
HAPPY READING...
***
Hean baru saja tiba. turun dari mobil yang membawanya sampai di depan Perusahaan dan berjalan sambil di belakangnya diikuti oleh Asisten pribadinya.
langkah laki pria itu terdengar menggema, membuat setiap karyawan menundukkan kepalanya sesaat untuk memberi hormat.
Mungkin belum ada perubahan di bawah kepimpinannya sebagai seorang CEO Asian Star. apalagi Hean masih sangat baru menggantikan CEO terdahulu.
tapi visi misinya begitu meyakinkan dan banyak yang yakin dibawah kepemimpinannya, perusahaan akan berkembang semakin pesat.
"Selamat pagi Pak..." sapa Resepsionis wanita di depan sana. sedangkan Hean hanya tersenyum singkat dan segera masuk ke dalam Lift khusus petinggi perusahaan.
Dalam Lift yang terus bergerak naik, Hean mengamati ponselnya. terlihat pria itu tengah mengetikkan sesuatu di layar ponsel. seperti tengah mengirim pesan.
sedangkan Asisten pribadinya, mengecek kembali jadwal yang harus diselesaikan hari ini.
Tingg... Lift berbunyi diikuti pintunya yang terbuka. di lantai inilah ruangan CEO berada. Hean berjalan menyusuri deretan meja kerja Staf sekertaris yang didominasi oleh karyawan wanita. juga gadis berambut sebahu di depan sana.
Gadis yang sempat membuat Hean terkejut kemarin, saat awal pertama masuk dan disanalah dia berada. duduk bersama karyawan lain dan tengah mempersiapkan segala sesuatu yang akan dikerjakan hari ini.
Langkah kaki Hean terus membawa tubuhnya mendekati meja-meja para staf. membuat semuanya serentak bangkit dan menundukkan kepalanya memberi hormat. beda dengan staf lain, menyadari bahwa sempat menatap wajah Hean cukup lama. tapi satu diantara terlihat berbeda, gadis itu seperti tak tertarik melihat seperti apa wajah atasan barunya itu. walaupun begitu, Hema tetap menundukkan kepala mengikuti rekan-rekannya.
Kenapa dia?
Padahal Hean sempat percaya diri. berharap gadis yang ia maksud melihat ke arahnya. dan lebih dari itu, Hean penasaran bagaimana reaksi Hema jika tau kalau dirinya telah kembali dan menjadi atasannya di kantor. tapi semuanya itu hanyalah angan-angan saja karena Hema tak melihat ke arah Hean.
Walaupun masih kebingungan, Hean terus berjalan ke arah ruangannya dengan begitu banyak pertanyaan di dalam kepala.
Waktu begitu cepat berlalu. gadis manis terkahir kali Hean lihat 4 tahun silam telah berubah menjadi wanita dewasa dengan ketenangan di wajahnya. parasnya semakin terlihat indah. tapi ada hal yang membuat Hean sedikit protes, gadis yang dulu berambut panjang kini memangkas rambut itu sampai sebatas bahu. seperti itulah penampilan Heam sekarang. rambut panjang itu tak terlihat lagi saat ini.
Hingga setelah Hean masuk ke dalam ruangan CEO, fokusnya hanya tertuju pada pekerjaan saja. mengesampingkan pikiran-pikiran lain yang jauh dari pekerjaannya.
Siang hari.
"Mau ini?".
Lagi, tanpa diminta pria dengan kemeja formal itu mendekati meja Hema. saat yang lain tengah ke luar mencari makan, pria itu justru menggunakan waktu istirahatnya untuk menemui Hema.
kali ini sambil membawa kotak makan berisi entah apa, Hema tak penasaran tentang isinya.
"Ini buatan ibuku...".
pria bernama Sandy itu menjelaskan. dengan senyum secerah mentari barang kalau Hema mau untuk menerima makanan pemberiannya.
Apa lagi ini?
Hema terlihat begitu frustasi. segala macam cara telah ia lakukan agar Sandy menyerah atas usaha untuk mencuri hatinya. tapi pria itu begitu gigih berjuang dan kali ini semakin parah. menggunakan ibunya dalam rencana mendekati Hema.
semua orang tau Hema tidak akan menolak jika berhubungan dengan seorang Ibu. apalagi sampai tega menolak makanan pemberian Sandy.
"Terimakasih...". Hema menerima bekal makan berwarna biru dari tangan Sandy. "Lain kali jangan seperti ini San... gue tidak enak...".
__ADS_1
jelas siapa yang suka dikasihani oleh orang lain?
Hema tak mau terlihat menyedihkan walaupun pada kenyataannya memang seperti itu.
"Gue lihat lo semakin kurus Hema... jangan terlalu sering makan di luar..." jawab Sandy.
Ucapan pria itu seketika membuat Hema terdiam. untuk pertama kalinya dia melihat ke arah Sandy. menatap mata itu cukup lama.
tak menyangka kalau Sandy akan peka terhadap dirinya sampai menyadari bahwa Hema sedikit lebih kurus daripada dulu.
Bagaimana tidak kurus? Hema tidak memperhatikan makanannya. asal makan agar tidak meninggal. tak peduli makanan yang ia konsumsi sehat atau tidak.
"Tapi-,".
"Kalau lo mau, gue siap membawa makan siang untukmu setiap hari Ma... bagaimana?" tanya Sandy dengan sangat semangat.
andai Hema mengiyakan, tentu saja Sandy sangat bahagia. ada alasan baginya untuk selalu bertemu Hema di jam istirahat.
"Tidak perlu..." Hema menolak.
kenapa juga ia harus melibatkan ibunya Sandy juga untuk dirinya.
sungguh Hema tak mau Sandy melakukan hal itu setiap hari.
"Baiklah kalau begitu, cepetan makan..." paksa Sandy. membantu Hema membuka bekal makan siang.
Sedikit sungkan, tapi Hema benar-benar mulai menikmati makanan pemberian Sandy. suap demi suap telah berpindah ke perutnya.
Masakan Ibu..
Bahkan sampai membuat kedua matanya memanas menahan kesedihan.
"Kenapa Ma? pedas ya?". kepekaan Sandy kembali membuat pria itu bertindak.
mengambil sapu tangan dari sakunya dan hendak menyeka sudut mata Hema.
"Gue bisa sendiri..." tolak Hema. mengambil sapu tangan dan menyekanya sendiri.
"Apa begitu pedas buatmu?". Sandy teralihkan pada makanan pemberiannya. sedikit mengambil makanan itu dan dicicipinya.
"Maaf Hema, gue tidak tau kalau lo tidak suka pedas..." sesalnya. walaupun menurut Sandy makanan buatan ibunya tidak terlalu pedas, hanya ada rasa sedikit pedas dari lada tapi mampu membuat Hema menangis.
"Ck, apa gue begitu lemah?". Untuk pertama kalinya Hema geli melihat tingkah Sandy yang panik. padahal bukan karena pedas Hema air matanya sempat menggenang. tapi karena terharu bisa merasakan makanan dari seorang ibu.
gadis itu tersenyum di depan Sandy untuk kali pertama.
Katanya untuk membuat seseorang menyukai kita, kita harus sering membuat nya tertawa... tapi saat Hema tertawa, kenapa justru gue yang semakin dibuatnya jatuh cinta...
Sandy terpaku dengan senyum indah yang Hema tunjukkan kepadanya.
untuk pertama kalinya Sandy melihat senyum begitu tulus itu.
karena baginya, Hema adalah gadis yang selalu terlihat diam, murung bahkan tak pernah sekali pun tersenyum seperti ini.
__ADS_1
"Hei! ada apa?" Hema menyadari kalau Sandy menatap dirinya begitu lama. terdiam hanya dengan matanya yang sesekali berkedip. membuat Hema sedikit memukul bahu Sandy untuk membuatnya sadar.
Eh...
"Teruslah tersenyum seperti tadi Hema..." pinta Sandy.
karena Hema lebih cocok dengan senyum yang mengukir bibirnya daripada wajah sendu yang selalu gadis itu tunjukkan setiap hari.
"Apaan sih...". lagi dan lagi, Hema dengan mudahnya memukul bahu Sandy tanpa ragu. malu karena ucapan Sandy yang terdengar seperti memujinya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang berdiri di ambang pintu. tatapannya begitu aneh melihat kedekatan Hema dan rekan kerjanya.
Cemburu? tidak. hanya saja melihat itu membuat Hean sedikit risau. ia juga tak tau kenapa bisa begitu, tapi itulah yang terjadi.
Tadinya Hean ingin keluar dari ruang kerjanya. sedikit menikmati suasana di luar gedung dan hendak merokok disana. tapi pemandangan di depannya merusak keinginan Hean.
senyum indah yang Hema tunjukkan kepada rekan kerjanya mengingatkan Hean tentang senyum di masa lalu. Hema pernah tersenyum begitu manis kepadanya, juga membuat Hean mampu terpukau.
Tapi sekarang jangankan untuk menyapa, Hean dan Hema seperti dua orang asing yang tak pernah saling bertemu.
"Apa yang terjadi padaku?".
Hean menyentuh dadanya setelah masuk kembali ke ruang kerja. menatap pemandangan Ibukota dari lantai cukup tinggi dimana ia berada.
Satu hal yang mengganggu nya. adegan dimana Hema bersama pria lain dan tertawa justru kembali berputar dalam kepalanya.
Sialan!
Hean tak tau kenapa harus mengumpat. tapi yang jelas ia sangat kesal. dan akibatnya semua pekerjaan yang harus selesai sebelumnya pulang sedikit terganggu.
pria itu uring-uringan di dalam ruangan hingga matahari telah tenggelam dan karyawan di gedung itu sudah pulang lebih dulu.
Malam ini, Hean pulang terlambat dari biasanya karena ulahnya sendiri. ditambah dengan kemacetan yang terjadi bahkan di malam hari.
br*ngsek!
umpatnya sambil mencengkram stir kemudi.
Karena Hema tak begitu tertarik tentang atasannya, membuat Hean mengubah rencana.
Gue tidak bisa diam dan menunggu!
Berpikir, berpikir...
Hingga sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Ya, gue harus membuatnya sadar akan keberadaan gue..." ucapnya penuh keyakinan.
Besok, Hean akan melancarkan aksinya. membuat dirinya terlihat nyata di depan Hema.
***
Haloo semuanya... bagaimana kabar kalian?
__ADS_1
sorry tidak pernah menyapa...
Diriku sibuk dengan dunia nyata gais, tapi jangan khawatir cerita ini akan terus update kok... see you tomorrow... bye...