Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
39. Kembang Api Perpisahan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Masih di hari yang sama setelah makan malam bersama. Hean memutuskan untuk mengantarkan Agnes lebih dulu daripada Hema.


"Terimakasih Yan..." ucap gadis itu begitu tulus. sedangkan Hema masih di dalam mobil, tak melihat obrolan apa yang Hean bahas dengan Agnes di depan pintu gerbang rumah gadis itu.


"Masuk lah,".


"Hm... kabari gue kalau sudah sampai," pinta Agnes.


"Oke...". setelah itu Hean kembali masuk kedalam mobil. menghidupkan mesin hingga mobil itu perlahan meninggalkan rumah Agnes.


"Jadi dia gadis yang lo ceritakan waktu itu? Agnes?". Hema hanya penasaran. setalah cukup lama memikirkan seperti apa sosok gadis yang Hean cintai, pada akhirnya ia benar-benar melihat nya secara langsung. gadis cantik dengan kepribadian yang lembut.


sejenak Hema kagum pada Agnes. senyumnya, cara bicaranya benar-benar terlihat sangat berkelas. jelas sekali kalau Hean begitu mencintainya.


Hean hanya berdehem, tak menjawab secara langsung pertanyaan dari Hema.


"Seharusnya lo senang dia kembali...". sesak, itulah yang Hema rasakan saat mengatakannya. menyadari bahwa ia pernah menjadi pelarian saat Hean jauh dari kekasihnya.


"Hemaa...".


"Sungguh, gue tidak apa-apa Hean..." tolak Hema. ia tak mau Hean salah mengartikan perkataannya.


karena... karena hubungan mereka tidak seakrab yang terlihat.


Hingga mobil yang Hean kendarai justru berbalik arah dari Apartemen dimana mereka tinggal. bahkan Hema yang tadinya tak sadar perlahan bingung melihat jalanan yang tidak ia kenali.


"Eh, kemana kita pergi?". bersuara sambil memastikan apa yang ia lihat dari balik jendela mobil.


Perjalanan memakan waktu yang tidak sebentar. hingga tibalah mereka di bibir pantai yang berada di paling ujung Ibu kota.


Kenapa dia membawaku kesini?


Hema terheran tapi tetap turun dari mobil mengikuti langkah kaki Hean.


keduanya berjalan menuju ke bibir pantai.


"Gue masih ingat kalau lo suka pantai..." ucap Hean dengan tatapan masih tertuju jauh ke depan. walaupun gelap, tapi masih bisa melihat deru ombak berkilauan karena cahaya rembulan.


Tapi kalau malam begini, pantainya tidak terlihat bukan?


dan siapa yang suka melihat pantai di malam hari.


"Hema mungkin kita tidak akan bisa melihat pantai bersama lagi... jadi nikmatilah ini semua..." ucap Hean terdengar begitu sedih. Hema sempat ingin menanyakan alasan apa yang membuat Hean berkata seperti itu, tapi pria itu kembali melanjutkan ucapannya.


"Lo pasti penasaran bukan?" sejenak Hean tersenyum walaupun hanya senyum getir yang ia tunjukkan.


Ahhh... helaan nafas pria itu jelas terdengar berat. seperti ada yang Hean sembunyikan dari Hema.


"Gue akan pergi Hema...".

__ADS_1


Ucapan Hean jelas membuat Hema bingung. matanya membulat menatap ke arahnya dengan tatapan seperti bertanya ke mana pria itu pergi?


Tapi apakah Hema pantas menanyakannya?


karena posisi Hema bukanlah apa-apa untuk Hean. ia hanya sekedar kenal dan dekat karena suatu hal. tapi itu dulu, saat Hean ingin bertanggung jawab atas perbuatannya.


Sekarang, hubungan itu tidak berlaku lagi. Hema tidak mengandung anak Hean, jadi perjanjian itupun resmi berakhir.


"Hema, sorry..." ucap pria itu lagi. entah maaf karena apa, Hema juga tak paham. karena tidak ada kesalahan yang Hean lakukan kepadanya.


"Lihatlah..." tunjuk Hean ke atas. Tatapan Hema tertuju ke arah telunjuk Hean. bersamaan dengan itu, kembang api dari atas Mercusuar tiba-tiba meledak.


Duaarrr...


Suasana malam mulai terlihat terang oleh kembang api.


Hema terkejut sekaligus terpukau karena indahnya kembang api yang tidak berhenti.


Duarrr...


Senyum indah mengembang sempurna di wajah Hema. tentu saja Hean melihat hal itu. pria itu juga tersihir dengan senyum indah yang sama seperti milik Agnes. senyum yang begitu menarik Hean saat itu. hingg pada akhirnya begitu dekat dengan Hema.


"Indah..." puji Hema masih mendongak ke atas.


bahkan saking bahagianya, sudut matanya mulai berair.


untuk pertama kalinya Hema bisa melihat kembang api seperti ini. karena hampir 23 tahun, Hema tak pernah ikut merayakan pesta kembang api saat malam pergantian tahun.


"Maaf Hema... karena gue tidak bisa membawa lo pada malam pergantian tahun..." sesal Hean. tidak ada waktu bagi Hean untuk menunggu saat itu. hingga inilah yang bisa ia lakukan. walaupun tidak semewah saat malam tahun baru, setidaknya Hean telah menepati janjinya.


"Terimakasih untuk semuanya...".


tanpa terduga, Hema langsung berhambur memeluk tubuh Hean. tanpa malu sedikit pun gadis itu memeluk dengan erat. hingga Hean membalas pelukannya sama erat setelah cukup lama berpikir.


Keduanya berpelukan dengan latar kembang api buatan Hean. Hema yang tersenyum bahagia, sedangkan Hean sedikit menitikkan air mata tak tau apa yang sedang ada di dalam pikiran nya.


"Terimakasih Hean...".


Gue telah menepati janji gue pada lo Hema... menepati segala keinginan yang pernah lo katakan...


Langit pun kembali gelap seperti semula. setelah hampir 10 menit lamanya kembang api menghiasi langit Ibu kota, menghiasi hati Hema dengan banyak kebahagiaan.


"Setelah ini jangan pernah menangis lagi Ma... tetaplah bahagia..." pinta Hean begitu tulus.


Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Hean katakan. tapi diurungkan nya karena mungkin saja apa yang ia katakan justru membuat Hema bersedih. itulah sebabnya Hean tak mengatakannya.


"Hean...". Sekarang gantian Hema yang ingin mengatakan sesuatu. karena rasa penasarannya jauh lebih besar lagi. Hema ingin menanyakan sesuatu.


"Hm,".


"Apa- Apa dia gadis masa lalu Lo itu?". walaupun sebenarnya Hema sempat ragu apakah pertanyaannya justru membuat Hean tersinggung.


"Agnes... iya...".

__ADS_1


Bahkan Hean sempat menatap Hema saat mengatakannya. Mencari tau bagaimana tanggapan Hema saat Hean mengatakan bahwa Agnes adalah gadis masa lalunya.


"Oh...". Hema tersenyum getir.


"Pasti lo bahagia kan Yan... akhirnya dia kembali...".


Walaupun Hean tak pernah mengatakan bahwa ia bahagia dengan kepulangan Agnes, tapi Hema sangat tau.


Tidak seperti itu Hema.. batin Hean menolak. tapi tak juga mengiyakan perkataan Hema. karena Agnes pulang atau tidak tidak berpengaruh baginya. hanya saja, ketika gadis itu telah benar-benar berada di sini Hean merasa aneh. rasanya sulit untuk mengabaikan Agnes. gadis itu telah terlalu jauh masuk dalam hatinya dan jujur, terlah bersemayam disana hingga untuk kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya saja Hean tak mampu.


Apalagi dengan mengenal Hema, Hean merasa kalau gadis itu hanya sebagai pelariannya saja. bersikukuh pada dirinya bahwa ia tak menaruh hati pada Hema.


mungkin karena senyum dan cara Hema bertingkah sama dengan yang Agnes lakukan, itulah yang membuat Hean tertarik. menganggap Hema sebagai Agnes.


jatah memang, tapi itukah yang Hean yakini selama ini. jadi kembalinya Agnes, Hema tak berarti lagi dalam hidupnya. karena sejak awal Hean memang mencintai Agnes walaupun gadis itu pernah menabur luka di hatinya.


"Gue ikut bahagia..." tambah Hema. walaupun jelas hatinya menolak hal itu. entah kenapa waktu yang ia habiskan bersama Hean justru membuat dirinya sulit untuk menerima kenyataan bahwa Hean bukan miliknya.


Sial! gue bahkan sudah pernah memperingati hati.. jangan pernah jatuh cinta


Hema Mengimpati kebodohannya sendiri.


Dia hanya bercanda Hema... bukannya jatuh cinta...


Tapi nasi telah berubah menjadi bubur. Hema tak bisa melakukan apapun untuk saat ini.


"Tapi bersama lo dengan waktu yang terlalu singkat... gue menikmati nya Hema... mungkin di masa depan, gua akan merindukan momen itu...".


Ucapan Hean seperti angin segar bagi Hema. tapi sebelum itu datang, sungguh Hema sedih. dimana dan kemana masa depan akan membawa Hean pergi dari nya.


mungkin Hema akan sedih, bagaimana setelah ini? apa ia bisa menepati janjinya untuk bisa terus bahagia. sedangkan alasan Hema bahagia selama ini adalah Hean.


"Apa lo benar-benar akan pergi Yan?". Tiba-tiba isak tangis Hema mulia terdengar.


kenapa pria itu juga meninggalkannya. sedangkan Hean adalah penyembuh lara yang Hema rasakan dulu.


"Ya...".


Hean masih terus meyakinkan diri, setelah cukup lama berpikir ia telah memutuskan untuk kembali bersama masa lalunya.


berharap Agnes tidak akan mengecewakannya lagi.


"Boleh gue memeluk lo untuk terakhir kalinya?". pinta Hema sedikit memalukan memang.


"Kemarilah...".


Dan pada akhirnya malam benar-benar merenggut kebahagiaan yang pernah mereka ciptakan sendiri.


setelah ini, mungkin tak akan ada cerita antara Hema dan Hean.


tapi jangan lupakan tentang takdir. karena takdir tidak akan ada yang tau.


***

__ADS_1


Huhuhu... sedih yak...


__ADS_2