
HAPPY READING...
***
Hari terakhir di Desa.
Hema dan Hean benar-benar menikmati waktunya di tempat ini. berjalan-jalan bahkan berboncengan menggunakan sepeda motor mengelilingi desa tersebut. bahkan Hema juga mengajak Hean ke sebuah destinasi wisata yang dikelola oleh pemerintah setempat.
air terjun yang tidak terlalu tinggi tapi memiliki air yang jernih dan debit air yang cukup deras.
Banyak sekali pengunjung yang datang kesana, menikmati suasana segar dan sesekali bermain air di pinggir sungai.
"Aagghh... tidak terasa sudah tiga hari kita disini...". Hean merebahkan tubuhnya di sebuah saung dari bambu yang memang disediakan oleh pengelola tempat wisata tersebut.
memejamkan mata sambil menikmati suara riuhnya air terjun dengan teriakan-teriakan pengunjung.
Udara yang sejuk dan bersih membuat Hean merasa betah. ingin berlama-lama di tempat ini. bahkan sampai tak merindukan Ibukota dimana keluarganya tinggal.
"Iya, cepat sekali ya..." tambah Hema. begitu pun dengan gadis itu, merakan hal yang sama dengan Hean.
Setelah ini Hema telah memutuskan untuk tinggal di kota beberapa tahun lagi. bekerja disana dan menggapai mimpinya.
apalagi ia sedikit tenang melihat nenek yang tidak sendirian setelah kepergiannya.
sepupunya memilih tinggal bersama nenek agar beliau tidak sendirian. jadi Hema merasa lega tanpa mengkhawatirkan kondisi nenek yang memang sudah renta.
"Apa yang ingin lo lakuin setelah lulus nanti?". tanya Hean. sekarang yang dipikirkan pria itu bukan lagi main-main. Hean mulai memikirkan masa depannya. ia tak bisa selalu bergantung dari orang tua.
bagaimanapun Hema harus bisa mandiri dan menata hidup nya.
"Bekerja, apa lagi memang?".
Impian orang dewasa setelah lulus kuliah.
"Hema..." panggil Hean.
"Hm, apa?". kali ini Hema tak menaruh curiga pada pria yang tengah rebahan di sampingnya.
"Kemarilah,".
Dan langsung membuat Hema mendekat. sedikit membungkuk untuk mendengar apa yang akan pria itu katakan.
tapi seperti kelocongan, Cupp...
Pria itu mendapatkan bibir nya tepat di bibir Hema. sama seperti yang sudah-sudah.
__ADS_1
"Hean!".teriak Hema. entah kenapa pria itu selalu bisa mencuri ciumannya bahkan dengan bodohnya Hema juga kecolongan. padahal bukan hanya sekali dua kali saja.
"Hahah... kenapa? masih kurang?". tawa renyah pria itu menambah ramainya suasana.
bahkan mungkin saja kelakuan mereka tak luput dari tatapan orang-orang disana.
Masih di Saung, Hema menatap ke arah air terjun di sana. "Yan,".
"Iya sayang..." goda Hean.
Ck... Kepedean...
"Sudah cukup lama kita kenal. bahkan lo juga tau bagaimana kehidupan gue selama ini,".
Terus?
Hean menatap Hema, mencari tau apa maksud dari perkataannya itu.
"Kenapa lo tidak pernah cerita apapun?" tanya Hema penasaran. benar, selama ini Hean tak pernah menceritakan apapun tentang hidupnya. padahal mereka sudah cukup dewasa, pasti banyak mengenal orang-orang dalam hidupnya bukan? termasuk masalah percintaan.
"Cerita apa?". Hean tau kalau gadis di depannya itu ingin mengetahui lebih dari sekedar Hean yang saat ini.
tapi apa yang perlu Hean ceritakan? ia rasa tak penting membahas halal yang telah terjadi.
"Apa lo pernah jatuh cinta?".
Hean terdiam tanpa ada seutas senyum di bibirnya. mencerna pertanyaan Hema walaupun tak berminat untuk menjawabnya.
"Apa gue terlihat tidak normal?".
Hean sedikit bergurau, membuat suasana yang sempat canggung agar sedikit mencair.
Aghh, sebenarnya kesal juga membahas percintaan. yang ada hanya membuka luka lama yang sampai sekarang pun masih belum sembuh sepenuhnya.
"Bu-kan begitu... gue hanya penasaran..." ralat Hema. ia bahkan sampai berpikir kalau Hean bukan pria normal. hanya saja terdengar aneh bukan pria setampan Hean masih sendirian seperti sekarang.
Ck, tanpa sadar gue memujinya tampan...
Hema salah tingkah.
"Kalau gue bilang tak pernah jatuh cinta, apa lo percaya?". tanya Hean masih dengan senyum aneh. Bahkan Hema sendiri tak bisa mencerna apa arti senyum itu. terlihat dingin dan menakutkan.
Hingga Hema menggelengkan kepalanya, sebagai bentuk jawaban.
Jelas lah Hema tak percaya kalau Hean tidak pernah jatuh cinta sebelumnya.
__ADS_1
"Sudah kuduga...". Hean bangkit, duduk di sebelah Hema sambil merangkul kedua lututnya. tatapan mata pria itu jauh ke depan sana. tatapan tanpa ujung yang menyiratkan ada sebuah kekecewaan yang pria itu rasakan.
"Mungkin kita sama Hema..." ucap Hean. setelah lama hanya terdiam dan membuat canggung suasana. pada akhirnya pria itu bersuara, entah apa yang akan dikatakannya. mungkin membuka tabir masa lalu yang tidak pernah Hema ketahui sama sekali.
Sama apanya?
"Kecewa... korban dari percintaan..." lanjutnya.
Hema mengerjapkan matanya berulang kali. bingung sekaligus tak percaya bahwa pria yang mendekati sempurna seperti Hean justru menjadi korban. bukankah sepantasnya dia yang menjadi?
Hema kira Hean justru pria yang suka bergonta-ganti pasangan.
"Gue pernah sekali jatuh cinta," Hean mulai bercerita. "Saat masih duduk di bangku SMA... cinta pertama gue...".
Hema hanya menjadi pendengar sambil mengamati wajah Hean dari samping.
"Gue benar-benar mencintai gadis itu... berambut panjang dengan bola mata cokelat besar... bahkan hampir 3 tahun kami menjalin hubungan...".
Hema mengalihkan pandangannya saat Hean sedikit meliriknya.
"Tapi lo tau, satu saja kesalahannya yang membuatku begitu benci... gue kecewa...".
Untuk pertama kalinya Hema mendengar Hean bercerita tentang kehidupannya. nyatanya orang yang tertawa paling keras, adalah orang yang memiliki masalah paling berat. Hema tak bertanya lagi, biarlah apa yang menjadi masa lalu Hean ia tak mau mencampuri ataupun mengingatkan.
karena tak tau apa yang dilakukan Hean untuk bisa menyembuhkan lukanya itu.
Dan siang itu, Hean bercerita panjang lebar sedangkan Hema menjadi pendengar yang baik. walaupun di ceritanya Hean, tak pernah terlontar siapa nama gadis yang tah meninggalkan luka bagi pria itu.
Hean juga tak berniat untuk menceritakan Agnes kepada Hema.
***
Di Tempat lain.
Agnes, gadis dengan tinggi semampai serta rambut yang berwarna pirang itu baru saja tiba di Bandara. membawa beberapa koper dan tas di pundaknya gadis itu tersenyum. tak sabar untuk tiba di negera asal yang sudah ia tinggalkan beberapa tahun lamanya.
Agnes telah mendapatkan gelar sarjana dari Negeri Paman Sam. dan tentu saja itu adalah sebuah kebanggaan bagi keluarganya.
"Iya, sebentar lagi Agnes akan memasuki pesawat... jaga diri kalian, kalau sudah sampai Agnes akan mengabari kalian lagi... bye..." ucap Agnes sebelum masuk ke pesawat yang akan ia tumpangi pulang menuju tanah air.
betapa antusiasnya gadis itu bisa pulang kembali. apalagi merindukan orang-orang yang telah lama ia rindukan.
Aku benar-benar rindu semuanya...
Pesawat telah mengudara. sepanjang perjalanan yang panjang, Agnes memilih untuk istirahat saja.
__ADS_1
***