
HAPPY READING...
***
Suasana Perusahaan terlihat berbeda dari beberapa hari terakhir. termasuk pada salah satu staf Sekretaris yang berada di lantai tertinggi gedung Asian Group. termenung, itulah yang dilakukan Hema pagi ini.
terlihat sekali ada banyak pertanyaan dalam benaknya yang belum mendapatkan jawaban.
Sesekali tatapan Hema tertuju pada ujung lantai tersebut. berharap sosok yang ia cari muncul dari Lift dan tersenyum ke arahnya seperti yang selalu dilakukannya. tapi sudah pukul 10 pagi tapi tak ada siapapun yang datang.
Dan Hema yakin kalau Hean benar-benar tidak masuk bekerja hari ini.
Tapi untuk memastikannya, Hema dengan berkas di tangannya masuk ke ruangan CEO. tak ada yang ia harapkan, hanya ada Asisten pribadi CEO yang tengah bekerja.
"Saya membawa berkas hari ini Pak," ucap Hema.
"Terimakasih Ma, taruh saja disana..." tunjuk Asisten itu pada kerja yang selalu menemani Hean bekerja di Perusahaan raksasa ini.
Sesuai perintah, Hema berjalan ke arah yang dimaksud. meletakkan berkas di meja bertumpukan dengan berkas lainnya. ada sebuah kacamata di sana, yang Hema yakini milik Hean. biasanya kacamata itu selalu bertengger di pangkal hidung Hean, tapi sekarang hanya tergeletak tanpa di sentuh siapapun.
"Pak Hean tidak mau Ma, itulah sebabnya pekerjaannya jadi tanggung jawab saya...".
Eh...
Sebenarnya Hema tak bertanya, tapi ucapan Asisten itu terdengar seperti sebuah penjelasan apa hang membuat Hema masuk ke ruangan ini bukan?
setidaknya mendengar hal itu, Hema tak berhadapan kehadiran Hean pagi ini.
jelas pria itu tidak masuk entah karena alasan apa.
"Sa-saya permisi Pak...". Hema undur diri. keluar dari ruangan CEO dan kembali pada pekerjaannya.
Sore hari.
Sore ini Hema pulang sendirian karena Sasa tengah merayakan kenaikan jabatan salah satu kepala bagiannya.
biasanya mereka pulang bersama-sama menggunakan sepeda motor.
tapi kali ini Sasa meminta agar Hema mengendarai motor itu sendirian. karena, mungkin saja Sasa akan pulang bersama teman-temannya.
Langit masih terlihat cerah saat Hema memecah jalanan Ibukota. pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak hingga tak membuatnya lembur hingga malam. dan niat Hema setelah tiba adalah berendam air hangat untuk menyegarkan pikirannya.
Tiba di basement Apartemen, Hema mengedarkan pandangannya. sebuah mobil hitam terparkir di posisi yang sama seperti kemarin. ia yakin, kalau pemiliknya belum juga tiba. karena Hema ingat, kemarin malam Hean pergi dengan pria bernama Bima. meninggalkan mobilnya di tempat ini.
bagaimana keadaan lo Yan...?
Sejenak Hema khawatir apa yang terjadi pada pria itu, walaupun di sisi lain ia juga kecewa. entah kenapa Hean selalu saja membuat perasaannya jungkir balik. kadang seperti menginginkan Hema, terkadang menyakitinya tanpa ragu. bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
Dengan langkah gontai, Hema berjalan masuk kedalam. hingga tak sengaja di ujung Lift, Hema melihat Jio yang tengah menelepon seseorang.
"Iya, gue sudah tiba di Apartemen Hean...".
Membuat Hema sedikit sembunyi dan mendengar pembicaraan Jio sejenak.
"Dia yang minta kan? Hean tidak bekerja untuk beberapa hari...".
__ADS_1
Hema semakin mempertajam pendengarannya.
"Selasa depan dia menikah... lo datang?".
Menikah? siapa yang menikah? Hema semakin terkejut.
"Entahlah... katanya pernikahan Hean dan Agnes digelar tertutup... gue juga tidak tau apakah gue boleh datang atau tidak...".
deg...
Hema membulatkan mata. ia yakin kalau tidak salah dengar dengan ucapan Jio barusan.
Hean menikah dengan Agnes? jadi benar? dia hamil?
Entah kenapa mendengar itu hatinya teriris dalam.
ada sebuah kekecewaan didalam hal Hema. mendengar kabar pernikahan Hean yang tinggal sebentar lagi.
Hingga pada akhirnya Hema tak lagi bersembunyi. berjalan mendekati Jio dengan tatapan aneh.
"Hema?". Joo terkejut dengan keberadaan Hema yang tiba-tiba berada di dekatnya. menekan tombol Lift dan terdiam tanpa menyapanya.
"Lo-... sejak kapan lo tiba?". Jio gugup karena mungkin saja gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Dimas lewat telepon.
"Lo mau masuk tidak?" ucap Hema. dan segera Jio ikut masuk ke dalam Lift dan tertutup.
di dalam Lift, suasana terlihat canggung.
"Nanti gue telepon lagi Dim..." ucap Jio kepada sahabatnya. dan panggilan itupun terputus.
"Jadi dia benar hamil?" tanya Hema tiba-tiba.
Semoga saja bukan dari obrolan gue tadi... batin Jio. ia amat merasa bersalah jika benar Hema mengetahuinya dari obrolan Jio tadi.
"Kemarin ada yang membawa Hean..." ucap Hema dengan dada sesak. "Meminta tanggung jawab Hean karena Agnes hamil...".
Sial! jangan menangis Hema... umpat gadis itu pada dirinya sendiri.
"Mereka akan menikah ya...? heheh... gue ikut senang..." ucap Hema. membungkus kesedihannya dengan sebuah senyum kaku yang terlihat amat dipaksakan. bahkan Jio tau kalau gadis itu sangat sedih.
Gimana gue? batin Hema.
"Hema..." panggil Jio.
tapi tak berani menatap gadis di sampingnya.
"Hean bukan akhir segalanya Hem... gue bukan bicara karena sahabatnya, tapi karena gue peduli sama lo... jangan menyakiti diri lo hanya karena pria itu..." ucap Jio terdengar memilukan.
dulu ia pernah berjanji akan memukul Hean jika berani menyakiti gadis di sampingnya itu, tapi sekarang apa yang bisa Jio lakukan?
"Hahaha... jangan khawatir Yo," jawab Hema.
masih dengan senyum palsu di wajahnya.
"Dan terimakasih untuk nasehatnya..." lanjut Hema. bersamaan dengan itu, Lift berdenting dan pintunya terbuka.
Hema berjalan lebih dulu meninggalkan Jio. masuk ke dalam Unitnya.
__ADS_1
Di dalam sana, air mata yang coba Hema tahan akhirnya jebol juga. gadis itu menangis sesenggukan menuju ke kamarnya.
Bruukk...
Hema menjatuhkan diri di ranjang. menenggelamkan wajahnya sangat dalam dan menangis. merenungi nasibnya yang selalu berakhir buruk.
Kenapa? kenapa harus gue Tuhan? kenapa?
Sedangkan di luar, Jio tidak langsung masuk ke Unit dimana Hean tinggal. pria itu justru berdiri terdiam memandang pintu di sebelahnya. Unit dimana Hema dan kekasihnya tinggal.
mengamati pintu itu begitu dalam seolah mampu melihat Hema yang tengah menangis di dalam sana.
tatapan Jio begitu nanar, entah kenapa tak ada yang bisa ia lakukan untuk gadis menyedihkan itu. Jio tak bisa melindunginya dan mengangkatnya dari kubangan kesedihan.
Sorry Ma...
Malam telah tiba.
Hema duduk sambil mengamati lembar kertas di tangannya. lembar kertas yang memberitahu bahwa kontrak Apartemen yang telah ia tinggali akan segera habis.
tak terasa hampir 5 tahun sudah ia tinggal disini. tempat yang nyaman baginya dan meninggalkan banyak kenangan tersendiri.
Sebelum mengambil keputusan, Hema akan bicara dengan Sasa terlebih dahulu. ia tak bisa memutuskan secara sepihak karena Sasa juga memiliki hak atas tempat ini.
Setelah cukup lama menunggu, Sasa akhirnya pulang. hal pertama yang gadis itu cari adalah keberadaan Hema. bohong jika Sasa tak mengetahui segalanya. karena Jio tadi sempat memberitahu keadaan Hema.
"Akhirnya lo pulang..." ucap Hema menyambut kedatangan Sasa sambil duduk di ruang televisi.
"Em... Lo..." Sasa bingung harus mengatakan apa. dilihatnya sahabatnya dari jarak dekat, matanya yang sembab menjelaskan bahwa Hema habis menangis beberapa saat yang lalu.
"Nih..." Hema menyodorkan lembaran kertas ke arah Sasa. berharap gadis itu juga membaca dan setelahnya memutuskan apa yang akan mereka lakukan.
"Jadi?" tanya Sasa.
"Apa lo mau memperpanjang kontraknya?" Hema menjawab dengan sebuah pertanyaan lagi.
"Apa lo tidak mau?" tanya Sasa. entah kenapa gadis itu punya firasat bahwa Hema tidak akan tinggal disini lagi.
"Kita sudah dewasa Sa.. dan lo juga akan segera menikah..." ucap Hema. fakta memang, karena Jio dan Sasa sudah memikirkan pernikahan.
"Kita tidak bisa tinggal bersama terus bukan?".
"Lo mau kemana Ma?". Sasa sedih. bahkan ketakutannya adalah saat waktu akan memisahkan mereka berdua.
"Ibukota menjadi tempat yang terlalu menyeramkan untukku Sa...".
"Jangan bilang kalau lo akan pergi Ma! gue tidak akan mengizinkannya..." selak Sasa.
"Jangan pernah memikirkan hal itu...".
karena mereka telah berjanji akan hidup berdampingan sampai kapanpun.
Hema tersenyum, "Apa gue tidak boleh bahagia Sa?". entah kenapa air matanya itu kembali jatuh membasahi wajah Hema.
"Hema...". Bukan itu maksud Sasa. ia juga mengharapkan kebahagiaan Hema. tapi bagaimana jika Hema jauh dari hidupnya? Sasa takut walaupun hanya memikirkannya saja.
"Biarkan gue menjemput kebahagiaan gue...".
__ADS_1
Keduanya menangis bersama.
***