Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
28. Pulang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah olahraga selesai, Hean dan Hema sama-sama kembali ke Apartemen mereka. Membersihkan diri dari sisa keringat setelah hampir 1 jam berolahraga tadi.


Aagghh...


Segar, itulah yang dirasakan Hema setelah keluar dari kamar mandi. rambut gadis itu masih basah dan duduk di depan meja rias.


Walaupun sedikit lelah karena olahraga, tapi Hema janji akan melakukannya lebih sering. selain sehat, olahraga memang penting.


Gadis itu telah berpakaian seperti biasanya. celana panjang dengan crop top yang menampilkan sebagian pinggang rampingnya.


dengan sangat telaten Hema mengoleskan body lotion ke seluruh tangannya hingga bau harus itu menguar memenuhi kamar.


Rencananya, Hema akan keluar lagi dengan Hean. entah kemana pria itu akan membawa nya di hari minggu seperti ini. pria itu tak bilang secara rinci, tapi meminta Hema segera bersiap setelah mandi.


Sambil mengenakan jaket, Hema keluar dari Apartemen. tepat di depan pintu sudah ada Hean yang juga baru keluar dari Apartemennya. "Ayo...".


dan keduanya langsung meninggalkan tempat itu.


menikmati hari minggu bak pasangan muda-mudi lainnya.


"Jadi kita mau kemana?". tanya Hema masih di dalam perjalanan sekitaran Ibukota.


sesekali membuang pandangannya ke arah jalanan dari balik jendela mobil.


masih terlalu pagi, tapi jalanan telah ramai oleh kendaraan. ada juga rombongan sepeda yang berjalan di tepi jalanan.


"Menemui Orang tua gue...katanya lo penasaran bukan?".


"Tapi Yan?". Hema syok. buka. karena takut atau bagaimana. padahal tadi ia hanya mengangguk setuju ketika Hema menawarinya ikut. Tapi bukan sekarang juga kan? Hema belum siap. toh apa yang perlu ia siapkan karena semuanya bukan seperti yang terlihat.


gadis itu hanya takut bagaimana tanggapan orang tua Hean nanti?


bagaimana kalau mereka bertanya tentang Hema?


mau bilang pacar, tapi Hema bukan pacar Hean. mau bilang teman? tentu saja semakin aneh. tidak ada hubungan pertemanan antara pria dan wanita.


kalau anak TK, SD mungkin saja wajar. sedangkan mereka?


"Katanya lo penasaran... jadi lihatlah bagaimana keluarga ku nanti...". jawab Hean dengan bangganya.


Hean memiliki orang tua yang tidak terlalu kaku oleh orang baru. mereka sangat ramah dan juga asyik.. apalagi dengan Ibunya, bahkan Hean lebih dekat dengan ibunya daripada Ayah.


karena waktu bersama Ayah sangatlah sedikit. beliau baru pulang data malam beda dengan Ibu yang hampir 24 jam memang berada di rumah.


Bagaimana ini?


Hean melihat kecemasan Hema. "Jangan khawatir... nanti juga ada Intan...".


adik perempuannya itu mampu mencairkan suasana. Hean yakin kalau Hema tidak akan merasa asing nantinya.


Sepanjang perjalanan, Hema benar-benar tenggelam dalam pemikirannya sendiri. bahkan sampai tidak menyadari bahwa mobil yang dikendarai telah berhenti di depan rumah cukup besar dengan pagar tinggi di depan sana.


Jantung Hema semakin berdetak kencang bersamaan dengan mobil Hean yang semakin masuk ke dalam sana. terparkir bersama 2 mobil lain di Carport rumah itu.


"Ayo...". Hean turun lebih dulu dan langsung membukakan pintu untuk Hema.

__ADS_1


bahkan senyum pria itu tak sirna sedikitpun.


entah apa yang ada di dalam kepala Hean saat ini, yang jelas ada sebuah kebahagiaan tersendiri ketika kakinya menginjak lagi rumah yang sudah lama Ia tinggalkan.


"Apa lo takut?". Hean menyadari kalau tangan yang ia genggam saat ini terasa dingin dan berkeringat.


Mempererat genggamannya memastikan kalau tidak akan terjadi apapun nanti.


Percayalah... begitu tatapan Hean sebelum akhirnya mereka benar-benar masuk ke dalam rumah.


"Bu..." teriak Hean seketika. menatap sekeliling ruangan yang terlihat sepi. padahal ini hari minggu, Ayah tentu saja berada di rumah, apalagi dengan Intan.


"Duduklah,". Hean meminta Hema duduk dan setelahnya pria itu berjalan lebih masuk. mencari sangat Ibu yang mungkin saja ada di dapur. apalagi jelas tercium aroma cabe yang mampu menusuk hidung saking pedasnya.


"Bu...". Hean mengamati sosok yang tengah berdiri sambil memasak.


membuat wanita dengan daster itu menengok ke arah sumber suara.


"Hean...". saking terkejutnya sampai meninggalkan penggorengan demi memeluk sang anak. "Kapan kamu tiba?".


Jelas Ibu sangat merindukan Hean. anak laki-laki yang jarang pulang padahal tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya.


"Baru saja...". Hean celingukan mencari seseorang.


"Dimana Ayah dan Intan?".


Ibu kembali berjalan menuju ke penggorengan. membelakangi Hean tapi tetap menjawab pertanyaannya. "Ayah pergi memancing dengan temannya... sedangkan Intan, nanti juga kembali...".


"Kau sudah sarapan Yan?".


"Belum... Bu, Hean membawa seseorang..." ucap Hean dengan nada penuh hati-hati. bahkan dadi ucapannya itu mampu membuat sang Ibu tersenyum penuh arti.


"Siapa? Agnes?". duga Ibu. karena beliau juga semoga mendengar dadi Intan kalau Agnes akan kembali pulang ke Indonesia.


"Oh bukan ya..." Ibu juga sama menyesalnya. beliau tidak tau siapa yang Hean bawa kali ini, tapi melihat ekspresi kecewa putranya, Ibu yakin kalau bukan Agnes gadis yang Hean maksudkan tadi.


"Baiklah, Ibu akan segera menemuinya setelah ini...". Ibu kembali menyelesaikan pekerjaannya dan segera menemui gadis yang dibawa Hean.


Hema yang sejak tadi hanya diam sambil tatapan menjelajahi seluruh sudut ruangan ini merasa aneh. bagaimana tidak, jantungnya saja tidak berdetak normal seperti biasa. takut sekaligus khawatir.


hingga derap langkah kaki Hean dan seseorang di sampingnya membuat Hema seketika bangkit. tangannya meremas kuat dan berkeringat.


Ibunya Hean? batinnya sambil mengamati wanita itu.


"Ibu... jangan tanyakan tentang keluarganya.. dia hidup hanya dengan neneknya sejak kecil... dia tidak tau dimana orang tuanya...".


Ibu teringat dengan ucapan Hean beberapa saat yang lalu.


tatapannya kepada gadis muda di depan saja terlihat mengiba. kasihan dengan nasib malang Hema.


"Halo... ada tamu ternyata..." sapa Ibu dengan sangat ramah. membuat Hema tersenyum canggung dan bingung harus menjawab apa.


"Saya Hema tante... te-,".


"Pacarnya Hean?". sela Ibu tiba-tiba. padahal Hema tadi mau memperkenalkan diri sebagai teman Hean. tapi ucapannya terputus.


"Cantik kan Bu?". Hean bertanya dengan bangganya. bahkan sampai menaik turunkan alisnya di hadapan Hema.


"Cantik...". sebuah kata tai mampu membuat Hema seperti kehilangan kewarasannya.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya ada seseorang yang memuji dirinya. Hema salah tingkah dipuji cantik seperti itu.


"Duduklah...".


Hema duduk, sedangkan Hean duduk di samping Ibunya. bahkan dengan jarak yang begitu dekat. seperti seorang anak kecil yang menempel dan tak membiarkan ibunya pergi. ya... seperti itulah yang Hean lakukan saat ini.


Sisi lain dari Hean yang belum pernah Hema lihat sebelumnya.


Ketiganya berbincang-bincang lama. Hema yang mulai memperkenalkan diri di depan Ibu. sesekali tertawa karena cerita Ibu. Untuk pertama kalinya Hema terlihat akrab dengan seseorang. mengenal bagaimana sosok seorang Ibu yang belum pernah Hema lihat seumur hidupnya.


Wanita yang begitu ramah dan mampu mengusir kecanggungan diantara mereka.


"Hahaha... kau tau Hema,". Ibu melirik putranya. dari tatapannya jelas ada sebuah rencana yang beliau buka di dengan Hema. seperti membuka sebuah aib yang dulunya masih tersimpan rapat-rapat.


Maafin Ibu Hean kalau aibmu akan terbuka...


"Hean punya kebiasaan buruk sampai dewasa...".


"Ibuu..." rengek Hean.


Sedangkan Hema sangat penasaran. setidaknya ia butuh itu untuk membalas perilaku Hean. Hema akan mengolok-oloknya nanti.


"Hean selalu mengigau kalau tidur... dia akan berbicara hal-hal aneh...".


Sebuah aib Hean terbuka sudah. Ibu tertawa juga dengan Hema yang merasa senang. tapi di detik selanjutnya gadis itu seperti mengingat sesuatu.


senyum di bibirnya mulai memudar.


"Gue mencintai lo... sangat mencintai lo...".


Entah kenapa Hema teringat pada malam itu. malam dimana Hean telah selesai menjamah tubuhnya di malam paling menakutkan itu.


Hema ingat bahwa Hean pernah mengigau tentang seseorang.


Siapa? siapa yang Hean cintai?


Tiba-tiba Hema menjadi kepikiran siapa wanita yang Hean maksudkan itu. wanita yang begitu Hean cintai.


dan memikirkan itu, Hema merasakan sesuatu seperti menusuk hatinya. sakit...


"Kenapa Ma?". Hean yang tau perubahan wajah Hema pun bertanya. "Lo sakit?".


padahal gadis itu terlihat baik-baik saja tadi.


"Tidak..." elak Hema.


"Ya Tuhan! Ibu sampai lupa menyuguhkan minuman..." Ibu memukul bahu Hean. bahkan sudah sangat lama mereka berbincang sampai lupa membawa minum untuk tamunya.


"Tunggu sebentar Hema, Ibu akan bawakan minum untuk mu...". Ibu segera bangkit dan menuju ke dapur. mempersiapkan minum untuk Hema dan juga Hean.


Sepeninggal Ibu, Hean mengubah duduknya yang tadi berada di samping Ibu sekarang pindah ke samping Hema. "Kenapa? lo sakit?". bahkan sampai menempelkan punggung tangannya di dahi Hema. memastikan apakah gadis itu demam atau tidak.


"Apaan sih Yan...". Hema berontak.


"Apa masih takut?".


Cup... sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Hema. membuat gadis itu terkejut karena perlakuan Hean yang tiba-tiba.


"Jangan takut... ada gue bersama lo...".

__ADS_1


***


Huuaaa... kenapa Hean selalu tiba-tiba yak...


__ADS_2