
HAPPY READING...
***
Suasana rumah terlihat mencekam. oksigen serasa menipis dan membuat semua orang tak nyaman. begitu juga dengan Hean. pria itu ingin segera pergi meninggalkan rumah orang tua Agnes tentu saja membawa Bella juga. karena alasan Hean datang ke rumah ini juga karena Bella, putri semata wayangnya.
Tatapan Hean memanas. ingin sekali ia berlari menuju ke sumber suara dimana yang tak lain adalah suara Bella yang tengah menangis di atas sana.
Br*ngsek!
Siapa yang tega mendengar tangis pilu anak kecil itu. seperti takut dengan lingkungan baru tanpa orang-orang yang Bella sayangi.
anak itu secara paksa dipisahkan dari Papanya dan juga nenek dan kakeknya.
"Pulanglah Yan... Bella akan baik-baik saja di rumah ini..." ucap Papa. mengusir Hean secara halus.
"Bagaimana saya bisa pulang dengan tenang jika mendengar tangis Bella yang seperti ini?". Hean merasa risau mendengar tangis Bella dari lantai dua rumah itu. terdengar ketakutan dan menyedihkan.
"Apa kau pikir kami tidak bisa merawat Bella? sebelum ini, kami juga memiliki anak dan membesarkannya dengan baik!" cerca Papa.
Ya, Papa memang telah memiliki dua anak dalam hidupnya. Bima dan Agnes. kedua anaknya itu juga tumbuh dengan baik tanpa kekurangan apapun. jadi mengurus dan merawat Bella, adalah hal mudah baginya.
"Terimakasih karena telah merawat cucuku dengan baik... tapi mulai sekarang biar kami yang gantian merawatnya..." ucap Papa terdengar memohon.
Hean semakin lemah dan putus asa. apalagi tangis Bella yang tak kunjung berhenti. membuat pandangan Hean sesekali tertuju ke atas tangga, berharap seseorang membawa Bella turun menemuinya.
"Tapi sesuai hasil sidang, hak asuh Bella jatuh pada Hean sampai usianya cukup dewasa dan mengerti semuanya..." timpal Dimas.
selama itu, Bella tetap berada dalam pengawasan Hean dan keluarganya.
Hean bertanggungjawab penuh atas segala sesuatu yang Bella butuhkan hingga menginjak remaja.
"Iya saya tau, saya juga paham akan peraturan di negara ini..." sela Papa.
"Lalu?".
"Kami juga keluarganya, nenek dan kakeknya Bella... apa tidak boleh merawatnya juga? kami juga ingin membesarkan Bella...".
"Anda bisa datang dan menemui Bella saja kan? tanpa perlu memisahkannya pada Papanya..." bantah Dimas lagi.
"Bella juga harus dekat dengan keluarga Ibunya...".
"Tapi-,".
__ADS_1
Belum sempat meneruskan ucapannya, Hean mengangkat tangan meminta Dimas untuk diam.
Cukup Dim... begitu sorot matanya bicara.
"Boleh saya bertemu dengannya?" pinta Hean.
walaupun sebenarnya Hean tak ingin jauh dari Bella, tapi aapa yang bisa ia lakukan?
ucapan Papanya Agnes memang benar
bagaimanapun Bella juga harus dekat dengan keluarga Agnes. bukan hanya keluarga Hean saja.
apalagi sumpahnya waktu itu, Hean memang menerima Agnes sebagai mantan istri sahnya. jadi Bella juga punya hubungan dengan pihak Agnes.
"Yan-,". Dimas bingung dengan keputusan Hean yang langsung berubah. padahal sejak awal ia telah bersikukuh akan membawa Bella kembali pulang ke rumahnya. tapi sekarang, Hean justru terlihat pasrah dengan keadaan.
"Gue tau apa yang harus gue lakukan..." ucap Hean meyakinkan Dimas.
"Ma... bawa cucu kita turun sebentar..." ucap Papa memberitahu istrinya yang berada di lantai atas.
Tak butuh waktu lama, Mamanya Agnes pun turun sambil menggendong Bella dan melangkah penuh kehati-hatian.
isak tangis Bellavia semakin terdengar memilukan. kedua tangannya terangkat ketika melihat Hean berdiri di ujung anak tangga menunggu kedatangannya.
"Ap-pa..." celoteh Bella dengan logat khas bayi. seperti memohon agar Hean segera mengambilnya dari gendongan wanita yang tak ia kenal sebelumnya.
anehnya, tangis Bella langsung terhenti ketika Hean yang menggendongnya. bayi berumur 8 bulan itu langsung kegirangan dan tersungging senyum kecil di bibirnya.
"Anak Papa... cupp... cupp..." Hean menghujani pipi Bella dengan banyak kecupan. "Jangan takut sayang...". walaupun hanya dengan mengatakannya, seperti melukai hatinya sendiri.
"Kau bisa datang semau mu untuk melihat Bella Yan..." ucap Papa. melihat kedekatan Bella dengan Hean, hatinya sedikit tersentuh. beliau tak bisa langsung memisahkan cucunya dari pria bakal malaikat seperti Hean itu.
Sedangkan Hean tak menggubris ucapan mantan mertuanya. ia hanya terfokus pada Bella saja. membuat lelucon untuk membuat Bella terus tersenyum dan melupakan kesedihannya.
"Saya tidak akan memaafkan Anda jika terjadi halal buruk pada putriku...!". ancaman Hean terdengar begitu menakutkan.
seperti sebuah peringatan jika sampai Bella terluka atau dalam keadaan berbahaya dalam rumah ini.
"Tak akan pernah... jika memang iya, Bella akan ku kembalikan pada mu..." jawab Papa yakin.
karena menurutnya merawat Bella amatlah mudah. beliau dan istrinya cukup mahir dalam merawat bayi.
"Saya pegang janji anda!".
__ADS_1
Hean terdiam sambil melihat ke arah jendela mobil yang bergerak menuju ke kediaman Hean. sedangkan Dimas yang mengemudikan mobil, juga ikut terdiam tanpa suara.
Mereka baru meninggalkan rumah orang tua Agnes beberapa saat yang lalu. saat Bella sudah tertidur lelap dalam pangkuan Hean dan dipindahkannya ke ranjang bayi yang telah disiapkan untuk bayi perempuan itu.
"Bagaimana gue mengatakannya pada Ibu nanti?" gumam Hean tiba-tiba.
membuat Dimas terkejut dan sejenak melirik ke arah bangku samping kemudi.
"Ibu akan sedih nanti... beliau akan menangis dan memikirkan Bella..." lanjutnya.
Hean teringat dengan tangis Ibu tadi pagi. menyedihkan dan Hean tak tega untuk melihat hal itu.
mungkin dengan kepulangan Hean tanpa membawa Bella, semakin membuat kesedihan di hati Ibu. beliau akan sedih.
"Tante akan memaklumi hal itu..." hibur Dimas. walaupun pada awalnya orang tua Hean akan sedih, tapi mereka akan ikhlas karena Bella juga di rawat oleh neneknya dari pihak Agnes.
Egois jika orang tua Hean menginginkan Bella hanya mengenal mereka saja. karena keluarga Agnes juga penting.
"Bagaimana Yan? dimana cucu Ibu?". hal yang Hean takut kan terjadi juga. Setelah mobil hitam yang Hean dan Dimas kendarai tiba di rumah, Ibu menjadi orang pertama yang menanyakan keberadaan Bella.
wanita yang tak lagi muda itu celingukan mencari Bella, yang ia kira tertidur di dalam mobil selama perjalanan.
Tapi harapannya sirna ketika Hean hanya pulang bersama Dimas saja tak membawa Bella juga.
tangis Ibu kembali pecah melihat kenyataan bahwa cucu kesayangannya itu tak lagi bersama dengan mereka.
"Bagaimana ini Ayah?". Ibu meraung. membenamkan wajahnya di dada Ayah. sedangkan Hean berlalu tanpa berkata apapun. masuk ke dalam kamar tanpa memperlihatkan kesedihannya di depan anggota keluarga.
Dimas lah yang harus mengatakan kepada Orang tua Hean apa yang telah terjadi di rumah Orang tua Agnes tadi.
membuat mereka mau tak mau, siap tak siap harus menerima semuanya.
tak ada lagi tangis yang akan tercipta dalam rumah ini nanti.
Hening kembali menguasai segalanya. termasuk hati Hean juga.
entah apa yang akan terjadi nanti, Hean tak bisa berpikir.
Dengan posisi terduduk, pria itu menangis dalam kamar yang gelap gulita. menyesal karena tak bisa mempertahankan putrinya untuk tetap bersama dengan Ibu dan Ayah.
"Aggghhh!".
__ADS_1
Hean melempar segala sesuatu yang ada di sekitarnya. membentur dinding dan pecah berserakan di lantai.
***