
HAPPY READING...
***
Apa yang harus gue perbuat?
gue hanya takut Hean akan marah dan berubah pikiran... selama beberapa bulan, gue sudah merasa nyaman di sini walaupun sikap Hean masih terlihat cuek...
Agnes terus memikirkan semuanya. andai ia tidak hamil, mungkin masih bisa bebas kemana saja. sedangkan sekarang? untuk keluar rumah saja, Agnes merasa cemas. ia takut kalau keberadaannya akan diketahui seseorang.
Sebenarnya Agnes benci, tapi tak bisa berbuat apapun. bayi dalam kandungannya benar-benar tidak bersalah. Agnes tidak mau membuat bayinya terluka walaupun sebenarnya takut jika nanti wajah bayinya akan mengingatkannya pada pria yang begitu Agnes benci selama ini.
Jangan pernah seperti dia... batin Agnes sambil mengelus perutnya.
"Tuhan, apa yang harus gue lakukan?". Air mata wanita itu menetes membasahi wajahnya. mungkin inilah alasan Agnes nmerasa tidak tenang. karena ia telah menyembunyikan kebenaran kepada semua orang.
"Gue takut untuk jujur... hiks,".
"Kenapa takut!".
Agnes terperanjat kaget mendengar suara lain tiba-tiba muncul.
"He-an,".
Matanya membulat sempurna tak menyangka kalau ucapannya didengar oleh pria itu. Agnes pun keheranan kenapa siang-siang begini Hean sudah ada di rumah. padahal pria itu berangkat bekerja tadi pagi sebelum Agnes juga pergi ke dokter kandungan.
"Apa yang lo takutkan?" tanya Hean. langkah kakinya semakin mendekati Agnes.
Gue tau Nes... sejak awal lo memang sudah bohong...
"He-an... kenapa lo ada di rumah?" tanya Agnes dengan nada bergetar. takut dan was-was.
"Jangan mengalihkan pertanyaan Nes... gue hanya tanya apa yang lo takutkan?" deaak Hean lagi.
"Apa karena dia bukanlah anak gue? benar kan?".
Agnes tak bisa berkata-kata. tatapannya hanya tertuju pada telunjuk Hean yang mengarah ke perutnya. seperti mempertanyakan siapa ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya.
"Hean...".
"Benar kan bukan gue pelakunya?".
Tadinya Hean hanya pulang untuk memastikan apakah Agnes pergi ke dokter kandungan atau tidak. melihat Ibu yang tidak bisa menemani wanita itu. Hean memang sengaja meminta asisten untuk mengantarkannya pulang dan menyuruhnya kembali ke perusahaan. tapi saat Hean telah pulang, Agnes tidak berada di rumah yang berarti wanita itu memang pergi sendirian ke rumah sakit.
Mungkin inilah keberuntungan Hean. Tuhan telah menjawab segala doanya. ia tak sengaja mendengar ucapan Agnes, walaupun tidak jelas. tapi firasatnya mengatakan bahwa Agnes telah berbohong selama ini. berbohong atas ayah dari bayi yang di kandungnya.
"Hean...". Agnes berusaha merangkai kata, menjelaskan dan membohongi Hean lagi.
"Siapa ayah dari bayi itu?". Jelas Hean sangat marah. wanita di depannya itu benar-benar menjadi penyebab kehancuran kebahagiaan Hean.
Agnes benar-benar telah merenggut semuanya dari Hean. termasuk kepercayaan orang tuanya sendiri.
"Hean... gue...".
"Jawab, siapa ayah dari bayi itu!". Hean hanya ingin mendengar langsung kata yang terlontar dari mulut Agnes.
__ADS_1
"JAWAB!".
Agnes memejamkan mata saking terkejutnya dengan bentakan Hean.
hatinya sakit melihat untuk pertama kalinya Hean benar-benar terlihat menakutkan. tak ada rona maaf dari wajahnya. tangannya terkepal kuat seperti bersiap untuk memukul apa saja yang menghalanginya.
"Hean..." ucap Agnes penuh mohon.
Jangan sekarang... gue mohon jangan sekarang...
Agnes belum siap. bagaimana hidupnya setelah ini jika Hean tau kalau semuanya hanya kebohongan saja. Agnes tidak mungkin mendapat dukungan dari keluarganya. karena bukan hanya membohongi Hean, orang tua dan Bima juga telah Agnes bohongi.
"Kalau lo tidak mau bicara, biar gue yang bertindak..." ancam Hean.
"Jangan Hean...". Tanpa berpikir lebih dulu, Agnes langsung memeluk kaki pria itu. berharap Hean tak pergi kemanapun.
"Lepas, gue sudah tau semuanya... jadi benar bukan gue kan ayah dari bayi lo?".
Ck...
Hean menyesal. seharusnya ia memang melakukan tes DNA waktu itu. hanya karena tak tega, Hean merasa ditipu lebih jauh.
nyatanya bayi dalam kandungan Agnes benar-benar bukan darinya.
"Gue mohon jangan lakukan itu Hean...".
"Kenapa? biar orang tua lo tau... biar Bima tau kalau bukan gue yang melakukannya...". Kemarahan Hean benar-benar telah memuncak.
betapa Hean ingat bagaimana Bima menghajarnya waktu itu. betapa Hean benar-benar direndahkan di depan semua orang. Hean juga ingat tatapan penuh kecewa dari Ibu dan juga Ayah kepadanya. Hean sakit mengingat hal itu.
Br*ngsek!
"Lepas!".
Hean masih berusaha untuk melepaskan tangan Agnes di kakinya. tapi masih dengan halus. bagaimanapun ia tak mau jika apa yang ia lakukan justru melukai bayi dalam kandungan wanita itu.
"Gue mohon jangan katakan pada siapapun Yan.. gue mohon..." pinta Agnes.
setidaknya jangan sekarang. karena Agnes belum siap untuk segala sesuatu yang akan terjadi nanti.
"AGNES!".
Hean benar-benar muak. heran dengan apa yang dilakukan wanita itu.
"Gue akan jujur... gue akan jujur... tapi tolong, jangan katakan pada siapapun... gue mohon Yan..." pinta Agnes. sudah tidak ada kesempatan baginya untuk membuat kebohongan-kebohongan lain. Agnes akan berkata jujur walaupun tak tau apa yang aka terjadi nanti.
"Gue akan jujur sama lo, tapi tolong jangan beritahu keluargaku Yan... jangan beritahu mereka...".
"Mau lo apa sih Nes...". Hean bingung apa yang diinginkan wanita itu.
"Jangan beritahu mereka Yan... mereka akan kecewa nanti... Papa akan sakit, gue tidak mau seperti itu..." adu Agnes.
"Tapi lo menyakiti gue Nes... lihatlah atas apa yang telah lo lakuin pada gue... orang tua gue bahkan tidak mempercayai ucapan gue... gue adalah pembohong bagi mereka... semuanya gara-gara lo!" jawab Hean.
Agnes tak ingin mengecewakan keluarganya tapi mengorbankan Hean dan menjadikannya tumbal. itu sama saja bukan?
__ADS_1
"Hiks...".
"Gue harus bilang pada mereka..." ucap Hean yakin. hanya itulah cara yang bisa ia lakukan. mengatakan yang sebenarnya.
"Jangan Yan... oke oke... gue ngaku..." ucap Agnes pasrah.
menghela nafas sebelum mengatakan yang sejujurnya kepada Hean.
"Bayi ini memang bukan anak lo...". Isak tangis Agnes perlahan terdengar. tangannya masih erat memeluk kaki Hean berharap pria itu tak pergi dan memberitahu semua orang.
Sedangkan Hean, tatapannya sulit diartikan. pupil matanya membesar seiring dengan perkataan Agnes yang membenarkan bahwa bayi dalam kandungannya bukanlah anak Hean.
"Dia anak pria lain saat gue masih di London Yan... bayi ini bukan anak lo... hiks...".
"Lo benar-benar jahat Nes... sangat jahat..." umpat Hean.
Hean tak menyangka kalau Agnes benar berpikiran sempit seperti itu.
Bagi Hean mungkin Agnes memang terlihat jahat disini. tapi mau bagaimana lagi, apa yang harus ia lakukan? Agnes tidak bisa membiarkan hidupnya dihancurkan oleh pria jahat.
"Gue hanya tidak mau anak ini jatuh kepadanya Yan... dia pria br*ngsek yang tidak punya hati..." adu Agnes.
Perlahan Agnes benar-benar membuka tabir kehidupan kelamnya. mulai dari perkenalannya dengan pria itu, siapa nama pria itu bahkan hubungan yang mereka jalin di belakang Hean saat itu.
Jelas Hean yang mendengar cerita Agnes sedikit kesal karena Agnes terang-terangan mengatakan berselingkuh.
Hati Hean hancur, tapi tak sehancur itu. karena yang lebih menyakitkan adalah Hean telah kehilangan Hema gara-gara Agnes.
"Gue mohon Yan... jangan beritahu siapapun... jangan beritahu orang tua gue ataupun Kak Bima...".
"Siapa nama pria itu?".
Deg...
Jantung Agnes serasa berhenti berdetak. untuk pertama kalinya Hean bertanya nama seseorang dengan raut wajah menakutkan seperti sekarang.
"Mau a-pa?". Agnes tak habis pikir ap ayang akan Hean lakukan jika mengetahui nama pria itu.
"Dia harus bertanggung jawab..." ucap Hean yakin.
sebr*ngsek apapun orang itu, tak seharusnya meninggalkan Agnes. mereka harus bertanggung jawab dengan perbuatannya.
membesarkan anak mereka berdua. itulah yang seharusnya terjadi.
"Tidak... gue tidak akan membiarkannya bertemu dengan ku dan bayiku..." tolak Agnes. jelas Agnes ingat dengan perkataan pria itu.
mungkin saja bayinya akan dijual nanti. Agnes tak mau hal itu terjadi.
"Dia harus bertanggung jawab Nes..." desak Hean.
"Tidak Yan... dia tidak akan mau bertanggung jawab... dia justru akan menjual bayiku nanti... dia akan menjualku juga..." teriak Agnes semakin frustasi. bahkan setelah ia bicara jujur, Hean juga tak mengerti keadaannya.
"Dia akan menjadikan ku budaknya..." lanjut Agnes.
***
__ADS_1