
HAPPY READING...
***
Hari kedua setelah malam itu. Hean masih tak menampakkan batang hidungnya di Perusahaan. pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya beralih pada sang Asisten.
Kabar rencana pernikahannya CEO juga mulai terdengar di telinga para karyawan. entah siapa yang menyebarkan kabar itu, tapi semua karyawan terkhusus wanita banyak yang patah hati dibuatnya. bagaimana tidak, CEO muda perusahaan sudah masuk sebagai kriteria pendamping hidup impian banyak wanita.
Selain kabar mengejutkan itu, ada lagi kabar yang membuat orang merasa sedih. terutama bagian Staf Sekretaris.
Semua orang merasa sedih mendengar kabar bahwa hari ini, Hema telah mengajukan berkas pengunduran dirinya.
padahal Hema sudah menjadi bagian dari mereka. susah senang telah mereka lalui bersama, termasuk jika lembur hingga malam.
Tak ada yang tau apa alasan Hema melakukannya, tapi di sela-sela kesedihan yang mereka alami terselip doa dan harapan untuk gadis muda itu. harapan bahwa di tempat yang baru, Hema mendapatkan pekerjaan dan kebahagiaan yang lebih dari sekarang.
"Kenapa sih Hem? gue sedih mendengarnya..." keluh wanita yang duduk di sebelah meja kerja Hema. dari banyak orang, dialah yang paling dekat dengannya. Hema sudah di anggap sebagai adiknya sendiri.
tapi sekarang, adiknya itu akan pergi jauh dari nya.
"Jangan sedih mbak.. kita kan bisa bertukar kabar lewat ponsel..." hibur Hema.
padahal baru tadi pagi ia menyerahkan berkas pengunduran diri, tapi suasana ruangan sudah menyedihkan melepas kepergiannya.
"Lo yakin?".
Setelah semalam berunding dengan Sasa, memikirkan apa yang harus ia lakukan di masa depan, Hema telah memutuskan untuk resign dari Asian Group. secepatnya, karena dengan begitu sakit hatinya tak perlu berlangsung lama.
"Iya, semoga saja cepat di Acc..." jawab Hema. betapa ia memohon kepada bagian personalia tadi pagi. agar permintaan pengunduran dirinya bisa dipercepat.
karena biasanya butuh waktu cukup lama.
"Lo juga akan meninggalkan Ibukota?".
Hema mengangguk. entah kenapa saat ditimpa masalah, Hema rindu akan kampung halamannya. walaupun disana tak ada lagi yang Hema tuju karena nenek sudah meninggal, tapi Hema ingin sekali pulang.
"Gue rindu kampung ku mbak... sudah 4 tahun gue tidak pulang...". hanya mengatakan itu saja, sudah membuat kedua matanya menggenang. Hema sedih.
"Akkk... gue akan merindukan lo Ma...".
Siang Hari.
Di saat yang lain tengah menikmati makan siang di Kantin, Hema justru berbeda. gadis itu memilih duduk di taman samping gedung. menikmati suasana siang yang tidak begitu panas karena awan pembawa hujan sesekali bertiup menutupi matahari.
sedikit sejuk tapi tak membuat hujan segera jatuh.
Merenung, itulah yang Hema lakukan. tak ada yang bisa ia ajak bicara dalam keadaan seperti ini. bahkan Hema tak menyadari kedatangan seseorang dan sedikit mengejutkannya.
__ADS_1
"Hema...".
Gadis cantik berambut pendek itu langsung mengalihkan perhatiannya ketika namanya disebut.
Sandy...
Pria yang dulu selalu mendekati Hema, yang begitu perhatian dan mengatakan bahwa betapa ia menyukai Hema. Sandy, pria yang tidak bisa Hema terima dalam hatinya.
entah apa yang pria itu lakukan saat ini. dengan sebuah kardus di pangkuannya.
"Ngapain lo di sini?" tanya pria itu penasaran.
"Oh.. ini... hanya duduk..." jawab Hema canggung. ia tak lagi berbicara dengan Sandy sejak kejadian malam itu. saat keduanya berusaha untuk menjalani sebuah kencan tapi berakhir kecewa karena Sandy tertidur dalam bioskop.
Tanpa diduga, Sandy ikut duduk di sebelah Hema. masih dengan kardus berisi tumpukkan kertas.
"Apa itu?". Hema penasaran.
Sebelum menjawab pertanyaan Hema, Sandy tersenyum. seperti tengah menyiapkan untaian kata yang mungkin tak bisa ia katakan kepada Hema di masa mendatang.
"Gue pindah Ma..." ucap pria itu.
Ha? pindah?
tentu saja Hema terkejut dengan ucapan pria itu. karena Hema tak mendengar kabar apapun, tapi tiba-tiba Sandy telah mengemas barang-barangnya.
"Kenapa?".
Bukan apa, Hema hanya penasaran apa yang membuat Sandy memilih meninggalkan perusahaan yang telah lama ia naungi.
"Karena lo...".
Deg...
Hema terdiam. bingung dengan ucapan pria itu yang terdengar jujur tapi sedikit menyindirnya.
"Hema... lo tau kan kalau gue suka sama lo?" tanya Sandy.
Ya, Hema tau kalau pria itu memang menyukainya. entah sudah berapa kali Sandy mengatakan hal itu, tapi tak sekali pun Hema membalas perasaannya.
"Itulah alasan gue resign dan pergi dari sini... karena Lo," lanjut Sandy.
Mungkin menyakitkan karena Hema tak pernah membalas perasaannya. padahal Sandy berharap bisa menjalin hubungan dengan gadis itu.
perasaannya kepada Hema semakin hari semakin bertambah dan membuat Sandy kewalahan.
Ia tau kalau dibiarkan, akan menjadi bencana nantinya. entah apa yang akan Sandy lakukan untuk bisa memiliki Hema. ia tak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
untuk itu, Sandy memutuskan untuk pergi dari hidup Hema. berharap saat jauh dari gadis itu, perasaannya akan memudar.
"Gue hanya tidak mau tersakiti karena perasaan gue sendiri Ma..." ucap Sandy.
"Sorry San...".
"Hahaha... jangan meminta maaf Ma, lo tidak salah..." tolak Sandy. kenapa juga Hema meminta maaf padahal bukan kesalahan gadis itu.
"Jadi mau bekerja dimana setelah ini?".
Sandy belum memikirkannya, tapi ada satu kota yang ingin ia tempati dan bekerja disana. kota yang cukup jauh dari sini, dan disana juga ada kerabat Sandy.
"Gue ingin pergi jauh... jauh sekali...".
"San...".
"Jangan khawatir Hema... gue tidak menyalahkan lo... gue hanya ingin tinggal di kota selain kota ini...".
"Maaf San...". entah kenapa Hema merasa sangat bersalah karena telah menolak Sandy. tapi bagaimana lagi? Hema tak bisa memaksakan perasaannya.
yang mana nanti dirinya sendiri yang tersiksa.
"Ayo kita berteman terus Ma... sampai kapanpun..." ucap Sandy.
membuat Hema mengangguk setuju. walaupun mereka tidak bisa menjalin hubungan yang dalam, setidaknya mereka tetap berteman.
"Selalu bahagia Hema..." ucap Sandy terdengar tulus. karena saat Hema bahagia, Sandy juga akan merasakan kebahagiaan tersendiri.
"Gue hanya mau lo selalu berbahagia...".
"Apa bisa?". Hema tak yakin dirinya bisa merasakan kebahagiaan setelah ini. karena Hema benar-benar hancur, bukan hanya mentalnya tapi juga fisiknya.
hingga tak terasa air mata itu mengalir begitu saja.
"Hiks...". Hema menangis. hidupnya tak berbeda dengan Sandy, menyedihkan karena cinta.
"Menangis lah Ma..." ucap Sandy. setidaknya dengan menangis mampu mengurangi sedikit beban yang Hema rasakan.
"Mungkin ini karmaku San... telah menolak perasan lo, dan gue juga menderita..." adu Hema.
"Jangan seperti ini Ma...". sungguh Sandy tak berpikir seperti itu. karena melihat Hema menderita juga Sandy ikut menderita.
Dan siang itu, Hema benar-benar menumpahkan kesedihannya dengan Sandy yang setia duduk menemaninya.
Hari itu menjadi terakhir bagi Hema dan Sandy berbicara. dan setelah itu, Sandy benar-benar pergi meninggalkan Ibukota.
***
__ADS_1