
HAPPY READING...
***
Jio bersama dengan Hean tengah menikmati malam di sebuah cafe yang mnyediakan live music setiap malam. duduk dengan nyaman dengan suguhan minuman hangat di atas meja.
kepulan asap rokok menguar ke udara bergantian dari mulut Hean dan Jio ketika berbicara.
Setelah keluar dari Apartemen Sasa, Jio tak sengaja bertemu dengan Hean yang tengah berada di depan pintu Apartemennya.
Itulah sebabnya mereka bisa disini. ngobrol berdua di cafe daripada di Apartemen yang terlihat membosankan.
"Lo seharusanya tidak mendekatinya...".
Jio hanya tidak suka dengan cara Hean mendekati Hema. setalah apa yang pria itu lakukan dulu, Tiba-tiba datang kembali dan mencoba untuk menghancurkan ketenangan batin Hema.
Agghh...
Jio ingat bagaimana Hema menjalani tahun demi tahun tanpa Hean. menyedihkan...
Bahkan Jio kerap kali melihat bagaimana gadis itu menangis pilu bersama Sasa. Entahlah.. yang jelas Jio tidak tega melihat nya lebih menderita dari ini.
"Seharusnya lo cukup membahagiakan Agnes... jangan bermain dengan yang lain Yan...".
Hean masih tak bersuara. bahkan tatapan matanya bukan ke arah Jio. melainkan membuang muka karena sedikit kesal.
"Bukannya gue mau menggurui lo... tapi Hema cukup menderita saat itu... bahkan 4 tahun disana, lo tak pernah memikirkannya sedikit pun bukan?".
Sial! kenapa gue punya teman yang tololnya minta ampun...
Padahal sifat Hean yang dulu tak seperti ini.
"Gue hanya miris melihatnya... tak ada jaminan dia akan bahagia... Agghh...".
Jio menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. satu tangannya sibuk terselip sebatang rokok yang masih menyala. sedangkan satu tangan lainnya menyentuh meja dengan telunjuk yang menghentak seirama dengan musik jazz yang berputar.
"Gue tak tau hal itu..." jawab Hean.
sungguh ia tak tau kalau Hema telah melalui ada sulit saat kepergiannya kala itu.
karena Hean kira, semuanya sudah beres. malam itu saat dimana ia dan Hema menikmati kembang api di tepi pantai, Hean sudah menjelaskan semuanya.
toh, Hema tak mengatakan apapun selalin ia nyaman dengan waktu singkat bersama Hean. hanya itu...
"Wanita mana yang mau terus terang bilang suka? ha?".
Jio rasa tak ada. karena semua wanita akan pintar memendam perasaannya walaupun hal itu juga menyakiti dirinya sendiri.
"Tak ada...".
Lantunan musik jazz semakin mengalun indah. suasana cafe terlihat begitu damai apalagi di tambah dengan lampu-lampu yang tidak terlalu terang. Jio dan Hean memilih bangku outdoor hingga angin malam sedikit menerpa wajah.
"Jio..." panggil Hean.
"Hm,".
__ADS_1
"Apa lo tau, alasan yang membuat Hema memilih Ibukota sebagai tempat tinggalnya?".
Hean sedikit heran. Hema bisa saja bekerja di kota-kota lain, termasuk kota asalnya. tapi alasan apa yang membuat gadis itu tetap memilih Ibu kota.
"Karena ia tak lagi memiliki alasan untuk kembali ke kota asalnya..." ucap Jio. itu yang Jio dengar dari Sasa.
hidup Hema benar-benar berantakan 4 tahun belakangan. pilar bak penyangga hidup, semangatnya telah benar-benar runtuh.
"Maksudnya?". Hean bingung.
"Dia tak lagi memiliki keluarga... neneknya sudah meninggal...".
Degg... jantung Hean serasa berhenti berdetak mendengar penjelasan Jio. Meninggal? nenek?
Tiba-tiba matanya memanas menahan kesedihan. Hean tak tau kalau takdir Hema begitu menyedihkan. dan saat terpuruk seperti itu, Hean tak ada di dekatnya.
"Neneknya meninggal? kapan?".
4 tahun di luar negeri, Hean benar-benar seperti memutus komunikasi dengan semua orang selain keluarga dan dua sahabatnya.
"Gue lupa... mungkin setelah setahun lo di sana...". Jio hanya mengingat sekilas.
bahkan ia juga tak sempat menemani Hema dan Sasa pulang ke desa.
ia hanya mengantarkan sampai di stasiun kereta saja.
Hean terdiam. memikirkan bagaimana sedihnya gadis itu. kehilangan orang yang paling disayangi sama seperti kehilangan dunianya. bahkan Hema lebih buruk lagi karena tak ada siapapun yang menemaninya.
"Setelah itu, Hema tak ingin kembali ke sana..." lanjut Jio.
"Awas saja kalau lo berani ganggu Hema, Yan... gue tidak akan tinggal diam..." ancam Jio. mungkin Jio akan jadi orang pertama yang akan menghajar sahabatnya itu jika berani menabur luka kepada Hema lagi. bukan karena apa, Jio hanya ingin gadis itu bahagia.
"Ck,".
Sedangkan Hean hanya berdecak.
***
Malam semakin naik ke peraduannya.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, Hean memilih untuk sebentar mendengar suara kekasihnya. bagaimanapun ia juga merindukan Agnes. dan sedang apa kekasihnya itu saat ini.
"Halo..." suara Hean begitu lembut. ketika memulai percakapan dengan Agnes.
"Maaf baru bisa menelpon...". Merebahkan tubuhnya tapi dengan ponsel yang tertempel di telinga.
"Agghh... gue rindu...".
Terdengar Agnes tersenyum dari balik telepon.
"Apa sesibuk itu lo disana?". Terdengar Agens menghela nafasnya jengah. saat ini ia hidup sendirian di London. padahal 4 tahun telah ia lalui bersama kekasihnya membuat Agnes sudha terbiasa.
tapi sekarang, Agnes tidak terlalu bisa tidur nyenyak karena tak ada Hean di sisinya.
"Apa gue perlu kesana?" goda Hean.
__ADS_1
memang ia jin yang bisa ngilang dan pergi dengan mudahnya. Perjalanan ke London butuh waktu yang lumayan lama, tidak bisa hanya dengan mengedipkan mata saja.
Hean tersenyum lagi, "Kalau ada waktu senggang gue akan kesana...".
terdengar seperti sebuah janji bagi Agnes. walaupun masih tak pasti, tapi bisa membuat hati gadis itu berbunga-bunga.
"Gue tunggu..." tantang Agnes.
"Sedang apa?". Hean melirik jam kecil di atas nakas. membandingkan dengan waktu London saat ini.
"Memasak...".
London memiliki selisih waktu cukup lama dengan Indonesia. 6 jam lebih lambat. dimana saat ini Hean sudah bersiap tidur sedangkan Agnes baru akan makan malam.
"Dan lo akan tidur sayang?".
"Hm,". Hean bahkan beberapa kali menguap. cukup lelah dengan kesehariannya.
"Tapi gue bisa menunggu sampai lo selesai..." ralatnya. terkadang Hean memang bersikap manis kepada kekasihnya. apalagi di hubungan seperti ini, mereka harus saling mempercayai satu sama lain.
"Gue masih lama Yan...".
Karena saat ini Agnes memasak sambil menelpon Hean. kedua tangannya benar-benar sibuk bekerja.
"Tidur lah dulu...".
"Jadi tidak apa-apa kalau gue tidur?". Hean hanya memastikan kalau Agnes tak akan kecewa.
"Hm... Tidur lah... good night sayang...".
"Good night...".
Nyatanya setelah selesai mengobrol dengan Agnes lewat telepon, kantuk Hean ikut hilang.
"Agghh... gue tidak bisa tidur..." keluh nya.
bangkit dari ranjang dan berjalan keluar.
Angin malam menerpa wajah sesaat setelah Hean membuka pintu menuju ke Balkon. menikmati suasana malam dengan jalanan yang sedikit lenggang di puncak malam seperti ini.
"Silahkan saja... kalau bisa!".
Hean tersenyum kembali mengingat ucapan Hema tadi. ia tertantang untuk melakukannya. mencari perhatian dari gadis itu seperti saat dulu.
Gadis berambut pendek itu benar-benar mampu membuat perasaannya jungkir balik.
entah kenapa ada hla istimewa di dalam diri Hema yang membuat Hean tertarik di pandangan pertama. bukan hanya 4 tahun lalu, tapi saat ini juga.
Hema seperti sebuah medan magnet. menarik Hean untuk selalu mendekatinya. Dia seperti sebuah bunga, yang menarik lebah untuk menghisap madunya.
Hema seperti pelangi yang membuat Hean penasraat seperti apa ujungnya.
Dan dia seperti takdir, yang selalu mengikat Hean kemanapun pria itu pergi.
***
__ADS_1