
HAPPY READING...
***
Perjalanan yang Hean lalui begitu cepat. tak terasa ia telah tiba di Indonesia lagi. Karena lelah, Hean langsung menghubungi adiknya untuk menjemput di bandara daripada harus menggunakan kendaraan umum.
Tapi ternyata yang datang bukan hanya Intan, ada Dimas juga.
"Sini gue masukkan bagasi..." ucap Dimas bersuara. meminta Hean langsung duduk di dalam mobil dan dia yang menyelesaikan semuanya.
Hingga setelah Dimas selesai, pria itu mengerutkan keningnya kesal. bukan tanpa alasan. Hean lah yang membuatnya seperti itu. bagaimana tidak? seenak jidatnya pria itu langsung duduk di bangku depan samping kursi kemudi. padahal bengkulu itu yang Intan duduki sejak tadi saat berangkat ke bandara. tapi dengan cepat Hean mengakusisi tempat itu.
Ck... Dimas berdecak kesal. apalagi dengan tatapan Hean yang tak berdosa sama sekali.
"Ayo cepat... gue lelah..." protes Hean.
tak paham kalau Dimas tengah mengerucutkan bibirnya.
Sedangkan Intan, duduk di bangku tengah sambil tersenyum dan menutup mulutnya.
geli sendiri dengan ekspresi Dimas yang menggemaskan itu.
Pada akhirnya Dimas duduk, mengemudikan mobil itu dan bergegas meninggalkan Bandara.
"Bagaimana keadaan Ibu dan Ayah Tan?". Hean bersuara. beberapa hari Hean tidak dapat melihat orangtuanya. dan sekarang ia begitu rindu ingin melihatnya.
"Baik Kak...". kemarin Intan mencoba untuk menelepon kakak, tapi tidak bisa.
"Hm... ponsel gue mati..." jawab Hean menjelaskan.
"Bagaimana?". Dimas ikut bicara. penasaran apakah Hean berhasil dengan rencananya atau tidak.
"Tidak berjalan lancar..." Hean menyandarkan tubuhnya. memijit pangkal hidungnya untuk meredakan sedikit nyeri di kepalanya. mungkin terlalu lelah karena telah melalui perjalanan yang begitu lama.
"Tapi tidak juga gagal...".
Apa sih maksudnya... Dimas sewot dengan jawaban Hean yang Terdengar ambigu.
jawab iya atau tidak apa susahnya sih...
"Dim, gue buruh bantuan lo..." ucap Hean.
"Apa?".
Hean merogoh saku celananya. mengeluarkan sesuatu seperti sebuah alat perekam.
"Tolong buatkan salinannya... hanya ini bukti yang bisa gue gunakan untuk membela diri...".
Hean menatap alat perekam itu. hanya itu yang bisa ia gunakan untuk menghadapi Keluarga Agnes nanti. bukti yang akan membersihkan nama Hean dan melepaskannya dari belenggu yang selama ini seperti mengikat tubuhnya.
"Hm... serahkan kepada gue..." jawab Dimas yakin dan mengambil alat perekam itu dari tangan Hean.
mengantonginya dengan penuh hati-hati seperti menjaga dengan sepenuh jiwa Dimas.
__ADS_1
"Oh iya... apa ada yang datang tadi?". gantian Hean bertanya pada Intan.
sebelum pulang, Hean sudah menelepon sang Asisten untuk mengurus berkas untuk perceraian Hean dengan Agnes.
"Tidak Kak..." jawab Intan. .
"Asisten ku tidak datang ke rumah?" ulang Hean. seperti meminta penjelasan apakah ia tidak salah dengar dari ucapan Intan barusan.
"Tidak...". Jawaban Intan pun masih sama. karena seharian Intan di rumah dan memang tidak ada siapapun yang datang.
"Baiklah...".
Mungkin belum selesai... batin Hean berpikir positif.
"Kakak mau makan dulu? Ibu menginap di Rumah sakit jadi tidak ada yang memasakkan Kakak nanti..." ucap Intan. Itulah pesan dari Ibu dari sore. menyarankan Hean makan di luar ketika pulang.
"Kalian sudah makan?". ganti Hean yang bertanya. sebenarnya ia tidak begitu lapar. hanya saja Hean memikirkan kedua manusia selain dirinya yang mungkin belum sempat makan karena harus bergegas ke Bandara menjemput kepulangannya.
"Belum! gue lapar nyet!" umpat Dimas. bahkan lebih dari itu, ia bahkan seperti tak bisa berkonsentrasi mengemudi karena lapar.
Bukannya prihatin, Hean justru tersenyum senang. kapan lagi ia melihat Dimas mengumpat kepadanya.
"Lo berani mengumpati gue?". tantang Hean. sebenarnya hanya menggoda Dinas saja. bagaimana reaksi Dimas nanti karena telah mengumpat kepada kakak dari kekasihnya.
"Intan...".
"Ya kak..." Intan bersuara.
"Ajari kekasih lo untuk bersikap baik padaku..." ucap Hean dengan senyum licik di sudut bibirnya.
"Gue mau makan sate..." ucap Hean kembali bersuara.
Dimas langsung melajukan mobilnya ke arah pedagang sate langganannya. bukan restoran tapi pedagang kaki lima yang ada di salah satu jalan yang selalu ia lalui menuju ke tempatnya bekerja.
"Turun..." ajak Dimas.
menjadi orang pertama yang turun dari mobil diikuti oleh Intan. bingar bahagia terlihat jelas di wahmjah Intan ketika melihat warung tenda di depannya.
"Lo mau tetap di mobil?". Dimas menengok ke arah jendela mobil, bertanya kepada Hean dan memastikannya.
"Ayo Kak..." Intan merengek. meminta Hean segera turun dan memesan sate ayam untuk makan mereka.
Hean ikut turun. menghela nafasnya kasar karena cukup lelah dan ingin terus duduk di dalam mobil tanpa bergerak sedikitpun.
"Sate ayam pakai lontong kan? cabenya yang banyak... sama es teh manis" ucap penjual sate kepada Dimas.
"3 porsi ya Pak..." jawab Dimas sambil tersenyum. Ya... seperti itulah yang Dimas selalu pesan ketika makan di tempat ini.
"Oke...".
Setelah itu Dimas membawa Intan duduk di kursi plastik di samping tenda. tanpa meminta Hean untuk duduk juga. ngapain? toh Hean bisa duduk sendiri tanpa diminta bukan? begitu hati Dimas bicara.
"Sepertinya ini tempat yang sering kalian datangi?" tanya Hean sambil memicingkan mata menatap ke arah adiknya. seperti sebuah pertanyaan yang harus Intan jawab beserta penjelasan.
__ADS_1
"Aaaa..." Dimas berubah gagu. terserang panik karena harus menjawab apa nanti.
"Bukankah warung ini buka malam hari, jadi Lo sering membawa Intan malam-malam kesini?". Telak, Ucapan Hean mampu membungkam mulut Dimas dan Intan.
Hehehe... mati Gue... batin Intan.
Menyembunyikan sesuatu dari Hean adalah hal mustahil. nyatanya pria itu mampu mengendus setiap pergerakan yang Intan dan Dimas lakukan selama ini. termasuk makan malam bersama.
"Emm... bukan begitu kak, Intan hanya pernah makan disini beberapa kali saja..." jelas Intan.
Semoga Kakak percaya...
Padahal Intan kerap kali makan sate ayam disini bersama Dimas. selain enak, harganya juga relatif murah.
"Iya... benar kok..." tambah Dimas membuat Hean percaya dengan ucapan mereka.
"Lo tetap harus hati-hati Tan... walaupun si monyet sahabat gue, tapi tetap saja..." ucap Hean memperingati adiknya.
"Apanya?" Sela Dimas.
seperti mencium bau-bau kewaspadaan Hean terhadapnya.
"Dia tetap saja pemangsa... watak pria memang seperti itu..." lanjut Hean.
Dimas membulatkan mata. tak terima dengan ucapan Hean barusan.
Memang apa yang gue lakukan? Dimas protes.
"Iya kak..." jawab Intan. memang apa yang akan dia lakukan dengan Dimas? jalan berdua saja masih jarang dan harus lapor pada orang tuanya.
Lagian Intan memiliki kakak yang galak ya minta ampun. tak pernah memberikan kebebasan padanya. entah apa yang membuat Hean terlalu posesif seperti itu pada Intan. padahal kekasih Intan juga sahabat kakaknya juga.
Tapi walaupun begitu, Intan tak merasa tertekan. justru senang karena memiliki keluarga dan seorang kakak yang begitu peduli padanya.
"Dan ada yang ingin gue tanyakan pada Lo," ucap Hean pada Dimas.
"Apa?".
"Darimana lo dapat mobil itu?". tunjuk Hean pada mobil yang dikendarai Dimas tadi.
"Kenapa?".
"Lo berbuat aneh-aneh?" tuduh Hean tanpa ragu sedikitpun. bahkan tak peduli apakah Dimas tersinggung atau tidak karena pertanyaannya.
"Yaelah... berbuat aneh apa? gue masih nyicil untuk mobil itu nyet..." jelas Dimas. ia berusaha untuk membeli mobil hanya karena tak ingin Intan kehujanan ataupun kepanasan saat pergi dengannya.
"Gue hanya ingin Intan nyaman saat pergi dengan gue..." lanjut Dimas.
Mungkin Dimas sudah mengatakan alasannya kepada Intan beberapa waktu yang lalu. betapa Dimas ingin memperjuangkan wanita yang sangat ia cintai dan membahagiakannya. salah satunya adalah dengan hal sekecil ini.
"Kak...". Intan yang mendengar juga ikut terenyuh. betapa Dimas yang selalu mengutamakan dirinya di atas segalanya.
Aku mencintaimu Kak Dimas... batin Intan.
__ADS_1
***