
HAPPY READING...
***
Hean berdiri di depan rungan NICU. mengamati salah satu perawat yang tengah melakukan sesuatu pada salah satu inkubator di depan sana. pandangannya tak lepas mengamati bayi di dalam sana yang sesekali bergerak pelan seperti menginginkan sesuatu.
NICU (Neonatal Intensive Care Unit) adalah tempat khusus bayi yang memerlukan perawatan intensif setelah bayi mengalami masalah dalam persalinan. biasanya bayi-bayi dengan berat badan kurang, atau bayi lahir kurang umur (prematur) atau bayi yang lahir dengan penyakit bawaan.
Disinilah bayi perempuan yang Agnes lahirkan berada. masih dalam pengawasan dan perawatan khusus hampir 2 minggu lamanya.
Hean juga tidak tau kapan pastinya bayi itu akan keluar, apalagi Agnes yang sampai sekarang juga masih belum sadar dari komanya.
Tangis kesedihan masih menyelimuti keluarga mereka. terlebih Ibu dari Agnes, entah sudah berapa banyak air mata yang beliau keluarkan karena melihat kondisi Agnes. hanya doa yang selalu mereka panjatkan untuk kesembuhan putrinya.
Masih dengan Hean yang berdiri seorang diri, banyak hal yang Hean pikirkan. kembali menimang pilihan paling tepat yang akan ia pilih dan jalani untuk kedepannya.
Tapi lebih dari itu, Bayi di dalam sana juga tak luput dari perhatiannya.
Hean, mungkin banyak yang menilai kalau pria itu br*ngsek tapi jauh dari itu Hean justru memiliki sifat yang sangat peduli. bayi Agnes itu juga ia pikirkan. apa dan bagaimana nantinya, Hean juga memeprdulikannya.
Karena terlalu sibuk mengamati pemandangan di depannya, Hean sampai tak menyadari kedatangan seseorang. ia baru menyadari ketika bahunya di tepuk pelan.
"Sendirian?".
Membuat Hean menengok demi memastikan siapa orang yang membuyarkan lamunannya itu.
"Jio?".
Siapa sangka kalau Jio yang mengejutkan Hean barusan. apalagi dengan senyum penuh kemenangan dari pria itu yang membuat Hean kesal.
"Bagaimana keadaannya?".
Hean menengok ke arah sahabatnya. tatapan Jio tertuju pada balik jendela. inkubator yang tadi juga menjadi pusat perhatian Hean. berarti yang Jio tanyakan adalah bayi kecil di dalam sana.
"Sepertinya akan tinggal lebih lama lagi..." jawab Hean.
Itulah yang Perawat katakan tadi pagi mengenai bayi perempuan Agnes.
"Kasihan sekali... perempuan kan?". Jio sedikit lupa apa jenis kelamin bayi itu.
"Hm,".
"Jadi bagaimana hasilnya?". Jio bertnya tentang upaya Hean di London beberapa hari terakhir. apa yang akan Hean lakukan setelah ini. karena semua keputusan hanya ada di tangan Hean. karena hanya pria itu yang tau apa yang membuatnya bahagia.
"Gue sudah menyiapkan surat cerai..." jawab Hean.
"Lo yakin? apa mereka akan menerima hal itu?". Mungkin saja Keluarga besar Agnes akan menolak keinginan Hean.
__ADS_1
apalagi kondisi putrinya yang memang masih koma.
"Gue punya bukti untuk membuat mereka mau tak mau harus setuju dengan keinginan gue..." jawab Hean yakin.
Barang bukti yang diserahkan pada Dimas kemarin akan membantu Hean di depan keluarga Agnes.
"Tapi gue akan tetap mengakuinya sebagai mantan istri... dan putrinya, gue akan menjadi ayah untuknya..." ucap Hean tanpa ragu.
"Ha?". Jio terkejut. mengakui anak Agnes sebagai anaknya?
Tak percaya kalau Hean sampai berpikiran seperti itu.
apa alasannya? padahal bukan anak kandungnya kan?
Jio tak paham dengan sikap Hean.
"Gue tak mau anak itu akan tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang..." ucap Hean.
menatap jendela, Hean mulai menceritakan semuanya. dari awal pertemuannya dengan Mark dan apa yang pria itu katakan.
Hean menceritakan semuanya tak menutupi fakta sedikit pun.
"Setidaknya hanya itu yang bisa gue lalukan pada bayinya..." jelas Hean.
Di masa depan anak Agnes akan dikenal sebagai anak Hean. bukan anak Mark atau siapapun.
Hean akan menjadi ayah baginya walaupun keadaan memaksa Hean untuk melayangkan gugatan cerai atas Agnes.
"Gue tidak tau harus mengatakan apa...". Jio pun sampai terpukau dengan sikap Hean. pria itu masih sama seperti dulu. mementingkan urusan orang lain walaupun harus mengorbankan keinginannya sendiri.
Keduanya kembali terdiam, hingga Hean yang membuka pembicaraan lagi.
"Ngapain lo di sini?".
Rumah Sakit, padahal yang terlihat Jio baik-baik saja dan alasan apa yang membuat pria itu berada di sini.
"Mengantar Sasa Imunisasi" jawab Jio. itulah ketentuan yang harus calon pengantin lakukan sebelum pernikahan. menjalani serangkaian pemeriksaan termasuk imunisasi bagi calon pengantin wanita.
"Kapan jadinya?".
"Bulan depan tanggal 10..".
Tanggal 10 bulan depan adalah tanggal pernikahan Jio dan Sasa. setelah melakukan pertemuan 2 keluarga, akhirnya disepakati bahwa tanggal itu yang sangat baik bagi Jio dan Sasa.
"Apa gue perlu datang?" goda Hean. jelas dari cara bicaranya ia hanya bergurau saja. mana ada Hean tidak datang di acara paling penting bagi sahabatnya. walaupun di sisi lain ada sedikit kerisauan. bagaimana jika ada Hean di sana juga. karena Sasa adalah sahabat terbaik Hema. tidak mungkin Hema tidak datang di acara pernikahan itu.
"Ck..." Jio berdecak kesal. "Lo mau mati?".
__ADS_1
Kehadiran Hean adalah hal paling penting bagi Jio. sahabat sekaligus orang yang Jio percayai seumur hidupnya, Jio ingin Hean menjadi saksi kebahagiaannya.
"Hahaha...". Hean tersenyum tapi langsung terdiam.
Ada apa dia? batin Jio penasaran.
melihat kebahagiaan dan kesedihan yang menyatu menjadi satu dalam raut wajah pria itu.
"Gue bertemu dengannya..." lanjut Hean. terlihat sekali dari cara Hean mengatakannya, ada kesedihan yang tak bisa untuk di ungkapkan. seperti sebuah kesedihan yang amat besar. tapi Bedanya Hean tak menangis saat ini.
"Ha?". Jio bingung. menatap ke arah Hean dengan banyak pertanyaan. siapa yang Hean temui dan dimana.
Sekilas terlihat guratan kemarahan yang mampu Jio tangkap dari wajah Hean. wajah yang begitu banyak menyimpan masalah semakin terlihat gelap dan lelah.
"Dia terlihat bahagia..." ucap Hean sambil tersenyum getir. tapi pandangannya tetap ke arah dalam ruangan NICU. mengamati bayi yang terlihat bergerak dengan beberapa selang yang menempel di tubuhnya.
terlihat bayi itu seperti tengah berjuang untuk hidup.
"Lo tau Yo... dia jauh terlihat dewasa daripada sebelumnya..." lanjut Hean. sedangkan Jio semakin kebingungan kemana arah pembicaraan Hean barusan. bahagia, dewasa, siapa?
"Maksud lo apa sih Yan?". membuat Jio berinisiatif untuk bertanya apa yang Hean bicarakan saat ini.
"Hema...".
Deggh... Jio terkejut. matanya membuat dengan mulut yang ternganga tak percaya.
Maksudnya Hean bertemu Hema begitu? di masa ini?
"Lo bertemu dengannya?" tanya Jio lirih. walaupun sebenarnya juga bukan hal mustahil bagi mereka untuk bertemu kembali. semua sudah ketentuan Tuhan.
"Hm...".
"Jadi lo bertemu dengan Hema?" Jio mengulang pertanyaannya. kali dana salah dengar.
"Hm..." jawaban Hean pun sama seperti terkahir kali. mengatakan hal yang sebenarnya.
"Dia bersama seorang pria dan anak perempuan kecil..." bebernya.
"Iya... kata Sasa mereka telah menjalin hubungan... pria Singapore tapi punya darah Indonesia..." jelas Jio.
sorry Yan...
Mungkin saat ini Jio hanya bisa berbohong untuk membuat Hema tenang dengan hidupnya. padahal secara kenyataan, Jio tak tau apakah Hema punya hubungan spesial dengan duda beranak satu tersebut atau tidak.
Hean tak menanggapi ucapan Jio. tanpa Jio menjelaskan pun Hean tau kalau Hema memang memiliki sebuah hubungan spesial dengan Zain. apalagi dengan senyum indah dan tenang yang mampu Hean lihat saat itu.
dan juga Mika yang terlihat akrab dan dekat dengan Hema.
__ADS_1
Gue akan berusaha untuk benar-benar melepaskannya...
***