
HAPPY READING...
***
Sasa telah menunggu di depan kamar kost Hema. menunggu sahabatnya keluar dan mereka akan pergi kuliah bersama.
mereka berniat untuk berboncengan ke Kampus karena motor Hema juga masih tertinggal di Parkiran Universitas karena mogok. jadi setidaknya untuk hari ini, ia akan merepotkan Sasa. walaupun pada kenyataannya, Sasa tak keberatan untuk itu.
Suasana masih pagi, jadi baik Sasa ataupun Hema tidak terburu-buru seperti biasanya.
Setelah semuanya siap, Hema keluar dari kamar. "Ayo...". ucapnya kepada Sasa.
tapi baru saja melangkah, mereka sedikit dikejutkan oleh sosok pria yang juga melangkah ke arahnya.
Pria yang terlihat keren dengan pakaian khas anak perkuliahan. ditambah dengan paras yang memang tampan, menambah nilai plus bagi siapa saja yang menatapnya.
Ngapain dia kesini?
batin Hema yang memang tidak paham. gadis itu seketika merogoh ponsel dan mengamatinya. apakah ada pesan masuk disana. tapi tidak ada satupun pesan yang masuk. jadi kedatangan pria itu memang tidak direncanakan sama sekali.
"Bukankah dia yang semalam?" gumam Sasa pelan. ia ingat, semalam pria itu juga datang kesini. seketika Sasa menutup mulutnya terkejut dengan pemikirannya sendiri.
Jadi benar? dia calon suami Hema?
karena tidak mungkin pria itu tidak memiliki hubungan spesial dengan sahabatnya. bahkan sampai rela menemuinya sesering mungkin.
"Selamat pagi..." sapa Hean dengan ekspresi cerianya. seperti mengalahkan cahaya matahari saking terangnya.
menyapa 2 perempuan di depannya saat ini.
"Ngapain datang sepagi ini?" tanya Hema. tak memperdulikan sapaan Hean tadi. karena ia lebih penasaran kenapa pria itu datang sepagi ini bahkan tanpa memberitahunya lebih dulu.
"Menjemputmu...".
"Kenapa? gue tidak minta kan?". Hema masih tak bisa menerima kedatangan Hean yang tiba-tiba. Apalagi bagaimana pendapat Sasa nantinya. karena sampai sekarang, Hema belum bercerita sama sekali.
"Motor lo mogok bukan?".
bagaimana dia tau? Hema semakin terkejut. karena hany dirinya dan Rendy yang mengetahui hal itu.
"Jangan terkejut seperti itu..." ucap Hean sambil mencolek dagu Hema. bahkan Sasa yang juga melihatnya juga tersipu malu. tersenyum sambil menutup mulutnya.
Aaa... manisnya...
"Ayo gue antar ke kampus...".
"Tapi bagaimana dengan Sasa?". Hema tak bisa memikirkan dirinya sendiri. Sasa juga ia pikirkan juga
"Kenapa? gue bawa mobil..." jelas Hean tanpa ragu sedikitpun.
Tanpa mengulur waktu lama, segera Hean menarik tangan Hema membawanya menuju ke mobil yang telah terparkir di depan Kost.
"Eh... tunggu,". Hema masih berusaha protes walaupun kakinya tetap melangkah mengikuti Hean juga dengan Sasa yang ikut bersama mereka.
Pada akhirnya, mereka benar-benar pergi kuliah dengan mobil Hean. Sasa duduk di bangku tengah sedangkan Hema duduk di bangku samping kemudi.
Sepanjang perjalanan, Hema hanya duduk tanpa bicara sepatah katapun. toh apa yang akan ia bicarakan dengan Hean, apalagi ada Sasa di belakang.
__ADS_1
tapi bukan berarti suasana mobil itu terasa sunyi, Sasa menjadi satu-satunya orang yang memecah keheningan. memulai membuka percakapan untuk menciptakan suasana ramai.
"Jadi kalian akan langsung menikah dalam waktu dekat?".
Sebuah pertanyaan mampu membuat Hema kebingungan. tatapannya tertuju pada Hean tapi pria itu sama sekali tak bergeming.
"Siapa yang mau menikah?". Hema mencoba bertanya mungkin saja Sasa salah menilai hubungan Hem adanya Hean.
"Semalam dia bilang, katanya dia calon suami lo..." lapor Sasa sambil menunjuk ke tempat duduk Hean.
karena seperti itulah yang Hean katakan semalam waktu bertemu dengan Sasa di depan kost.
Seketika Hema memicingkan matanya, menatap ke arah Hean seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.
sedangkan pria itu terlihat biasa saja. hanya tersenyum menampakkan giginya.
"Niat baik tidak perlu ditunda-tunda bukan?". Hean ikut nimbrung. semakin memperkeruh suasana.
"Apa sih yang lo katakan!" cerca Hema.
Sedangkan Sasa tertawa senang, walaupun yang dikatakan Hean benar atau tidak tapi ia mendukung hubungan sahabatnya itu. daripada bersama Rendy, Sasa lebih suka Hema dekat dengan pria bernama Hean itu.
karena sosok Hean seperti seorang yang bertanggung jawab.
"Hahaha... gue akan jadi saksi nanti..." tambah Sasa.
"Apaan sih Sa, jangan aneh-aneh deh..." tolak Hema. karena hubungannya dengan Hean bukanlah seperti yang terlihat.
Hema tau, Hean hanya menggodanya saja.
Hingga tak terasa mobil itu telah tiba di Universitas. Hean memakirkan mobilnya bersama dengan kendaraan lain. dan Sasa lha yang menjadi orang pertama yang turun.
"Makasih tumpangannya... gue duluan ya...". pamitnya.
"Oke...".
Hema juga ingin keluar dari mobil tapi segera dicegah Hean. "Kenapa buru-buru?". tanya pria itu menggenggam tangan Hema tanpa ragu sedikitpun.
"Gue juga mau masuk kelas Yan..." jawab Hema.
kelas paginya akan dimulai sekitar 45 menit lagi.
"Masih lama... disinilah dulu..." pintar Hean. bahkan pria itu memutar tubuhnya menghadap samping tepat menghadapi Hema. tatapannya tertuju pada wajah Hema hingga membuat gadis itu kembali salah tingkah. Ya... Hean memang pintar membuat Hema salah tingkah ketika berduaan seperti sekarang.
Kenapa masi sekali sih jika salah tingkah seperti itu... batin Hean.
"Jangan mengikat rambutmu seperti ini..." ucap Hean dan langsung menarik paksa ikat rambut yang berada di rambut Hema. karena Hema memang menguncir rambutnya seperti ekor kuda dimana lehernya benar-benar terlihat dari segala arah.
Hingga rambut panjang Hema benar-benar terurai jatuh di punggungnya.
"Kenapa?". tanya Hema tak paham. karena cuaca pagi ini benar-benar sedikit panas. untuk itu Hema menguncir rambutnya agar tidak gerah selama kelas nanti.
"Sini..." pinta Hean. meminta Hema sedikit mendekati ke arahnya.
Apa?
"Sini... lo mau tau alasannya bukan?" jelas Hean lagi karena Hema tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Karena penasaran, Hema sedikit mendekat ke arah Hean. dengan polosnya gadis itu tak tau apa yang ada di pikiran Hean saat ini. hingga tangan Hean terulur menyibak rambut Hema yang menutupi sisi kanan lehernya.
Mendekatkan wajahnya dan hendak menggigit leher itu karena gemas.
"Hean...". Untung saja Hema yang sadar langsung menjauh. mendorong tubuh Hean untuk menciptakan jarak diantara mereka. kalau tidak bakal ada mahakarya yang tercipta disana.
"Sudah tau kan alasannya?" tanya Hean lagi. bahkan dengan deru nafas yang sedikit aneh. bahkan tatapan pria itu sedikit nakal ke arah Hema.
Gawat...
"Gue duluan ya..." pamit Hema. akan berbahaya jika ia masih berada di dalam sini cukup lama.
"Ck... lo jahat...". Hean merajuk. menyenderkan tubuhnya di bangku kemudi.
Mendengar keluhan Hean, Hema yang tadinya hendak menyentuh gagang pintu mulai mengurungkannya. "Gue? memang apa yang gue lakuin?". karena Hema tidak berbuat apapun. apalagi sampai menjahati Hean sama sekali.
"Gara-gara lo adik gue bangun..." ucap Hean sambil memperbaiki posisi duduknya.
Adik? siapa?
Dengan polosnya Hema celingukan, mencari sosok adik yang dimaksud Hean tadi.
Mana? begitu sorot matanya bicara.
tapi melihat tatapan Hean ke arah bawah, Hema sadar apa yang pria itu bicarakan.
"Jangan mesum!" ancam Hema dan langsung pergi. meninggalkan Hean yang masih tertawa di dalam mobil.
"Hahaha...".
Sepanjang jalan, Hema menggerutu. mengumpati kebodohannya juga karena ucapan Hean yang m*sum.
Dasar pria gila!
Tapi nyatanya, pria itu mengejar Hema. merangkul bahu gadis itu dan berjalan bersama.
"Hahaha...kenapa lo lari tadi? apa sudah paham?" tanya Hean. masih merangkul Hema walaupun gadis itu tak berhenti berontak.
"Lo benar-benar gila... lepas!" berontak Hema.
"Gue gila karena lo..." jawab Hean tak mau kalah.
"Sana pergi, gue mau masuk kelas..." celoteh Hema lagi.
karena Hean masih terus mengikutinya.
"Baiklah, gue pergi... muuahh...". Hean pergi setelah mencium singkat pipi Hema.
"Heaannn!".
"Bye...".
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat semua kejadian itu. walaupun sudah tak ada hubungan apapun, nyatanya Rendy tetap kesal melihat keromantisan antara Hean dan Hema. tangan pria itu mencengkeram kuat menahan kemarahan.
***
Halo Semuanya... semoga suka dengan 2 Part pagi ini ya...
__ADS_1