
HAPPY READING...
***
Malam hari Ibukota terlihat begitu ramai. suara klakson kendaraan mengiringi malam yang kian naik. sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Hean memandang ke arah trotoar. banyak sekali pedagang kaki lima seperti dulu waktu ia masih berada di Ibukota 4 tahun lalu.
Potret Ibukota tak begitu berubah dari yang terakhir Hean lihat. tapi ada begitu banyak pertokoan yang berjejer di pinggir jalan. padahal dulunya jalanan ini masih area pedagang kaki lima yang bongkar pasang tenda adalah hal wajar.
Hean melirik jam di pergelangan tangannya memastikan pukul berapa saat ini apalagi ia memang janjian bersama sahabat yang lama tidak ia temui. rindu, tentu saja. siapa yang tidak rindu dengan sifat konyol Jio dan Dimas.
dan inilah waktunya untuk bisa berkumpul seperti dulu lagi.
Mobil yang Hean kendarai telah menepi di parkiran sebuah club malam. turun dari sana dan segera masuk.
Baru melangkah masuk, Hean telah disambut dengan dentuman musik keras memekakkan telinga. juga dengan bau minuman keras yang langsung menguar menusuk indra penciumannya.
Langkah kaki Hean membawanya naik ke lantai dua tempat itu. tak memperdulikan orang-orang yang asyik berjoged di bawah sana.
"Silahkan...".
Seorang pria membuka pintu sebuah ruangan yang terlihat cukup privat dibandingkan lantai di bawah sana.
suara musik juga tidak terlalu terdengar dari sini.
Ruangan tidak terlalu besar namun ada sofa dan juga meja kaca di tengah nya yang telah diisi dengan beberapa gelas juga minuman beralkohol.
Senyum kedua sahabatnya langsung merekah menyambut kedatangan Hean.
"Beri tepuk tangan kepada CEO baru kita..." gurau Jio. pria itu sangat menghayati perannya dengan bertepuk tangan diikuti oleh Dimas.
"Kalian apaan sih,".
membanting tubuhnya di sofa, Hean terlihat tidak setegang tadi.
bersama dengan sahabatnya, Hean bisa menjadi dirinya sendiri. karena posisi CEO benar-benar menguras energinya.
selain pekerjaan yang banyak sekali dari CEO lama yang sempat terbengkalai, Hean juga harus memperlihatkan kepemimpinannya kepada bawahan di Perusahaan.
ia tak bisa menunjukkan wajah bodohnya bukan?
"4 tahun di London membuat lo berubah ya..." cerca Dimas. mengamati sahabatnya yang memang baru pulang beberapa hari terakhir.
Dimas tidak bisa menyambut kepulangan Hean waktu itu karena pekerjaan yang mengikatnya.
sehingga hanya Jio lah yang menyambut kedatangan Hean.
"Apa?".
Ck, lihatnya tampang nyolotnya itu.. Dimas berdecak kesal. walaupun di sisi lain ia juga merindukan Hean dengan segala tingkah lakunya yang konyol.
"Si monyet sudah seperti bule..." tambah Jio memprovokasi. bagaimana penampilan Hean dengan rambut sedikit kecoklatan beda dengan yang dulu.
__ADS_1
"Hahaha...". Dimas tertawa. Ya, itulah yang ia pikirkan ketika bertemu Hean. rambut pria itu yang berubah warna.
"Sialan!". sedangkan yang digoda justru mengumpat kesal. Hean berpikir mewarnai rambutnya karena jenuh melihatnya selalu hitam. dan menurutnya juga tidak salah, warna cokelat membuat wajahnya semakin bersinar. tapi siapa sangka kalau rambut cokelat itu justru membuat kedua sahabatnya mengolok-oloknya.
"Bagaimana kabar lo? gue dengar lo berani mengajak Intan pergi sekarang...". Hean meluncurkan roket balas dendamnya. membuat yang ditanya tak bisa mengelakkan ataupun menjelaskan.
Itulah yang Hean dengar dari Ibu. Dimas semakin dekat dengan Intan bahkan keduanya sering pergi bersama ke Mall.
"Akk... itu,".
"Awas kalau lo macem-macem nyet!" ancam Hean lagi.
walaupun Intan sudah menjadi mahasiswi di salah satu Perguruan tinggi, tapi tetap saja gadis itu tetaplah kesayangan keluarganya.
bahkan Hean tak akan memaafkan Dinas kalau terjadi apa-apa pada Intan.
"Iya...". jawab Dimas lemah. tak bisa membela dirinya sedikitpun.
"Dan lo? masih dengan yang dulu?". Hean beralih pada Jio. ia tak begitu paham bagaimana Jio bisa menjalin hubungan dengan Sasa. Hean justru pernah terkejut saat itu. tapi tak sempat untuk bertanya.
"Iya dong... gue tipe pria setia..." jawab Jio dengan bangganya. dulu memang cap playboy memang tersemat di belakang namanya. Jio sering gonta-ganti pacar, tapi itu dulu saat belum mengenal Sasa.
Setelah ada Sasa dalam hidup Jio, entah kenapa semuanya berubah. gadis itu benar-benar aneh hingga mampu membuta Jio hanya menatap dirinya saja. bahkan tak membuat Jio berkeinginan untuk berpaling darinya.
"Ck..." Hean berdecak. geli mendengar ucapan Jio barusan.
"Dan lo, sudah punya anak berapa?" Jio menggoda Hean. seolah kepergian Hean hanyalah untuk mencetak bayi saja.
"Dengan Agnes...pergi lama selama kredit mobil saja..." tambah Jio.
"Hahaha...".
ketiganya tertawa keras. lucu mendengar apa yang Jio katakan.
"Sialan Lo!".
Seperti ini lah yang terjadi ketika Dimas, Jio dan Hean berada dalam satu tempat yang sama. saking ejek dan mengumpat. tapi hak itu yang menjadi keseruan persahabatan mereka.
"Dosa lo, sudah buat anak orang menunggu terlalu lama... sono cepetan nikah," perintah Dimas. 4 tahun bukanlah waktu yang sebentar. tapi baik Hean dan Agnes tak pernah membicarakan masalah pernikahan, atau mungkin hanya Dimas dan Jio yang tidak tau hal itu.
"Kenapa? dia tidak keberatan untuk itu..." sela Hean.
walaupun Agnes beberapa kali meminta untuk segera dinikahi, tapi Hean tak pernah risau. karena ia belum siap untuk menikah dalam waktu dekat.
Ketiganya kembali melanjutkan pertemuan ini. menikmati waktu bersama yang jarang bisa mereka nikmati karena kesibukan masing-masing. dan malam semakin naik ke peraduan.
Hean menyipitkan matanya ketika menenggak isi dari gelas kecil di tangannya.
"Sepertinya gue salah lihat...".
"Tentang?" tanya Jio dan Dimas bersamaan. keduanya saling pandang hingga menatap Hean mencari jawaban atas apa yang barusan dikatakan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Hema...".
Jio membulatkan matanya. terkejut karena terlontar sebuah nama yang tidak ia duga sama sekali. Bahkan Jio tak mau membahas gadis itu di momen seperti sekarang. tapi tiba-tiba Hean menyebut nama gadis itu bahkan Jio kira Hean akan mudah melupakannya.
"Lo bertemu dengannya? dimana?" gantian Dimas yang penasaran. dimana Hean kembali bertemu dengan Hema. atau mungkin Apartemen lamanya? karena yang Dimas tau dari Jio, kedua gadis itu masih tinggal disana.
mungkin ini tahun terakhir mereka.
Jio juga menduganya Hean bertemu Hema di Apartemen, karena kunci Apartemen yang Hean titipkan kepadanya dulu telah Jio kembalikan kepada pemiliknya. mungkin saja Hean telah ke Apartemen dimana dulu ia tinggal.
"Perusahaan...".
"Maksud lo Asian Star?". Jio sampai bertanya dengan nada tinggi hingga di detik selanjutnya pria itu kelimpungan karena sadar akan kebodohannya sendiri.
Sial! kenapa mulut ini tidak bisa diam!
"Jadi... jadi benar dia bekerja disana?". Hean yang ganti terkejut oleh ucapan Jio. karena tadi ia tak begitu yakin atas apa yang dilihatnya. tapi setelah mendengar Jio, Hean yakin bahwa yang ia lihat adalah sebuah kebenaran.
Jadi tadi benar Hema?
"Pacar lo juga kerja disana bukan?" Dimas ikut membenarkan. yang pernah Jio katakan beberapa waktu yang lalu. bilang kalau Sasa juga bekerja di sana.
"Jadi... Jadi lo CEO baru di Asian Star?". Jio bahkan bertanya dengan penuh penekanan.
hingga anggukan kepala Hean, membuat Jio seketika lemas. tak menyangka kalau takdir dengan mudah mempermainkan perasaan seseorang.
"Apa dia melihat lo tadi?" tanya Dimas.
kalau Hema melihat Hean, apa yang terjadi pada gadis itu. karena kabarnya gadis itu sangat terpuruk saat Hean pergi waktu itu.
"Tidak... Dia menundukkan kepalanya..." jawab Hean.
entah kenapa melihat kenyataan bahwa takdir kembali mempertemukannya dengan Hema, membuat jantung Hean kembali berpacu seperti 4 tahun yang lalu.
Perasaan apa ini?
Hean menyentuh dadanya tnah terasa berdetak tak karuan. padahal ia hanya memikirkan nama satu gadis saja, hatinya terasa aneh.
"Sebaiknya lo jangan aneh-aneh Hean..." ancam Jio. bukan karena apa, Jio hanya tak mau melihat gadis itu semakin menderita saja mengetahui Hean telah kembali. walaupun tanpa diminta sekalipun, pada akhirnya Hema akan mengetahuinya juga bukan?
mustahil merek tidak pernah bertemu dimana keduanya bekerja dalam gedung yang sama.
"Kenapa? gue bahkan tidak melakukan apapun...".
Ancaman Jio bahkan terdengar seperti sebuah perintah baginya. Hean penasaran dengan tanggapan Hema jika mengetahui bahwa ia telah kembali ke negara ini.
Hahaha... pasti dia sangat terkejut..
Hean tak mengetahui bagaimana Hema melalui masa-masa sulit setelah pria itu pergi darinya.
***
__ADS_1