
HAPPY READING...
***
Hema, telah mengemas pakaian dan sedikit barang-barang pribadinya dalam sebuah koper cukup besar.
Malam ini adalah malam terakhir baginya mampu merasakan bagaimana suasana Ibukota.
Bukan hanya dirinya saja, Sasa bahkan Jio juga membantu gadis itu.
"Pulanglah, ini sudah malam..." pinta Hema. cukup sungkan memang membuat Jio ikut beberes seperti ini. apalagi besok ada acara yang harus Jio hadiri.
Acara pemberkatan pernikahan Hean dan Agnes.
"Tidak, gue pulang kalau sudah selesai semuanya..." tolak Jio. kali ini mengeluarkan Koper Hema dan menaruhnya di ruang tamu.
Tinggal Hema dan Sasa saja di kamar. suasana kamar yang terlihat begitu sunyi walaupun masih ia tinggali untuk 1 malam nanti.
"Lo mau pergi kemana?".
"Gue akan pulang ke rumah nenek, setelah itu akan memikirkannya nanti..." ucap Hema. setidaknya kampung halamannya adalah tempat yang nyaman bagi Hema untuk masalah yang ia hadapi saat ini.
setidaknya disana Hema akan aman bersama saudara ataupun sepupunya.
"Hema...".
"Jangan khawatir Sa... gue akan sering-sering menghubungi lo..." hibur Hema pada sahabatnya. walaupun jarak diantara mereka begitu jauh, tetap saja Sasa adalah orang yang sangat Hema sayangi selama ini.
Hema menghela nafasnya kasar. merengkuh tubuh sahabatnya dan memeluknya begitu erat. "Apa gue bisa melalui ini semua Sa? hiks...".
Siapa yang tak sedih mendengar ucapan Hema barusan. Sasa memang tidak mengalaminya tapi tetap saja ia tau bagaimana yang Hema rasakan saat ini. pasti sakit, sedih dan membingungkan.
"Gue yakin, lo bisa melaluinya Ma... lo gadis yang kuat...". mungkin akan sakit, tapi Sasa tau kalau Hema akan mampu melalui cobaan berat kali ini.
Bersamaan dengan itu saat Jio ingin kembali masuk ke dalam kamar Hema, Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Hean?
Entah kenapa Hean meneleponnya malam-malam seperti ini.
"Ya? ada apa?". ucap Jio sambil berdiri di ambang pintu menatap Sasa dan Hema yang tengah berpelukan sambil menangis.
Takut jika pembicaraannya di dengar, Jio memilih mundur perlahan. memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Apartemen itu.
"Oh... ini gue lagi balik beli rokok dari minimarket... Ada apa Yan?" bohong Jio. ia tak bisa mengatakan kalau dirinya sedang ada di Apartemen.
"Kirain ada di Apartemen... gue mau tanya keadaan Hema...".
"Tidak... gue tidak pernah bertemu dengannya..." jawab Jio masih dengan kebohongan.
"Sasa juga memilih bertemu di luar... jadi gue tak pernah bertemu dengan Hema sama sekali...".
"Gue hanya ingin tau bagaimana keadaannya...".
__ADS_1
Ucapan Hean terdengar begitu jujur. sebenarnya Jio tak ingin berbohong tapi inilah yang Hema minta darinya. gadis itu seperti benar-benar memutus hubungan dengan Hean. bahkan kabarnya saja jangan pernah terdengar sampai di telinga pria itu.
"Lo tidak tidur?" Jio mencoba untuk mengalihkan pembicaraan. karena semakin membicarakan Hema, mungkin saja ia akan keceplosan nanti.
"Tidak...".
Jio terdiam cukup lama, tak ingin bertanya lagi ataupun mencari bahan obrolan. hingga Hean lah yang bersuara,
"Sepertinya dia memang menipu ku...".
Sudah beberapa kali Jio mendengar hal itu dari mulut Hean. pernikahan akan terlaksana sebentar lagi tapi Hean sendiri tak berkeinginan untuk melakukannya.
sungguh Hean tak pernah menginginkan pernikahan ini.
"Sudahlah Yan..." cerca Jio.
Sebaliknya karena Hean selalu bersikap aneh dan tak bisa menyelesaikan masalahnya.
pria itu terlihat hanya berbelit-belit saja. yang mana tindakan yang Hean lakukan hanya berakhir menyakiti Hema saja.
sudah cukup, Jio tak mau lagi Hema menjadi korban.
"Bukan gue yang menghamilinya Yon!".
Jio terlihat menghela nafasnya kasar. "Lo maunya gimana?".
kesal karena fakta yang ada Agnes benar-benar hamil saat ini. mau menjelaskan bagaimanapun, tak akan ada yang percaya. karena Hean sendiri tak memiliki bukti perselingkuhan Agnes. mau membantu pun, apa yang bisa Jio lakukan?
"Pernikahan tinggal beberapa jam lagi, lo mau kabur? bagaimana dengan keluarga lo? mereka sudah cukup kecewa karena tindakan lo..." ucap Jio terdengar bijak.
Semua anggota keluarga pasti akan melakukan hal yang sama. tak ada yang mau bernasib seperti Agnes. hamil di luar nikah.
"Gue tak tau...".
Dari cara bicaranya, Jio tau kalau Hean sudah benar-benar menyerah. tak ada jalan keluar dari masalah yang ia hadapi selain menikahi Agnes.
"Jangan lakukan hal bodoh lagi..." ucap Jio memperingati. "Sudah ya... gue tutup teleponnya...".
"Hm,".
Telepon berakhir. Jio masih tak bergerak sedikit pun. duduk termenung melihat langit malam dari taman yang ada di depan gedung Apartemen.
Setelah cukup tenang dan mampu berpikir jernih, Jio kembali.
"Darimana?" tanya Sasa setelah Jio masuk ke dalam unitnya.
"Di bawah..." jawab Jio singkat.
"Ngapain?".
"Sudahlah... ayo bantu Hema lagi..." ucap Jio mengalihkan pertanyaan dari kekasihnya.
Malam itu Jio benar-benar membantu Hema berkemas.
__ADS_1
----
Malam yang sama.
Hean duduk sambil menatap langit malam. banyak bintang bertaburan, cerah tapi cuaca di dalam hatinya justru gerimis tiada henti. Hean ingin sekali berteriak, muak melihat takdir yang begitu buruk. tapi semuanya percuma. tak ada yang bisa mengubahnya.
Di dalam kamar, setelan jas telah tergantung rapi. itulah yang akan Hean kenakan pagi nanti, di acara pemberkatan pernikahannya dengan Agnes.
"Agghh...".
Dulu Hean pernah merasakan situasi seperti ini. saat dimana dia tak sengaja menghabiskan malam bersama Hema ketika itu. betapa gadis itu menangis menyalahkan perbuatan Hean.
tapi dengan entengnya, Hean mengatakan akan bertanggungjawab atas perbuatannya. walaupun saat itu ia belum memiliki masa depan yang pasti.
Bagaimana kalau saat itu Hema hamil?
entah kenapa Hean sampai memikirkan hal itu. pasti takdirnya akan berbeda dari sekarang. mungkin Hean sudah menjadi seorang ayah saat ini.
Tapi saat ini, menjadi ayah sudah hal pasti yang akan Hean jalani beberapa bulan ke depan. tapi kali ini ia sama sekali tak mengharapkan hal itu.
Hean tak menginginkan menjadi ayah dari anak yang Agnes kandung saat ini.
Hema... gue merindukan lo...
Malam semakin larut. Hean tertidur dengan sebuah selimut yang membungkus tubuhnya.
"Papa...".
"Papa...". Terdengar sayup-sayup, suara anak kecil memanggil dirinya. Hean mendengarnya tapi matanya terlalu berat untuk terbuka.
"Papa...". bahkan lebih dari itu, terasa sesuatu tengah merangkak naik di tubuh Hean. mencoba untuk menarik selimut yang tengah Hean kenakan.
"Papa...". suara anak kecil itu semakin jelas terdengar dan perut Hean terasa sesak seperti tengah ditindih sesuatu.
Masih dengan mata terpejam, Hean mencoba untuk membuka mata. masih dengan pandangan sedikit kabur, Hean menyadari ada seorang anak duduk di atas perutnya. semakin lama pandangan Hean semakin jelas. Seorang anak kecil dengan bersimbah darah seperti menatapnya sambil tersenyum ngeri. Hean berteriak keras saking terkejutnya.
"Aaaaa...".
Hean terjingkat dan bangun. nafasnya berpacu begitu cepat dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
Sial, hanya mimpi... batinnya masih merasa syok. pertama kalinya Hean bermimpi aneh.
Karena saking terkejutnya, Ponsel pria itu sampai jatuh di bawah kursi. nyatanya Hean ketiduran di kursi yang ada di balkon kamarnya.
Hean memungut ponsel untuk melihat jam berapa saat ini. saat membuka benda pipih berwarna putih itu, Hean kembali termenung. ternyata semalam ia tengah browsing mengenai tes DNA saat hamil.
"Tidak... gue tidak tega melakukan nya..." gumamnya pelan.
Rencananya, Hean akan melakukan tes DNA kepada Agnes untuk mengetahui siapa ayah dari anak yang dikandungnya. tapi tak begitu mudah, karena ada resiko yang cukup serius.
dimana jelas tertulis disana bahwa melakukan tes DNA saat hamil bisa memicu keguguran pada ibu hamil.
Walaupun Hean ingin membuktikan, tapi tetap saja ia tak tega jika harus membahayakan janin dalam perut Agnes. bagaimanapun dia tak salah. apalagi mimpi yang baru saja Hean alami benar-benar menakutkan.
__ADS_1
Tidak... gue tak mau membahayakannya... setidaknya gue harus menunggu saja, biarkan dia lahir ke dunia...
***