Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
76. Bagian Dari Masa Lalu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Matahari pagi ini tidak terlihat seperti biasanya. sinarnya benar-benar tertutup oleh awan hitam hingga tak akan ada yang menyadari kalau pagi telah tiba. begitu pula yang Hean rasakan ketika pertama kali membuka mata.


Mengerjab pelan sambil melirik ke arah jendela. Hean kira masih terlalu awal untuk bangun karena langit pun terlihat cukup gelap. tapi ketika tangannya meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari sofa tempatnya tidur, mengamatinya perlahan Hean langsung terperanjat kaget.


Apa? jam 7?


Dengan tergesa-gesa, Hean langsung berlari ke arah kamar mandi. segera menyelesaikan kegiatan paginya sebelum benar-benar terlambat. mandi yang biasa membutuhkan waktu cukup lama, berubah singkat.


tak mementingkan bersih atau tidak yang penting tubuhnya basah.


Masih sama seperti tadi ketika masuk ke dalam kamar mandi, Hean juga berlari menuju ke arah ruang ganti pakaian. mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa sambil meraih beberapa atribut seperti dasi yang senada dengan kemejanya dan kaos kaki.


Sial! kenapa gue bisa kesiangan...


masih terus menggerutu sambil melingkarkan dasi di lehernya.


bersamaan dengan itu, Agnes juga baru saja masuk ke dalam kamar. wajah keheranan jelas terlihat melihat penampakan Hean yang telah rapi.


"Yan, mau kemana?"tanya Agnes.


"Bekerja," jawab Hean singkat.


"Be-ker-ja?". Tentu saja jawaban Hean tak membuat Agnes puas. justru semakin bingung tentang semuanya. mereka baru saja menikah kemarin, kenapa tiba-tiba Hean langsung berangkat bekerja sehari setelahnya.


"Kenapa? kita baru menikah kemarin Yan..." protes Agnes. ia kira mereka akan menikmati hari sebagai pengantin baru seperti pada umumnya. cuti bekerja dan pergi berdua saja. atau berbulan madu seperti yang lain.


tapi pagi ini Agnes dikejutkan dengan ucapan Hean yang mengatakan akan berangkat bekerja.


"Lo berharap apa tentang pernikahan kemarin?" cerca Hean.


lucu jika Agnes mendambakan sebuah pernikahan yang bahagia seperti pernikahan orang lain.


Karena pernikahan mereka tak seperti itu. Hean hanya terpaksa untuk bertanggungjawab.


Hean telah bersiap. tapi sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar, sejenak ia kembali menatap Agnes sedikit lebih lama dan berucap "Jangan terlalu berharap pada pernikahan ini, nanti lo tidak akan pernah sakit hati...". dan segera pergi meninggalkan kamar tanpa mendengar jawaban Agnes sedikitpun.


Menuruni anak tangga rumah mewah itu, Hean sesekali mengedarkan pandangannya. sedikit merasa lega karena Papanya Agnes tak ada di bawah sana yang berarti orang tua itu telah berangkat bekerja.


Syukurlah...


Hean bisa mempercepat langkahnya keluar dari rumah yang terasa seperti sebuah neraka itu. menggunakan Taxi dan pergi bekerja.


Aghh..


Selama perjalanan, Hean menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi Taxi. membayangkan betapa menyedihkannya hidupnya selama ini. belum selesai dengan satu masalah timbul lagi masalah yang lain.

__ADS_1


kepalanya benar-benar terasa hampir meledak, tapi tak ada siapapun yang bisa membantu Hean untuk menyelesaikan masalahnya kecuali dirinya sendiri.


Tapi untuk rencananya semalam, Hean sudah memikirkannya matang-matang. secepatnya Hean akan keluar dari rumah orang tua Agnes dan membeli sebuah rumah yang akan ia tinggali. terserah Agnes mau ikut dengannya atau tidak. Hean tak peduli.


Tiba di Perusahaan.


Hean mendapat begitu banyak ucapan selamat dari karyawan yang ditemuinya. bahkan beberapa hadiah juga tertumpuk di ruangannya tak sekali Hean hiraukan keberadaannya. Sambil mengerjakan pekerjaan yang sempat terbengkalai beberapa hari lamanya, Hean teringat sesuatu.


"Aku tidak melihatnya tadi..." ucap Hean pada Asisten pribadinya.


Siapa?


Sejenak pria yang berada di ruangan Hean itu mencoba menerka siapa yang tengah dibicarakan atasannya itu, hingga sebuah nama terlintas dalam kepalanya.


"Oh... Hema?". siapa lagi kalau bukan gadis itu, karena hanya Hema lah yang seringkali keluar masuk ruangan CEO.


"Hema telah Resign beberapa waktu yang lalu Pak...".


"Ha?". Hean terkejut. menjatuhkan pena dari tangannya demi menatap ke arah Asisten dengan penuh tanda tanya.


Keluar? maksudnya keluar dari Perusahaan? kapan? kenapa gue tidak tau?


Pertanyaan yang hanya memenuhi kepala Hean saat ini. dan siapa lagi yang harus menjawab segala pertanyaan itu selain sang Asisten.


"Kemarin lusa Hema sudah tidak bekerja lagi Pak...". seharusnya itu sudah menjadi jawaban paling final. karena Asisten itu juga tidak tau apa alasan Hema memilih keluar dari pekerjaannya.


Dia pergi... Dia pergi...


"Ada yang ingin anda tanyakan lagi Pak?". kalau tidak Asisten itu akan kembali bekerja sama seperti tadi.


"Tidak...".


Keduanya kembali tenggelam pada pekerjaan hingga sore hari.


 


Jio yang hendak menjemput Sasa terkejut ketika kaca mobilnya diketuk seseorang dari luar.


Sial! mengagetkan saja... umpatnya dalam hati. tapi setelah tau siapa yang melakukannya, hla pertama yang Jio lakukan adalah menurunkan kaca. menjulurkan sedikit kepalanya dan bertanya.


"Lo sudah berangkat?". karena yang Jio pikirkan, mungkin saja sahabatnya itu akan mengambil cuti untuk beberapa hari setelah pernikahannya. tapi nyatanya Hean sudah bekerja hari ini.


"Ada yang ingin gue tanyakan sama lo!" ucap Hean. tak ada senyum yang selalu mengukir bibirnya kali ini. hanya ekspresi datar yang seperti tengah menahan kekesalan.


"Apa?".


Apa yang ingin Hean tanyakan? batin Jio menerka-nerka keadaan.


"Keluar lah...".

__ADS_1


Sekarang, kedua pria itu berdiri sambil bersandar bodi mobil. menatap ke arah gerung Asian Group dimana banyak karyawan yang mulai keluar meninggalkan tempat itu.


"Lo tau kalau Hema pergi?" tanya Hean tanpa basa-basi.


"Tidak...".


"Bohong..." cerca Hean. jelas bohong jika Joo mengatakan tak tau kalau Hema keluar dari Perusahaan. kalaupun ia benar-benar tak tau, Sasa tak mungkin tidak mengatakannya.


"Ck,".


Gue benci mendengarnya, pasti akan membahas Hema... duga Jio.


apalagi selain hal itu.


"Dimana dia?".


Jio tak menatap Hean sedikit pun. bahkan ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tak akan memberitahu keberadaan Hema pada sahabatnya sendiri. sekalipun Hean memohon dan bersujud padanya. karena hanya itu yang bisa Jio lakukan untuk Hema.


"Tidak tau..." ulang Jio.


"Apa dia pergi?". entah kenapa pertanyaan itu sangat menakutkan bagi Hean.


"A-...".


"Kenapa? bukan urusan lo kan?" Tiba-tiba Sasa datang dan mengalihkan perhatian mereka.


Pertama kalinya setelah hari itu, Sasa berani berdiri dan berbicara kepada Hean.


walaupun sasa muak melihat wajah pria itu, pria yang telah menyakiti sahabatnya berulang-ulang kali.


"Tidak ada urusannya sama lo, Hema mau pergi dan tinggal dimana saja... karena hidupnya ada di tangannya sendiri, bukan orang lain...".


"Sayang..." cegah Jio. walaupun ucapan Sada juga benar, tapi Jio tak bisa membelanya di depan Hean. karena Hean juga sahabat Jio, orang terdekat selain keluarganya.


"Kenapa? apa gue salah?" tanya Sasa dengan ekspresi kesalnya.


andai Hean bukanlah sahabat kekasihnya, Sasa akan menghajar pria itu habis-habisan.


"Tidak..." jawab Jio.


"Dan lo Yan... urusi saja urusan lo, jangan urusan orang lain... apalagi Hema, lo tidak berhak atas hidupnya..." ucap Sasa memperingati.


"Gue hanya bertanya keberadaannya saja..." jawab Hean sedikit sedih.


"Dia baik-baik saja sekarang... sangat baik malahan... lupakan, itu akan lebih baik buat kalian..." cerca Sasa.


Karena baginya Hean dan Hema hanya ada di bagian masa lalu mereka. sedangkan masih ada masa depan yang harus mereka tulis sendiri seperti apa takdir yang mereka inginkan.


Bagaimanapun Sasa tak ingin Hema kembali bertemu dengan pria bernama Hean di masa mendatang.

__ADS_1


***


__ADS_2