
HAPPY READING...
***
Haru, itulah yang Hema rasakan saat ini. tangis gadis itu tak henti-hentinya jatuh dari mata. tangis bahagia yang tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata, bagaimana pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup membawa pelangi dan banyak harapan untuk Hema.
Banyak sekali yang Hean lakukan untuk dirinya. pria yang terlihat menjengkelkan tapi begitu perhatian. yang memberi tempat bagi Hema untuk tidur lebih nyaman dari sebelumnya. memberi perlindungan dari orang-orang jahat. dan sekarang, pria itu peduli dan sedikit memberi kebahagiaan di hari ulang tahunnya.
betapa Hema beruntung mengenal pria itu di dalam hidupnya.
"Lo tidak penasaran dari mana gue tau hari ini lo ulang tahun?". Hean terlihat sombong dengan pertanyaannya. walaupun tentu saja penting untuk menyombongkan diri karena sekarang Hean terlihat seperti seorang pahlawan. betapa murah hatinya dia bukan?
"Dari Sasa?" tebak Hema. siapa lagi yang ingat hari ulang tahunnya selain sahabatnya itu. karena 4 tahun belakangan, hanya Sasa yang menjadi teman Hema untuk merayakan hari kelahirannya. berdua saja dan dengan satu pria yang sekarang amat Hema benci, Rendy.
"Iya dia memang memberitahu gue tadi pagi, tapi sebelumnya gue sudah tau lebih dulu...". elak Hean. ia tau sebelum Sasa memberitahunya.
Beberapa hari yang lalu, Hean sempat membaca buku harian Hema. disana jelas tertulis kejadian di malam ulang tahunnya tahun lalu. surprise dari Rendy dan segala sesuatu yang pria itu lakukan di hari ulang tahunnya.
Hean yang membacanya sempat sedikit kesal, karena Hema menulis hanya kebaikan Rendy saja. padahal jelas pria itu yang telah membuat Hema menderita tahun ini.
Aggh... mengingatnya, Hean kesal sendiri.
"Gue tak pernah memakan masakan Ibu..." adu Hema. bagaimana bisa, orang tuanya saja meninggalkan dirinya saat masih kecil. Hema hanya terbiasa dengan masakan nenek hingga pada akhirnya Hema pergi ke Ibukota untuk melanjutkan sekolahnya. itulah terakhir kali Hema merasakan masakan nenek, 4 tahun lalu.
"Terimakasih Hean... berkat lo, gue bisa merasakan masakan seorang ibu...". Hanya mengatakan kalimat sederhana itu, Hema kembali meneteskan air mata.
hari ini adalah kado terindah yang pernah Hema terima dari seseorang.
Seharian Hean benar-benar menemaninya. bertemu dengan keluarga pria itu bahkan mencicipi masakan seorang Ibu. bahkan lebih beruntung dari itu, Hema bisa menikmati Mie panjang umur yang selalu Ibu buatkan untuk Hean ketika pria itu berulang tahun.
Percakapan Hean dengan Ibu kembali terlintas di ingatan.
"Ibu, Hean boleh meminta sesuatu?". tanya Hean ketika tiba di rumah dan berbicara berdua saja di dapur.
"Tentu saja, apa yang ingin kau minta Yan?".
"Namanya Hema, gadis yang Hean bawa saat ini. Bu... hari ini adalah hari ulang tahunnya, bisakah Ibu membuatkan Mie panjang umur sama seperti saat Hean ulang tahun?".
Sebuah permintaan sederhana dari seorang anak kepada ibunya.
Bahkan tanpa Hean sadar jangankan Mie ulang tahun, bahkan seorang Ibu bisa dengan mudah menaruhkan nyawanya untuk sang anak. setulus itu seorang Ibu.
"Hean rasa dia belum pernah memakan Mie panjang umur, orang tuanya pergi sejak dia masih kecil... Hean hanya ingin sedikit memberikan kebahagiaan untuk nya...".
"Tetaplah bahagia Hema... apapun yang terjadi nanti, teruslah bahagia..." pinta Hean.
walaupun bukan dengan gue sekalipun, gue harap lo selalu bahagia...
"Gue bahagia karena lo...". Sebuah ucapan yang mampu membuat Hean terdiam dan menatap gadis di depannya. ucapan Hema yang seperti membawa angin segar di hatinya.
tapi ada juga kekhawatiran yang Hean pendam dalam hati. takut bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kesedihan Hema nanti.
ia yang memberikan Hema kebahagiaan tapi juga memberikan luka yang dalam. itulah yang Hean takutkan.
karena semakin hari, semakin banyak waktu yang mereka lalui bersama justru semakin membuat Hean takut kehilangan gadis itu.
Tanpa aba-aba di rengkuhnya tubuh Hema ke dalam pelukannya. memeluknya dengan erat berharap gadis itu tak lari.
__ADS_1
"Hean...".
"Kenapa gue nyaman seperti ini ya..." keluh Hean. memeluk Hema seperti ini benar-benar membuat hatinya nyaman.
"Terimakasih untuk semuanya Yan...".
Terima kasih berkat pria itu Hema mampu mewujudkan keinginannya. karena Hean juga ia bisa mengenal sosok Ibu.
rasanya tidak cukup hanya dengan ucapan terimakasih.
"Semuanya tidak gratis...".
Ucapan Hean mampu dipahami Hema. tapi ia tak tau apa yang pria itu minta sebagai balasan atas tindakannya.
pasti ada hal aneh yang diminta pria itu.
"Cium gue sebagai balasannya,".
Ck...
Benar kan dugaan Hema? sekarang pria itu selalu saja meminta hal aneh.
seperti sekarang ini.
"Lain kali saja..." tolak Hema. ia hanya tak mau membawa perasaannya terhadap situasi. karena, mungkin saja Hema semakin jatuh hati pada pria itu.
"Kalau gitu, kita tidak akan pulang..." ancam Hean terdengar meyakinkan.
Apa?
Pria itu benar-benar tidak berniat untuk menjalankan kembali mobil. berdiam diri berlagak kesal karena permintaannya tidak dituruti.
"Heannn...".
masih saja seperti itu. bahkan Hean sampai melipat kedua tangannya menghindari stir kemudi.
"Heannn...".
Bahkan tak menjawab panggilannya.
"Baiklah-baiklah... tapi sedikit saja..." ucap Hema akhirnya mengalah. dan tentu saja ucapannya itu disambut Hean dengan senyum penuh kemenangan. pria itu terlihat sangat bersemangat dengan merubah posisinya.
"Tunggu-,".
"Tidak ada tunggu-tungguan..." sela Hean dan langsung melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Menarik tubuh Hema hingga gadis itu mendekat ke arahnya.
"Hean..." berontak Hema. tapi kalah tenaga karena Hean jauh lebih kuat darinya.
"Duduklah disini...". Hean menepuk pahanya. memaksa Hema duduk disana agar lebih leluasa nanti.
"Tapi-,".
Percuma! Hema jelas tak bisa menolak keinginan pria itu.
Malam semakin naik. Hean dan Hema kedua bibirnya menyatu. hingga yang terdengar decak keduanya. suasana di luar sana terasa dingin sedangkan di dalam mobil itu terasa panas.
__ADS_1
Cukup lama, hingga nafas keduanya sesekali tersengal. beda dengan Hema yang sepanjang kegiatan hanya memejamkan mata, Hean justru tak lepas mengamati wajah gadis di depannya.
dengan pantulan cahaya rembulan, wajah gadis itu benar-benar sangat indah. mengingatkan Hean pada seseorang yang juga memiliki kelopak mata seperti Hema. bulu mata tebal yang lentik sangat indah dipandang.
bahkan lebih dari itu, Hean justru menganggap kegiatannya saat ini bukan bersama Hema tapi bersama kenangan masa lalunya.
Terkadang seseorang bukan rindu karena orangnya. melainkan pada kenangan indah yang tak pernah hilang dalam ingatan.
kenangan yang selalu membayang-bayangi langkah di masa kini.
"Jangan pernah pergi dari ku Ma..." pinta Hean di akhir kegiatannya. masih menatap wajah gadis itu dan menyeka bibir ranum yang sedikit kemerahan karena ulahnya.
Sedangkan Hema, tak tau harus menjawab apa. gadis itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Hean.
***
Di tempat lain, Sasa keluar dari Apartemen. bingung karena tak menyadari keberadaan Hema di jam malam seperti ini. seharusnya sahabatnya itu sudah pulang bukan?
tidak biasanya pergi dengan Hean hingga larut malam seperti ini.
Sasa memutuskan untuk mendatangi Unit Hean. kali aja mereka sudah pulang tapi Hema berada di dalam sana.
Baru saja hendak menekan Bell, suara seseorang mengejutkannya.
"Ngapain lo?".
membuat Sasa terjingkat dan menyentuh dada memastikan jantungnya masih berada di tempat aman..
Sial! terkejut gue...
"Gue hanya mau memastikan apakah mereka sudah pulang apa belum... terus lo ngapain?". selidik Sasa.
Sahabatnya Hean yang bernama Jio itu justru masih keluyuran malam-malam seperti tuyul saja.
"Gue juga mau memastikan apakah Hean baik-baik saja? pesanku belum di baca sama sekali..." jelas Jio. ia terpaksa datang malam-malam untuk melihat keadaan Hean.
"Mereka pergi sejak tadi pagi,".
Itulah yang Sasa lihat. Hema pergi dengan Hean entah kemana karena mereka tidak bilang sama sekali.
"Maksud lo Hean dengan Hema?" perjelas Jio.
"Iyalah... siapa lagi!" jawab Sasa nyolot karena kesal Jio tidak paham dengan ucapannya.
Ck... Galak bener nih bocah!
"Gak usah nyolot kale..." sewot Jio.
Memang pada pertemuan pertama saja, bendera perang sudah berkibar diantara mereka. Sama-sama punya watak yang keras membuat Jio maupun Sasa bertolak belakang.
"Galak-galak jomblo seumur hidup Lo!". cerca Jio.
Karena ia suka dengan wanita yang berkepribadian baik, imut, manis di pandang dan juga seksi. hehehe...
"Ck, gue gak peduli..." balas Sasa dan langsung masuk ke dalam Apartemennya. tak memperdulikan Jio yang pasti mengomel tak jelas.
Ee... dasar cewek gila!
__ADS_1
***
Bagaimana 2 Part pagi ini... semoga syuka...