Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
57. Makan Siang.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Langit Ibu kota terlihat mendung sejak pagi buta. jalanan yang selalu ramai sesak oleh kendaraan bertambah sesak pagi ini.


Untung saja Hema dan Sasa bersiap lebih awal takut hujan segera turun.


"Lo melihat dia sejak kemarin?" tanya Hema. di belakang Sasa yang tengah mengemudi sepeda motor menuju ke Asian Star.


"Siapa?".


Sasa bingung siapa dia yang Hema maksud itu.


"Hean,".


Karena sejak kemarin Hema tak melihat pria itu. bahkan balkon pria itu terlihat gelap seperti tak berpenghuni. kemana Hean? apa pria itu baik-baik saja?


Bukannya kenapa-kenapa, Hema hanya ingin tau pria itu baik-baik saja atau tidak. bukan masalah hati juga, karena Hema tak berniat untuk kembali berhubungan dengan Hean.


"Entah, mana gue tau...". Sasa tak peduli tentang tetangganya itu. mau hidup mau mati atau hilang sekalian, Sasa tak mau tau.


Aneh memang, Hema ynag dikecewakan tapi dirinya yang trauma dan membenci Hean.


"Oh...".


Tak lagi membahas Hean. Hema juga takut jika pembahasan kali ini mampu membuat dirinya marah.


pada akhirnya Hema hanya terdiam sampai di Perusahaan tempatnya bekerja.


Hari senin, agghh... Hema membencinya. hari yang ia harapkan hilang dari deret hari setiap minggunya. hari senin yang selalu banyak pekerjaan menantinya setelah libur akhir pekan.


Bukan hanya dirinya saja, semua orang pasti merasakan hal yang sama. membenci hari senin sebagai hari awal beraktivitas.


Bersamaan dengan kedatangan karyawan pagi ini, langkah kaki Sasa dan Hema terhenti karena kedatangan pimpinan mereka. keduanya ikut menundukkan kepalanya memberi hormat ketika CEO muda itu berjalan melewati mereka.


Beda dengan pertama kali bertemu dengan Hean waktu itu, kali ini Hema sedikit menaikkan pandangannya demi untuk melihat sosok Hean.


Eh... kenapa dia?


Wajah pria yang selalu terlihat tersenyum itu justru sangat berbeda. tak ada rona kebahagiaan disana. terlihat seperti ada beban yang mengganggu bahkan Asisten yang biasanya ramah berjalan di belakangnya dengan wajah tertekan.


Sasa menyenggol bahu Hema. Kenapa dia? begitu sorot matanya bicara.


Sedangkan Hema tentu saja menggelengkan kepala, ia juga tidak tau alasan yang membuat Hean terlibat murung pagi ini.


"Sudah ya... gue pergi...". pada akhirnya Hema pamit menuju ke lantai dimana ruang kerjanya berada. meninggalkan Sasa dengan penuh tanda tanya.


Braakkk...Suara cukup keras mampu terdengar sampai di luar ruangan.


inilah kesekian kalinya sejak pagi tadi. siapa yang masuk ke dalam ruang CEO keluar dengan jiwa yang sedikit terganggu. darah seperti tidak mengalir dalam tubuh mereka. pucat pasi bak mayat.


Entah apa yang terjadi, Hema dan yang lain tak begitu paham. tapi seperti yang terlihat, Orang-orang seperti tak bekerja dengan benar pagi ini. hingga membuat CEO marah dan kesal.


Semoga bukan gue...batin Hema melihat senior berjalan ke arahnya. walaupun ia yakin kalau senior akan memerintahkannya mengantar berkas untuk CEO, tapi Hema tetap berharap tidak untuk hari ini.


ia juga takut kena marah seperti yang lain.


"Pak, saya sibuk..." ucap Hema bahkan sebelum pria setengah baya itu meminta tolong seperti hari-hati sebelumnya.


Hema semakin memperdalam kepalanya. tenggelam pada pekerjaan hari ini. walaupun sebenarnya tidak tega, tapi ini akan menyelamatkan dirinya sendiri dalam amukan Atasan gilanya.


setidaknya gue tidak ikut-ikutan...

__ADS_1


"Hema...".


"Saya mohon pak... tidak untuk satu hari ini saja...". bahkan sampai mengatupkan kedua tangan meminta belas kasihan.


gue masih suka pekerjaan ini...


Usaha Hema membuahkan hasil. seniornya itu berlalu pergi sambil membawa berkas yang seharusnya dibawa Hema menuju ke ruangan CEO.


Selamat... Hema mengelus dadanya lega.


 


Jam istirahat telah tiba. Hema sudah janjian dengan Sasa akan makan siang bersama di luar. apalagi ini adalah hari spesial bagi sahabatnya itu.


"Ayo...". Di lobby, keduanya bertemu.


Sasa langsung mengajak Hema berjalan keluar area Perusahaan.


tujuan mereka adalah restoran di seberang jalan Asian Star.


"Sepertinya Jio sudah menunggu..." ucap Sasa. melihat motor sport telah terparkir di depan Restoran seperti milik Jio.


"Jio? dia juga?". Hema kira makan siang kali ini hanya ada Sasa dan dirinya saja. ternyata ada Jio juga. entah ide siapa itu.


tapi Hema tak bisa menolaknya bukan?


Gadis itu pasrah mengikuti lmagkah kaki Sasa masuk ke dalam sana.


"Sayang...".


Panggilan dari Jio yang telah menunggu di salah satu meja membuat Sasa langsung tersenyum dan menghampirinya.


"Lo tiba sudah lama?" tanya Sasa dan langsung duduk. memilih kursi di samping Jio agar lebih dekat dengan kekasihnya itu.


"Baru tiba..." jawab Jio. pandangannya teralih pada Hema, tersenyum sebagai bentuk sapaan. Ya kali Jio menyapa Hema dengan kata-kata manis di depan Sasa? bisa dicekik nanti.


Jio memesan menu untuk ketiganya. Ramen khas Jepang jelas menggiurkan untuk makan siang kali ini. kuah panas dengan sedikit pedas mampu membuat pikiran kembali jernih.


"Lo melihat Hean tadi?".


Pertanyaan Jio membuat Hema terlambat untuk mengangkat pandangannya.


"Ha? lo bertanya kepada gue?".


"Iya... siapa lagi...".


Hema sejenak menaruh sumpit dari tangannya. "Iya... tadi pagi saat masuk...". karena itu terkahir Hema melihat Hean pagi ini. setelahnya ia tak tau.


"Sepertinya dia sedang ada masalah..." tambah Sasa.


Benarkah? bagitu sorot mata Jio. terlatih oada kekasihnya.


"Sejak pagi kerjaannya hanya marah-marah..." lanjut Sasa.


Hal itu di benarkan Hema dengan menganggukkan kepalanya. benar... dia selalu marah sejak pagi...


"Apa dia sedang pms?" celoteh Jio tanpa duga.


hingga membuat Sasa mengayunkan tangan memukul bahu kekasihmya tanpa ragu.


"Aduhh... apa gue salah...?". Jio bingung kenapa Sasa dengan mudahnya memukulnya. memang apa kesalahannya? tak sadar bahwa ucapan Jio lah yang membuat Sada bereaksi dengan memukulnya.


"Mana ada dia pms?" bentak Sasa. sedangkan Hema hanya tersenyum melihat tingkah konyol pasangan itu.

__ADS_1


Yang benar saja... batin Sasa.


"Ya mungkin saja... kayak lo kan, kalau lagi pms selalu saja ngajak ribut..." ucap Jio sebagai pembelaan.


entah kenapa pms menjadi momen menakutkan bagi Jio. kalau tidak di marahi Sasa, pria itu harus mengakui kesalahan yang bahkan tidak pernah Jio lakukan sebelumnya.


pokoknya serba salah lah.


"Habisnya lo selalu cari masalah..." sanggah Sasa.


jangankan tengah pms, perempuan adalah makhluk paling benar yang tidak mau di salahkan dalam berbagai momen.


"Tapi-,".


"Sudah sudah... jangan bertengkar...". kali ini Hema yang jadi penengah. kalau tidak makan siang kali ini akan berakhir dengan keributan tak berfaedah dari pasangan di depannya itu.


Jio dan Sasa masih saling pandang. seperti mengibatkna bendera perang masing-masing.


Apa Lo!


"Apa dia tidak cerita sama Lo?". Hema penasaran. apa yang membuat mood Hean buruk hari ini. mungkin saja Jio tau, karena Jio adalah salah satu sahabat dari Hean.


kalau tidak curhat dengan Dimas, maka Jio lah tempat pelariannya.


"Ha? ... tidak...". Jio menggelengkan kepala. "Gue tidak bertemu dengannya beberapa hari terakhir..." lanjutnya.


Justru Jio yang mau menanyakan keadaan Hean pada Hema karena mungkin saja gadis itu tau bagaimana keadaan Hean beberapa hari terakhir.


"Nanti gue tanyakan..." ucap Jio tanpa ragu. mungkin inilah keinginan Hema yang tidak bisa ia tanyakan sendiri.


"Eh, bukan begitu..." tolak Hema.


sebenarnya ia penasaran kenapa Hean terlihat murung, tapi tidak harus juga menanyakannya langsung. Hean akan salah sangka nanti.


"Kenapa? daripada penasaran..." goda Jio. tanpa bertanya pun ia sudah paham. gelagat Hema yang menandakan bahwa Hean masih menjadi seseorang yang spesial bagi gadis itu.


"Ck, jangan penasaran sama si br*ngsek itu Ma...". beda lagi dengan tanggapan Sasa. gadis pembenci Hean garis keras.


"Sayangg...".


"Apa? apa dia lupa bagaimana telah menyakiti Hema di masa lalu? ck... menyebalkan...".


Lagi, hanya Sasa disini yang dendam dengan Hean begitu besar.


"Jangan marah...". cuppp...


Sebuah kecupan mendarat dengan tiba-tiba di pipi Sasa. sejenak membuat gadis itu teepaku dan setelahnya menatap ke arah Hema, "Heheh... maaf Hema...". malu karena perlakuan Jio yang sedikit memalukan apalagi di tempat umum seperti ini. parahnya Hema juga melihatnya.


Bukk... Sasa membalas ciuman pemberian Jio dengan sebuah pukulan ke bahu pria itu.


"Awww...".


"Memalukan!".


"Jangan khawatir Sa, gue tidak lihat kok..." bohong Hema. walaupun ia jelas melihat tindakan Jio tadi, hanya saja memilih berbohong agar Sasa nyaman.


"Hehehe...".


Makan siang itupun berakhir. Jio kembali ke tempatnya bekerja, sedangkan Sasa dan Hema juga menyebrang jalan kembali ke Asian Star setelah cukup kenyang dengan makan siang cukup menyenangkan itu.


"Selamat hari jadian..." ucap Hema begitu tulus.


"Hahaha... terimakasih...".

__ADS_1


***


__ADS_2