
HAPPY READING...
***
Semuanya masih berlanjut ketika Hean dengan handuk kecil untuk mengeringkan rambut Hema. melakukannya dengan teratur dan perlahan.
"Diamlah...". ketika Hema beberapa kali berontak. gadis itu bisa melakukannya sendiri. apalagi Hean tidak benar-benar membuat rambut itu kering. pria itu hanya bermain-main pada rambut nya saja.
"Rambut mu itu sangat panjang... jadi sulit kering...". Hean melihat sekitar. mencari pengering rambut sama seperti miliknya tapi sepertinya tidak ada.
"Apa Sasa punya pengering rambut?" tanya Hean.
"Lo tidak boleh ke kamarnya!" tolak Hema. entah apa maksud gadis itu, tapi dicerna lain oleh Hean.
"Kenapa?" goda pria itu. bahkan dengan menunjukkan senyum yang mampu membuat Hema meleleh.
siapa sih yang tidak meleleh di tatap sambil tersenyum seperti itu.
"Bukan seperti itu maksud gue... itu, - em...". Hema bingung menjelaskan. apalagi sampai Hean semakin mendekatinya.
mendekatkan wajahnya tepat di samping telinga Hema. menciptakan sesuatu yang aneh di hati Hema.
Oh hati... jangan pernah mengkhianati gue!
Hema hanya tak mau terlalu percaya pada orang. apalagi sampai menjatuhkan dirinya lagi. ingat bagaimana cara Rendy mengkhianatinya.
Dengan tiba-tiba Hean memeluk Hema dadi belakang. menjatuhkan dagunya tepat di bahu Hema. membuat si gadis merinding dengan perlakuan yang tiba-tiba itu.
"Hean...". mau berontak tapi tangan Hean terlalu kuat.
"Gue hanya mau seperti ini..." jawab Hean memastikan. tak lebih, Hean hanya ingin memeluk gadis itu.
entah kenapa semakin hari yang telah dilaluinya bersama Hema, Hean tak ingin segera usai. dalam hatinya, Hean ingin hari-hari itu terus berlanjut.
bukan hanya 40 hari tapi banyak hari.
"Apa disini ada milikku?". tangan Hean semakin turun. berhenti tepat di perut Hema. entah apa maksudnya, tapi Hean berharap memang iya. dulu awal mengetahui kesalahannya, Hean berharap Hema tidak hamil karena kelakuannya. tapi sekarang, Hean justru berharap ada benih tumbuh dalam rahim Hema. setidaknya itu akan membuat hubungan mereka dekat bukan?
"Jangan bicara omong kosong Hean..." tolak Hema. beda dengan harapan Hean, gadis itu tetap gigih tak mau hamil sama seperti sebelumnya.
karena kejadian malam itu hanya kecelakaan, Hema tak mau mengandung apalagi melahirkan anak di waktu dekat.
"Hari keberapa sekarang?" tanya Hean lagi.
Sejenak Hema terdiam, mengingat entah sudah hari keberapa sejak malam itu.
"25 atau mungkin 24 ya...". Hema tidak ingat. karena semuanya ia tulis dalam buku catatan yang hanya diketahui olehnya.
"15 hari lagi...". ucapan Hean terdengar sedih. tak terasa waktu begitu cepat berlalu. hingga tanpa sadar sudah 25 hari mereka lalui bersama. Hean yang tadinya tak tau apa-apa tentang Hema, perlahan mulai terbiasa. banyak hal yang Hean ketahui tentang gadis itu. kesukaan Hema bahkan terbiasa dengan senyuman Hema yang begitu meneduhkan.
"Iya... 15 hari lagi,".
15 hari bagi Hema, entahlah. ia tak tau apakah harus senang atau sedih. karena sudah banyak hari yang Hema lalui dengan adanya Hean. pria yang tak menjadi harapannya tiba-tiba datang menggantikan luka yang pernah ditorehkan Rendy.
pria yang selalu bersikap konyol di depannya dan banyak lagi yang Hean lakukan.
__ADS_1
Masih dengan memeluk Hema dari belakang, tiba-tiba Hean terpikirkan sesuatu.
"Lo mau pergi denganku?".
tiba-tiba terlintas dalam benak Hean untuk sedikit membahagiakan Hema.
"Kemana?". yang ditanya tentu saja kebingungan.
"Kencan,".
Hahaha...
Hema tertawa. kencan adalah kegiatan yang dilakukan sepasang kekasih. sedangkan mereka? apa mereka bisa dikatakan kencan?
"Bagaimana kalau kita membolos hari ini?". sebuah ide terlontar dari mulut Hean. bahkan pria itu mengatakannya tanpa ragu sedikitpun. seperti membolos adalah hal lumrah baginya.
sedangkan Hema, membolos hanya karena sakit dimana tubuhnya benar-benar tidak bisa untuk berangkat kuliah. itu saja.
"Tapi-,".
Belum sampai meneruskan kalimatnya, Hean kembali menyela, "Tidak usah banyak berpikir, gue tunggu di depan... bersiaplah...".
kembali sebuah kecupan ringan mendarat di pipi kiri Hema. setelahnya pria itu meninggalkan Hema tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Setelah kepergian Hean, Hema masih mematung. menatap dirinya dari cermin di depan sana. tangannya meraih pipi yang jelas terasa hangat. hingga tanpa sadar, sebuah senyum melengkung menghiasi wajahnya.
***
Acara membolos akhirnya berjalan juga. setelah Hema berusaha mencari alasan di depan Sasa, akhirnya ia benar-benar melakukannya.
"Jadi kita mau kemana?".
pertanyaan yang wajah ditanyakan karena Hema tak tau kemana mereka akan pergi. tidak direncanakan sama sekali.
"Lo suka pegunungan atau pantai?".
Kali ini Hema diminta untuk memilih. 2 tempat yang sangat berbeda dari segi letaknya. dimana yang satu adalah dataran rendah yang terbentang luas dan sedikit panas, sedangkan yang satu berada di dataran tinggi dan tentu saja udaranya cukup sejuk.
Tapi Hema tak bisa ke sana. apalagi pakaiannya tidak cocok untuk menikmati pegunungan. Hema tak membawa jaket.
"Pantai saja...". ucapnya yakin. toh sudah sangat lama Hema tak menikmati suasana pantai. mendengar deru ombak yang memecahkan batu karang.
setidaknya di pantai, bisa membuat pikirannya jernih.
"Oke,".
Pada akhirnya mobil itu benar-benar meninggalkan Ibukota. menuju ke sebuah kota yang identik dengan pantai. walaupun membutuhkan banyak waktu dalam perjalanan, tapi tak menguringkan niat mereka.
Setelah melalui banyak waktu dalam perjalanan, mereka tiba di kota ujung pulau. deru ombak langsung mengalihkan perhatian Hema ketika turun dari mobil. senyumnya tak sirna sedikitpun.
seperti anak kecil yang kegirangan, Hema berjalan penuh semangat mendekati bibir pantai. diikuti oleh Hean di belakangnya.
Bukan karena pantai yang indah yang membuat Hean tersenyum, tapi melihat tingkah Hema. ia tak menyangka hal sederhana ini mampu membahagiakan Hema.
Hean dan Hema benar-benar bersenang-senang di bibir pantai. tak memperdulikan cuaca yang sedang teriknya.
__ADS_1
keduanya tertawa senang, menghancurlan dinding yang mereka bangun sebelumnya.
untuk pertama kalinya tak ada sungkan ataupun apa dalam benak mereka. Hean dan Hema seperti pasangan kekasih pada umumnya.
"Apa lagi yang ingin lo lakuin?". tanya Hean menunggu matahari perlahan ke arah barat. duduk di sebuah saung dari bambu bersama Hema.
"Lo ingin mewujudkan semuanya?" Hema membalasnya dengan gurauan. karena pertanyaan Hema terdengar lucu baginya.
"Katakan apa saja...".
Ucapan Hean yang terdengar sangat yakin membuat Hema menatap pria itu dengan lekat. untuk kesekian kalinya, keduanya saling menatap dengan waktu yang cukup lama. menyelami hati masing-masing.
"Ayo katakan...". desak Hean lagi.
"Ada banyak hal yang ingin gue lakukan... gue ingin ke pantai, gue ingin pergi nonton, melihat kembang api,".
Hema tak pernah sekalipun melihat perayaan tahun baru. karena ia selalu berada si kost saat itu tiba. Rendy yang tidak mengijinkannya. katanya ada banyak orang dan akan berdesakan.
"Belanja, dan satu hal lagi... gue ingin pulang bertemu dengan nenek...". hanya mengatakan itu saja entah kenapa mampu membuta pelupuk matanya menggenang.
Hema rindu akan neneknya. sudah 3 tahun lebih ia tak bisa pulang dan melihat beliau. nenek yang merawatnya dan membesarkannya. Hema merindukan sang nenek jauh lebih besar dari apapun.
"Sorry Yan, gue sedih mengingat nenek..." jelas Hema sedikit malu karena memperlihatkan kesedihannya di depan Hean.
tanpa diduga, justru tangan Hean terangkat untuk menghapus air mata dari pipi gadis itu.
"Jangan menangis..." pintanya.
Karena Hean pernah melihat gadis itu menangia dan ketika melihatnya, Hean teringat dengan adik kesayangan yang juga seorang perempuan.
Agghh... gue jadi merindukan Intan... batin Hean menyebutkan nama adik perempuannya.
"Melihat pantai sudah, nonton film, belanja, melihat Kembang api, dan menjenguk nenek...". Hean menghitung dengan jarinya.
"Baiklah, gampang dilakukan..." ucap Hean dengan yakin.
"Jangan bercanda Hean...".
"Kalau gue bisa mewujudkannya? apa balasan buat gue?" pancing Hean.
Apa? lo mau apa?
"Cium gue sebagai hadiahnya...". Hean bahkan mengatakannya dengan enteng.
"Ya! mana bisa begitu..." protes Hema.
"Pokoknya cium gue... bagaimna akalau gue minta hadiahnya sekarang..." ucap Hean dan langsung memajukan bibirnya bersiap mencium Hema.
"Hei... tidakkkk...".
***
tinggal 15 hari lagi janji Hean pada Hema...
kira" masih berlanjut tidak?? hehehe...
__ADS_1