Hean Untuk Hema

Hean Untuk Hema
6. Aku Bukan Pel*cur!


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Hema kira hanya nenek dan Sasa saja yang begitu bawel terhadapnya. nyatanya pria di depannya saat ini jauh dari mereka. berbicara tanpa henti bahkan ingin rasanya Hema menyumpal mulut pria itu dengan kaos kaki.


Lihatlah bagaimana cara pria itu mengomel. seperti seorang ibu yang memarahi anaknya karen atak hati-hati.


seperti itulah pria yang Hema saja tidak tau namanya. pria yang semalam... gila, Hema benci membayangkannya.


"Apa Lo gila?".


Pertanyaan itu entah sudah berapa kali keluar dari mulut pria dengan manik mata berwarna cokelat. Gila! apa Hema segila yang terlihat?


padahal ia hanya ingin pergi dari dunia yang menakutkan ini.


tapi bahkan bumi saja tidak menerima jasad Hema jatuh kepadanya. nyatanya, sekarang Hema masih hidup dan bahkan mengingat jelas dosa yang ia lakukan semalam.


walaupun bukan pertama baginya, tapi tetap saja. semalam Hema benar-benar seperti seorang pel*cur yang dibayar untuk menuntaskan keinginan seseorang tanpa dasar cinta.


"Berhenti mengatai ku gila! berhenti!" tolak Hema pada akhirnya. bersuara setelah cukup lama hanya menangis meraung tak jelas.


"Lo memang gila, kalau tidak gila tidak mungkin hendak terjun dari kamar ini..." lawannya tentu saja kembali menjawab.


"Berhenti bicara seperti itu br*ngsek!". Hema benar-benar kehilangan akal. mengatai seseorang dengan kata-kata kotor.


tapi ia merasa tak bersalah karena orang di depannya pantas mendapatkan ucapan itu.


"Apa? br*-ng-s*k?".


Mulut Hean ternganga tak percaya. untuk pertama kalinya ada seorang gadis yang mengatai di depan mata adanya kepalanya sendiri.


Bukankah kata br*ngs*k terlalu kasar?


"Kenapa lo menghalangi gue lompat tadi? seharusnya lo biarkan saja gue lompat dan mati di bawah sana... Hu hu hu...". Hema melepaskan unek-unek di hatinya. kesal karena tidak jadi terjun.


Sejenak Hean hanya terdiam mengamati gadis di depannya yang menangis tersedu-sendu.


"Bagaimana dengan hidupku? semuanya hancur... gue malu bertemu dengan semua orang...".


Hema pasti akan malu bertemu dengan orang-orang di luaran sana. semua orang pasti mengira kalau dirinya bukanlah gadis yang baik.


Apalagi ingatan Hema pada kejadian semalam, sungguh ia hanya takut hamil.


"Bagaimana kalau gue hamil?".


Hidup Hema akan hancur jika ia hamil. impian yang telah ia rajut selama ini akan hancur begitu saja.


apalagi dengan nenek yang pasti akan kecewa terhadapnya.

__ADS_1


Hean sedikit tersentak kaget mendengar penuturan Hema. Hamil?


Ia ingat kalau semalam dirinya memang tidak mengenakan pengaman sama sekali.


Sial!


"Seharusnya gue mati saja...".


"Tadi- tadi malam..." sejenak Hean ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Bagaimana gue ngomongnya ya...


"Semalam bukan pertama kalinya bagi Lo kan?".


Hean memberanikan diri bertanya. entah pertanyaannya itu menyinggung atau tidak, ia tak peduli.


Hema menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa takut? lo bahkan paham alat kontrasepsi bukan? jangan berpura-pura polos di depan gue..." semprot Hean.


tadi ia sempat khawatir juga. bagaimana kalau semalam adalah pertama kalinya bagi gadis di depannya itu.


"Gue bukan pel*cur! kenapa gue harus memakai alat kontrasepsi? ha..." teriak Hema kesal.


Apa?


"Sejak tadi malam gue sudah bilang kan, gue bukan pel*cur... gue juga tidak tau siapa Lo dan kenapa Rendy membawa gue kesini... gue hanya di jebak... huhuhu..." tangis Hema semakin pecah.


"Gue bukan pel*cur...".


Lalu siapa dia? kenapa Si Br*ngs*k Rendy membawanya kesini?


"Gue juga tidak tau ada masalah apa lo sama Rendy... semalam dia hanya bilang ingin makan malam bersama dan mampir di tempat temannya sebentar... gue tidak tau kalau akhirnya dia malah meninggalkan gue di tempat ini..." adu Hema. karena aitulah yang Rendy katakan semalam.


ia tak tau kalau Rendy justru meninggalkan dirinya di sini, bersama orang asing yang telah seenaknya menjamah tubuhnya.


"Rendy punya hutang dengan gue..." jawab Hean singkat.


"Hutang?" tatapan Hema benar-benar tak percaya. bahkan Hean yang melihat manik mata gadis itu juga paham apa yang dirasakannya.


"Dia berhutang dengan lo... dan gue... gue yang membayarnya dengan cara tidur bersama?". bahkan Hema tak percaya dengan apa yang dikatakannya sendiri.


hatinya bertambah hancur melihat kenyataan bahwa Rendy begitu kejam terhadapnya.


"Bagaimana bisa dia melakukan itu pada kekasihnya sendiri... Ya Tuhan...". Hema mengacak kepalanya frustasi.


Sedangkan Hean tambah terkejut, " Lo... Lo kekasihnya Rendy?" ucpnya dengan bibir bergetar.


Duuaaarrr....

__ADS_1


Petir seperti menyambar tepat di atas kepala Hean. terkejut bukan main melihat anggukkan kepala gadis di depannya.


Si br*ngs*k itu menjual kekasihnya sendiri?


Bahkan Hean saja tidak sampai berpikiran picik seperti itu.


"Seharusnya lo biarkan gue lompat dari sini... biarkan gue mati saja... bahkan orang yang gue percaya sekalipun telah mengkhianati gue... kenapa juga gue harus hidup?".


Hean yang kebingungan hanya bisa terdiam. tak tau harus mengatakan apapun. bahkan otaknya saja seperti tak mampu bekerja sama sekali.


"Gue takut hamil... gue masih punya cita-cita setelah kuliah selesai...".


di balkon itu hanya terdengar suara Hema diiringi dengan tangis yang tak kunjung berhenti.


***


Di kampus.


Sasa terlihat celingukan mencari seseorang. mondar-mandir di depan gedung Fakultas seorang diri.


gadis berambut pendek sebahu itu sangat khawatir. bagaimana tidak? ia tak tau keberadaan sahabatnya sama sekali.


Sasa adalah sahabat Hema. Sama-sama anak rantau dan kuliah di tempat yang sama menjadikan mereka sahabat dan begitu dekat. mereka juga tinggal di satu tempat kost dan seringkali pergi makan berdua agar tidak merasa sendirian.


Dan sekarang, Sasa sangat khawatir. sejak semalam ia tak melihat Hema. bahkan kamar kost Hema juga terlihat gelap. ponsel sahabatnya itu tak bisa di hubungi hingga pagi ini.


Kemana dia?


masih dengan langkah mondar-mandir.


Hingga pada akhirnya, Sasa memutuskan untuk pergi mencari Rendy. mungkin saja Rendy tau keberadaan Hema saat ini. apalagi Rendy adalah kekasih Hema.


"Ren!" teriak Sasa ketika melihat Rendy tengah berjalan ke arahnya.


"Lo lihat Hema tidak? sejak semalam gue tidak melihatnya... ponselnya juga tidak bisa di hubungi sampai sekarang..." adu Sasa tanpa jeda.


sedangkan yang ditanya hanya diam.


Hema belum pulang?


"Lo lihat tidak?" pakasa Sasa lagi. meninggikan nada bicaranya karena Rendy sama sekali tak menjawab pertanyaannya tadi.


"Tidak". sepatah kata keluar dari mulut Rendy. tapi jawaban itu sama sekali tak membuat Sasa puas. gadis itu kembali melontarkan pertanyaan lainnya.


"Kalian berantem?" selidiknya. karena Sasa melihat ada guratan aneh dalam wajah Rendy. ia menduga kalau hubungannya dengan Hema sedang buruk.


"Ahhh... sudahlah, percuma saja bertanya pada lo...".


Pada akhirnya Sasa meninggal Rendy dengan pikiran penuh pertanyaan.

__ADS_1


sedangkan Rendy langsung mengeluarkan ponselnya. mencoba untuk menghubungi Hean untuk menanyakan keberadaan Hema saat ini.


***


__ADS_2