
HAPPY READING...
***
Sepanjang perjalanan menuju ke tempat bekerja, Hema hanya terdiam. duduk di belakang sedangkan Sasa yang mengemudi motor maticnya membelah jalanan Ibukota di pagi hari.
sepanjang jalan, Hema meyakinkan diri untuk apa yang akan ia lakukan nanti.
dunia masih terus berputar walaupun kehidupan yang ia jalani terlihat kacau.
Setelah semalam curhat dengan Sasa, Hema sedikit sadar.
Hema bukan lagi prioritas baginya. pria itu hanya sekedar Atasan di tempat bekerja, selain itu hanya orang biasa jika di luar sana. Hema telah memutuskan segalanya, tak ingin sakit hati lebih dari yang ia rasakan selama ini.
Meratapi Hean yang pergi dadinyasudah cukup membuat Hema menderita. dan kali ini, ia tak mau melakukan hal itu lagi.
Hema hanya bagian dari kenangan masa lalunya. sedangkan sekarang, mungkin ada secercah harapan yang indah menyambut takdirnya.
"Jangan khawatir Hema..." ucap Sasa meyakinkan.
setelah sampai di Perusahaan, kedua gadis itu berjalan bersama.
"Keputusan lo sangat tepat..." lanjutnya.
Dulu Sasa mendukung hubungan mereka. tapi setelah kejadian Hean meninggalkan Hema pergi tanpa pamit dan membuat sahabatnya menderita, Sasa tak lagi berpihak pada pria itu. sekarang, bagaimanapun Sasa tak ingin Hema menangis hanya karena pria br*ngsek bernama Hean.
karena Sasa yakin, ada banyak pria yang lebih baik dari Hean. Sandy adalah salah satunya.
"Ayo..." ajak Sasa dan keduanya telah sampai di Lobby perusahaan.
Sasa dan Hema terpisah di Lift yang membawa mereka ke lantai tempatnya bekerja.
setelah itu, Hema sendirian menuju ke ruangannya.
Kembali lagi, gadis itu mencoba untuk mempersiapkan segalanya. menata hati jika nanti bertemu dengan Atasannya itu.
Di ruangan kerja, Hema langsung digeruduk rekan-rekannya.
"Bagaimana keadaamu Hem?".
"Kemarin gue sudah bilang kan kalau lo sakit...".
"Apa sudah sehat?".
Banyak sekali pertanyaan yang memberondong Hema. Hema sudah seperti adik bagi mereka. karena di satu tim Staf Sekertaris itu, hanya Hema yang paling muda. jadi semuanya menganggap Hema sebagai adik mereka.
"Jangan khawatir mbak...".
Hema sudah cukup sehat hari ini. toh, kemarin ia hanya terkejut saja melihat kenyataan CEO barunya yang ternyata orangorang dari masa lalunya.
Tak mempercayai perkataan Hema, ada juga yang sampai menyentuh kening gadis itu. memastikan kalau Hema tidak demam.
"Tidak demam kan? apa gue bilang.." ucap Hema dan segera duduk di kursi kerjanya.
Kekhawatiran tidak berhenti sampai di situ saja. kini derap langkah kaki seseorang membuatmu Hema menghela nafas. walaupun tidak ia inginkan, tapi kedatangan Sandy sudah masuk dalam prediksinya hari ini. benar saja, pria itu lnagaung mendekati Hema dengan tatapan penuh kekhawatiran.
"Hema..." panggilnya.
Pria bertubuh tinggi itu langsung mendekati Hema. "Apa lo sudah sehat?".
Tadi Sandy baru saja tiba. satu yang ia tanyakan saat melihat Sasa adalah menanyakan keadaan Hema. karena Sandy melihat bagaimana keadaan gadis yang disukainya itu kemarin.
"Seperti yang terlihat...". Lagi, Hema tersenyum di paksakan. memperlihatkan kalau dirmya baik-baik saja. padahal dalam hati, Hema tak ingin menunjukkan senyum itu kepada Sandy.
"Syukurlah...". Ada makna paling dalam dari ucapan Sandy. bersyukur karena gadis yang ia sukai tidak dalam bahaya.
Di Lobby Perusahaan, Hean baru saja tiba. turun dari mobil dan langsung berjalan masuk.
Di belakangnya, Asisten pribadi langsung mengikuti langkahnya. menekan tombol Lift yang akan membawa mereka ke ruang kerja CEO.
__ADS_1
Suasana hati Hean sedikit buruk sejak berangkat tadi. kemacetan adalah salah satunya ditambah dengan kejadian kemarin yang memang belum terselesaikan sama sekali. bahkan tiba di lantai tempat ruangannya berada, mood Hean kembali diperparah oleh pemandangan tidak mengenakkan di depan sana.
Terlihat Hema tengah berbicara cukup akrab dengan seorang pria.
Sepertinya tidak asing... Hean kembali berusaha keras untuk mengingat siapa orang yang diajak Hema ngobrol itu. hingga ingatannya kembali beberapa hari terakhir dan juga kemarin. ya... pria itu adalah pria yang sama. yang Hean temui bersama Hema di beberapa kesempatan.
Apa hubungan mereka?
Sedikit penasaran dengan hubungan keduanya.
Hean berjalan sambil terus memperhatikan keduanya, hingga saat tepat di depan Hema semuanya langsung berdiri menundukkan kepala memberi hormat.
juga dengan Hema dan Sandy.
Ck...
Hean berlalu begitu saja. tak berkeinginan untuk menanyakan keadaan Hema atau sekedar menyapa bawahannya.
"Kembalilah San..." ucap Hema. sang CEO telah tiba dan akan membahayakan jika Sandy masih berada di sana dan terlihat mengobrol bersamanya.
Brakk...
Hean menggebrak meja kerjanya. meluapkan rasa kekesalan yang seperti terkumpul di hatinya.
Si*lan!
bahkan Hema tak melirik ke arahnya sedikit pun tadi. membuat Hean semakin marah adalah kedekatan Hema dengan pria lain.
bukan karena apa, hanya saja Hean merasa kesal tak tau sebabnya.
Sedangkan pria yang berdiri tak jauh dari nya, hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. tau apa yang akan terjadi jika mood atasannya sedang tidak baik-baik saja seperti sekarang.
pekerjaan akan berantakan ditambah dengan pekerjaan kemarin juga yang belum selesai sepenuhnya.
"Bawa dia kemari...".
Ha?
"Baik...". setelahnya paham siapa yang diminta untuk datang menemuinya.
Sang Asisten berjalan keluar ruangan. mendekati para staf Sekertaris yang tengah bekerja dan berhenti tepat di salah satu karyawan senior yang tengah menumpuk beberapa berkas.
"Pak," sapa senior pria itu.
"Bawa berkas lain seperti kemarin," ucap sang Asisten.
Kemarin?
Senior itu bingung.
Ditatapnya Asisten pribadi CEO sangat dalam.
"Ohh... iya...".
kemarin ia menjalankan perintah yang cukup aneh memamg. dan mungkin saja hari ini juga sama. terlihat sekali dadi cara Asisten CEO menatap ke arahnya.
"Baik...".
Setelah mendapat jawaban, Asisten Hean itu pun berlalu pergi. pekerjaannya sudah beres, begitu pikirnya.
Senior itu, dengan berkas di tangannya langsung menuju ke arah meja Hema.
"Bawa ini ke ruangan CEO ya..".
Hah? lagi?
jelas terlihat penolakan dari cara Hema memandang senior nya. kenapa juga harus Hema lagi yang datang ke ruangan CEO?
Hema menatap ke rekan lainnya, tapi semuanya seperti enggan untuk menggantikan.
__ADS_1
toh siapa yang berani melakukan hal itu? salah sedikit, dipecat akan jadi resikonya.
Agh.. Hema ingin mengumpat saja.
"Antarkan saja ini pada CEO,".
Senior langsung memaksa Hema menerima berkas pemberiannya dan langsung pergi.
tinggal Hema yang pasrah menerima takdir buruk yang selalu membuatnya kesulitan.
Dengan langkah gontai, Hema berjalan ke arah ruangan CEO, mengetuk pintu itu seperti hari sebelumnya dan masuk setelah mendapat jawaban.
Satu langkah membuat Hema masuk dalam ruangan yang terlihat seperti sebuah neraka. sungguh ia tak mau berlama-lama disana.
"Ini berkas yang Anda minta Pak...". dengan nada bicara formal Hema menyerahkan berkas di meja Hean. sedangkan pria yang duduk itu terlihat tak bergeming dengan kedatangan Hema. bahkan tak melirik sedikit pun.
Hingga canggung mengambil alih suasana. Gue boleh pergi bukan?
Hema sudah membalikkan badan hendak pergi, tapi segera di cegah.
"Tunggu,".
otomatis Hema kembali terdiam dan menunggu apa yang akan dikatakan Atasannya itu.
"Bagaimana keadaanmu?".
Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Hean membuat Hema sedikit gagu. hingga setelah cukup lama diam, gadis itu pun menjawab.
"Sudah lebih baik Pak..." masih saja terdengar formal seperti percakapan Bos dan bawahannya.
Jelas jawaban Hema membuat Hean sedikit kesal. "Hemaa...".
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?".
Emosi Hean benar-benar tersulut. untuk kesekian kalinya Hema mulai bertingkah, membuat Hean bangkit dari duduknya dan menghampiri Hema.
Mau apa dia?
"Hanya ada kita berdua disini, jadi jangan panggil Pak atau apapun..." pinta Hean. sedikit merendahkan nada bicaranya karena Hema pasti takut.
"Maaf Pak,".
"Hema...".
Hean marah. ia tak suka di panggil Pak oleh gadis itu. gue rindu panggilan lo Ma... akunya dalam hati.
Hean semakin mendekati Hema, tubuhnya seperti tak mampu menahan untuk tidak menyentuh Hema. tapi perlakuan Hean seketika membuat Hema mundur beberapa langkah.
Ingat Hema? dia pria yang pernah menyakiti lo...
Setidaknya dengan berpikir begitu, Hema tidak akan jatuh cinta lagi dengan Hean sama seperti dulu.
Hingga tiba-tiba ponsel Hean berdering.
"Stt..." pria itu mengumpat dan melihat siapa yang tengah menelponnya di saat seperti ini.
"Hallo... ada apa Nes?".
Agnes? Ya... ternyata Hean memang masih dengannya...
Hema tersenyum, dugaannya benar untuk tidak kembali menaruh harapan kepada Hean.
melupakan Hean bukanlah keputusan yang salah baginya. karena pria itu juga telah memiliki kehidupan yang lain.
"Gue sudah pernah bilang kan? nanti gue telepon kalau pekerjaan gue telah selesai..." ucap Hean dengan nada lembut.
"Saya permisi Pak..." pamit Hema. ia tak mau berlama-lama berada di ruangan CEO. mumpung ada kesempatan, Hema gunakan untuk keluar dari sana.
karena ia tau, Hean tak mungkin mencegahkanya karena sedang menerima telepon dari Agnes.
__ADS_1
***
Nah... kali ini Hean yang bakal ngejar-ngejar Hema.. heheh...