
HAPPY READING...
***
Hari yang dinantikan telah tiba. Universitas tempat diadakannya acara wisuda masih dipenuhi oleh suara-suara kegembiraan para mahasiswa dengan toga kebanggaan di atas kepala. mereka terlihat bersuka cita memamerkan apa yang telah ia dapat dari Universitas ini. selama hampir 4 tahun lamanya, akhirnya perjuangan mereka telah selesai. mampu menuai dari hasil kerja keras mereka selama ini.
Dari banyak mahasiswa yang bergembira, ada satu pandangan aneh di ujung taman. seorang gadis dengan balutan kebaya modern dengan tatapan rambut indah namun begitu elegan. duduk sambil memperhatikan suasana.
tersenyum pada pemandangan teman-teman yang berbahagia bersama dengan keluarga mereka.
Agghh...
Ada sedikit rasa iri dalam hatinya melihat pemandangan itu. karena Hema tak seberuntung itu bisa merayakannya dengan keluarganya. hingga tak terasa sebuah air mata jatuh begitu saja.
"Kenapa lo disini sendiri?". sebuah pertanyaan langsung membuat Hema terkejut. menyeka air matanya dan menghapus jejak kesedihan disana.
ketika mendongak, ternyata yang menghampirinya adalah Hean. pria berjas formal itu langsung duduk di samping Hema.
"Lama tidak bertemu ya...". Hean menatap ke langit di atas sana.
sudah sangat lama ia tak bisa duduk berdua dengan Hema seperti sekarang.
sejak berakhirnya janji yang dibuatnya, hubungan keduanya seolah merenggang.
Hema sempat penasaran waktu itu. bingung kenapa Hean terasa menjauh darinya. tapi semakin hari ia mulai sadar, bahwa Hean punya kesibukan sendiri. toh sejak awal Hema sudah tau bukan, kalau Hean bahkan tak pernah membuka diri untuknya.
dekat tapi tidak begitu memahami Hean sepenuhnya.
"Hm,".
Hema juga menatap langit yang sama di atas sana. hanya ada awan putih menghiasi langit Ibukota.
keduanya tenggelam dalam lamunannya masing-masing.
"Lo sendirian?". tanpa bertanya pun seharusnya Hean juga melihat bukan, kalau hanya ada Hema disini.
tak perlu bertanya sekalipun seharusnya Hean juga tau.
"Benar... hanya sendiri... hehehe...". menjawab pertanyaannya sendiri.
"Orang tua lo tidak datang Yan?". ganti Hema yang berusaha mencari topik pembicaraan.
karena seharusnya pria di sampingnya itu juga merayakan hari kelulusan dengan orang tuanya sama seperti yang lain.
"Belum... mereka masih terjebak macet...".
"Oh...".
Kali ini hening menguasai suasana. Hema tak tau lagi apa yang harus ia katakan kepada pria itu. juga dengan Hean yang hanya terdiam seolah nyaman dengan keheningan diantara mereka.
"Hema... apa lo menangis tadi?".
Itulah yang Hean lihat sesaat sebelum memutuskan untuk duduk di sebelah Hema. gadis itu menangis. mungkin rindu atau iri melihat kebahagiaan yang lainnya.
siapa sih yang tidak iri? saat hari bahagia mereka, Hema justru terlihat menyendiri dari yang lain..
"Tidak.. mana ada?". Walaupun kenyataannya memang begitu, tapi mengiyakan pertanyaan Hean sangat memalukan bukan.
Hema mengelak dengan mengatakan tidak.
"Gue hanya ingin disini ... lagian gue mau menelfon nenek nanti,".
Karena nenek tidak bisa datang, Hema akan menelfon beliau. memberitahukan bahwa ia telah lulus kuliah.
__ADS_1
"Telfon lah... gue juga mau bicara,". Hean sangat antusias. sudah lama sejak kedatangannya waktu itu. Nenek yang begitu ramah dan perhatian kepadanya.
Hema mengeluarkan ponselnya, karena desakan Hean akhirnya ia benar-benar menelfon nenek.
"Nenek..." seru keduanya bersamaan. bahkan dengan posisi yang begitu dekat.
"Nenek... Hema telah lulus, lihatlah ini...". memamerkan toga di atas kepala juga dengan senyum yang merekah indah menandakan bahwa ia begitu bahagia hari ini.
Terlihat nenek sangat bahagia. walaupun hanya bisa melihat cucunya dari layar telepon.
"Kapan kalian kesini lagi?".
Pertanyaan nenek membuat Hean dan Hema saling tatap. "Nenek rindu Hean ya... hehehe..." gurau Hean.
"Kalau ada kesempatan, Hema akan pulang nek... doakan Hema ya nek, biar bisa dapat pekerjaan yang layak...". karena Hema tau, doa orang tua akan mudah dikabulkan.
"Iya, nenek selalu mendoakan mu Hema...".
"Hean juga doakan dong Nek...". pria disebelah Hema tak mau kalah. juga mau didoakan seperti Hema juga.
Keduanya pun tertawa dan panggilan telepon juga berakhir.
Masih dengan duduk berdua seperti ini, kecanggungan diantara mereka seperti berkurang. mereka kembali mengingat bagaimana kedekatan mereka. bagaimana sosok Hean, Hema masih ingat. pria yang selalu menggodanya.
"Terasa asing bukan?".
Kembali lagi ucapan yang terlontar dari mulut Hean mampu membuat Hema mengalihkan perhatiannya. menatap pria itu sangat lama menunggu penjelasan apa yang akan dikatakan. karena hanya sekedar bilang asing itu sangat membingungkan.
"Hema, gue akan-,".
Belum sempat meneruskan ucapannya, terdengar teriakan seseorang yang tidak asing bagi mereka.
"Kakak!".
Hean bangkit diikuti oleh Hema juga.
yang datang ialah Intan, Ayah dan Ibu Hean.
Hema tersenyum kepada semua orang. tapi tatapannya justru tertuju pada satu wanita yang berpakaian senada dengan Intan. berdiri di belakang Intan.
rambutnya panjang dengan warna sedikit pirang dan di curly ujungnya. senyumnya juga seramah Intan. tapi Hean bingung siapa wanita itu?
Saat menatap Hean, pria itu terlihat aneh. senyum yang tadi mulai terlihat kembali sirna.
siapa dia?
"Maaf Yan, jalanan begitu macet..." ucap Ibu. dan beralih pada Hema dengan menyerahkan buket bunga.
"Selamat atas kelulusannya Hema....".
Beliau benar-benar menepati janjinya. datang merayakan kelulusan putranya dan juga Hema. Intan tak lupa memberi ucapan juga dengan Ayahnya Hean yang tetap saja sedikit kaku kepada siapapun.
"Selamat ya...".
juga wanita yang tidak Hema kenali itu juga memberinya ucapan selamat.
"Kenalin... Agnes...".
"Hema...". kedua wanita itu saling berjabat tangan. walaupun Hema tak tau apa hubungannya dengan Keluarga Hean, tapi dilihat dari sikapnya pasti wanita itu sangat dekat.
Acara berlanjut. Setelah mengunjungi studio foto untuk mengabadikan moment kelulusan Hean dan Hema, mereka langsung mencari tempat untuk makan malam.
Kali ini, Hean dengan mengendarai mobilnya sendiri bersama Hema dan juga Agnes. sedangkan Ibu Ayah dan Intan berada di mobil lain.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Hema terus mengamati sosok di depannya. Hean yang duduk mengemudi di sampingnya ada gadis lain.
menerka-nerka apa hubungannya mereka berdua. karena sejak kedatangannya, Hean terlihat berbeda. tak ada senyum ataupun rona kebahagiaan disana.
Bahkan selama makan malam, hanya Intan dan yang lain terlihat asik bercerita.
Hema jelas melihat ekspresi Hean karena mereka duduk di kursi berseberangan.
"Jadi, setelah ini mau bekerja dimana?".
Ibu kembali menjadi orang paling penasaran.
"Belum tau tante..." jawab Hema. ia belum membuat lamaran di manapun.
setidaknya Hema ingin sedikit berpikir mengenai apa yang akan ia lakukan setelah ini.
"Kalau Hean, dia-,".
"Ibuu...". terlihat Hean memotong perkataan Ibunya.
membuat sang Ibu sadar dengan apa yang akan ia katakan.
seperti sedang keceplosan tentang rahasia yang sudah mereka rancang sebelumnya.
"Heheh... makanlah lagi Hema...". pada akhirnya Ibu mencoba mengalihkan topik.
Walaupun sempat canggung, Hema tersenyum kaku dan kembali melanjutkan makannya.
"Jangan makan ini Yan, tubuh lo akan gatal nanti...". wanita bernama Agnes itu mencegah Hean yang akan memakan jamur. memindahkan masakan jamur dari piring Hean dengan telaten.
Untuk pertama kalinya Hema tau, ternyata Hean alergi dengan jamur. tapi yang membuat dirinya heran adalah kenapa wanita bernama Agnes itu sampai tau makanan apa yang tidak bisa Hean makan.
tentu saja hubungan mereka bukan hanya sekedar kenal saja bukan?
pasti hubungan Agnes dan Hean jauh lebih dekat dari yang ia bayangkan.
Apa dia kekasihnya Hean?
Tiba-tiba dugaan itu muncul dari kepala Hema. hubungan yang mungkin seperti seorang kekasih pada umumnya.
Apa dia wanita yang Hean cintai di masa lalu?
"Sudah Nes..." ucap Hean karena Agnes masih sibuk memisahkan jamur dari piring Hean.
Nes?
Hema kembali terkejut. entah kenapa ia mengingat tentang kebiasaan Hean ketika tidur. pria itu sering mengigau dalam tidurnya. dan satu hal yang Hema ingat, pria itu pernah bergumam sebuah nama.
Maksudnya Agnes?
Entah kenapa Hema yakin kalau Hema waktu itu mengigau nama yang sama dengan wanita yang ada di depannya itu. Agnes.
Walaupun belum sepenuhnya mempercayai pemikirannya sendiri, tapi hati Hema terasa sedikit sesak melihat menyatakan yang ada.
bahwa di depannya saat ini adalah wanita yang pernah Hean ceritakan sekilas.
wanita yang menjadi cinta pertama bagi pria itu.
***
Yahh... sedih kan...
Beberapa Bab yang akan datang akan lebih sedih lagi...
__ADS_1