Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
66. Butuh Pengakuan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sore ini, Hean sengaja mengajak Hema pulang bersama selain karena cuaca yang mendung, Hema juga pulang saat yang lain sudah pulang lebih dulu karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga.


"Ayo...".


Keduanya masuk mobil yang telah disiapkan Satpam di depan gedung Asian Group. hingga rintik hujan mengiringi kepergian mobil berwarna hitam.


"Mau makan malam sekalian?".


Sebentar lagi juga sudah waktunya makan malam, apalagi jalanan benar-benar macet oleh kendaraan yang lalu lalang. jadi sekalian saja makan malam di luar daripada harus menunggu sampai Apartemen lagi.


"Terserah..." jawab Hema. perhatiannya hanya tertuju pada ponsel milik gadis itu. melihat akun sosial media mungkin ada berita terbaru di sana.


"Mau makan apa?".


Pertanyaan Hean seketika membuat Hema menaikkan pandangannya. menatap jalanan yang mulai gelap dengan kemacetan yang hanya bisa merayap perlahan.


"Bagaimana kalau Ayam saja?".


outlet yang menjual ayam adalah pilihan paling tepat. karena banyak sekali tersebar di Ibukota, dan juga cukup mengenyangkan.


Apalagi Hema ingat, di depan sana menang ada outlet paling dekat.


"Oke..." jawab Hean bersemangat.


dirinya dan Hema memang memiliki selera yang hampir sama. jadi setiap makan, mereka tidak perlu berbeda pendapat.


apalagi sekarang, apa yang Hema mau sebisa mungkin Hean akan mengabulkannya.


termasuk makan ayam tepung dengan kentang goreng sebagai makan malam mereka nanti.


Setelah cukup lama beradu dengan kendaraan lain di jalanan, akhirnya Hema dan Hean tiba juga.


Hean mengantri sedangkan gadis itu mencari tempat duduk dan menunggu pria itu.


"Bagaimana kemarin?". Hema mencari topik pembicaraan sambil menikmati makanannya.


"Tentang?".


Hean sejenak lupa. apa yang telah terjadi kemarin.


"Intan..." pancing Hema.


"Oh..." Hean ingat. apalagi kalau bukan kejadian saat mereka memergoki Intan bersama Dimas di Restoran Ramen kemarin malam.


"Dia terlihat takut...". Hean tersenyum mengingat ekspresi Intan. bahkan saat Hean mengancam akan memberitahu Ayah mereka.


Walaupun kalau dipikir-pikir, tak apa juga Intan mulai menjalin hubungan dengan seseorang. toh, ia bukan lagi gadis kecil yang perlu mendapat pengawasan lebih dari keluarganya.


Intan sudah cukup dewasa, pasti mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. tapi walaupun begitu, Hean akan menjadi orang yang berdiri paling depan hanya untuk menjaga Intan.


"Tapi Yan, Dimas itu keren ya...". ucapan Hema seketika membuat Hean berubah ekspresi.


jelas ada sebuah rona ketidaksukaannya saat Hema mengatakan hal itu. di telinganya seperti tengah memuji Dimas.


"Ha?".

__ADS_1


"Keren bukan? dia benar-benar terlihat serius menjaga Intan... jarang bukan?".


"Ya!".


Hean bertambah kesal.


Kenapa memuji pria lain?


"Dia tidak seperti itu... Dimas itu tetap saja pria dewasa yang... em... -,". Entahlah, Hean bingung menjelaskannya.


Yang pasti Dimas tidak seperti yang terlihat.


dia juga masuk dalam kategori buaya jantan yang menakutkan. hahaha...


setidaknya pikirkan gue juga... Hean mengerucutkan bibirnya kesal.


"Kenapa harus memujinya?".


"Ya, karena tindakan Dimas perlu untuk dipuji keberaniannya...".


Hema tak sadar bahwa ucapannya itu benar-benar menyulut kemarahan pria di depannya.


"Apanya yang dipuji? dia berani ngajak gadis kuliahan pergi keluar tanpa ijin orang tuanya lebih dulu... apa itu pantas?". protes Hean. bahkan sampai nafasnya naik-turun kesal.


bisa-bisanya Hema memuji pria lain di depannya langsung. hal itu sangat menghancurkan harga dirinya.


"Apa yang perlu dibanggakan? apa lo mau punya pria seperti itu? ck... gue tidak habis pikir..." omelnya melebihi omelan emak-emak pada anak-anak mereka.


"Tidak... gue jomblo kok...".


Degg...


Ucapan Hema membuat Hean seketika menghentikan makannya.


Apa? memang lo berharap apa Hean? batin Hema. entah kenapa ucapannya justru membuat pria itu marah. karena pada kenyataannya memang seperti itu bukan? Hema tak memiliki pacar.


"Jadi gue lo anggap apa, Ha?".


Hean kira dirinya adalah orang spesial untuk Hema.


"Apa? lo tak pernah bilang bukan?" cerca Hema. walaupun hubungan mereka dekat, tapi tak ada keinginan untuk mengikat hubungan mereka.


Hean seperti tak punya keinginan untuk mengikatnya.


"Apa... tidak cukup seperti ini?". Hean bingung. ia tak dekat dengan wanita manapun. hanya menatap Hema saja. apa semua itu tak cukup baginya?


"Apa lo butuh sebuah pengakuan?".


"Tidak Yan,..." tolak Hema.


Ha? maksudnya gimana sih?


bingung sendiri karena keinginan Hema tak bisa ditebak sama sekali.


sebenarnya apa keinginan gadis itu?


"Biarlah seperti ini saja..." ucap Hema. ia tak mau terikat pada sebuah hubungan yang hanya main-main saja.


"Gue tidak mau terikat pada sebuah hubungan. jadi jika nanti berakhir, sakitnya tidak akan terlalu terasa...".

__ADS_1


Hema seringkali terlalu berharap pada suatu hal yang pada akhirnya menyakitinya sendiri. bukan hanya sekali, tapi kerap kali. hingga memikirkan untuk kembali berkomitmen pada sebuah hubungan saja Hema tak berani. ia tak berani untuk terluka lagi.


Jadi bersama dengan Hean seperti ini saja sudah cukup. Hema tak mau kembali memasukkan pria itu ke dalam hatinya. apalagi kalau kehadirannya hanya sekedar singgah tanpa perlu menetap.


"Apa lo belum memaafkan gue Ma?". Itulah yang Hean tangkap dari ucapan Hema tadi. seperti Hema tak berkeinginan untuk menjalin hubungan dengan Hean lebih dari sekarang.


"Ck... gue sudah memaafkan lo Hean..." ucap Hema. memaafkan, tapi tidak untuk melupakannya... batinnya bicara.


mungkin seseorang bisa dengan mudah memaafkan, tapi luka yang pernah ditorehkan tak mudah untuk melupakannya.


"Jadi?".


"Jadi, biarkan hubungan ini mengalir layaknya air... tak perlu memaksanya..." ucap Hema.


Setakut itu lo Hema?


Makan malam mereka telah usai. perjalanan pulang pun kembali mereka jalani hingga tiba di Apartemen.


"Gue turun dulu ya..." pamit Hema.


turun dari mobil meninggalkan Hean yang masih nyaman duduk di mobilnya.


Sepeninggal Hema, Hean pun keluar dengan menyelipkan sebatang rokok di antara kedua bibirnya.


hingga asap benda bernikotin itupun menguar ke udara.


Hean berjalan dengan santai, sesekali mengamati ponselnya yang bergetar sejak tadi.


"Hm, apa?".


Ternyata Hema yang meneleponnya. mengabarkan bahwa ada hal cukup serius dan meminta Hean segera naik ke unitnya.


Siapa?


Hean bingung dengan seseorang yang Hema bicarakan lewat telepon.


tadi Hean sempat mengira kalau ada Jio ataupun Dimas, tapi mendengar ucapan Hema berarti bukan kedua orang itu.


 


Di waktu yang sama, Seorang pria tengah berdiri di samping unit dimana Hean tinggal. pria berperawakan tinggi dengan bulu tipis menghiasi rahang UT benar-benar terlihat menakutkan. apalagi tatapan matanya yang begitu tajam, ke arah lorong dimana Hema tengah berjalan menujunya.


Hema sedikit bergetar. takut.


Siapa dia? apa dia orang jahat?


Karena tempat tinggalnya yang bersebelahan, otomatis membuat Hema berjalan kesana bukan? walaupun dia takut.


Apalagi tatapannya yang tak lepas mengamati Hema, membuatnya semakin gelagapan. bahkan untuk menekan digit angka saja tangan Hema bergetar.


bayangannya seperti adegan penculik di film-film yang ia tonton.


Hingga setelahnya, Hema segera masuk ke dalam Unitnya. dan menelepon Hean untuk memberitahukan keadaan yang cukup mencurigakan di sekitar tempat tinggalnya.


Hean berlari setelah mematikan puntung rokoknya. nafas pria terdengar berkejaran menuju ke tempat tinggalnya. bukan mengkhawatirkan dirinya, Hean hanya mengkhawatirkan Hema saja.


jangan sampai gadis itu terlibat dalam masalah yang mungkin pusatnya dari Hean.


Apalagi Hean beberapa hari terakhir seperti mendapat firasat buruk.

__ADS_1


Semoga Hema baik-baik saja... batinnya terus berlari.


***


__ADS_2