepas mengamati Mark yang sesekali menyentuh sudut bibir bekas pukulan Hean.


merasakan rasa sakit tapi tetap tersenyum aneh.


"Hahahaha... apa kau bilang?". Mark seperti tak takut sedikitpun. bahkan pria itu juga menatap Hean seperti tengah menantang sampai dimana pria itu akan bertindak nanti.


"Apa aku salah? dia sama seperti pel*cur lainnya...".


Bagi Mark, Agnes memang seperti gadis-gadis yang ia temui di tempat seperti ini. gadis yang melampiaskan moodnya pada minuman keras dan musik yang menghentak.


"Kalau dia gadis baik-baik, dia tidak akan datang kesini..." ejek Mark lagi.


Benar...


Hean pun sadar akan ucapan Mark barusan. Tempat ini memang bukan untuk gadis yang baik-baik dan gadis yang baik tidak akan mungkin mendatangi tempat ini. entah kenapa tiba-tiba terlintar sebuah nama dalam benak Hean. Hema... Ya, itulah salah satu nama gadis yang tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat seperti ini.


bahkan Hema, tak pernah sekali pun menyentuh minuman keras dalam hidupnya. beda dengan Agnes.

__ADS_1


"Aku tidak tau ada hubungan apa kau dengannya, dan kenapa sampai mau bersikeras menemui ku... tapi wanita itu memang bukanlah sesuatu yang berharga bagiku... jadi sia-sia kau datang kesini..." ucap Mark.


Karena sejak awal, Mark tidak berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan Agnes. ia hanya sekedar bermain saja. sama seperti yang ia lakukan pada wanita-wanita lain.


"Gue pastikan lo akan membusuk di penjara..." ancam Hean dan langsung keluar dari ruangan itu.


Masih dengan amarah yang menggebu, Hean berjalan tanpa arah. memikirkan segala kemungkinan yang bisa ia lakukan setelah ini. rencana untuk membawa Mark memang gagal, karena tabiat pria itu rak mungkin bisa berubah.


bagaimanapun Hean tak mau, Agnes akan menderita kalau kembali bersama Mark.


Mungkin Hean memang tak bisa membuat Mark bertanggung jawab, tapi ada satu hal yang membuat Hean tenang. Bagaimanapun ia sudah tau sifat dan kelakuan Mark.


bukan hanya karena Agnes, Hean memikirkan nasib dari bayi yang Agnes lahirkan.


Hingga langkah kaki Hean membawanya sampai di halaman hotel. tak langsung masuk, Hean justru memilih duduk di salah satu taman kecil di samping hotel. menikmati suasana malam yang sedikit dingin menusuk tulang.


"Bukankah ini bukan waktunya untuk melamun?".


Tanpa terduga, seseorang mengejutkan Hean. membuat Hean langsung mengalihkan pandangannya demi melihat siapa yang datang itu.


"Anda?". Hean terkejut karena yang tengah bicara dengannya itu adalah pria yang ia temui waktu itu. pria yang Hean ingat bernama Zain.


"Saya kira hanya saya yang melakukannya..." ucap Zain. ikut duduk di samping Hean tanpa ragu sedikit pun.


"Ha?". Jelas Hean bingung.


"Melamun, sendirian di tengah malam dan memikirkan sesuatu..." lanjut Zain.


Itulah yang Zain lakukan 2 tahun terakhir. tak ada lagi yang bisa mendengarkan curhatnya seperti dulu.


"Karena pada dasarnya manusia memang butuh seseorang untuk mendengarkan keluh kesahnya bukan? tidak ada manusia yang bisa melakukan semuanya sendiri..." ucap Zain. mengingat apa yang terjadi pada dirinya sendiri.


"Bukankah anda sudah berumah tangga? tentu anda tidak senidiran...". sela Hean. tentu ada teman curhat yang bernama istri, yang akan mendengarkan semuanya.


"Ya... itulah dulu...".


Ha? maksudnya? Hean bingung dengan ucapan Zain.


"Dulu memang ada yang yang setia mendengarkan keluh kesahku... tapi dulu, saat Mamanya Mika masih hidup..." ucap Zain terdengar pilu. kembali mengenang sosok istrinya adalah hal paling menyedihkan bagi Zain. kepergian sang istri yang juga mengambil separuh jiwa Zain pergi. dan sekarang Zain seperti hidup dengan kehampaan. semuanya terasa hambar. tapi Zain harus terus berpura-pura bahagia demi putri kecilnya. karena hanya Mika satu-satunya peninggalan sang istri yang harus Zain jaga.


Kedua pria itu masih duduk di tengah malam kota London. berbagi cerita cukup lama sampai malam benar-benar naik dalam peraduan.

__ADS_1


***


__ADS_2