Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
34. Milikku.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sasa duduk di bangku bis. memangku tas dengan tubuh sedikit bergetar. bagaimana tidak? hampir saja dia menjadi korban penjambretan di Terminal Bus.


padahal Sasa tidak berpenampilan yang berlebihan apalagi memakai barang-barang yang mahal. tapi tetap saja tak membuat gadis itu lepas dari sasaran orang-orang kejam.


Untung saja ada seseorang yang membantunya tadi. kalau tidak mungkin tasnya sudah hilang di bawa jambret.


walaupun tak banyak barang mewah di dalam tas, tapi ada ponsel dan sedikit uang pemberian orang tuanya. justru kedua barang itu sangat penting baginya.


"Minumlah...". seorang pria menyodorkan minuman kaleng kepada Sasa. dan ikut duduk di sebelah gadis itu.


"Terimakasih," jawab Sasa. walaupun ia tak suka dengan pahlawan yang menolongnya, tapi Sasa cukup tau diri untuk berterimakasih dengan apa yang telah pria itu lakukan.


"Lain kali hati-hati... lagian bagaimana kalau ada mobil lewat tadi?". celoteh pria itu mengingat kecerobohan Sasa saat kehilangan tasnya.


Ya, dengan spontan Sasa berlari mengejar penjambret. tanpa memperdulikan jalanan yang ramai, apalagi dekat dengan pintu dimana bus keluar masuk setiap saat.


Bisa-bisa gadis itu ditabrak oleh kendaraan besar tersebut.


Untung saja ada Jio disana, yang memang tengah menyebrang menuju ke Terminal.


Dengan berani pria itu mengejar jambret. tak memperdulikan dirinya, Jio berlari kencang dan sedikit memberi pelajaran pada penjambret itu.


entah apa yang terjadi setelah nya, Jio hanya memastikan tas itu kembali pada pemiliknya yang ternyata gadis tak asing baginya.


gadis yang sejak pertama bertemu sangat menjengkelkan.


Agghh... Jio kesal mengingat pertemuan pertamanya dengan Sasa.


"Lagian ngapain lo disini?" tanya Jio penasaran. kenapa gadis itu bisa kelayapan di kota ini. kota yang cukup jauh dari Ibukota tempat mereka kuliah.


"Gue juga dari sini..." jawab Sasa tanpa rasa bersalah.


bahkan ucapannya itu mampu membuat Jio terkejut dan seperti terserang penyakit jantung.


"APA?".


Gue tidak salah dengar kan tadi?


"Jadi lo bukan asli Ibukota?". Jio kira gadis menyebalkan itu memang asli warga Ibukota.


Sasa menggelengkan kepalanya, membenarkan pertanyaan Jio barusan.


"Ck... kenapa gue harus sekota dengan gadis menyebalkan ini..." gumam Jio pelan tapi tetap mampu di dengar Sasa. membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. kesal dengan ucapan pria itu.


"YA! memang gue mau satu kota dengan lo?" teriak Sasa. bibirnya seperti mengumpati Jio.


"Bahkan gue tidak sudi duduk di sebelah lo! dasar pria sinting!" lanjutnya.


Cctakk.... Jio menyentil kening Sasa spontan.

__ADS_1


"Aww..." keluh gadis itu meringis sambil menyentuh keningnya.


"Heh, jaga bicara lo ya! kalau bukan karena gue, lo sudah kehilangan tas lo... bukannya berterimakasih malah mengumpat," jelas Jio.


setidaknya apa yang ia lakukan mampu menyadarkan Sasa bahwa Jio seperti pahlawan yang telah menolongnya.


Sial!


"Mau mengumpat lagi?" tanya Jio.


"Mana ada? gue diam sejak tadi...". Sasa masih mengelus keningnya yang mungkin saja telah berubah warna menjadi kemerahan. kalau bukan karena malu, Sasa pasti sudah menangis saat ini.


untuk pertama kalinya ada yang berani melakukan itu padanya. apalagi semua itu karena pria menjengkelkan yang kini duduk di sebelah nya.


dan lebih sialnya, mereka akan duduk bersebelahan seperti itu sampai di Ibukota.


Hidupku benar-benar menyedihkan.. gerutu Sasa dalam hati.


***


Di tempat lain, Hema baru saja selesai mandi. Apartemen terasa begitu sepi hari ini. Biasanya ada Sasa yang selalu membuat suasana menjadi ramai. tapi sekarang, gadis itu belum pulang juga dari kota asalnya.


Agghh...


Hema benar-benar merasa kesepian tanpa adanya sahabatnya itu.


Walaupun semalam mereka mengobrol cukup lama lewat telepon, Sasa juga bilang akan pulang dari kotanya hari ini tapi tetap saja Ha merasa tak sabar. apalagi mereka memang sudah terbiasa hidup berdua di Ibukota.


Saat masih sibuk mengeringkan rambut, Tiba-tiba Bell berbunyi. membuat Hema sejenak terdiam dengan pemikirannya.


Sasa tidak akan secepat itu tiba di Apartemen. karena Hema yakin sahabatnya itu akan memulai perjalanan pagi tadi dan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, mungkin sekitar 5-6 jam.


Masih dengan menerka-nerka siapa yang datang, Hema berjalan ke arah pintu. membukanya hingga sadar oleh sosok di depan sana. siapa lagi kalau bukan Hean. ria yang tinggal di sebelah Unitnya dan tetangga paling akrab bagi Hema.


Agghh... dia...


"Kenapa? apa tidak seperti yang lo harapkan?".selidik Hean setelah tua ekspresi yang Hema tunjukkan saat pintu terbuka.


"Iya, gue nyesel karena yang datang lo..." jawab Hema. membuka pintu dan membiarkan Hean masuk.


"Siapa yang lo harapkan datang? Selingkuhan lo?" tanya Hean tak suka. padahal ia begitu semangat menyambut pagi ini dengan menemui Hema terlebih dahulu. tapi apa yang Hean dapat? gadisnya itu justru terlihat tak suka dengan kedatangannya.


"Selingkuhan? hahaha... lo aneh Yan,". Hema geli sendiri dengan pertanyaan Hean.


Selingkuhan apanya, pacar saja Hema tidak punya. "Kekasih saja tidak punya, apalagi selingkuhan...".


Hema semakin berjalan masuk ke dalam kamarnya. tanpa memperdulikan Hean yang juga berjalan mengikutinya dadi belakang.


"Tidak punya?" tanya Hean lagi. nada bicaranya bertambah dingin dan aneh. membuat Hema memutar tubuhnya demi melihat pria itu.


"Memang tidak punya... lo kan tau kalau gue tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun...," jelas Hema.


Eh, kenapa dia?

__ADS_1


Hema terkejut dengan tatapan menakutkan dari Hean.


"Tidak punya?" desak Hean. segera meraih pergelangan tangan Hema dan sekitarnya menekannya.


"Aw... sakit Yan," membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Lalu gue siapa ha?" tanya Hean. bahkan pertanyaannya membingungkan bagi Hema. tapi daripada memikirkan jawaban atas pertanyaan Hean, Hema justru memikirkan tubuhnya. tangannya benar-benar sakit oleh perlakuan Hean.


"Lepas Yan," berontak Hema.


"Jawab gue Ma! siapa gue?" paksa Hean. menarik tangan Hema dan membuat tubuh gadis itu terhimpit tembok.


Wajah Hean dipenuhi oleh kemarahan. matanya memerah seiring dengan tangannya yang seperti mencengkeram dagu Hema.


"Hean..." Hema bergetar takut. pandangan ini membuatnya ingat akan kejadian malam itu. saat dimana Hema pertama kali bertemu Hean di atas ranjang.


"Jawab gue! siapa gue? Ha..." paksa Hean.


bahkan pria itu berbicara sangat dekat dengan wajah Hema.


Dia minum?


Hema terkejut melihat kenyataan yang ada. ternyata Hean dalam pengaruh alkohol. jelas tercium dari mulut pria itu.


"Yan, lo mabuk..." ucap Hema.


Hema takut melihat Hean yang seperti ini. pengaruh alkohol sangat berbahaya dan kenangan malam dulu semakin membuat Hema bergetar.


takut kalau pria itu akan melakukan hal-hal di luar batas kesadarannya.


"Jawab Hema, siapa gue!" paksa Hean. pria itu terus mencengkram dagu Hema bahkan membuat mata gadis itu berkaca-kaca hampir menangis.


"Siapa gue bagi Lo Hema... kita bahkan bernah berciuman, saling memeluk, dan menikmati hari bersama-sama...". Hean mengucapkan kata-katanya sambil terus mengamati wajah Hema. menyisir dengan jari telunjuknya seperti menandai kepemilikannya.


"Bahkan kita pernah melakukannya... tap-tap ..." tambahnya sambil memperagakan penyatuan mereka malam itu.


Sial! Hema tersakiti mengingat malam itu.


"Lo mabuk Hean...". tapi Hema tau, pria di depannya itu bicara ngawur karena efek minuman keras.


Tiba-tiba Hean menekan tengkuk Hema. mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. melakukannya dengan sangat kasar hingga membuat air mata Hema benar-benar lolos begitu saja.


untuk pertama kalinya Hema tak menikmati ciuman itu. harga dirinya hancur dan kenangan masa lalu kembali mengingatkannya bahwa Hema adalah gadis pelunas hutang Rendy.


"Lo milik gue Ma... hanya milik Gue...". ucap Hean dan setelahnya tubuh pria itu ambruk di bahu Hema.


Hema yang tidak kuat menahan beban tubuh Hean juga ikut ambruk terduduk di lantai.


menangis walaupun tangannya menopang tubuh Hean. hingga terdengar nafas pria itu mulai teratur. Hema dadar bahwa Hean telah tidur saat ini.


Dengan susah payah, Hema memindahkan Hean di ranjang kamarnya. pria itu terlihat sangat kacau karena matanya terpejam tapi terdapat kerutan-kerutan di antara kedua alisnya menandakan ada sebuah kekhawatiran yang tengah Hean alami.


Apa yang terjadi?

__ADS_1


Hema hanya bisa bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi pada pria itu. pria yang terlihat tenang itu tiba-tiba sangat aneh.


***


__ADS_2